Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Maret 2023

Pameran Patah Hati

"I like it!!! Puk puk from me :)"

Sebuah DM datang di hari pameran patah hati dibuka, tanggal 14 Februari 2023. Dari seorang pengunjung yang merasa relate dengan apa yang aku ingin coba sampaikan, tentang tepukan yang hanya sebelah tangan.

....

Sebulan sebelumnya, Mas Des mengumumkan akan membuka pintu rumahnya menjadi ruang pameran: Story of A Broken Heart. Kirimkan zine bertema patah hati bikinanmu sendiri. Mari kita rayakan patah hati bersama-sama.

Aku punya banyak pengalaman soal itu. Maka, dengan nekat kupersembahkan zine "Surprise Walking Trip" ini.

Rasanya campur aduk. Di satu sisi kesempatan berkarya akhirnya datang, tapi di sisi lain aku harus membuka cerita personal ini ke orang-orang. Bukan apa-apa, takut ketauan sama orangnya 😅


Dok. Mas Des





Kamis, 30 Oktober 2014

Insanity in National Gallery

I do insane..

You do insane..



We do insane!!
^Captured by Om Insane, EH, Om Isan. Kidding, Yu.. ;p

Kemarin gue dan teman-teman berkunjung ke pameran seni di Galeri Nasional. Pertama kali nih main ke GN, alhamdulillah ga nyasar hahah. Lokasinya di depan st. Gambir, deket Monas. Sayang ya, KRL ga berenti di Gambir. Jadi kemarin kita turun di Gondangdia terus jalan menyusuri rel sampe Gambir. Abis itu tinggal nyebrang, sampe deh.

Tapi boong. ;p

Hahaha. Bercanda Broo.. Manalah bisa menyusuri rel, wong lintasannya aja melayang. Kemarin kita menyusuri jalan lurus aja dari Gondangdia sampe mentok di gedung-gedung perkantoran, ga bisa lurus lagi, terus belok kiri, sampe deh. Gampangnya, ikutin aja lintasan rel kereta.

Pameran ini gratis Bro, dan digelar sampe 10 November 2014. Ayo ayo kunjungi sebelum tutup! :D
Di sana lu bisa liat berbagai karya seni, dari yang keren, serem, sampe aneh. Seperti biasa, gue sebagai rakyat jelata cuma bisa menikmati tanpa memahami. Sungguh takjub rasanya bagi gue ngeliat sebuah gagang pintu yang menempel di sebongkah batu.
Aneh tapi menakjubkan, itu seni loh, Pil. :O

Buat kamu yang masih ada waktu main, mainlah ke sana. Kunjungi pamerannya, nikmati karya seninya. Abis itu menulislah. Ceritain rasa takjub yang lu rasa waktu ngeliat karya para seniman. Udah kaya studi tur ini disuruh bikin karangan. Hahah. Insane.

Makasih Tantos, Emak, dan Ayu dan si Om, yang sudah menemani jalan-jalan. :D
Makasih para seniman, kurator, dan panitia yang udah berkarya ngadain pameran ini. :D

Jumat, 08 Agustus 2014

Upil's Day Out

Hari ini gue keluar rumah dooong..
Emang dari kemarin ga keluar-keluar?
Keluar sih, nyampe teras doang. ;p

Jadi tadi gue ke FX Sudirman, nonton teater JKT48. Yaah, sebagai penasihat Teater Ruang Contoh{} gue harus tau perkembangan dunia teater, kan? ;p
Ga deng, gue ke FX bukan untuk nonton JKT48. Gue aja baru tau kalo teaternya ada di FX. ;p

Lagi ada Asean Youth Expo di sana dari tanggal 8-10 Agustus ini. Sistem jarkomnya sangat gencar. Terkesan bergengsi sekali acara ini! Wow! Maka gue terprovokasi untuk ikut.

Dari rumah gue di Bekasi, gue ke Tol Barat untuk naik bis AC05. Ongkosnya 8000 rupiah saja, plus 500 rupiah dapet pengamen bersuara macho nyanyi lagu "You're Beautiful" James Blunt. Dianterin langsung sampe depan FX pun. Baik banget memang.

Exponya sendiri ga jauh beda sama pameran Genus di IPB. Isinya stand-stand dari negara Asean yang promosi budaya. Ada cemilan, baju adat, brosur-brosur, gitu lah. Terus ada workshop tentang interview yang jadi inceran utama gue berkunjung. Gue udah berekspektasi macam-macam, tapi ternyata workshopnya itu talkshow di panggung saja. Oke.

Selesai talkshow itu, gue jadi sadar (lagi-lagi). Nyari kerja yang sesuai minat dan kualifikasi kita ga gampang, Bro. Capek pun. Baru ikut workshop aja capek loh ternyata. Ini kayaknya juga efek ga keluar-keluar rumah. Apapun itu, beres talkshow gue langsung cao. Tadinya mau poto-poto depan Teater JKT48, tapi ga jadi ah.

Tamat.

Senin, 16 Juni 2014

Pameran Tunggal


Dua belas pelukis. Puluhan karya. Sepuluh hari pameran. Satu pengunjung. Aku.




Menyenangkan.
-hari terakhir pameran lukisan 'Roaring History'-

Senin, 07 April 2014

Ini Jekartah, Bung

Guru, mungkin prediksimu benar bahwa Planetarium tidak buka. Tapi bukan karena kami datang dia jadi tutup. Kukabarkan, di sana sedang ada renovasi sampai 20 April 2014.

Guru, mungkin kamu akan menertawakan perjalanan kami kemarin. Tapi bukan itu alasan aku menulis. Ini untuk melengkapi perjalanan kemarin yang rasanya kurang absurd tanpa dirimu.

Hari Drama
Sabtu kemarin aku ke Planetarium bersama Bang Bali. Berangkat dari Bogor ramai-ramai naik KRL ke Cikini, tapi cuma kami berdua yang ke Planetarium. Padahal tadi di KRL ada banyak orang, semua tempat duduk mereka duduki. Mereka ke mana?

Planetarium ini letaknya di Taman Ismail Marzuki, kusingkat jadi TIM. Nah, TIM ini satu komplek dengan Institut Kesenian Jakarta. Kalo ini kusingkat jadi IKJ. Di perjalanan, aku melihat adegan FTV padahal ga ada syuting. Berarti ini bukan akting.

Adegan satu: Seorang pria mengejar wanita di stasiun Bogor. Mereka seperti pasangan yang sedang cek-cok. Pria itu ingin minta maaf, tapi wanitanya menghindar.

Adegan dua: Seorang pemuda mengejar-ngejar Metromini. Bukan untuk kenalan denganku (karena aku sudah turun) atau dengan penumpang lain, tapi karena jaketnya ketinggalan. Ini terjadi di depan TIM.

Adegan tiga: Kami sampai di Planetarium, tapi gedungnya tutup. Ini adegan paling dramatis. Aku jadi sadar kalo drama terjadi di sekitar kita. Hanya butuh kepekaan untuk merasakannya. #iklan #TeaterRuangContoh{}

Untungnya kukira Planetarium buka, jadi ke sana. Lalu kami kelilingi XXI, gedung-gedung artistik, dan beli gorengan sepotong 2.500 di warung pojok.

Awas, kameranya pecah

Ini gorengan Jekartah, Bung
Di sebelah warung pojok ada toko buku mirip dengan yang di Bara. Entah buku bekas atau buku lama, kebanyakan tentang seni dan sastra, tapi harganya jauh beda. Ini Jekartah, Bung.

Institut Ekspektasi
Pergi ke kawasan IKJ, aku membayangkan kawasan yang 'nyeni' sekali. Soalnya ini 'institut' yang bidangnya spesifik. Mungkin ekspektasiku kebesaran, mungkin begitu juga pandangan orang tentang kampusku yang juga 'institut', yang kemarin ramai di Kompasiana. #pfft
Selain itu, aku pernah lihat foto kakak tingkat bersama pocong bohongan yang digantung di pohon waktu dia kemari. Tapi kemarin aku ga lihat ada pocong, yang kulihat ada dua pameran.

Pertama, pameran lukisan dari Yanuar Ernawati. Judulnya 'Kejujuran dalam Kebebasan', ada 15 lukisan yang dipamerkan. Aku ga paham maksud dari judul dan lukisannya, tapi aku senang melihatnya. Pengunjungnya juga belum ramai waktu aku datang, cuma ada sekeluarga kecil dan beberapa orang. Begitu mereka pergi, aku dan Bang Bali foto-foto sebebasnya. Lupa ada CCTV. Duh.

Kejujuran dalam Kebebasan

Kedua, pameran sketsa dari Toto BS, judulnya 'Sketsa Spontan'. Ada sekitar 30 kanvas yang dipajang, beberapa kanvas yang kosong. Menurut buku panduan, kanvas kosong itu akan dibuatkan sketsa wajah pengunjung. Membuatnya dengan charcoal, dan spontan.

Sketsa Spontan

Ayoo datang ke TIM, ada pameran sampai 13 April, dan gratisss..

Kopaja AC Eksekutif dan Transjakarta
Dari TIM, kami lanjut naik Kopaja eksekutif untuk keliling Jekartah. Bayar 5.000 sampai Lebak Bulus. Aku was-was naik Kopaja kemarin, supirnya ngebut berebut jalan dengan motor, Kopaja lain, dan taksi. Seram melihatnya dari bangku penumpang. Bunyi klaksonnya ribut. Jalanan ramai semrawut. Kalo di Bogor meski semrawut, jarang yang ngebut. Ini beda. Ini Jekartah, Bung.

Dari Lebak Bulus, kami lanjut naik Transjakarta sampai ke PIM. Pertama kalinya aku naik Transjakarta, ternyata baunya mirip Transpakuan. Di PIM, kami mampir untuk sholat Ashar. Tadinya mau makan juga, tapi bisa-bisa sampai akhir bulan aku harus #Tantangan5RibuSehari. Ini PIM, dan ini Jekartah, Bung.

Jadilah aku dan Bang Bali naik Transjakarta lagi. Tadinya mau ke Juanda, lalu pulang naik KRL dari stasiun sana. Tapi bingung dengan koridornya, jadi kami bablas ke Kota. Lagi-lagi KRL penuh sesak, padahal ini malam minggu.

Itinerari:
st. Bogor-st. Cikini (KRL): 4.000
st. Cikini-TIM (Metromini 17): 3.000
TIM-Lebak Bulus (Kopaja AC 20): 5.000
Lebak Bulus-PIM (Tranjakarta): 3.500
PIM-Kota (Transjakarta): 3.500
Kota-Bogor (KRL): 5.000
Sholat shubuh: kosan
Sholat dzuhur: TIM
Sholat ashar: PIM
Sholat magrib: st. Bogor
Sholat isya: st. Bogor
;p