Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 September 2017

Tidur

Tidur adalah satu-satunya cara berhenti berpikir. Itu katamu pada suatu malam.

Memikirkan apa memang?

Macam-macam. Kebanyakan memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaanku.

Mengapa kau memikirkan hal semacam itu?

Tidak tau juga, semacam kebiasaan kurasa. Aku ingin berhenti berpikir demikian. Aku ingin berhenti berpikir soal apapun.

Kuberi tau ya, orang-orang yang kau pikirkan itu sebenernya sama sekali tidak ambil pusing soal kamu. Orang-orang yang kau pikirkan itu, sama sekali tidak memikirkan kamu. Bahkan mereka semua sama saja dengan kamu, sibuk memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaan mereka. Jadi, stop berpikir soal itu.

Kamu, memang kamu tidak pernah berpikir seperti itu?

Kalo aku sih, aku ya aku. Soal apa yang orang lain pikirkan mengenai aku, itu urusan mereka bukan urusanku. Ada hal lain yang lebih sering kupikirkan. Misal makan pagi besok aku mau makan apa ya? Baju untuk kondangan besok, aku akan memakai apa ya?
Hal-hal seperti itulah.

Kau tau, sebenarnya aku sedang mencoba berhenti untuk berpikir. Tapi semakin aku mencoba, malah semakin berpikir aku. Ada suatu saat ketika aku berhasil berhenti dari kegiatan berpikir, tapi setelah itu aku justru berpikir soal tindakanku yang tanpa pikiran itu. Seperti lingkaran setan.

Kau.. saranku sih kau cari pacar sana.

Hah, apa hubungannya?

Ya aku belum tau juga sih, karena aku belum pernah pacaran juga. Tapi kelihatannya orang yang punya pacar dan melakukan aktivitas pacaran tidak akan menyedihkan seperti kamu. Ya setidaknya mereka kurang punya waktu sendiri untuk memikirkan hal yang sering kau pikirkan itu.

Hei, lihat siapa yang ngomong. Aku tidak ingin menerima saran soal pacaran dari orang yang belum punya pacar juga.

Kuralat ucapanku barusan. Jangan cari pacar. Orang-orang seperti kita ini rasanya tidak cocok kalau pacaran. Ruang yang kita punya bahkan belum cukup untuk menampung diri kita sendiri, apalagi kalau mau ditambah keberadaan orang lain.

...

Bisa tidak ya aku melewati hari tanpa berpikir?

Kupikir kamu pasti bisa. Kamu pernah melakukannya, beberapa kali setauku.

Kapan ya itu?

Ya itu.. seperti ucapanmu yang mengawali percakapan kita ini. Kamu bisa berhenti berpikir ketika kamu sedang tertidur. Katamu kan, tidur adalah satu-satunya cara yang berhasil membuatmu berhenti berpikir.

Hm.. iya sih. Tapi selain itu, sebenarnya aku ingin melakukan aktivitas lain selain tidur. Rasanya sayang kalau malam yang panjang aku lewatkan hanya dengan tidur. Kadang otakku bisa berhasil memikirkan hal lain dan jadi melahirkan karya lain di malam hari tanpa tidur.

Dari pembelaanmu barusan, aku bisa menangkap sesuatu tentang kamu.

Apa?

Sebenarnya yang membuatmu terus-terusan berpikir itu adalah takut. Ketakutanmu akan sesuatu yang akan hilang, yang lepas karena kau biarkan lewat begitu saja tanpa kau pikir masak-masak. Sementara yang kau pikirkan adalah ketakutanmu, bukan caramu untuk menghadapi ketakutanmu itu.

Ucapanmu masuk akal.

Ya kan? Saranku sih, kita sering-sering melakukan hal ini. Kamu bicarakan saja apa-apa yang kamu pikirkan, aku akan dengar dan tanggapi dengan kebisaanku.

Akan kupertimbangkan saranmu.

Bagus. Setelah ini, kau mau apa?

Aku akan mencoba berhenti berpikir.

Caranya?

Tidur.

Senin, 26 Desember 2016

Nanti Magisnya Hilang

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Orang dari seberang jembatan pernah bilang,
"Masa depan adalah warna-warni yang bokeh."

Aku yang waktu itu sedang diam, mau tak mau jadi mendengar omongannya, yang sepertinya ia tujukan untuk dirinya sendiri. Sebab setahuku tidak ada manusia lain yang menyahuti omongannya dari sisi seberang sana. Kita berdua seutuhnya sendiri.

Sambil menahan nafas karena perut yang mendadak kembung, aku tunggu lanjutan kalimatnya yang cuma sepotong tadi. Perut yang kembung kutepuk-tepuk sebagai hiburan. Suaranya benar empuk sekali, reaksi dari asam lambung yang terakumulasi sejak pagi.

Orang itu, yang kulihat berdiri dari seberang jembatan, lalu melanjutkan omongannya.
"Omongan barusan.. orang-orang bakal ngerti ga, ya?
Atau perlu kujelaskan mengapa?"

Kalimatnya yang kosong tanpa ditujukan ke sesiapa, sampai ke telingaku yang sedang awas. Duh, orang melankolis lagi. Perut kembung ini perlu makan, bukan omongan manis penuh filosofis. Dan mendengar kalimat terakhirnya barusan, aku jadi ingin membalas,
"Ga perlu dijelaskan justru, nanti magisnya hilaang.."

Senin, 02 November 2015

Manusia Anti Modus

Ipul teman saya, orangnya polos luar biasa. Banyak temennya yang sering ngartiin dia ga peka. Padahal kalo mereka tau cerita sebenernya, mereka pasti setuju kalo si Ipul ini cuma orang paling anti modus sedunia. Asal mereka tau aja..

Saking polosnya, si Ipul ga bisa ngebedain antara orang pura-pura dan orang yang sandiwara. Di mata Ipul, apa yang orang lain lakuin itu ga punya maksud lain selain apa yang keliatan. Makanya dia gampang banget kena tipu. Sebaliknya, orang yang mau modus sama dia, hmm.. siap-siap aja gagal atau coba ngomong terus terang karena kodenya sering ga diterima.

Suatu hari, Ipul cerita sama saya. Dia abis ketemu sama orang aneh di stasiun Manggarai. Orang ini kenal juga engga sama si Ipul, tapi ngajak ngomong macem-macem. Si Ipul yang sama sekali ga curiga mah ngeladenin aja. Ditanya dia jawab, diajak ngobrol dia nyaut. Sama sekali ngelupain pepatah, 'Jangan ngomong sama orang asing'.

"Lu ga ditawarin obat herbal sama dia?" tanya saya.

"Ngga tuh. Cuma dia nanya, 'Kerja apa kuliah? Ada rencana mau beli rumah atau mobil ga? Mau wirausaha ga?' gitu."

"Hmm, berarti dia orang kredit tuh. Mau nawarin modal."

"Terus dia cerita mau merger usahanya sama perusahaan startup."

"Cerita doang?"

"Iya. Ngomoooong mulu. Awalnya soal musik, soal Indra Yudistira, Wishnutama, pokoknya industri kreatif gitu. Mungkin karena gue ga antusias nanggepinnya, jadi ga nawarin apa-apa."

"Barang-barang lu ga ada yang ilang?"

"Ga ada.."

"Itu orang mau nyulik elu kali, Pul. Cuma takut nyusahin makanya ga jadi."

"HEH! Sembarangan lu.. Itu orang emang dateng tiba-tiba. Gue lagi nunggu kereta kan, sambil makan keripik sendirian. Terus itu orang dateng, minta keripik gue. Udah minta, diabisin coba! Keripik gue!"

"Waahahhah, itu lu kena hipnotis berarti. Buktinya keripik lu abis!"

"HAH? Astaghfirullaaaah.."

Wahahaha. Entah saya harus kasian atau gimana denger cerita si Ipul. Waktu saya tanya kenapa dia ga pura-pura ke toilet aja, pergi gitu dari itu orang, si Ipul dengan naifnya cuma nganggep itu orang lagi nyari temen ngobrol. Kasian juga ya itu orang. Orang kayak Ipul diajak investasi ngomongin masa depan mah, mana kepikiran. Salah milih korban, wahahah.

"Lagian elu mau-maunya diajak ngobrol sama orang ga dikenal."

"Gue kan ga mikir macem-macem. Ya, gue juga ga tau maksud itu orang maunya apa. Niat gue kan cuma jadi orang baik yang ga nyuekin orang lain."

"Hmm.."

"Lu tau, gue rasa orang jaman sekarang itu terlalu curigaan. Kebanyakan mikir yang engga-engga. Coba senadainya kita hidup tanpa prasangka, ga ada modus-modus. Pasti bakal lebih tenang hidupnya.. Ga usah ngemodus dan takut dimodusin, kan?"
 "Wahahah, untung lu ga diapa-apain Puuul... Keripik doang abis!"
 "Iya nih. Lu ga tau aja gue baca-baca doa terus dalem hati. Ngeri..."

Minggu, 01 Maret 2015

Obrolan Bang Ke

'Woy, Bang Ke!'
'Elu manggil nama gue yang bener napa.' -_-
'Lah itu udah paling bener, Bang. Hahahahha'

Bang Ke, teman saya, orangnya tinggi besar. Karena dia memang hobi makan, sih. Kesukaannya adalah mie rebus pake telor yang biasa dia makan sebelum masuk kantor. Hampir setiap pagi saya papasan sama dia yang lagi sarapan mie di kantin B1. Saking seringnya, saya jadi khawatir kalo nanti dia bosan.

'Kagak bakal bosen gue mah. Masalahnya, ini udah makanan paling enak yang bisa gue dapet sepagi ini. Kagak ada yang ngalahin,'

Itu jawaban Bang Ke waktu saya tanyakan hobi makannya. Esok harinya, saya ketemu dia yang lagi sarapan bubur. -_-

Selain hobi makan, Bang Ke juga hobi ngoding. Hampir setiap hari dia ngoding. Karena itu memang kerjaannya, sih. Bang Ke orang yang mengajari saya dalam dunia kode-kodean, meski sambil marah-marah. Dari saya yang tadinya ga tau apa-apa, sekarang jadi tau beberapa. Bang Ke memang galak, tapi dia sebenarnya orang baik. Tapi lebih baik lagi kalo dia ga galak.

Sering saya nimbrung ngobrol sama dia, sering juga saya dimarahin. Bang Ke selalu mikir jelek tentang apa yang saya obrolin. Sementara saya selalu mikir yang asik-asik aja.
'Gue tuh selalu mikir jelek bukan apa-apa, cuma supaya gue punya argumen aja. Jadi bisa antisipasi kalo ada yang ngebantah pendapat gue. Dari awal mikir tuh, gue harus curiga.
Karena waktu lu curiga, lu jadi kritis..
Lu jadi mempertanyakan, benar ga sih? Emang begini? Kok begitu? Lu jadi pingin tau jawabannya. Lu jadi nyari tau jawabannya. Jadi lu ga nerima mentah-mentah informasi yang ada. Apalagi soal kerjaan.

Biar lu ga gampang dikibulin..
Biar lu punya pegangan atas pendapat lu sendiri, ga gampang dipengaruhin..
Biar lu ga dimanfaatin orang..
Tuh, biar jelek tapi bermanfaat juga kan cara mikir gue?' *ketawasetan*

'Gue sebenernya juga pingin gitu, Bang, kritis. Defaultnya gue kalo sama apa-apa tuh pasti mikirnya baik, dipositif-positifin duluan. Niat gue sih emang untuk menghindari pikiran-pikiran jelek. Tapi berakhir kayak gue yang netral ga punya pendapat atau pandangan apa-apa.'

'Ya lu ga usah ikut mikir jelek kayak gue juga. Cukup lu saring aja, apapun itu. Lu pikirin dulu, yang penting otak harus selalu jalan.

Lu kan udah lumayan lama kan idup? Pasti ada pengalaman lah yang lu dapet. Lu pake itu aja buat nyaringnya.'

'Ribet ya, Bang.'

'Ribet emang, ribet banget. Tapi gue mendingan kayak gitu deh, mikir jelek, kemungkinan terburuk untuk antisipasi. Makanya suka geregetan gue sama orang yang kelewat santai.'

'Pantesan lu galak ya, Bang.' 
*lalu saya dijitak*

Sabtu, 15 November 2014

Seni Tak Bisa Diburu

Bang Jud teman saya, orang yang nyeni dan misterius. Penampilannya rapi dan biasa saja, tapi nyentrik. Setiap ngobrol dengannya, saya selalu kehabisan kata. Kalimat yang keluar dari mulutnya seperti punya jiwa sendiri. Begitu hidup sekaligus mematikan.

Tadi sore pulang kerja, saya ketemu lagi dengan Bang Jud. Ada kopi dan gorengan di dekatnya. Dia sedang istirahat siang, baru selesai bikin karya katanya.

'Kalo sudah sore namanya bukan istirahat siang lagi, Bang' kata saya.
Bang Jud membalas, 'Hari masih siang di negara Mesir. Aku mau saja mengikuti siang di Jakarta, tapi malas ikut istirahat siang ala orang-orangnya.'
'Memang salah apa, Bang, istirahat siang orang Jakarta?'
'Aku ga bilang salah, aku cuma ga suka. Rasanya mirip pelarian. Kalo kamu lari rasanya lebih capek, tho, dibanding kamu istirahat sambil ngopi atau makan gorengan?'
'Itu mah jelas atuh, Bang. Tapi saya masih ga ngerti, istirahat kok jadi pelarian.'
'Sini aku jelasin. Menurutmu apa namanya kalo ngeliat orang cepat-cepat keluar makan siang, kejar-kejaran sama istirahat yang cuma sejam, terus buru-buru kembali lagi. Tambah capek aku ngeliatnya.
Pernah aku diajak makan siang sama kawan, pas jam istirahat orang kantoran. Aku ikut makan dengannya, saingan sama banyak orang di warung makan. Aku dengar obrolan mereka, semua tentang pekerjaan.
Meski mereka ketawa dan keliatan bercanda, tapi rasanya ga lepas.
Sementara aku, sebagai pekerja seni aku harus lepas untuk bisa nyelesaiin karyaku. Kalo kepotong waktu istirahat siang Jakarta, aku ga bisa. Ide-ideku keburu kabur. Makanya aku ikut waktu istirahat Mesir. Heheh'
'Tapi kan jadi sendirian istirahatnya, Bang. Ga ada temen yang ikut waktu Mesir juga. Hehe'
'Lah, kan ada kamu. Kalo kamu ga mau nemenin aku, ya, aku ngga apa-apa. Aku istirahat bareng orang-orang di Mesir sana.'
'Hahah, saya mah mau asal ada gorengan, Bang..'
'Oalah, dari tadi kamu nungguin makan gorengan, tho? Makan aja ga usah sungkan, sama aku kok ya malu-malu..'
'Hahaha, bagi ya Bang..'

Minggu, 02 November 2014

Keresahan Seorang Ibu

Sabtu pagi, ibu menelpon anak bungsunya yang sedang kuliah di luar kota. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. Karena masih pagi, yasudah, ibu melanjutkan aktivitas seperti biasa. Bersih-bersih rumah, ke pasar, memasak, mencuci.

Tengah hari, selepas makan siang, ibu mencoba menelpon kembali anak bungsunya. Anak bungsu baru mengalami operasi, operasi cabut gigi yang baru tumbuh, mungkin ibu ingin mengetahui perkembangan pasca operasi anak bungsunya. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. Ibu mulai heran, ada apa hingga anak bungsunya tidak bisa dihubungi.

Ibu mencari tau kesana-kemari. Bertanya ke saudara-saudara yang tinggal dekat kota anak bungsunya pergi kuliah. Mencari tau nomor telpon kosannya, mencari tau nomor telpon teman anak bungsunya, minta tolong saudaranya untuk menengok, semua ibu lakukan untuk mengetahui kabar anak bungsunya.

Sore hari, ibu mencoba menelpon kembali anak bungsunya. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. The destination number is not answered, katanya. Hanya pesan suara yang membalas telpon ibu, 'Tinggalkan pesan setelah bunyi tuut..', katanya. Ibu mulai resah, sebenarnya ibu sudah resah sejak siang tadi, tapi baru menunjukkan keresahannya sore hari.
'Kenapa ya ditelpon dari pagi ga diangkat-angkat?'
'Kenapa nih anak?', ibu bertanya-tanya.
Anak tengah yang sudah terbiasa menyaksikan keresahan ibu hanya menanggapi dengan kalem, 'Paling lagi ikut UKM.'

Bujukan anak tengah yang kurang usahanya membujuk agar ibu tenang pun gagal. Ibu masih resah menunggu kabar anak bungsunya. Takut ada apa-apa. Melihat keresahan ibu, anak tengah mulai agak serius menanggapi. Ya, namanya firasat ibu, kan, peka sekali. Meski begitu sebenarnya anak tengah punya teori sendiri tentang hilangnya kabar anak bungsu. Ya itu tadi, ikut UKM. Heheh

Malam pun tiba, ibu mencoba menelpon kembali anak bungsunya. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. Teori anak tengah mulai diragukan ibu. 'Masa dari pagi ditelpon ga diangkat juga. Kalo ikut UKM, masa sampe malem belum selesai juga', katanya. Keresahan ibu makin menjadi. Rencana ibu ikut pengajian esok subuh di Kwitang hampir dibatalkan. Ibu ingin stand by menanti kabar anak bungsu, takut kenapa-kenapa, katanya.

Untungnya pembatalan itu hanya emosi sesaat. Berkat usaha ibu sejak siang hari mencari kabar anak bungsunya, akhirnya didapatlah nomor telpon kosan anak bungsu. Ibu langsung menghubunginya. Dari pesan yang diterima, dikabarkan bahwa anak bungsu sedang ikut pelatihan Menwa. Ini diketahui dari seragam ijo-ijo yang dipakainya waktu meninggalkan kosan pagi buta.

Teori anak tengah terbukti benar. Ibu berangsur tenang. Resahnya hilang. Rencana ibu ikut pengajian subuh di Kwitang sepertinya akan terlaksana. Anak tengah kalem saja, sudah menduga penantian ibu akan berakhir melegakan seperti ini. Ibu saja yang terlalu khawatir.

Saat ini ibu sudah berangkat mengaji. Anak tengah tidak ikut karena akan kondangan. Dia yang baru bangun tidur langsung solat subuh. Sekarang diketahui sedang bermain internet sambil menunggu pagi.

Tamat.