Selasa, 31 Desember 2019

A Decade of Me (part 2)

2019: Pameran HPB, 36x36Project
2018: Dialog Kota, photobook submition
2017: Cekrak-Cekrek CNN, Dufan
2016: Dieng Jazz Festival
2015: Outing Mos-Mos
2014: Lulus kuliah
2013: ke Way Kambas
2012:
2011:
2010:

Senin, 30 Desember 2019

A Decade of Me

10: Masuk kuliah di IPB
11: Bapak meninggal
12: *I'm stop typing. Why do I tend to write the dark time when remembering my last decade?

Untold Stories - The Dark Side of Me

Here I am, a little girl trapped in a grown up world. Sometimes I need a time to remembrance my true feelings. The other side of me whom often being forgotten. Perhaps, I'm just going take this chance to say all of my lame complaining.

This year of 2019 is a lil bit hard. In the beginning, I was cope with my broken hearted from the last 2018. It shaped my mind to become so ambitious about meeting the one. The truth, I didn't even realise that me myself is not fully healing, yet.

Then my mom got hospitalised for almost a month. The first time I feel so scared, it does changed everything in our lives, for my whole family. I asked God, why.. why.. why did it happen to me? What did I do at the past? For Him gave me this kind of situations.

My priority, my plans, everything got to change for my mom. The situations are not the same anymore. I wanted to blame on something, but there's nothing to blame. It wouldn't change a thing either.

Since that, I can't casually going here and there like I was back then. I spend more of my free time in the house, standing there by my mom's side. Whenever I'm in a trip, I just hold to myself for not going too long. For just going back home as soon as my trip is done.

I do live from day to day, from a pay-check to another. And it goes on and on. Until suddenly its lead us to this very last day of 2019. And I feel like I'm the same as the last year.

This year.. has taught so many lessons. Yet, I didn't think that I'm a better person. Everytime I spell the magic chant, "Live is not a competition.. live is not a competition..," the truth is I just not ready for the next decade.

Sabtu, 28 Desember 2019

Bermain Film: Memotret dengan Kamera Bapak

Aku mengingatmu, menyimpan gambarmu, dengan cara-cara lama seperti yang dilakukan para pendahulu kita dulu.Bukan dengan bit-bit biner berisi kode heksa yang menerjemahkan warna,melainkan dengan lembaran film dan reaksi kimiawi yang mengunci cahaya di saat ia jatuh. 

Jumat, 27 Desember 2019

Untold Stories - Kamera Analog Pertama

Hai, ini adalah sambungan dari postingan sebelumnya. Series ini akan berisi hal-hal yang belum sempat saya ceritakan. Soal kata-kata yang baru muncul di saat bubaran acara, di perjalanan pulang, atau ketika asik dengan pikiran-pikiran sendiri.

Jadi.. kemarin kami rekaman dua episode sekaligus! Mumpung lagi pada ngumpul kan, karena entah kapan lagi bisa full team begini. Episode berikutnya bercerita soal kamera analog yang pertama dipakai.

Kamera analog pertama yang saya pakai adalah kamera poin n shoot, hasil doorprize dari kantor bapak dulu. Pertama memotretnya dengan film Kodak 400Tx pemberian Ginanjar. Terima kasih, Gin!

Setelah beberapa kali motret dengan kamera bapak, ada rasa ingin eksplor lebih. Karena tipe point n shoot cuma bisa jepret-gulung-jepret, jadinya terbatas hanya untuk penggunaan dengan kondisi cahaya yang cukup. Mulailah saya melirik kamera lain. Dari Baim, saya bertemu Trialfy yang melepas kamera SLR dengan harga murah.

Ricoh KR5-Super, kamera analog kedua yang sering saya ajak hunting belakangan ini. Dengan kondisi lightmeter mati, tuas rewind udah ga ada, dan beberapa bagian yang patah.

Ada kejadian konyol di waktu awal-awal saya pakai. Karena tuas rewind yang udah copot, akhirnya mau ga mau saya akalin dengan ngegulung film secara manual. Ada dua roll film korban keprihatinan saya waktu itu. Yang satu saya gulung di dalam kamar tanpa penerangan. Yang kedua, saya gulung di dalam tas dengan usaha saya tutupin totebag. Hasilnya ketika discan adalah kebakar kabeh. :(

Ini ga bisa diakalin lagi. Saya bawa ke Pasar Baru, minta tolong pasangin tuas rewind. Alhamdulillah masih ada printilan kamera lain yang cocok.

Cerita lain awal saya bermain analog, bisa ditengok di siniiii :)

Rabu, 25 Desember 2019

Untold Stories - Yang Membuatku Suka Bermain Analog

Siang tadi saya rekaman bareng teman-teman sebagai bahan podcast Klise Bekasi. Ini adalah episode kedua kami, coba ya nanti kalian dengar sendiri di Spotify. Hehehe.

Topik podcast kali ini adalah alasan kamu menyukai kamera analog. Kan, susah tuh makenya, ga bisa langsung ketauan lah hasilnya, mahal juga prosesnya. Ribet deh, nggak praktis. Nah, kamu kok malah suka sih sampe bikin-bikin perkumpulan segala?

Awal suka karena saat itu ada temen yang ngasih film, Kodak 400tx. Saya coba pakai dengan kamera dari doorprize di kantor bapak. Setelah dicuci-scan, lah kok hasilnya baguss, masuk kategori berhasil deh. Jadi nagih. :_)
Mungkin akan lain cerita kalau hasilnya banyak yang gagal. Haha.

Selain dari itu, karena dibalik tiap jepretan, ada nilai sentimentil yang hadir. Karena kamera yang saya pakai ini, dulu juga pernah dipakai sama bapak. Kami pernah sama-sama memotret dengan cara-cara lama. Sepertinya, ini cara lain saya untuk mengenang bapak.

Ohiya, satu lagi. Dokumentasi fisik dari klise yang udah diproses. Ini ga ada gantinya sih, cuma bisa kamu dapat dari film kamera analog.

Kalau nanti podcastnya sudah tayang, mungkin jawaban saya akan terdengar kurang menarik. Karena saya cuma jawab sekadarnya aja. Duh 😂

Entah kenapa ya, kata-kata ini baru keluar lancar di sesi off recording. 😂

*Episodenya sudah tayaang. Bisa didengar di sini ya :9