Tampilkan postingan dengan label retorika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label retorika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2021

tentang sekarang

melihat foto-foto lama aku jadi ingat
terakhir kali kita keluar
menelusuri jalan,
memungut kepingan-kepingan sepi
yang tertinggal di ujung hari

ah, waktu itu ya.

berapa lama waktu tersingkatmu
dalam pengalaman mengenal seseorang
hingga patah hati sepatah-patahnya?

seminggu
hari ini persis seminggu.

rasanya seperti ada balon yang ditiup maksimal lalu meletus
dan menekan-nekan rongga dada

aku jarang menggunakan siratan langsung
tapi kali ini langsung saja

rasanya sakit dua kilo

Selasa, 22 Januari 2019

Telah Hilang, Teman Berbagi Kesedihan Korporasi

Kehilangan teman bekerja,
bisa sama rasanya seperti duka ditinggal kekasih.

Apalagi malam sebelumnya kita masih sempat menertawakan lelucon yang sama,
yang mungkin tidak lucu bagi yang bukan kita.

Apalagi malam sebelumnya, di warung pinggir jalan kita masih merayakan kesedihan
sebagai sesama budak birokrasi basi.
Kalian dengan rokok masing-masing, dan aku yang sibuk protes soal asap berbalut nikotin.

Apalagi di malam sebelumnya, warung pinggir jalan tempat berkumpul selepas jam kerja,
menjadi saksi kita yang masih bersiasat agar sama-sama selamat dari sabda Raja Terakhir.

...
Malam ini, di warung pinggir jalan kita sama-sama berteduh dari hujan yang tumpah. Kalian masih dengan rokok masing-masing, bersama aku yang sesak dari asap dan kabar pisah yang terlalu mendadak

dan kesedihan adalah teman terbaik bagi retorika.

Jumat, 01 September 2017

Retorika 2017: Episode September

Dialog Kota
Di antara desing yang bising
tepi yang sunyi
dan atap yang meratap

ada makna yang terperangkap
menunggu untuk diungkap

Jakarta
Desing mesin yang bising
hilang tertelan bunyi yang sunyi
di pinggiran kota Jakarta
kau dan aku tidak bicara kata

bahasa debat membabat percakapan yang melarut,
sontak kita sepakat soal sudut yang lapuk,
dan kota menertawakan kita
yang merengut

Jakarta Tua
Di seberang bangunan tua
kamu mengawali perkenalan kita
di hari itu juga
kita mengakhiri perjalanan berdua

Jejak Merapi
Ada kisah yang mengalir
lewat benda yang menjadi abu
jejak para pendahulu hadir
di lintas lahar yang membeku

di tanah vulkanik aku berdiri
menangkap makna yang tak terucap
di hadapannya aku menyadari
betapa kecilnya aku

Senin, 14 Agustus 2017

Retorika 2017 | Episode Agustus

Nona
Nona, bisa tolong tunggu sebentar?
Rasanya kita terlalu jauh melangkah tanpa mempelajari apa-apa.

Hari-hari yang panas memaksa kita berjalan cepat-cepat. Kamu yang gampang terbujuk,
dengan tanpa perlawanan menyerah dibawa gelombang manusia modern.

Nona, bisa kita kembali sebentar?
Di ambang batas ini, kita tidak tahu mengejar ambisi siapa.

Nona, bisa kita kembali bersama?
.

Tidak Ada Sunset Hari Ini
Sore itu matahari pergi tanpa pamit
Tenggelam ia tanpa aba-aba,
meninggalkanmu yang berharap melihat pendarnya
dari tepian teluk Jakarta

Tidak ada sunset hari ini
tidak ada jejaknya yang warna-warni
menyisakan kita dengan kamera masing-masing
dan tanda tanya untuk rencana esok hari
.

Penulis yang Tertidur
seseorang coba tolong bangunkan
ada penulis yang tertidur di kepalaku

bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.

Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis

Minggu, 11 Juni 2017

Retorika 2017 | Episode Juni

Musim Panas di Cisauk

Langit tidak pernah semerah hari ini

Di penantian dari siang ke malam
seiring dengan semakin menyalanya rona di pipimu
kau mengisi jeda yang ada, dengan menertawakan hal-hal yang kita kuatirkan
sambil berharap itu tidak pernah benar-benar terjadi


Semalam di Cisauk

Hari-hari berlalu lebih cepat di sini
sementara kau masih belum tau akan memilih apa
dengan keputusan dan nasihat orang tua
yang mati-matian kau bela sampai mati

Hanya tinggal aku sebagai gundukan tanah
yang orang lupa pernah ada


Suatu Sore di Cisauk

Matahari masih terasa panasnya
ketika angin datang membawa kesenangan yang kekal
tapi kau mulai bosan dengan apa-apa yang bersifat dunia

Janji Jani

Namanya Jani
yang kepadanya aku berjanji
ini kali terakhir kita membicarakan musim panas di Cisauk

Kamis, 13 Oktober 2016

Retorika 2016: Episode September

Malam Sastra
kilap lampu bersajak rindu
mengajakmu mendeklamasikan ia
yang namanya kau simpan
dalam dekap yang semakin pilu


Isak
Senja tenggelam
di helai-helai rambutmu
tak ada lagi yang tersisa di sini
esok sudah pergi
pamit ia dari kelopak matamu
tinggal aku yang terisak
dan pertanyaan yang belum sempat kau jawab
Apa yang lebih rahasia
dari tatapan seorang hawa?


Tidak Ada
tidak ada kata hari ini
akibat aksara yang mogok massal
menolak hadirnya sabda-sabda usang
janji setia atas nama birokrasi

tidak ada karya hari ini
akibat sastra yang dipenjara
oleh aturan paksa sang penguasa
yang lahir atas nama birokrasi

sejujurnya,
tidak ada bahagia hari ini
akibat rasa yang mendadak pergi
menunggu hadirnya ia
yang bernama hanya dalam ratap

Ingin
Memelukmu harus menjelma angin
Dipelukmu harus menjelma guling

*) puisi-puisi ini yang saya sertakan di workshop menulis kemarin untuk dijadikan prototype buku. :>

Rabu, 31 Agustus 2016

Retorika 2016: Episode Agustus




Makhluk Sastra
matamu adalah puisi
yang binarnya bicara seribu bahasa
lebih indah dari seorang penyair

bibirmu adalah soneta
yang heningnya menyuarakan surga
lebih agung dari seorang pujangga


Kamu yang Berduka
Ada mendung di matamu
yang rintik gerimisnya
membasahi tanah merah
di Jeruk Purut sore itu

Ada guntur di suaramu
yang getar gemuruhnya
gemetar di sekujur jasad
saat membisikkan adzan di telingaku


Ketuk
Masihkah kau tutup rapat
pintu ke mana kita menuju?
Hanya satu ketuk lagi yang tersisa
untukmu, kuharap itu cukup


Rahasia
Jangan bilang siapa-siapa
katamu
pada cermin
di pantulan mataku

Sabtu, 30 Juli 2016

Retorika 2016: Episode Juli

Kalau Kau Bertanya Aku Mau Apa
Kalau kau bertanya aku mau apa
aku mau kita
pergi berjalan
ke toko buku yang kau tak suka

Kau suruh aku memilih buku apa
biar kutraktir
katamu bersabda

Setelah ini kau mau apa?
kali ini giliranku yang bertanya
Kita menyanyi saja
sampai serak pita suara kita
sampai tiba pulangnya pekerja

Seperti itu jawabanku
kalau kau bertanya aku mau apa
Atau kujadikan sederhana saja
aku mau..
kau bertanya aku mau apa

Suara Hati
Apa yang lebih jujur dari suara hati?
Ialah suara perut yang nyaring berbunyi

Sudah terlalu lama kita di sini
Ayo pergi, bukan mereka yang kita cari

Selasa, 12 Juli 2016

Retorika 2016: Episode Juni

Sandiwara Rasa
Cuma di kepalamu
kopi bisa menari
menari ia dengan kata-katamu
yang tak berbunyi

Cuma di matamu
air bisa bicara
bicara ia dengan perasaanmu
yang tak bersuara

Sabtu, 25 Juni 2016

Retorika 2016: Episode Mei

.
A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Tentang Lampu Jalan yang Memuja Bulan
Ada yang diam-diam senang
di tiap malam menjelang
disembunyikannya perasaan hatinya itu
dalam pendar cahaya buram
.
.
.
*note:
I'm running out of idea(s). HELP! m._.m

Sabtu, 16 April 2016

Retorika 2016: Episode April

(Masih) Ada Api di Matamu
Ada api di matamu
ketika kumasuki ruang-ruang waktu
tempat kita bertemu dulu/
Masih kuingat jelas
malam itu di Jakarta
kupinjam cahaya dari lampu-lampu jalanan
untuk menerangi hariku yang gelap.
Seketika bayangmu hadir, dilatari bokeh dengan warna-warni buram
mengusir muram
menuntunku pulang/
Masih kucuri dengar derai suaramu yang tertawa
masih kucari benar tawa suaramu yang berderai

Wayang Layang
Angkasaku adalah bumi
Cahayaku adalah gelap
yang menyamarkan ke'aku'anmu
kala memanduku dalam lakon pertunjukan semalam

Bosan
Aku bosan duduk
Aku ingin melompat, teriak
lalu berlari
mengunjungi festival seni
Aku bosan sendiri, terasing
di tengah-tengah orang asing
Aku minta teman
Aku ingin ditemani

Lupa
Akhir-akhir ini aku sering lupa
Lupa untuk tidak membayangkan wajahmu dalam kerumunan banyak orang,
lupa dengan waktu yang kita habiskan bersama sambil bicara macam-macam,
lupa untuk mengabaikan gigi-geligimu yang kelihatan saat tertawa,
dan
lupa untuk melupakanmu
yang tak pernah melupakannya

*diketik Mei 2016

Kamis, 31 Maret 2016

Retorika 2016: Episode Maret

Dalam Diam
mata kita tak beradu
tapi kata kita bertemu
di sepertiga menjelang subuh
kau dan aku sama-sama mengadu

Dialog Imajiner
Lima menit lagi aku ke sana
Titipanmu sudah kubawa, tenang saja
Seperangkat alat pekerja
yang tak tahu mengisi harinya
dengan apa

Aduh
Akalku hilang
tertinggal di halaman-halaman pikiranmu
yang ketinggalan zaman
tersesat alur nalarmu
yang belok-belok
mengambang bersama ucapanmu
yang omong kosong

Acrophobia
seorang pria yang takut ketinggian,
berontak.
saat diangkat naik pangkat,
ia teriak.

*diketik April 2016

Senin, 29 Februari 2016

Retorika 2016: Episode Februari

makhluk tak kasat mata
katanya, ada yang sedang mendekatimu meski kau tak sadar. diam-diam ia memperkecil jarak. senti demi senti dikikisnya untuk mendengar suaramu ketika menggumam.

pagi itu kulihat ia di pojok ruangan. mendapatimu yang baru datang, ia tersenyum menarik perhatian. tapi kau hanya diam.

siangnya kulihat ia mematung di jendela. menunggumu yang baru kembali dari makan di luar. setahuku ia sendiri belum makan.

sore datang. kau bergegas pulang. kulihat ia masih sibuk dengan pekerjaan di tangan. tapi matanya, kulihat tatapannya yang menemanimu hingga hilang dari pandangan.

negeri sejuta senja
mendekatlah
kan kuceritakan tentang negeri sejuta senja
yang banyak orang bilang ada surga di dalamnya
yang banyak orang datang memburu semburatnya
yang banyak orang hilang, melebur di tanahnya

puisi adalah soal logika
sebermula kata adalah bahasa
seiring aksara yang terbaca
ada spasi yang tercipta
menyusup di sela cerita

puisi cinta tanpa kata cinta di dalamnya
secangkir kopi di pagi hari
adalah bukti kau masih di sini
sepiring nasi bersambal terasi
adalah bukti kau masih peduli

*diketik Maret 2016

Minggu, 31 Januari 2016

Retorika 2016: Episode Januari

#1
di langit malam kulihat cahaya
saat bunda tertatih antara hidup dan mati
menuntunmu melihat dunia

di hari itu aku paling bahagia
menyambutmu hadir di dunia

*dipersembahkan untuk seluruh bayi dan teman saya yang lahir pada bulan Januari. :D

#2
pada suatu hari aku bertanya,
apa yang biasa kau lakukan di sabtu pagi?

masihkah kau menatap layar monitor
sambil mendengar lagu asing yang kau sendiri tak tahu bercerita tentang apa?
yang kau suruh dirimu untuk diam dan dengar saja, nikmati melodinya

adakah kau duduk dalam kereta menuju Jogja
sambil membaca buku yang kau sendiri tak tahu tentang apa?
ikut dalam rencana temanmu yang tanpa rencana itu
bertualang keluar Jakarta

jika saja kau tahu bunyi pertanyaanku ini
akankah kau bercerita saja
ataukah kau justru bertanya,
untuk apa kau bertanya?
bukankah kita melakukan segalanya berdua?

#3
kita berada di ketinggian yang sama
ketika hujan datang
membawa kesenangan yang kekal

kita berada di ketinggian yang sama
ketika kamu menapak
di tanah yang basah sisa hujan semalam

kita pernah berada di ketinggian yang sama
ketika kamu belum terbang
lalu menghilang

#4
langit masih gelap
ayam masih terlelap
sendirian ia terperangkap dalam senyap
ketika mimpinya datang menyergap

Kamis, 31 Desember 2015

Retorika 2015: Episode Desember

Hari yang Dijanjikan
kalau sampai tiba waktunya
akankah senja semerah hari ini?
pada hari itu gadis kecil mungkin telah menjelma dewasa
yang berkat doa orang tua, ia selamat dari pertaruhan dunia

Bunga-bunga Cosmos
mendekatlah
akan kuceritakan kisah yang dulu kucuri dengar
tentang bunga-bunga cosmos
yang mati muda
yang tumbuh cepat
mekar berbunga, berbiji tua lalu mati

Isyarat Hujan
hujan turun di Bekasi sore ini
diiringi perkusi dari langit
yang menghentak!
memintamu berhenti sejenak
untuk mendekat dan memperkecil jarak

Denyut
Dengarlah
ini denyut nadi orang yang patah hati
rasanya sama saja
tidak mati

*diketik Januari 2016

Senin, 30 November 2015

Retorika 2015: Episode November

Berita Duka
Berita duka datang bagi yang tidak mengharapkannya
seorang teman yang selama ini hilang kabar, kini telah berpulang
bukan kembali ke kita, tapi kepada keabadian
tempat terbaik telah disediakan untuk mereka yang baik
dan rindu mendadak hadir bagi mereka yang kehilangan

Di Bandara
Malam menjelang ketika kamu harus pulang
tak ada lagi yang tersisa di sini
apalagi rencana ke depan
tapi kita masih bisa menepi
duduk minum kopi, lalu bicara
semoga bukan untuk yang terakhir kali

Buah Tangan
Segumpal rendang hadir untuk orang tersayang
bawa dengan hati, jaga jangan sampai tumpah
kamu bisa sisihkan minyaknya kalau mau
itu juga supaya panas dalammu
tidak makin parah
dan bibirmu tidak makin pecah
atau sariawanmu tidak makin merah
tapi kamu malah khawatir
kalau rendang ini membeku
terpapar salju yang menderu

Perpisahan
satu lagi orang yang pergi
diikuti satu, dua, tiga, dan empat lainnya
dan seterusnya
sampai semuanya habis
sampai semuanya pergi
kamu kapan?

Sabtu, 31 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode Oktober



Di Seberang Jembatan Layang
Di seberang jembatan layang
ada langit malam yang terluka
pekatnya koyak
ditembaki kokangan lampu sorot
milik juragan properti ibukota

Wanita Pendiam
Ia tak bersuara kecuali dalam hati
Ia tak berkata kecuali lewat tatapan mata

Di Balik Bilik yang Sepi
Di balik bilik yang sepi
Kamu bebas berekspresi
Bisa bersuara berisik
Tanpa ada yang terusik

Dalam Tidurmu Tadi Pagi
Kamu belum benar lelap, dalam tidurmu tadi pagi
ketika tepukan halus datang dari seorang asing
yang menanyakan arah, sambil tersenyum bersalah
karena mengusik tidurmu tadi pagi

Minggu, 04 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode September

Kota Anti Sosial
Di kota Anti Sosial
kesehatan rakyat dijamin dengan asuransi
sayangnya kita sudah keburu kebal
dijerat tradisi birokrasi

Di kota Anti Sosial
nasib rakyat siapa yang tentukan
kalau wakilnya memilih bungkam
gara-gara takut dibegal

Hukum Manusia
Tayangan tivi menampilkan orang berdasi
ribut sana-sini bicara hak asasi
demi harga diri, orang pintar dibayar mahal
mengulik pasal, memutar akal

penggusuran hadir di surat kabar
orang sakit terbaring di selasar
di mana hukum pelindung jelata
apa itu hanya untuk yang berharta?

Cerita Lahan Sengketa
jerit pecah anak-anak
perlawanan tubuh wanita renta
bayi dalam gendongan ibu-ibu muda
semua hadir menyambut aparat yang datang atas nama penguasa

di atas lahan negara
air mata tumpah
keringat amis dengan darah jelata
bercampur puing tanah air beta

Kita Juga Rakyat
kepada yang sudah berjuang
banting tulang mencari dukungan
jangan lupa kalau sudah duduk di singgasana
kita juga rakyat

Minggu, 13 September 2015

Retorika 2015: Episode Agustus

Tunggal
Tidak ada yang salah dengan menjadi tunggal
meski terlihat sendiri dan terasa janggal
kamu bisa menyusupi celah-celah bumi tanpa ribut
seperti rambatan pada serabut
bebas bergerak ke kanan dan ke kiri jika ingin
atau diam saja terbawa angin

Peran
Kita tercipta
dengan pasrah
dengan peran masing-masing
tidak ada yang mubazir
begitu pun kamu
begitu pula aku

Insomnia
Gelap hadir bagi mereka yang menyepi
menunggui pagi menyusupi alam yang lelap
mencuri hari
melucuti diri

Tidurlah,
ini perintah

Besok
hari belum habis, malam masih menjelang
di peron empat kita bicara masalah kehilangan
tidak usah takut dengan masa depan
kuatir hanya untuk mereka yang kehabisan waktu

Sabtu, 01 Agustus 2015

Retorika 2015: Episode Juli

Pertemuan
Ketika terang bukan lagi milik kita
bukankah masih ada gelap yang jadi pilihan?

Ketika kamu bertanya,
apa yang bisa diperbuat oleh waktu?
Bukankah terlihat betapa besar kekuatannya
untuk mengubah kamu
menjadi tidak seperti dulu?

Mungkin kita bukan lagi
orang yang sama, tapi
perbedaan kita kini
bukan berarti harus mencederai
kenangan yang kita punyai bersama, bukan?

Senang melihatmu lagi
setelah sekian lama
meski dalam gelap
tanpa adanya terang

Berhenti
Hidup adalah perjalanan panjang
kita mesti tahu kapan harus berhenti
kapan harus memulai kembali
dan mungkin seharusnya aku berhenti

Peringatan
Terlalu banyak tertawa bisa membunuhmu
kamu sering bilang
tapi aku selalu lupa
hingga kita dimakamkan hari ini

Tragedi
Kalau kau bertanya apa pendapatku tentang Juli
akan kujawab bahwa itu adalah tragedi
seperti tanggal 31 kemarin
saat terjadi tragedi api