Tampilkan postingan dengan label Baduy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baduy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Mei 2014

Apa yang Dicari di Baduy?

Lanjutan dari post sebelumnya..

Di pagi hari Baduy tiba-tiba ramai dengan warganya yang beraktivitas. Ramai tanpa ribut. Mereka ke sungai, ke pancuran, ke ladang, atau duduk-duduk di beranda rumahnya. Mungkin ingin melihat seperti apa rupa pendatang yang ribut semalam.

Selepas sarapan aku dan teman-teman ke sungai untuk membicarakan rencana kabur. Kami berencana untuk main air atau tidur saja. Apapun, supaya tidak perlu ikut ke ladang. Di sana aku mager sekali. Kaki baru terasa sakitnya akibat treking 4 jam kemarin, dan terbayang-bayang perjalanan pulang treking 6 jam esok hari. Tapi rencana kabur itu hanya main-main.

Buktinya ini: sketsa bangunan tempat kami istirahat di ladang. Atas: hasil gambarku yang kusebut sketsa, bawah: sketsa hasil gambaran si Guru.

Di ladang, kegiatan kami kebanyakan diisi dengan ngobrol-ngobrol. Aku yang masih canggung dengan orang baru lebih banyak diam mendengarkan. Apa diamku terhitung masuk percakapan? Untuk itu aku membawa buku catatan. Sebenarnya ini modus dengan alibi menulis catatan perjalanan dan menggambar sketsa. Aku hanya berharap tidak terlihat 'ansos' amat.
Catatan hari ke-2

Sore hari sepulang dari ladang, tiba-tiba Cibeo ramai dengan pengunjung yang baru datang. Katanya ada 300 orang. Malam itu Cibeo ramai bukan hanya oleh pengunjung, tapi juga pedagang dari luar Baduy yang menjajakan popmi, juga kerajinan khas Baduy. Malam itu Cibeo berbeda dengan malam kemarin yang syahdu. Mungkin Baduy terlalu ramah untuk menolak pengunjung, persis apa yang digambarkan Natgeo dalam artikel Baduy, Maafkan Kami..

Sebenarnya apa yang dicari jauh-jauh masuk ke Baduy, kalo di sana masih menanyakan sinyal ponsel. Apa yang dicari sampai ke Baduy, kalo kita mengganggu tenangnya dengan ribut. Apa yang aku cari di Baduy, kalo di sana hanya mager?

Soal kejelasan aturan adat selama di Baduy jarang disinggung dalam perjalanan kemarin. Yang aku tahu pasti hanya tidak boleh memotret di kawasan Baduy dalam dan pengunjung hanya boleh menginap semalam di rumah penduduk. Karenanya di hari kedua, rombongan kami pindah ke rumah penduduk lain. Mungkin sebenarnya banyak aturan adat Baduy yang dilanggar oleh pengunjung, termasuk kami, termasuk aku. Mungkin tanpa dijelaskan, harusnya kami menghormati penduduk di sana dengan menahan diri tidak ribut. Mungkin harusnya dipertanyakan lagi pada diri masing-masing, apa yang dicari di Baduy?

Senin, 19 Mei 2014

Kesederhanaan Baduy

Baduy yang aku kunjungi kemarin sederhana sekali. Terbuat dari 4 jam perjalanan jalan kaki, orang-orang baru, turunan, dan tanjakan panjang. Kadang ada jalanan datar, yang aku syukuri sekali saat melintasinya.

Ini pertama kali aku ikut perjalanan macam open trip. Dari rombongan yang berangkat, cuma Ratna dan Guru yang aku kenal, lainnya masih asing karena baru bertemu. Orang asing pertama yang kutemui adalah Tino dan Faisal, teman dari DPM sebelah. Kami tergabung dalam rombongan IPB, 5 on a joyride.

Di hari pertama agendanya trekking 4 jam dari Cijahe menuju Cibeo, desa tempat kami menginap di Baduy Dalam. Kami mengambil jalur lewat Cikeusik, sebuah desa lain di Baduy Dalam. Kenapa ga nginap di Cikeusik aja? Soalnya ke Cikeusik ga sampai 4 jam, Broh. #pfft

Sepanjang perjalanan terlihat hamparan bukit yang indah tapi menakutkan untuk dilihat. Takut menerima kenyataan kalo letak Cibeo ada di balik bukit-bukit itu, takut melihat jalannya yang menanjak, takut terpeleset. Kami ditemani akang-akang warga Cibeo yang ramah, dan bocah-bocah Baduy yang masih kecil tapi kuat jalan jauh. Mereka bertenaga sekali, jalan terus tanpa minum, tanpa terlihat capek, tanpa nafas yang putus, tanpa terpeleset, tanpa sekalipun jalan duluan meninggalkan kami. Mereka juga kalem dan sabar. Beda dengan aku yang rewel bertanya:
'masih ada tanjakan lagi Kang?'
                                                                    'masih jauh ga Kang?'
              'berapa jam lagi Kang?'
                                                            'udah sampe Kang?'   ..........
Meski hanya itu percakapan yang aku tawarkan, tapi mereka jawab semuanya dengan sopan.
Waktu matahari tenggelam dan kami masih belum sampai, duniaku terasa jungkir-balik. Kurang dari 24 jam yang lalu, aku masih di atas kasur menatap laptop. Sekarang aku harus fokus menatap jalan sambil menyalakan lampu senter supaya ga tersandung. Kurang dari 24 jam yang lalu, aku masih lari pagi di kampus, beli ikan asin, beli beras.. sekarang aku sedang berjalan menggendong ransel. Kurang dari 24 jam yang lalu kehidupanku seputar kosan-kampus-bara, sekarang aku ada di tengah bukit, bersama orang-orang yang baru kukenal, menuju pedalaman suku Baduy. Rasanya mirip film The Secret Life of Walter Mitty.

Sekitar jam setengah 8 malam, akhirnya aku tiba di Cibeo. Waktu nyebrang jembatan terakhir sebelum masuk lingkungan rumah penduduk, wah.. rasanya semangat luar biasa. Ga sabar ingin  copot ransel, istirahat. Saat itu kebanyakan penduduk udah tinggal di dalam rumahnya masing-masing, suasananya gelap dan sepi, ramai karena rombongan kami yang berisik. Sisa malam itu habis untuk bersih-bersih di pancuran, makan, sedikit obrolan, dan tidur pulas..

Tadinya ingin sok-sokan menggambar sketsa suasana, berhubung Baduy Dalam tabu untuk difoto. Tapi seperti yang sudah kubilang, aku capek..

(bersambung ke postingan ini..)