Selasa, 24 Agustus 2021

Rindu Tak Mengenal Waktu



Di awal minggu, bisa-bisanya kita saling mengadu cerita masa lalu.

Berawal dari postingan Amal di Senin pagi, dilanjut pertemuan virtual selepas Isya dengan patokan waktu Indonesia bagian barat. Deti yang di Bali dan Ima yang di Makassar pun masuk ke pusaran waktu Bogor, tempat kita bertemu sebelas tahun lalu.

Tentu saja sapaan awal adalah tentang sekarang di mana, kondisi selama pandemi, sibuk berkegiatan apa, hingga pertanyaan yang tidak mungkin lewat: soal siapa sudah berkeluarga dan siapa yang masih sendiri (dan ini mudah dihitung karena lebih sedikit rasionya). Hahaha.

Saking lamanya tidak bertemu - dan mengobrol - saya sedikit kaget dengan berisiknya Putra (kalo hebohnya Bundo sih ngga kaget), Ima yang kalem keibuan, Yunita yang masih (kadang) jutek, Ganies yang frontal, Aris yang punya banyak bahan obrolan, dan Riris yang nun jauh di Jambi. Kalian ga banyak berubah, ya, dan berkumpul sambil ngobrol bareng berhasil menghadirkan nuansa sewaktu kita masih sama-sama jadi yang termuda dulu. Ke lapang bareng, ngedanus bareng, obrolan menggoda Hesty-Eka, dan lainnya sebagai UKF angkatan delapan.

Sempat ada sedikit perasaan minder dengan banyak pencapaian dan kerja-kerja nyata yang kalian lakukan. Tapi perasaan diterima dan kenangan yang dihadirkan lebih mendominasi suasana semalam. Terima kasih, ya.

:')

Minggu, 22 Agustus 2021

Pengetahuan Saya untuk Apa?

Seminimalnya pengaruh dari karya yang kita hasilkan atau kita nikmati adalah membuka jalan ke kebenaran.

Belakangan ini saya merasa overwhelmed dengan segala info dan kisah yang saya ketahui dari membaca artikel, thread orang, maupun media youtube. Banyak sekali permasalahan yang tidak ada habisnya yang sebenarnya saling terkait satu sama lain. Tapi itu semua berakar dari satu aspek yang sama, yaitu sejarah.

Dari pencapaian bersejarah medali emas oleh pasangan Bulutangkis Grey/Apri, pengalaman membaca The Journey of Belonging oleh Lala dan Lara, sejarah konflik di tanah Afghanistan yang dipaparkan mas Agustinus, hingga yang barusan saja yaitu pementasan monolog Di Tepi Sejarah: Sepinya Sepi.

Apa itu sejarah? Apa yang sudah kamu lakukan dengan segala paparan yang kamu dapat soal kebenaran masa lalu? Saya takut terjebak dengan pandangan glorifikasi atas perjuangan dan pengorbanan yang sudah dilakukan banyak pihak, sementara saya sendiri hanya sampai pada.. pada.. pada titik tersentuh dan haru biru (?).

Banyak sekali paparan yang sudah orang lain buat, soal konflik yang selalu hadir dalam sebuah pencapaian. Lalu apa? Apa yang bisa saya lakukan untuk meresponnya? Tindakan apa yang harus saya lakukan untuk setidaknya berperan langsung atas segala kebenaran yang saya dapatkan?

Saya tidak tahu.

Bahkan untuk menulis kesan atau ulasan atas tulisan sesederhana catatan keluarga (seperti dalam bukunya Lala-Lara), saya merasa kata-kata yang saya tulis hanya glorifikasi di permukaan.

Saya harus bagaimana?

Saat ini saya tahu, bahwa ada ketidakadilan yang diterima para pahlawan pencetak sejarah, yang hanya diakui oleh pemerintah lewat selebrasi seremonial. Saya tidak mau seperti mereka, para pemerintah yang menebeng momen sesaat.

Saat ini saya tahu, bahwa ada banyak tokoh sejarah yang tidak diakui pemerintah, yang dilupakan jasanya, yang padahal sudah menukar hidupnya dengan kemudahan yang sebagian dari kita nikmati sekarang. Tapi jejak makamnya pun bahkan sudah tidak tersisa.

Saat ini saya tahu, bahwa saya hanya banyak omong dan sebatas menyebarkan info soal sejarah dan budaya yang saya tahu, tanpa ada tindakan lanjutan yang lebih berdampak.

Dan saya merasa rendah karena itu.. tidak sebanding dengan orang-orang yang saya bagikan kisahnya.

Pengetahuan saya ini, untuk apa?

Semakin saya tahu, semakin takut saya bertindak atas sesuatu. :(

Kamis, 12 Agustus 2021

Plot twist

I found this post in someone's Twitter. He is one of my following account, whose most of the time tweeting about movies, films, and cinema.

Here's the tweet: you choose your own movie-plot story, based on the combination of your last phone number, your birth month, and the first letter of your name.

I got this one,

A protagonist who isn't aware of their own beauty decides to sacrifice themselves for the greater good but wakes up to realize it was all a dream.

Directed by M. Night Shyamalan

or Nolan.

Selasa, 10 Agustus 2021

Tentang Pekerjaan dan Karir ke Depannya

Kemarin malam waktu gue lagi makan, si temen kerja mendadak ngajak meeting jam 10 pagi besok. Di tengah-tengah santapan itu, mendadak gue kenyang. Soalnya, seminggu sebelumnya gue mengiyakan sesi interview di hari yang sama!

Whaat?
Beda jam, sih, interviewnya mulai jam 11. Tapi jadinya mepet banget, ga yakin bakal selesai tepat waktu. Langsung ga selera makan, bingung nyari alasan buat nego tanpa terlihat mencurigakan.

Setelah diskusi dengan si Emak, si jago ngeles, akhirnya nemu lah solusi sebagai ancang-ancang kalo ditanya macem-macem. Parno banget gue, ya? Selalu memikirkan dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Hahaha.

Anyway, meeting paginya lancar. Agak telat sih mulainya, tapi langsung gue sounding kalo ada keperluan lain dan jadi cepet mulai dan cepet selesai juga.

Nah, soal interviewnya. Ternyata kondisi tim yang di sana, ga sestabil yang gue kira. Masih ada role yang digabung dalam satu orang, dan ga ada spesifik orang riset yang bisa jadi tandem. Yaa, itu impresi pertama sih. Selain itu, interviewnya menyenangkan karena langsung sama CTO-nya dan kita lebih banyak ngobrol soal bisnis, teknologi, dan selera dalam ngedesain. Kapan lagi coba ngobrol bareng C-level. Gue jadi tau (sedikit) gimana cara pandang dia terhadap produk yang dia bikin.

Gue pasrah sih waktu dia bilang udah ada beberapa kandidat yang kesaring. Nothing to lose. Apapun itu, semoga yang terbaik. Ada beberapa keraguan soalnya (plus juga nunggu follow-up dari inceran yang satunya).

Ngomong-ngomong soal meeting mendadak tadi, ternyata gue dilibatkan dalam project games si grup kerjaan gue sekarang. Wot. Dengan project ini, total ada 7 produk yang gue pegang as a UX designer dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun.

Awalnya gue antusias (designing a mobile game, dude, it sounds cool and it's freaking new for me). Rasanya kayak mengenali diri gue yang suka ganti-ganti fokus. Hahaha. Dalam arti kata, minggu-minggu kemarin memang major task gue udah selesai, dan udah kurang greget gitu lah di kerjaan. Meski gue tetep terus pantau dan stand by kalo sewaktu-waktu ada feedback di tengah proses development.

Kalo boleh bilang, sebenarnya di kerjaan sekarang udah enak banget flow dan suasananya. Ya emang rasanya masih asing karena kita ga pernah ngobrol langsung dan gue pun orangnya masih aja menjaga jarak meski udah 9 bulan kerja bareng. Produknya pun gue kenal banget, karena semua build from scratch. I learnt a lot lah.

Satu-satunya yang bikin gue nyari peluang lain adalah.. benefitnya kurang. 😅

Tiap ditanya, kenapa kamu apply kerjaan baru? Gue selalu ngejawab untuk nyari tandeman partner. Cause I've been alone/single fighter/solo player all this time. Itu salah satunya. Karena kan ga enak aja gitu kalo alesannya soal benefit, kayak lingkaran yang ga pernah putus.

Gue mikir terus, mendem terus, bisa ga sih minta naik gaji? Dengan perhitungan kerjaan selama ini, design from scartch, total 7 produk, laptop modal sendiri, internet modal sendiri, tanpa cuti sama sekali. Tapi gue tau, ni perusahaan masih baru dan tim produk bukan fokus utamanya. Ibarat kita ini anak-anak freelance yang dihire buat ngerjain project dan dibayar. UDAH. Ga ada struktur, ga ada kesejahteraan dari HR. Gaji gue stagnan dari 2 tahun lalu, plus benefit berkurang.

Sementara temen-temen selevel lainnya, gaji udah lebih dengan benefit lain yang disupport kantor. Satu-satunya jalan adalah cari better offering ga sih?

Sampai sini gue mulai kepikiran, ini gue termasuk ngeluh ya? Boleh ga sih gue ngeluh kayak gini?

Alhamdulillah sebenernya masih punya kerjaan. Waktunya juga fleksibel. Timnya ngga demanding. Tapi.. tetep kalo dibandingin sama yang lain mah ada aja kurangnya ya. Dasar manusya.

Di satu sisi rasanya kayak ada yang teriak-teriak, "Woy, lu deserve better than this." Tapi di sisi lain, ada yang bilang, "Rejeki bukan cuma soal angka. Syukurin aja yang ada."

Hehehe.

Rabu, 04 Agustus 2021

Peluk

Postingan tentang mimpi, lagi.
Semalam, saya tiba-tiba tergabung dalam tim pelatnas bulutangkis. Tinggal bersama penghuni lainnya, di bangunan asrama yang ternyata.. berhantu. 😢

Saat tur keliling komplek, Pak Pemandu dengan santai menjelaskan tanda-tanda "perkenalan" yang biasa ditampakkan ke penghuni baru. Salah satunya, akan ada sosok berbaju hijau yang biasanya muncul.

Benar saja, di bawah pohon dekat jemuran, saya melihat dua orang wanita muda dengan dress selutut berwarna hijau sedang menari. Tariannya gemulai dan indah, tapi memunculkan perasaan ngeri. Mendadak jantung saya berdebar cepat dan segera saya memalingkan muka.

Dari mimpi semalam, saya bisa sih nge-break down bagian-bagian dari mimpi itu, yang sebenarnya dipengaruhi dari apa yang saya lihat seharian sampai sebelum tidur.

Potongan dress yang dipakai dua wanita itu bersumber dari produk Pinangkami milik Kadek Arini. Kalau "genre" supranatural yang melatarbelakangi mimpi saya, ini pasti karena persis sebelum tidur saya nonton video obrolan Radit soal hantu pabrik. Salah sendiri, idenya siapa coba dengerin cerita horor sebelum tidur. 😂

Anyway, selain pengalaman horor yang terasa nyata, ada hal lain yang juga masih terbawa hingga saya bangun, hingga saya beraktivitas, hingga saya akhirnya menulis postingan ini.

Di mimpi semalam, saya merasakan pelukan. Seorang teman, dalam hal ini dia atlit, memeluk saya dari belakang. Hangat dan sangat nyaman, sampai ketika saya bangun rasanya ada yang hilang.

Saya ngga lihat wajahnya, tapi ketika melihat poster Satou Takeru pemeran Kenshin Himura si batosai, perasaan nyaman yang hilang itu hadir lagi. Maksudnya, saya jadi kehilangan dan ingin merasakannya lagi.



Rasanya, si pemeluk sudah lama dihinggapi kesepian dan akhirnya menemukan apa yang dia cari, saat memeluk saya. Di satu sisi, saya pun belum pernah merasakan interaksi sedemikian intimnya. Rasanya, kami jadi seperti saling menemukan dan mengisi satu sama lain. Meski dalam waktu yang singkat.

Konteksnya, ini pelukan sebagai interaksi yang comforting, ya. Bukan dalam artian hasrat lain. Okay? 😉

Dalam hal ini, benar, saya memang jarang memeluk dan dipeluk. Jangankan hal seintim itu, di kehidupan nyata saya terbiasa menjaga jarak dengan orang lain. Juga rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya bertemu langsung dengan manusia lain sebagai makhluk sosial. 

Omong-omong, saya bisa break down dari mana adegan peluk-memeluk ini sampai muncul di mimpi saya. Ya, apalagi kalau bukan momen kemenangan Grey/Apri. Pelukan kemenangan di podium, dengan kalungan medali emas. Bangga, haru, lega, dan tentunya bahagia. Ah, pengalaman emosional yang kompleks, yang kamu bagi dengan partner seperjuangan selama ini.

Saya juga ingin merasakannya sendiri.

Ah, pandemi ini ngebikin saya jadi makin delusional!

Yang Dicari

Anyway, selamat, yaaa!
Semoga cepet ketemu sama apa yang dicari. Uhuy 💕

Hahaha, kamu juga, yaaa.
Semoga segera ketemu sama yang dicari 😁

Ahaha, iyaaa. Aku masih mencari diriku sendiri 😊

Senin, 02 Agustus 2021

Self-critiques

 I'm a bad person, am I?

Postingan Dummy All Labels are Selected

"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"

1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini