Jumat, 25 Agustus 2017

Selamat Pagi Keripik Kentang

Pukul 01:15
dini hari ini terbuat dari aku yang kelaparan dan ingin mengunyah,
di tengah-tengah perasaan kagum yang sulit dibendung hingga ingin dikagumi juga
kulangkahkan kaki ke meja makan yang tak berpenghuni di rumah ibuku

masih ada sebungkus keripik kentang
yang sudah terbuka bungkusnya
tercerabut sebagian isinya olehku seminggu lalu
teronggok tanpa pesona seolah kehilangan minat

hei
pernahkah kalian merasa sangat senang hingga berakhir sulit tidur?
keantusiasan yang berujung terjaga semalaman saking tak sabar akan petualangan esok hari
seperti aku sekarang ini

selamat pagi keripik kentang
aku menyayangimu tanpa tapi
tanpa tentang
tanpa mimpi

Sabtu, 19 Agustus 2017

Catatn Acak: di Toko Buku

Siang ini saya jalan-jalan sendirian ke toko buku. Sudah lama rasanya tidak begini, saking lamanya  sampai lupa kapan terakhir kali.

Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.

Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.

Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.

Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.

Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.

Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?

Entah kenapa saya berpikir seperti ini.

Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?

*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"

Kamis, 17 Agustus 2017

Short Note

Pagi ini tiba-tiba saya ingat waktu dulu, di masa awal-awal PKL.
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂

Senin, 14 Agustus 2017

Retorika 2017 | Episode Agustus

Nona
Nona, bisa tolong tunggu sebentar?
Rasanya kita terlalu jauh melangkah tanpa mempelajari apa-apa.

Hari-hari yang panas memaksa kita berjalan cepat-cepat. Kamu yang gampang terbujuk,
dengan tanpa perlawanan menyerah dibawa gelombang manusia modern.

Nona, bisa kita kembali sebentar?
Di ambang batas ini, kita tidak tahu mengejar ambisi siapa.

Nona, bisa kita kembali bersama?
.

Tidak Ada Sunset Hari Ini
Sore itu matahari pergi tanpa pamit
Tenggelam ia tanpa aba-aba,
meninggalkanmu yang berharap melihat pendarnya
dari tepian teluk Jakarta

Tidak ada sunset hari ini
tidak ada jejaknya yang warna-warni
menyisakan kita dengan kamera masing-masing
dan tanda tanya untuk rencana esok hari
.

Penulis yang Tertidur
seseorang coba tolong bangunkan
ada penulis yang tertidur di kepalaku

bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.

Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis

Selasa, 08 Agustus 2017

Peninggalan Seseorang

Hi,

Saya orang yang baru kelimpahan barang bekas pemakaian kamu nih. Yah, namapun aset kantor kan, makenya gantian. Haha.

Kita benar-benar ga saling kenal, ga pernah ketemu, ga pernah berurusan langsung. Bahkan kamu pasti ga tau kalau ada saya di dunia ini. Monolog ini benar-benar satu arah, dari saya ke kamu sebagai tuan dari fasilitas ini sebelumnya.

Belum lama ini, saya melihat nama kamu dalam selembar kertas. Surat bukti serah-terima aset IT perusahaan. Dari kamu yang sudah tidak di sini, kepada saya yang baru beberapa bulan. Saya yang kepo dan tertarik dengan hal-hal kurang penting, malah fokus ke nama kamu sebagai pengguna sebelumnya.

Tanpa berpikir, saya cari nama kamu dalam mesin pencari yang katanya paling tahu sedunia. Ga banyak informasi tentang kamu dalam pencarian menggunakan nama asli. Cuma ada blog pribadi dan akun di media sosial khusus profesional, plus akun twitter yang kebanyakan isinya re-tweet dari cuitan orang-orang. *saya cuma liat sekilas sih

Tapi ada akun Instagram dengan nama samaran kamu. Dari sana saya tahu bahwa kamu, benar-benar seorang hipster yang nyeni. Dan saya yang mudah kagum, jadi agak-agak minder dengan peninggalan ini.