Belakangan ini, tiba-tiba saya jadi ingin punya pasangan. Rasanya akan menyenangkan jika punya seseorang yang bisa saya cintai dan .. ia juga mencintai saya. Apa, ya, pemicunya? Saya juga masih menelusuri balik soal ini.
Mungkinkah saya akan menemukan seseorang yang mau menerima saya? Yang tanpa ragu dan canggung akan jadi "tempat pulang" dan tujuan hidup saya. Yang akan jadi objek utama surprise-surprise kecil maupun besar. Yang akan saya perdengarkan playlist lagu favorit dan rekomendasi tontonan, lalu jadi lawan bicara soal apa-apa saja: sisi gelap, abu-abu, dan terang kami. Yang saling menguatkan saat salah satunya lemah. Berbagi tawa, keringat, dan air mata bersama.
Entah pikiran saya akan semakin bising atau justru makin tenang karena dibagi, saya ingin mencobanya untuk tahu.
Rasanya, konsep pasangan seperti ini yang terbayang untuk sekarang. Terlalu serius, ya? Hahaha.
Saya open for discuss, kok. Saya sadar, untuk bisa jadi "tempat pulang" seseorang, saya pun juga harus memberikan apa yang saya bisa untuk membuatnya nyaman. Ini pekerjaan dua orang. Saya bertekad untuk terus belajar. So please, bear with me.
Btw, cukup omongan soal pasangan ini. Di tanggal 14 Februari lalu kami serumah tes PCR dan esok harinya keluar hasil: saya positif covid, ibu saya juga.
Alhamdulillah, ga ada gejala yang memberatkan.
Yang saya dan ibu rasakan, lebih ke gejala flu berat dengan batuk berdahak dan bersin yang keras, disertai sakit tenggorokan. Kerennya, dari kami berempat hanya adik saya yang beda sendiri. Dia negatif.
Alhamdulillah, kondisi ibu saya stabil dan tetap baik nafsu makannya. Aktivitas juga normal. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
 |
| Story close friend, tapi malah diupload sini gimana sik. |
Jujur saya ngga kaget ketika hasil saya keluar, meski tetap ada perasaan mencelos. Bagaimana engga, satu kantor dikonfirmasi positif semua dan kita semua kontak erat sehari-hari. Tinggal nunggu vonis aja ini mah, pikir saya. Office outbreak is really happening.
Meski begitu, kami tetep kerja dari tempat masing-masing. Bagi yang tumbang, istirahat 1-2 hari lalu kemudian join the forces, lanjut kerja lagi. Ga ada yang murni istirahat. Sad but true.
Dari kacamata karyawan, sebenernya kita bisa (dan harus) izin istirahat dan take the day(s) off for sure. Tapi, entah kami ini terlalu polos atau saking loyalnya, ga ada yang menuntut hal itu. Saya jadi kebawa juga. Jadi meragukan, hey, kamu beneran kuat atau mau izin ga kerja dulu aja? And I took the hard way, keep the working on.
Ada cerita lucu, si Tiara, yang perhatian ke semua orang, nanyain udah minum obat belum. Minum deh, itu obat dari kemenkes. Obat flu segala flu mulai dari flu burung, flu babi, influenza dan influencer.
"Ra, ini serius sekali minum 8 tablet?"
"Iya, Yaumillll. Hari pertama kita minum 16 tablet."
*emot senyum tapi menangys*
Baiklah, kata dokter Halodoc juga obat ini harus dihabiskan. Sekali mulai, kita ngga bisa mundur lagi. Sampai hari ini, dari total 40 butir, sisa 3 butir lagi untuk jadwal diminum sore. Hore.
Besok juga jadwal kami untuk PCR ulang dari puskesmas. Meski kalo nanti dideteksi masih positif, katanya udah ga di tahap menularkan lagi. Semoga, ya. Aku kangen jajan keluar, mau belajar bahasa isyarat di
Sunyi dan menelusuri jejak
DariHaltekeHalte. Itu cita-citaku loh kalo udah negatif. Hahaha.
Dan, hari ini aku bandel udah jajan es kopi lagi. :p