Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2020

36 x Zine dan Cerita Penggalangan Donasi

Tahun lalu, mas Desta (@rukiinaraya) bikin project photo online di Instagram. Selama 36 hari, dengan pakai kamera analog dan satu roll film 36-frame, kami yang ikutan project ini akan motret bareng. Satu kata kunci tiap satu hari, untuk satu frame. Namanya @36x36project.

Di akhir project, semua hasil akan dikumpulkan dan dipamerin bareng. Semua ide project ini, kata kunci per hari, eksekusi pameran, sampai workshop nyuci film, mas Desta yang ngonsep. Keren, ya? Doski memang keren, sih. :D

Nah. Hasil dari ikutan @36x36project kemarin, saya bukukan dalam bentuk zine sederhana. Pertama kalinya nyoba nyetak sendiri nih. Ngeri-ngeri sedap, tapi menyenangkan.

Dari cetakan pertama ini, saya tau apa yang masih harus diimprove kedepannya. Pemilihan kertasnya perlu dipertimbangkan lagi, harus coba jenis kertas lain supaya lebih oke. Untung ga cetak banyak-banyak. Hehe.

Selesai dari percetakan, saya bingung zine ini mau diapakan. Sayang kalau cuma numpuk gitu aja. Mau dijual tapi ga yakin ada yang mau saya ga bisa ngasih harga.

Jadinya, saya mau bagi-bagikan zine ini, ke siapa pun yang mau. Syaratnya: harus ditebus.
Cukup donasi Rp100.000 plus biaya kirim. Uangnya bukan untuk saya cetak zine lagi. Nanti hasil yang terkumpul akan disalurkan ke penggalangan dana untuk membantu warga terdampakk Covid-19 di kitabisa.com.

Dari lima zine yang saya tawarkan lewat IG dan Twitter minggu lalu, baru ada satu yang ditebus (terima kasih, bang Khalid!). Susah juga ternyata menggalang dana. Padahal targetnya udah ga banyak, tapi memang exposurenya dikit juga sih. Perkiraan soal teman-teman yang saya incar untuk donasi, juga meleset. 😅




*klik gambar untuk memperbesar


So, I'll leave it here. Barangkali ada yang membacanya dan berminat, mari hubungi saya, ya. :)

Rabu, 21 Maret 2018

Caption yang Tak Sempat Kau Publish dan Tak Sengaja Kumelupakannya



Romantisme Kereta Tua

Di kereta pagi tadi, Kita begitu dekat. Kurasakan naik-turunnya nafasmu, seperti kau juga merasakan kembang-kempisnya pernafasanku.

Jarak mengikat Kita begitu erat, menjaga Kita demikian tegap. Di setiap pemberhentian yang tidak lama itu, tanpa berpegangan apa-apa, Kita masih bisa berdiri tegak.

Topangan tangan-tangan tanpa Tuan, rapat melawan tekanan di lengkungan logam yang belum seberapa tua, tapi padat berisi pekerja-pekerja Kota.


Pesan yang Tak Perlu Kau Balas Saat Terbangun Nanti

Hai,
Saat ini, saat kamu membaca pesan yang kutulis waktu kamu tertidur tadi, itu berarti kamu sudah bangun.
Jika saat itu tiba, aku sudah tidak di sini lagi. Namun kamu tak perlu kuatir. Pada suatu petang di masa dua tahun lagi, dengan membawa hati yang hangat, aku akan pulang.

Kembali ke rumah.
Kembali ke tempat para pendahulu kita menjalani hidup dengan petuah-petuah bijak.

Tak perlu kau balas pesan ini.
Simpan saja untuk bahan bertukar cerita, di pertemuan kita nanti.

Jumat, 01 September 2017

Retorika 2017: Episode September

Dialog Kota
Di antara desing yang bising
tepi yang sunyi
dan atap yang meratap

ada makna yang terperangkap
menunggu untuk diungkap

Jakarta
Desing mesin yang bising
hilang tertelan bunyi yang sunyi
di pinggiran kota Jakarta
kau dan aku tidak bicara kata

bahasa debat membabat percakapan yang melarut,
sontak kita sepakat soal sudut yang lapuk,
dan kota menertawakan kita
yang merengut

Jakarta Tua
Di seberang bangunan tua
kamu mengawali perkenalan kita
di hari itu juga
kita mengakhiri perjalanan berdua

Jejak Merapi
Ada kisah yang mengalir
lewat benda yang menjadi abu
jejak para pendahulu hadir
di lintas lahar yang membeku

di tanah vulkanik aku berdiri
menangkap makna yang tak terucap
di hadapannya aku menyadari
betapa kecilnya aku

Jumat, 25 Agustus 2017

Selamat Pagi Keripik Kentang

Pukul 01:15
dini hari ini terbuat dari aku yang kelaparan dan ingin mengunyah,
di tengah-tengah perasaan kagum yang sulit dibendung hingga ingin dikagumi juga
kulangkahkan kaki ke meja makan yang tak berpenghuni di rumah ibuku

masih ada sebungkus keripik kentang
yang sudah terbuka bungkusnya
tercerabut sebagian isinya olehku seminggu lalu
teronggok tanpa pesona seolah kehilangan minat

hei
pernahkah kalian merasa sangat senang hingga berakhir sulit tidur?
keantusiasan yang berujung terjaga semalaman saking tak sabar akan petualangan esok hari
seperti aku sekarang ini

selamat pagi keripik kentang
aku menyayangimu tanpa tapi
tanpa tentang
tanpa mimpi

Senin, 14 Agustus 2017

Retorika 2017 | Episode Agustus

Nona
Nona, bisa tolong tunggu sebentar?
Rasanya kita terlalu jauh melangkah tanpa mempelajari apa-apa.

Hari-hari yang panas memaksa kita berjalan cepat-cepat. Kamu yang gampang terbujuk,
dengan tanpa perlawanan menyerah dibawa gelombang manusia modern.

Nona, bisa kita kembali sebentar?
Di ambang batas ini, kita tidak tahu mengejar ambisi siapa.

Nona, bisa kita kembali bersama?
.

Tidak Ada Sunset Hari Ini
Sore itu matahari pergi tanpa pamit
Tenggelam ia tanpa aba-aba,
meninggalkanmu yang berharap melihat pendarnya
dari tepian teluk Jakarta

Tidak ada sunset hari ini
tidak ada jejaknya yang warna-warni
menyisakan kita dengan kamera masing-masing
dan tanda tanya untuk rencana esok hari
.

Penulis yang Tertidur
seseorang coba tolong bangunkan
ada penulis yang tertidur di kepalaku

bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.

Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis

Minggu, 11 Juni 2017

Retorika 2017 | Episode Juni

Musim Panas di Cisauk

Langit tidak pernah semerah hari ini

Di penantian dari siang ke malam
seiring dengan semakin menyalanya rona di pipimu
kau mengisi jeda yang ada, dengan menertawakan hal-hal yang kita kuatirkan
sambil berharap itu tidak pernah benar-benar terjadi


Semalam di Cisauk

Hari-hari berlalu lebih cepat di sini
sementara kau masih belum tau akan memilih apa
dengan keputusan dan nasihat orang tua
yang mati-matian kau bela sampai mati

Hanya tinggal aku sebagai gundukan tanah
yang orang lupa pernah ada


Suatu Sore di Cisauk

Matahari masih terasa panasnya
ketika angin datang membawa kesenangan yang kekal
tapi kau mulai bosan dengan apa-apa yang bersifat dunia

Janji Jani

Namanya Jani
yang kepadanya aku berjanji
ini kali terakhir kita membicarakan musim panas di Cisauk

Tentang Puisi

Puisi adalah serangkai kata-kata indah, bagimu
tidak lebih dari bunga-bunga sajak
yang subur ditanam benihnya oleh petani syair
lalu dipetik mentah-mentah dan ditelan bulat-bulat oleh pemaknanya

Minggu, 02 April 2017

Doa Orang Patah Hati

Tuhan, jika Kau meridhoi
jatuhkanlah sebutir kelapa ini di atas kepalanya
dengan hati-hati
sebab aku tak ingin ia amnesia, lalu lupa segala

Tuhan, Yang Maha Pengasih
kasihilah kami yang patah hati ini
sebab segalanya dalam hidup ini
jadi terasa perih

Tuhan, Yang Maha Pemberi
kirimilah kami orang-orang baik
yang juga sendiri
agar dapat saling menemani

Tuhan, Yang Maha Mengetahui
kuatkanlah hati kami
dalam menempuh ujian esok hari
sebab Senin tak pernah seseram malam ini

Amin.

Senin, 26 Desember 2016

Puisi Resolusi

Kemarin mau menulis lagi
katamu janji dalam hati
eh, hari sudah hampir besok
tapi tulisanmu masih mentok kepentok

kemarin kau janji mau berpuisi
tapi hingga hari ini
kata-katamu cuma lirik lagu punya orang
yang kau ulang-ulang

ah! puisi
resolusi basi
akankah kau ulangi lagi?
pasti.

Kamis, 13 Oktober 2016

Retorika 2016: Episode September

Malam Sastra
kilap lampu bersajak rindu
mengajakmu mendeklamasikan ia
yang namanya kau simpan
dalam dekap yang semakin pilu


Isak
Senja tenggelam
di helai-helai rambutmu
tak ada lagi yang tersisa di sini
esok sudah pergi
pamit ia dari kelopak matamu
tinggal aku yang terisak
dan pertanyaan yang belum sempat kau jawab
Apa yang lebih rahasia
dari tatapan seorang hawa?


Tidak Ada
tidak ada kata hari ini
akibat aksara yang mogok massal
menolak hadirnya sabda-sabda usang
janji setia atas nama birokrasi

tidak ada karya hari ini
akibat sastra yang dipenjara
oleh aturan paksa sang penguasa
yang lahir atas nama birokrasi

sejujurnya,
tidak ada bahagia hari ini
akibat rasa yang mendadak pergi
menunggu hadirnya ia
yang bernama hanya dalam ratap

Ingin
Memelukmu harus menjelma angin
Dipelukmu harus menjelma guling

*) puisi-puisi ini yang saya sertakan di workshop menulis kemarin untuk dijadikan prototype buku. :>

Rabu, 31 Agustus 2016

Retorika 2016: Episode Agustus




Makhluk Sastra
matamu adalah puisi
yang binarnya bicara seribu bahasa
lebih indah dari seorang penyair

bibirmu adalah soneta
yang heningnya menyuarakan surga
lebih agung dari seorang pujangga


Kamu yang Berduka
Ada mendung di matamu
yang rintik gerimisnya
membasahi tanah merah
di Jeruk Purut sore itu

Ada guntur di suaramu
yang getar gemuruhnya
gemetar di sekujur jasad
saat membisikkan adzan di telingaku


Ketuk
Masihkah kau tutup rapat
pintu ke mana kita menuju?
Hanya satu ketuk lagi yang tersisa
untukmu, kuharap itu cukup


Rahasia
Jangan bilang siapa-siapa
katamu
pada cermin
di pantulan mataku

Sabtu, 30 Juli 2016

Retorika 2016: Episode Juli

Kalau Kau Bertanya Aku Mau Apa
Kalau kau bertanya aku mau apa
aku mau kita
pergi berjalan
ke toko buku yang kau tak suka

Kau suruh aku memilih buku apa
biar kutraktir
katamu bersabda

Setelah ini kau mau apa?
kali ini giliranku yang bertanya
Kita menyanyi saja
sampai serak pita suara kita
sampai tiba pulangnya pekerja

Seperti itu jawabanku
kalau kau bertanya aku mau apa
Atau kujadikan sederhana saja
aku mau..
kau bertanya aku mau apa

Suara Hati
Apa yang lebih jujur dari suara hati?
Ialah suara perut yang nyaring berbunyi

Sudah terlalu lama kita di sini
Ayo pergi, bukan mereka yang kita cari

Selasa, 12 Juli 2016

Retorika 2016: Episode Juni

Sandiwara Rasa
Cuma di kepalamu
kopi bisa menari
menari ia dengan kata-katamu
yang tak berbunyi

Cuma di matamu
air bisa bicara
bicara ia dengan perasaanmu
yang tak bersuara

Sabtu, 25 Juni 2016

Retorika 2016: Episode Mei

.
A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Tentang Lampu Jalan yang Memuja Bulan
Ada yang diam-diam senang
di tiap malam menjelang
disembunyikannya perasaan hatinya itu
dalam pendar cahaya buram
.
.
.
*note:
I'm running out of idea(s). HELP! m._.m

Minggu, 22 Mei 2016

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Halo.
Mau ngasih tau aja, kalau edisi terbaru poetrygraphy akhirnya selesaaai.. :D

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Udah lama sih selesainya, cuma langsung dipublish ke Issuu. Terus lanjut beberapa hari bikin mockupnya untuk post di kreavi.com, baru dipost di sini. Mehehee. Hasil beberapa malam tanpa tidur dan paket internet malam dicampur es kopi maknyus. :D

Ngomong-ngomong soal kopi, gara-gara proyek ini saya merasa jadi ketagihan kafein, deh. Kopi sih sebenernya. Padahal dulu saya ga suka, karena rasanya asam, tapi sekarang kok biasa aja malah doyan. Apalagi dicampur susu pake es, karena kalo ga pake es jadinya uu. Krik. Hahaa.

Selama ngerjain poetrygraphy ini, saya belajar banyak nih.. Belajar layouting, editorial design, gimana ngatur posisi teks dan gambar supaya bagus dan enak dibaca. Tadinya di tiap penggalan puisi mau satu-satu aja saya sisipin gambar, semacam ilustrasi tunggal gitu. Tapi ga jadi. Soalnya ada bait puisi yang panjang dan rasanya sesak kalo cuma diselingi satu foto sebelum lanjut ke bait berikutnya.

Saya mikir gimana caranya biar kamu, ga sesak bacanya. Saya mikir gimana supaya kamu bisa bernafas. Saya mikir gimana supaya kamu bisa nangkep dan membayangkan maksud kata-kata saya. Iya, kamu, pembaca karya saya. Hahaa.

Untuk itu jumlah gambar yang saya pakai harus bertambah. Saya pilih-pilih lagi gambar mana yang cocok dan gimana posisinya, di halaman kiri atau kanan. Makanya lama baru bisa jadi. Hahaa. Alasan. Padahal mah ga gitu-gitu amat.

Masih banyak yang harus saya pelajari nih. Edisi ketiga ini dengan berbagai alasan pun masih banyak kurangnya. Kurang cetar gitu. Makanya kita ngopi, yuk. Belajar bareng dan ngomongin edisi selanjutnya atau proyek lainnya. Terus ngobrol banyak sambil ketawa tanpa ego. :D

Tabik!

Sabtu, 16 April 2016

Retorika 2016: Episode April

(Masih) Ada Api di Matamu
Ada api di matamu
ketika kumasuki ruang-ruang waktu
tempat kita bertemu dulu/
Masih kuingat jelas
malam itu di Jakarta
kupinjam cahaya dari lampu-lampu jalanan
untuk menerangi hariku yang gelap.
Seketika bayangmu hadir, dilatari bokeh dengan warna-warni buram
mengusir muram
menuntunku pulang/
Masih kucuri dengar derai suaramu yang tertawa
masih kucari benar tawa suaramu yang berderai

Wayang Layang
Angkasaku adalah bumi
Cahayaku adalah gelap
yang menyamarkan ke'aku'anmu
kala memanduku dalam lakon pertunjukan semalam

Bosan
Aku bosan duduk
Aku ingin melompat, teriak
lalu berlari
mengunjungi festival seni
Aku bosan sendiri, terasing
di tengah-tengah orang asing
Aku minta teman
Aku ingin ditemani

Lupa
Akhir-akhir ini aku sering lupa
Lupa untuk tidak membayangkan wajahmu dalam kerumunan banyak orang,
lupa dengan waktu yang kita habiskan bersama sambil bicara macam-macam,
lupa untuk mengabaikan gigi-geligimu yang kelihatan saat tertawa,
dan
lupa untuk melupakanmu
yang tak pernah melupakannya

*diketik Mei 2016

Kamis, 31 Maret 2016

Retorika 2016: Episode Maret

Dalam Diam
mata kita tak beradu
tapi kata kita bertemu
di sepertiga menjelang subuh
kau dan aku sama-sama mengadu

Dialog Imajiner
Lima menit lagi aku ke sana
Titipanmu sudah kubawa, tenang saja
Seperangkat alat pekerja
yang tak tahu mengisi harinya
dengan apa

Aduh
Akalku hilang
tertinggal di halaman-halaman pikiranmu
yang ketinggalan zaman
tersesat alur nalarmu
yang belok-belok
mengambang bersama ucapanmu
yang omong kosong

Acrophobia
seorang pria yang takut ketinggian,
berontak.
saat diangkat naik pangkat,
ia teriak.

*diketik April 2016

Senin, 29 Februari 2016

Retorika 2016: Episode Februari

makhluk tak kasat mata
katanya, ada yang sedang mendekatimu meski kau tak sadar. diam-diam ia memperkecil jarak. senti demi senti dikikisnya untuk mendengar suaramu ketika menggumam.

pagi itu kulihat ia di pojok ruangan. mendapatimu yang baru datang, ia tersenyum menarik perhatian. tapi kau hanya diam.

siangnya kulihat ia mematung di jendela. menunggumu yang baru kembali dari makan di luar. setahuku ia sendiri belum makan.

sore datang. kau bergegas pulang. kulihat ia masih sibuk dengan pekerjaan di tangan. tapi matanya, kulihat tatapannya yang menemanimu hingga hilang dari pandangan.

negeri sejuta senja
mendekatlah
kan kuceritakan tentang negeri sejuta senja
yang banyak orang bilang ada surga di dalamnya
yang banyak orang datang memburu semburatnya
yang banyak orang hilang, melebur di tanahnya

puisi adalah soal logika
sebermula kata adalah bahasa
seiring aksara yang terbaca
ada spasi yang tercipta
menyusup di sela cerita

puisi cinta tanpa kata cinta di dalamnya
secangkir kopi di pagi hari
adalah bukti kau masih di sini
sepiring nasi bersambal terasi
adalah bukti kau masih peduli

*diketik Maret 2016