Sepasang orang tua yang 'gaptek' membuat desain spanduk untuk menuntut investigasi ulang atas dugaan bunuh diri yang menimpa anaknya, Jina. Georgia adalah jenis huruf yang bersikeras mereka pilih, walau sebenarnya tidak bisa digunakan untuk menulis aksara Korea. Pada akhirnya, kata-kata dalam spanduk itu hanya berupa kotak-kotak kosong.
| GEORGIA oleh Jayil Pak |
GEORGIA (2020) diangkat dari kasus Miryang yang benar-benar terjadi di Korea Selatan. Diduga korban bunuh diri setelah sebelumnya mengalami kekerasan seksual yang dilakukan teman-teman sekolahnya. Dalam film ini, hanya 3 dari 21 pelaku yang dijatuhi 'hukuman' skorsing, selebihnya tidak terungkap sama sekali. Alih-alih diusut tuntas, polisi malah menawarkan jalur damai.
Selama kurang dari 30 menit, film ini sangat dalam dan hati-hati mengangkat kesulitan yang dialami kedua orang tua Jina menuntut keadilan untuk anaknya. Hanya mereka berdua, dan mereka hanya punya satu sama lain, melawan sistem yang melindungi pelaku. Betul-betul sulit dan sendirian. Bahkan teman-teman sekelas Jina juga bungkam, tidak ada yang berpihak dan bersedia jadi saksi.
Huruf Georgia sendiri dipilih sebagai simbol kehadiran Jina dalam upaya protes ini. Huruf yang sedang didesain ulang oleh Jina agar dapat digunakan dalam aksara Korea. Kedua orang tua Jina, dan huruf Georgia, mereka bertiga melakukan protesnya lewat desain spanduk.
Akting para pemain yang mumpuni, didukung desain produksi yang amat matang, berhasil menggiring emosi penonton. Penggunaan simbol-simbol, gesture tokoh, dan warna palete yang dipilih semakin memperkuat setiap aspek yang tak terkatakan. Hingga sampai di bagian akhir film, di situlah gong-nya.
Korban kekerasan seksual dan keluarga masih sering dipersulit dalam menuntut pengusutan kasusnya. Victim blaming masih juga sering ditemui. Rasa-rasanya, semua yang ada hanya sunyi yang mengarah ke jalan buntu.
Meski begitu, seperti yang berulang kali tokoh utama ini sampaikan: tetaplah hidup. Kita masih punya kehidupan untuk dihidupi.



