Minggu, 16 Oktober 2016

R A N D O M THOUGHTS

"It is okay to be a fool sometimes."

-fool


"I just don't reveal myself to anyone, but when I do, I put my trust on you."

-trust


"Hope comes to those who live with pain and sorrow."

-hope

Cerita Dini Hari

Pukul 01.26 pagi, tiba-tiba saya ngidam Indomie.
Biasanya tidak begini, ada apa dengan saya hari ini?

Jarang-jarang saya masih melek jam segini. Setelah sempat rutin begadang sampai mata berbayang dan kepala kliyengan, belakangan ini saya rajin menidurkan diri lebih awal. Alarm yang saya pasang pukul 01.00, saya abaikan demi tidur yang saya rindukan.

Tapi pagi ini..
Tau-tau saya sudah di dapur. Masak sebungkus Indomie Goreng rasa iga penyet yang tinggal satu-satunya. Ditambah gerusan cabe rawit dalam mangkok legendaris cap ayam, tanpa sadar saya mengunyah hingga licin tandas. Padahal tadi sudah makan malam.

Sekarang..
Saya bingung kenapa saya begini.

Kamis, 13 Oktober 2016

Retorika 2016: Episode September

Malam Sastra
kilap lampu bersajak rindu
mengajakmu mendeklamasikan ia
yang namanya kau simpan
dalam dekap yang semakin pilu


Isak
Senja tenggelam
di helai-helai rambutmu
tak ada lagi yang tersisa di sini
esok sudah pergi
pamit ia dari kelopak matamu
tinggal aku yang terisak
dan pertanyaan yang belum sempat kau jawab
Apa yang lebih rahasia
dari tatapan seorang hawa?


Tidak Ada
tidak ada kata hari ini
akibat aksara yang mogok massal
menolak hadirnya sabda-sabda usang
janji setia atas nama birokrasi

tidak ada karya hari ini
akibat sastra yang dipenjara
oleh aturan paksa sang penguasa
yang lahir atas nama birokrasi

sejujurnya,
tidak ada bahagia hari ini
akibat rasa yang mendadak pergi
menunggu hadirnya ia
yang bernama hanya dalam ratap

Ingin
Memelukmu harus menjelma angin
Dipelukmu harus menjelma guling

*) puisi-puisi ini yang saya sertakan di workshop menulis kemarin untuk dijadikan prototype buku. :>

Senin, 10 Oktober 2016

Menulis Cepat Tiga Menit

Well, hari ini (kemarin) gue abis ikut workshop Make Your Own Book dengan Lala Bohang sebagai mentornya.

Acara ini diadain di Qubicle Center, bersamaan sama pameran The Museum of Forbidden Feelings sebagai side project-nya Lala, atas bukunya yang berjudul The Book of Forbidden Feelings yang baru terbit Juli 2016 kemarin. Pokoknya kita ngomongin hal-hal yang terlarang deh di sana. Hahaha. Ga deeng.

Di sana gue duduk sebelahan sama bu Rossie. Seorang pensiunan yang udah kerja selama 25 tahun di bidang marketing, dan sekarang mendedikasikan dirinya untuk memasyarakatkan budaya membaca.
Utamanya di kalangan tenaga pendidik.

Bu Rossie ini keibuan banget, kalo ngomong suka nepuk punggung gue. Huhuhu. Tepukan di punggung dari seorang yang asing, entah kenapa kok rasanya hangat, ya? :")

Anyway, ada hal lain yang mau gue bahas.

Sesuai judul postingan ini, di workshop tadi ada sesi menulis cepat tiga menit. Tujuannya sih supaya kita jadi lebih mendengar pikiran kita sendiri dan menuangkannya langsung tanpa banyak mikir. Apa adanya yang kepikiran di benak lu, tulis aja. Karena banyak kendala kenapa tulisan seseorang ga rampung-rampung itu karena kebanyakan mikir. Jadi ide yang tadinya ada malah jadi buyar karena ga langsung didengar dan dituangkan ke media lain.

Hmm. It was so fun!
Kenapa ya?
Mungkin karena gue jarang dengerin suara-suara di pikiran gue dengan apa adanya. Serius deh. Gue udah sering menyugesti diri gue untuk lebih jujur sama diri sendiri, tapi ga gampang broh.
Terlalu banyak ketakutan.

Gue udah sampai di tahap menerima. Tapi untuk lanjut ke tahap selanjutnya, tahap mengatasi kali ya bisa disebutnya, gue masih berusaha. Perlu usaha yang parah.

Anyway, ada yang mau tau apa yang gue tulis di workshop tadi?
Gue ketikin ulang nih, tanpa diedit sama sekali. Ada tiga bagian, yang tiap bagiannya ditulis selama tiga menit non-stop. Cekidot!

-------------------



Menulis cepat. Tulis aja apa yang ada di pikiran lo. Jangan dilawan, jangan dibantah, jangan lari dari dia apalagi.


Menulis cepat menuntut lo, bukan menuntut sih, apa ya?
Lebih tepatnya mungkin mengharapkan elo mendengarkan apa kata pikiran lo sendiri. Ga peduli struktur kalimat, penulisan, atau apa, tapi kalo gue peduli sih.
Udah kebiasaan soalnya.

Seharusnya ga usah kayak merasa dituntut atau diburu-buru gitu, karena tujuannya bukan banyak-banyakan tulisan atau bagus-bagusan cerita. Nulis aja terus...


------------------



Di workshop ini menulis cepat dibagi-bagi jadi 3 sesi, well, ga begitu ngerti sih kenapa.


Temen-temen yang lain ada yang sambil ketawaan, kayak yang seru begitu. Sementara kita semua tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.

Seneng sih gue dengan metode ini, it feels like..
perasaan lama ketika gue nge-blog dulu, ketika gue ambyar aja nulis apapun, curhat ala anak SMA di masa itu.

Easy bray..
karena ini bukan perlombaan. Elu & mereka punya otak yang beda, pemikiran yang beda, ide yang beda.
Ga usah terpengaruh.

-------------------

Ini sesi terakhir.

Pegel uga karena udah lama ga nulis.

Padahal cuma 3 menit loh di tiap sesi.
Tapi lumayan juga gue udah menghasilkan hampir 1 halaman kertas HVS.

Atau kepegelan ini karena postur menulis gua yang digaya-gayain, ya?
Duduk tegak, dengan posisi meja yang ketinggian, jadi tangan gue kayak harus "ngangkat" gitu posisinya.

Mungkin ada pengaruhnya.
Mungkin itu sebabnya.

Di sini gue ga bisa banyak omong,
karena emang ga ada yang mau diomongin, sih.

Ya, enjoy the process aja.
Ikutin workshop-nya.


------------------