Lanjutan dari post sebelumnya..
Di pagi hari Baduy tiba-tiba ramai dengan warganya yang beraktivitas. Ramai tanpa ribut. Mereka ke sungai, ke pancuran, ke ladang, atau duduk-duduk di beranda rumahnya. Mungkin ingin melihat seperti apa rupa pendatang yang ribut semalam.
Selepas sarapan aku dan teman-teman ke sungai untuk membicarakan rencana kabur. Kami berencana untuk main air atau tidur saja. Apapun, supaya tidak perlu ikut ke ladang. Di sana aku mager sekali. Kaki baru terasa sakitnya akibat treking 4 jam kemarin, dan terbayang-bayang perjalanan pulang treking 6 jam esok hari. Tapi rencana kabur itu hanya main-main.
Buktinya ini: sketsa bangunan tempat kami istirahat di ladang. Atas: hasil gambarku yang kusebut sketsa, bawah: sketsa hasil gambaran si Guru.
Di ladang, kegiatan kami kebanyakan diisi dengan ngobrol-ngobrol. Aku yang masih canggung dengan orang baru lebih banyak diam mendengarkan. Apa diamku terhitung masuk percakapan? Untuk itu aku membawa buku catatan. Sebenarnya ini modus dengan alibi menulis catatan perjalanan dan menggambar sketsa. Aku hanya berharap tidak terlihat 'ansos' amat.
| Catatan hari ke-2 |
Sore hari sepulang dari ladang, tiba-tiba Cibeo ramai dengan pengunjung yang baru datang. Katanya ada 300 orang. Malam itu Cibeo ramai bukan hanya oleh pengunjung, tapi juga pedagang dari luar Baduy yang menjajakan popmi, juga kerajinan khas Baduy. Malam itu Cibeo berbeda dengan malam kemarin yang syahdu. Mungkin Baduy terlalu ramah untuk menolak pengunjung, persis apa yang digambarkan Natgeo dalam artikel Baduy, Maafkan Kami..
Sebenarnya apa yang dicari jauh-jauh masuk ke Baduy, kalo di sana masih menanyakan sinyal ponsel. Apa yang dicari sampai ke Baduy, kalo kita mengganggu tenangnya dengan ribut. Apa yang aku cari di Baduy, kalo di sana hanya mager?
Soal kejelasan aturan adat selama di Baduy jarang disinggung dalam perjalanan kemarin. Yang aku tahu pasti hanya tidak boleh memotret di kawasan Baduy dalam dan pengunjung hanya boleh menginap semalam di rumah penduduk. Karenanya di hari kedua, rombongan kami pindah ke rumah penduduk lain. Mungkin sebenarnya banyak aturan adat Baduy yang dilanggar oleh pengunjung, termasuk kami, termasuk aku. Mungkin tanpa dijelaskan, harusnya kami menghormati penduduk di sana dengan menahan diri tidak ribut. Mungkin harusnya dipertanyakan lagi pada diri masing-masing, apa yang dicari di Baduy?
