Jumat, 22 Desember 2023
Tentang Tulisan
Rabu, 19 Juli 2023
Sejauh Ini Rasanya Menyenangkan
gue baru dapet kerjaan lagi. setelah bulan Mei yang ninaninu dan nanonano, juni ini aku siap memulai perjalanan baru. semoga aku selalu siap dan semakin tegar menghadapi segala apa yang ada.
jadi, kali ini pekerjaan project based, kontrak 3 bulan saja dari juni-september. aku bertemu banyak teman-teman muda, kebanyakan kelahiran 98, 99, dan 00. berarti usia mereka sekitar.. 23-25 tahun?
pada usia segitu, aku sedang apa ya? kita ambil tengahnya, 24 tahun, berarti tahun 2016. aku baru bekerja selama 2 tahun, baru diangkat jadi lead di mosmos dan sedang proses switch karir ke uiux.
teman-teman-muda ini, mereka keren deh. profesional, gercep, self-driven, dan berani. berdaya dengan aktualisasi diri yang positif. bisa langsung tektokan dan koordinasi dengan inisiatif sendiri. i adore them. i adore the youth of them.
di sisi lain, gue juga harus mengimbangi inisiatif dan kegercepan mereka dalam solve the problems. dengan pengalaman yang mulai lebih dulu, aku merasa harus bisa memberi lebih. ini pecutanku. aku menyerap energi dari mereka dan rasanya ingin memberi balik energi yang sama besarnya.
sejauh ini, hari-hari rasanya menyenangkan.
----
dan sekarang sudah juli. aku sudah terbiasa dengan polanya, tidak meraba-raba seperti di bagian awal dari tulisan ini, tapi di satu sisi rasanya agak menjerumus ke auto-pilot. hari senin-selasa membuat slide report, rabu briefing dan explore new task, kamis internal review, jumat lanjut explore dengan input dari internal review. on repeat.
no complaint, actually. meski begitu, kok tetep aja aku keteteran dan tetep melakukan ritual begadang. padahal udah serutin itu, ya.
there must be something wrong with me,
tapi sejauh ini rasanya menyenangkan.
Senin, 17 Juli 2023
Nobel Selengean, Bukan Slengean
Kamis, 18 Mei 2023
Random Thought
Kamis, 11 Mei 2023
Jumat, 31 Maret 2023
Sebelum Hari Berakhir
Di voluntrip kedua ini, rasanya aku bisa lebih cepat membuka diri. Mungkin karena ada barengannya, mungkin karena acaranya lebih padat, mungkin karena ketularan santri-santri dan kakak-kakak semua yang jago menghidupkan suasana. Mungkin karena.. aku pada akhirnya berhasil untuk lebih terbuka.
Meski begitu, tetap ada perasaan yang tertinggal karena belum sempat ngobrol banyak sama temen-temen panitia.
Terlepas dari segala pro-kontra yang terjadi dalam kepala, aku semakin yakin untuk sering-sering ikut kegiatan volunteering. Rasanya kegiatan sosial semacam ini dibutuhkan untukku yang introvert, agar bisa terpapar dengan banyak energi dari teman-teman lain, dan bertemu macam-macam orang. Dan konsep per kegiatan ini, tidak membutuhkan banyak komitmen. Selesai acara, pulang.
Cocok untuk aku dengan energi sosial yang tidak banyak. Agak kontra ya, tapi begitulah yang aku rasa sekarang.
![]() |
| Voluntrip with Anggi |
Rabu, 29 Maret 2023
Pameran Patah Hati
Selasa, 14 Februari 2023
Gusar
Kelamaan #wfh, jiwa introvert-ku semakin menjadi-jadi.
Kasian Dicko, dia selalu kena jutek dan judesnya gue di setiap pulang kerja. Padahal dia hanya menjadi dirinya sendiri yang bawel dan ga jelas. Tapi itu bukan alasan untuk dia pantas dijutekin, sih. Soalnya, kalo sama yang lain, responnya fine-fine aja. Karena itu, gue jadi gusar sendiri. Sebenernya apa sih yang bikin gue ga bisa ramah dan zen saat interaksi dengan orang lain?
Ehiya, btw tadi gue dapet driver grab seorang Sir Henry Dunan! Terdengar familiar. Setelah googling baru deh gue ngeh kalo namanya diambil dari nama Bapak Palang Merah Sedunia.
Bersiasat
Sulitnya jadi pedagang kecil. Kalo ga punya tempat, harus keliling sampe dagangan habis. Kalo udah nyewa tempat, harus jor-joran nawarin orang-orang, atau buka channel online, biar dapet pelanggan dan usahanya jalan.
Setiap berangkat ke kantor, gue sering nemu ada usaha baru yang buka deket rumah. Mulai dari warung mie ayam, bakso, warung nasi, sayur segar, sablon jaket, es kelapa, sampe tukang fotokopi.
Namanya di pinggir jalan, semua rumah tetangga udah alih fungsi jadi tempat usaha. Dinamis banget. Kadang baru satu bulan udah ganti jenis. Mie ayam depan rumah baru aja pindah ke ruko samping, yang sebelumnya diisi sama pedagang telur dan barang kelontong.
Secara lokasi memang strategis, tapi sering juga gue liat tempatnya sepi, terus ga lama tutup. Yang bisa gue bantu adalah beli dagangannya dikit-dikit. Meski ga banyak, tapi gue harap bisa jadi pemasukan mereka di hari itu.
Sabtu, 21 Januari 2023
Hatiku Sangat Kacaw
Begitulah perasaanku saat selesai nonton “A Man Called Otto” tadi, tapi aku ga bisa menemukan kata untuk menjelaskan kekacawan ini. Setelah dilanjut nonton review dari Cinecrib, baru aku bisa mengenali perasaan kacaw yang aku alami.
Iya Ra, rasanya mixed feeling abis. Begitu isi chatku ke Tiara.
Mixed feeling karena aku nangis justru di scene yang bahagia. Saat Otto bertemu Sonya, saat makan malam pertama mereka, saat Otto main sama anak-anaknya Marisol, saat Otto ketemu Malcolm —bekas muridnya Sonya.
Mixed feeling karena ada beberapa scene yang sangat film sekali, alias terlalu mudah penyelesaiannya. Yah memang itu bukan poin utama, tapi tetap terasa mengganggu pengalamanku mendalami ceritanya. Yang tadinya bisa relate dan dekat dengan penonton (aku) dengan segala set-upnya, disudahi begitu saja. Sangat hollywood sekali rasanya.
*spoiler*
Scene terakhir yang harusnya sedih, aku malah ga merasakannya. Kematian di sini adalah goal utama Otto sebagai karakter.
*trigger warning*
Otto —yang berkal-kali berusaha bunuh diri, namun gagal— bisa selamat karena meski dia grumpy, namun tetap ada koneksi dengan orang lain. Hampir setiap hari Otto marah-marah ke tetangga, marah-marah ke orang lain yang ga tau apa-apa, ngedumel, tapi tetangganya tetep nyapa, tetep peduli, tetep ngerespon marah-marahnya Otto.
Itu yang rasanya belum aku dapat sehari-hari.
Mixed feeling karena ada perasaan kosong dan iri. I got no Sonya or Marisol.
Mixed feeling karena ada suara di kepala yang bilang, hey ini cuma film. Cobalah tonton aja tanpa ada penilaian macam-macam. Jangan semua-muanya dijadiin ajang evaluasi diri.



