Kamis, 31 Desember 2020

#30dayswritingchallenge

Tahun ini saya buka dengan menulis #30haribercerita di bulan Januari kemarin. Banyak hal terjadi di antaranya. Lupa, ga punya cerita, ga tau mau bahas apa hahaha akhirnya ga rutin juga 30 hari non-stop saya nulis, bahkan belum genap 30 hari.

Beberapa merupakan tulisan #latepost dan simpanan dari tulisan yang lama saya pendam.


Di bulan terakhir tahun ini saya kembali melakukan challenge menulis. Keren juga ya jadi semacam punya konsep awal-akhir yang sama haha. Sekalian sebagai wadah refleksi juga untuk saya. Catatan-catatan yang saya buat bisa dicek di label #30dayswritingchallenge.


Tahun ini tahun yang akan dikenang banyak orang dengan masing-masing ceritanya. Tiap tahun bisa begitu sih, tapi jadi menarik karena kali ini kita semua dirangkul dengan latar belakang yang sama: pandemi.


Postingan ini saya buat di tanggal 1 Desember, hari pertama tantangan menulis ini dimulai. Bagaimanakah perjalanannya? Berhasilkah saya melakukannya tanpa putus? Yah, kita sama-sama tahu bagaimana ini semua berakhir.


Jadi?


Sampai jumpa di tahun 2021!


Terus bertahan, ya. Memang babak belur rasanya, tapi kamu udah sejauh ini dan ga ada opsi lain kecuali bertahan.

:')

Rabu, 30 Desember 2020

DAY 30: My writing experience

It has been a fun writing journey. Ga terasa udah 30 hari, tema demi tema akhirnya bisa terselesaikan juga. You're rock, Mil!

Tantangan kali ini relatif lancar karena aku tau mau nulis apa per harinya. Tema yang udah ditentukan sebelumnya membantu banget untuk menyaring isi kepalaku. Dan menuliskannya, membantuku mengurai pikiran-pikiran berlebih yang seperti benang kusut.

Di hari tentang surat, aku bisa mengenali perasaanku yang ingin lari. Di hari tentang aku, aku bisa mengingat lagi bagian-bagianku yang terlupakan. Di hari-hari tentang cinta, aku masih perlu banyak belajar.

So, mau sama-sama belajar? Hahaha.

Selasa, 29 Desember 2020

DAY 29: My goals for the future

Mau ke Jepang, can I? Makan kakigori, rebahan di pinggir sungai, mampir ke toko wagashi, bersantai di taman, meet up sama Amad. Tapi setahun belum dapet cuti tuh kek mana ya? ._.

Aku ingin kaya! Kaya dengan cara merasa cukup dan stop membandingkan diri dengan orang lain. Bersedekah dan menabung lebih banyak.

Aku juga ingin lebih terbuka lagi dengan orang lain, siapapun itu. Teman kerja yang terpisah jarak, teman grup WA, teman lama, siapapun.

Quarter pertama, aku akan fokus ke pekerjaanku saat ini. Sebaik mungkin. Ancang-ancang untuk datangnya kesempatan baru. Oh, aku mau belajar UI dan research lebih dalam.

Quarter kedua.. tetap berusaha sebaik mungkin. Oh, aku mau hidup sehat lagi. Mau rutin work out lagi.

Quarter selanjutnya.. aku liat perkembangannya dari dua quarter awal. Ya.

Senin, 28 Desember 2020

DAY 28: About loving someone

Mencintai itu.. fitrah. Tapi untuk menuju ke sana, beda-beda ceritanya tiap orang. Ada yang effortless, ada yang penuh perjuangan. Meski begitu, karena ini fitrah langsung dari Sang Pencipta, harusnya naturally kita bisa mencintai satu sama lain. Kalo cinta itu fitrah, kenapa ada orang yang sulit banget untuk mencintai?

Karena cinta bukan hubungan sebab-akibat yang pasti. Kamu mencintai seseorang, belum tentu dia langsung balik mencintaimu. Apa yang menghalanginya? Ego, mungkin.

Mencintai itu.. utuh. Untuk bisa ke sana, kamu harus menerima segala dari yang kamu suka sampai sisa-sisanya.

Cinta itu.. berani. Mulai dari berani mengakui kalo kamu mencintainya. Ga usah jauh-jauh, akui ke dirimu sendiri dulu. Kalo masih ada ragu, mungkin itu belum jadi cinta. Masih bibit.

Aku belum pernah mencintai seseorang sebegitunya, selama ini. Terbaca kan dari berantakannya isi tulisan ini? Tema kali ini harusnya romantis, tapi jadinya ya... Hahaha.

Minggu, 27 Desember 2020

DAY 27: Someone who inspires me

Papin, Mamin, and the Neverland family! Lah, bukan someone lagi tapi jadi sekeluarga ya. Hahaha.

Pertama tau Papin kalo ga salah dari animasi stop-motionnya yang bertokoh ayam, Kluk. Kok bisaaa ya, halus banget transisinya padahal bener-bener manual prosesnya. Gambar satu-satu, foto satu-satu. 

Semakin ngefans sama Papin n fam karena mereka sering sharing proses di balik layarnya. Sedikitnya jadi kebayang sih, kombinasi hal sederhana tapi kompleks yang bisa menghasilkan karya.

Terinspirasi sudah, lalu prakteknya gimana?

Aku lebih sering praktek langsung kegiatan bakingnya Mamin. Hehehe.

Pertama kali aku nyoba bikin roti dan jadi, ya dari resepnya Mamin. Sederhana aja, roti sobek tiga bahan dan terlihat mudah. Hal yang sebelumnya ga kebayang aku bisa bikin, yang aku pikir prosesnya ribet, ternyata begitu dicoba it does work!

Memang benar ya, orang kreatif tuh bisa membuat hal yang rumit jadi sederhana. Asli, kagum banget sama mereka sekeluarga. ✨

Sabtu, 26 Desember 2020

DAY 26: My school

Dari SD-SMP-SMA sekolahku masih satu kelurahan semua. Karena dekat, semua masih bisa kutempuh jalan kaki. Kadang naik angkot sesekali kala ku SMA. Pas kuliah lumayan, agak jauh sikit, di Bogor. Tiap minggu masih bisa pulang jumpa mamak-bapak.

Waktu SD aku cuma setahun, habis itu aku pindah sekolah ke SD tetangga. Masih satu komplek memang. Kubiasa jajan di warung Bu Indri. Dari dulu aku anak baik-baik, kesayangan guru dan selalu dikirim ikut lomba calistung. Walau ga pernah menang. Haha.

Eh walau begitu, aku pernah nakal juga. Kupecahkan kaca jendela kelas dengan batu, tak sengaja pun. Waktu itu kuincar temanku, eh meleset. Langsung panas dingin aku. Besokannya aku mengaku, aku tanggungjawab ganti rugi dengan kaca yang baru, pakai tabunganku. Sampai sekarang, kalau kau tanya mamak-bapakku pun pasti tak tau soal tragedi ini.

Jumat, 25 Desember 2020

DAY 25: The 11th images


Ini #spotifart lain yang kubuat. Seorang pria berkemeja hitam, berdasi merah muda menyala, bertopi hitam juga. Di bawah langit biru yang cerah dengan beberapa awan putih menaungi. Saat itu, udah aku tag si artist pun, tapi tak digubris dicampakkannya aku. Wkwkw.


Iseng bikin beginian membantuku melatih imaji spasial, dan kesabaran. You know, jariku besar, layar hp standar, kadang brush yang digores kelewat lebar. Tapi seru! Semacam therapeutic proses juga, walau kreasinya masih sebatas hal-hal sederhana begitu.


Nah, di situ tantangannya! Bagaimana membuat #spotifart yang bagus, visualnya kuat, dengan cara-cara sederhana. Seru! Aku senang! Kalo berhasil hahaha.


Kamis, 24 Desember 2020

DAY 24: Lesson I've learned

As you guys know, I’ve taken a Japanese lesson in Duolingo. It’s been 3 months and I can tell you, I’m getting smarter at some points. What a dumb #selfproclaimed 🌝


Watashi wa nihonggo benkyoushimasu!


So, itu hard skill yang kupelajari di tahun ini. Kalau dalam hidup, pelajaran apa yang sudah kudapat?


Bulan Oktober-November aku depresi dan stress abis. Kesepian, sendirian, ga ada teman. Belum dapat pekerjaan baru, sementara tawaran kontrak dari plat merah udah kutolak. Padahal udah lebih dari 10 perusahaan kulamar, ga satupun tembus. Ntah salah strategiku di sebelah mana, ketinggian kah kuminta gaji? Apa skillku belum cocok dengan yang mereka cari?


Tak taulah, ya.


Berkali-kali di masa depresi itu aku nangis, berpikir untuk ambil silet dan kugores ke nadi di lenganku. Tapi aku tau itu dosa. Ga bakal masalahku selesai, malah nambah masalah tanpa akhir yang ada. Bakal selamanya aku merasakan sakit dan pedih sepanjang hidup setelah matiku nanti.


Aku mikir dan refleksikan, yah memang nasibku sedang bergejolak. Hidup tak selamanya mulus bukan? Harapanku semoga yang kemarin kulalui itu, ya itulah lowest poinku. Jangan sampai turun lagi, makin menyedihkan aku nanti.


Hidup tak selamanya mulus, rejeki tak selamanya dalam bentuk materi. Aku mikir, kalau aku bisa mencukupkan diriku dengan yang ada sekarang, it’s okay. Aku mengurangi membandingkan diriku dengan orang lain. Masih iri-iri sikit lah, tapi ya aku ngga ngoyo dan ngaca juga dengan usahaku.


Akhirnya tawaran kerja datang dari temanku si Jepri Waworuntu. Kuterima saja lah, walau benefitnya kurang dari sebelumnya. Tak apa daripada tak ada pemasukan. Mudah-mudahan bisa jadi batu loncatan.


Aku belajar konsep bersyukur dalam praktek sebenarnya, bukan cuma teori. Kalau kutengok cerita temanku yang lain, beuh lebih-lebih cobaan mereka dibanding aku. Tapi mereka tak cemen, yaa tak diperlihatkan.


Aku bersyukur aku masih bisa beraktivitas normal. Keluargaku serumah sehat, mamakku sehat dan aktif masak. Adekku keterima PNS dan aktif memulai karirnya sekarang. Abangku ya alhamdulillah lancar pekerjaannya. Aku walau sempat kegoncang, dikit-dikit aku masih bisa nyumbang donasi di mana. Aku minta hidupku aman dan berkah sajalah. Walau tak banyak, tapi masih bisa aku bantu orang itu tak apa.

Aku akan fokus aja ke apa yang aku bisa buat, bukan apa yang tak aku dapat.


*Postingan ini kubuat di tanggal 25. Telat sehari, ngga apa-apa ya? Hehe, cheating lah..

Rabu, 23 Desember 2020

DAY 23: Surat yang tak mungkin kusampaikan langsung padamu

Hai, gaes. Maaf ya karena gue ngga responsif di grup WA. Meski terkesan menghindar, tapi gue beneran serius kok ambil bagian di projek sukarela ini.

Fitur filter udah gue siapin sejak berhari lalu, cuma memang ga gue update perkembangannya di grup. Bukannya nyari gara-gara atau apa, terus terang interaksi di grup bikin gue anxious sendiri. Gue tau itu kewajiban gue untuk do my part, I did it tho, but I beg you to take it easy with my anxiety.

Is it ok?

Gue tau ini ga sehat, you may say that I'm running or hiding, but I'm not leaving. Don't kick me out gaes, I still wanna be with you all.

Selasa, 22 Desember 2020

DAY 22: Today

I woke up early, had a breakfast, continued my daily progress on Duolingo, and then watched a movie about marriage before work. Quite a lot, huh? But still no text back from him. Hope I can keep it as a habit, being productive since in the morning. 🤞


Siang harinya seorang teman menyapa, meminta feedback akan hasil pekerjaannya. Disisipi pertukaran kabar singkat, perlawanan kodrat manusia, dan keinginannya hujan-hujanan di jalan. Memang dia ini tiada lawan.


Eh iya, sebelumnya ada kejadian lucu. Jadi.. Bundo akan menikah, lalu Hesty berinisiatif mengajak angkatan 8 lainnya untuk patungan kado pernikahan. Supaya mudah koordinasi, Hesty maunya menghapus Bundo sementara dari grup angkatan. Tapi.. karena Bundo adalah orang yang membuat grup WA ini dan admin lain belum diserahkan, dia tidak bisa dihapus. Akhirnya dengan terpaksa dan tanpa mengurangi rasa cinta Hesty bilang, “Bun, keluar grup sendiri bisa ga?” Hahaha.


Mungkin ini tidak lucu bagimu, tapi bagiku dan anak-anak angkatan 8 yang mengenal Hesty dan Bundo yang terbayang adalah ekspresi mereka berdua.


Sorenya, ada pesan di LinkedIn yang bertanya soal UX mentoring. Saya sebenarnya kurang antusias, karena si penanya cenderung tertarik dan meminta saran ke arah karir. Lah, karirku sendiri sedang mandek-mandeknya bagaimana kah..


Oia, hari ini hari Ibu. Hari Perempuan. Selamat Hari Ibu, Ibuku yang kupanggil Mama. Selamat Hari Ibu, aku dan para perempuan di seluruh dunia. Remember, you are loved. 💕

Senin, 21 Desember 2020

DAY 21: Write about love

Pertama kalinya sejak sekian lama, saya merasakan kembali adanya kupu-kupu dalam perut. Kepak sayapnya terasa hingga ke rongga dada, mengalirkan gelombang hangat hingga melekukkan senyum. Apa pemicunya?

Seorang teman lama kembali menyapa. Kami bertukar kabar sedikit saja, tapi rasanya menyenangkan sekali. Membuat saya ingin terus melakukannya dan sudah dua hari ini saya menantikan satu titik notif balasan darinya.

Apa ini? Apa saya sedang merasakan cinta?

Ada hal-hal yang jarang dibicarakan orang saat membicarakan cinta, yaitu.. pengabdian. Pemaknaan cinta jauh lebih dalam dari perayaan romantisme dan keintiman. Itu sih menurut saya, seorang yang sering dicurhati masalah percintaan padahal kehidupan percintaannya sendiri mengenaskan. 🌝

Saya salut dengan orang-orang yang bisa mencintai sedemikian utuh. Orang-orang yang walau diperlakukan seperti apa, dipisahkan sedemikian jarak, tapi tetap bisa konsisten dan komit pada cintanya. Cinta yang banyak dicontohkan para pendahulu kita.

Cintanya Bapak-Ibuku, kakek-nenekku. Walau tanpa pacaran, tanpa apel mingguan, bahkan pertemuan pertama di momen pernikahan tapi terus mengalir dan menghidupi hingga ajal memisahkan. Cinta yang tulus dan kuat.

Minggu, 20 Desember 2020

DAY 20: My celebrity crush

Takarai Hideto
Alias Hyde, vokalis band Laruku dengan figur wajah yang cantik! Padahal dia sesungguhnya macho banget dan seorang rocker dengan suara falseto. Matanya yang tajam dan alisnya yang lurus sukses bikin saya terpesona. ✨


Pertama kalinya saya merasa debaran yang asing dan kupu-kupu dalam perut ya waktu itu, masa-masanya puber hehe. Saya ingat banget momen tertidur sambil memeluk majalah Animonster dengan sampul Laruku, saat itu mereka sedang promosi album Smile. Padahal itu majalah pinjam dari teman abang saya pun.


Waktu itu internet belum secanggih sekarang. Saya belum punya ponsel, warnet masih jarang, masih gaptek juga. Satu-satunya akses ya dari majalah, makanya deg-degannya berasa banget udah kayak ketemu langsung sama orangnya.

Ah, masa-masa itu…

Sabtu, 19 Desember 2020

DAY 19: My first love

Nuri atau Ruri? Namanya bahkan kulupa. 😅

Dia anak guru, kami baru kelas satu SD kala itu. Anaknya murah senyum, berambut ikal, dan sangat pintar! Seingatku, tidak sampai setahun dia sudah pindah sekolah.

Itu pengalaman pertamaku mengenali perasaan suka yang lain pada seseorang. 🙃

Jumat, 18 Desember 2020

DAY 18: Thirty facts about me

  1. Ada banyak bekas tusukan jarum di lenganku. Itu semua jejak peninggalan donor haha. Semoga seterusnya bisa rutin donor terus, aamiin.
  2. Sering dikira laki-laki. Bisa baca di sini 😂
  3. Sering dikira masih kuliah. Alhamdulillah awet muda.
  4. TB 150cm, ukuran sepatu 40.
  5. Bisa main lagu Moon Song pakai ukulele 🌝
  6. Pertama ke LN jadi TKI di Hong Kong.
  7. Gampang terharu anaknya 🥺
  8. Didiagnosis syaraf kejepit tahun 2019 kemarin.
  9. Lagi ambil course bahasa Jepang di Duolingo.
  10. Pernah ikut HelloFest Film 8 Detik, tapi ga lolos dan kemudian videonya diprivate.
  11. Pernah apply Eagle Awards, bareng Atana partner paling suportif!
  12. Pernah ikut pameran zine di Yangon Photo Festival bareng geng Hari Buruh.
  13. Pernah ikut workshop bareng member JKT48, tapi dulu ga kenal dia siapa.
  14. Teliti dan cermat kalo soal uang.
  15. Username @yukirakitapa adalah asli sejak pertama kali dan belum pernah diganti.
  16. Suka nonton film-film di acara festival.
  17. Suka pergi ke mana-mana sendiri, nonton sendiri, ke pameran sendiri. Tapi kalo diajak ayo-ayo aja, anaknya gampangan kok 😊
  18. Selama 2020 udah ditolak lebih dari 10 perusahaan.
  19. Oktober-November 2020 merasa depresi banget.
  20. Pernah magang di Way Kambas, Lampung. 🐘
  21. Seneng banget waktu ulang tahun ke-19. Karena dirayain di pinggir tebing Cibunar, Ujung Kulon.
  22. Sering jadi korban tipu daya marketing, aku sepolos itu gaes! Makanya jadi punya trust issue.
  23. Lebih suka berteman dalam grup kecil, energiku ga banyak soalnya 😅
  24. Pertama ‘ditembak’ waktu kelas 1 SMP, tapi aku kabur. Syok gaes!
  25. My first public figure crush is Sony Dwi Kuncoro.
  26. My first idol crush is Hyde Laruku, si tampan yang cantik.
  27. Pernah dikirimi cawan berbisik.
  28. Seorang AntiJonoTerbakar. 🔥
  29. Cancerian blood type O+.
  30. Pusing kalo nyium asap rokok. Aku selemah itu, maklumi ya 🚭

Kamis, 17 Desember 2020

DAY 17: Ways to win my heart

Jangan terlalu agresif, I'm scared.
Jangan cepat menyerah, be patient.
I'm trying my best too.
Respect each other.
Or you can just..

ask me.

Rabu, 16 Desember 2020

DAY 16: Someone I miss

Saat saya menulis ini, tidak ada seorang pun yang sedang saya rindukan. Tidak tahu nantinya. Lima menit setelah tulisan ini rampung bisa saja tiba-tiba perasaan itu muncul. Suka-suka memang, mungkin ini bagian dari coping mechanism saya yang menghindari ketergantungan pada orang lain. 🌝


Oh iya, ada yang mau saya ceritakan. Belakangan ini saya senang menonton YouTube Kisah Tanah Jawa, terutama episode Alas Purwo sang ujung timur pulau Jawa. Deskripsi petualangan mereka mengantar saya ke masa-masa kuliah dulu ketika ikut berekspedisi bersama UKF.


Tracking ke hutan, membawa perbekalan, meyusuri pantai, semua aktivitas lapang yang membuat hidup ‘susah’ tapi ganjarannya pemandangan dan interaksi alam secara langsung. Duh Gusti, memang tiada lawan sih.


Yang saya rindukan adalah seluruh suasana petualangan saat itu, bukan spesifik ke satu sosok someone. Selepas pandemi, saya bertekad akan banyak ikut open trip!

Selasa, 15 Desember 2020

DAY 15: If you could run away, where would you go?



Pada suatu hari yang baik kita akan bepergian bersama. Ke sebuah pantai sepi, yang menuju ke sana kita melewati hutan dan bukit. Aku di sampingmu dengan jendela terbuka, membiarkan angin masuk membawa udara segar menggantikan segala kesuntukan hidup yang pengar.


Di pantai yang sepi kita sampai. Kau dan aku duduk menikmati bekal sambil memandang garis pantai yang berubah-ubah digerus ombak. Matahari terik dan kita harus mengernyit untuk memaknainya.


Sambil berbincang, kau membahas segala hal dari yang mungkin sampai tidak mungkin. Harapanmu akan jauh melampaui keadaan buruk saat itu, mengundang optimisme di masa sekarang maupun yang akan datang. Dan aku mengamininya. Selalu.


Kita akan di sana sampai bayang-bayang perlahan menghilang. Di peralihan waktu, kita berkejaran menangkap saat terakhir matahari jatuh. Digantikan puluhan rasi lainnya yang tidak kita ketahui namanya. Mengusir pikiran-pikiran rungsang, mengantar kita pulang.


Pantai selatan, 2021.

Senin, 14 Desember 2020

DAY 14: Describe your style

Dari dulu baju-baju saya adalah hasil pembelian Ibuku. Tiba-tiba saja Ibuku beli baju (biasanya dagangan saudara) lalu dikasihkan ke saya. Saya yang orangnya ga tegaan, akhirnya memakai saja baju-baju itu sebagai pakaian entah ke acara mana. Padahal saya dan Ibuku seringnya beda selera.

Bayangkan sejak kecil hingga kuliah, baju-baju saya kebanyakan lungsuran abang atau lungsuran Ibuku atau pilihan Ibuku. Di saat anak-anak lain kuliah dengan jeans ketat atau celana pensil, yang saya pakai adalah celana kulot gondrong sejak bertahun lalu, yang warnanya mulai pudar. Sampai saya dipanggil rapper karena baju-baju yang gombrong dan apa adanya. Ditambah memang belum melek fashion sih, padahal itu masa sedang mekar-mekarnya. 🙈


Karena banyak baju pemberian Ibuku, saya jarang beli baju sendiri. Baru ketika mulai bekerja, dan ada kebutuhan baju untuk kondangan atau bergaul ke mana, akhirnya saya membeli pakaian sendiri.


Koleksi saya kebanyakan baju polos yang hanya bermain di warna. Dulu saya suka banget warna biru. Sekarang kalau memilih apa-apa saya lebih terbuka dengan pilihan  warna yang lain, tergantung bagusnya apa. Meski begitu, perkembangan fashion saya masih di zona pemula.


Atasan kaos/tunik/kemeja dan celana panjang, dua piece pakaian adalah andalan saya. Tanpa eksperimen macam-macam. Dengan sepatu tali atau flats (tapi jarang saya pakai karena bikin kulit belang).


Kemana-mana saya mengandalkan totebag. Entah kenapa saya jarang bisa bawa barang ringkas dengan hanya tas kecil yang fashionable. Kalau menggunakan backpack, tidak jarang bawaan saya makin banyak. Dulu saya pemakai tas slempang, tapi karena saya tidak tinggi, tali slempang saya tidak bisa panjang-panjang.


Dibanding fashionable, saya memang lebih mengutamakan aspek kegunaan. Haha.


Sekarang, saya menghindari beli baju kalau memang tidak perlu banget. Meski begitu, kadang kecolongan juga sih lapar mata. Karena sesungguhnya bajumu udah banyak, tapi yang dipakai itu-itu saja.

Minggu, 13 Desember 2020

DAY 13: Favorite book

goodreads.com

Buku ini saya baca sewaktu masih SMP. Buku yang bikin saya ngga bisa berhenti baca sebelum ceritanya selesai.  Sejak awal kalimat, ceritanya udah begitu mengalir dan mengajak pembacanya hanyut dalam petualangan di dalamnya. Kayaknya pengalaman pertama saya baca novel fantasi dari karya Eva Ibbotson ini.

Saya ingat banget, waktu itu malam minggu saya sendirian karena keluarga yang lain ikut peringatan apa gitu di mesjid. Saya keseruan sendiri, gila-gila, ngga sabar mau namatin novel ini sesegera mungkin.

Ceritanya tentang Oliver, seorang yatim-piatu yang dapet warisan sebuah rumah besar. Karena masih di bawah umur, dia diwakilin sama om dan tantenya yang diam-diam ngincar rumah ini. Untuk merebut rumah ini dari Oliver, mereka sengaja nakut-nakutin dan ninggalin Oliver sendirian di rumah ini (karena Oliver punya asma) dengan harapan dia cepet mati ketakutan (?).

Bener aja, ternyata rumah ini berhantu! Satu keluarga pula! Ampun, Oliver hampir mati shock di malam pertama dia tinggal di sana.

Tapi.. hantu-hantu itu bukan penghuni asli rumah itu. Ternyata mereka cuma hantu pesanan yang salah kirim. Hemm, siapa pelakunya yang sampai pesan hantu segala?

Setelah perkenalan, keluarga hantu itu akhirnya saling bercerita dan malah jadi nemenin Oliver tinggal di sana. Sisa ceritanya? Baca sendiri ya, seru!

Yang bikin seru, tiap hantu punya latar belakang yang jelas. Siapa mereka saat masih hidup, kenapa bisa jadi hantu, kenapa gentayangan, dll. Ceritanya jadi makin hidup karena adanya behind story ini.

Saya langsung jatuh cinta sama karya-karyanya Eva Ibbotson. Rasa seru itu masih terasa sampai sekarang. :')

Sabtu, 12 Desember 2020

DAY 12: Favorite TV series

The one with F.R.I.E.N.D.S.


I KNOW!!! *with Monica’s tone


Ya, FRIENDS adalah serial favorit saya. Sesuai judulnya, serial ini bercerita tentang persahabatan enam orang sebaya di kota New York yang dengan ragam karakter dan perbedaannya saling melengkapi satu sama lain. Mereka kompak banget!


Monica si perfeksionis berbagi apartemen dengan Rachel yang impulsif. Selanjutnya ada Pheobe si vegan yang quirky. Lalu ada Chandler si aktor dan Joe si pegawai kantoran penghuni kamar seberang. Terakhir Ross, ahli geologi/staff museum, yang juga adalah kakak Monica.


Pertama nonton episodenya, saya langsung suka! Ceritanya ringan seputar kehidupan mereka di New York dengan segala masalahnya yang ada-ada aja. Menampilkan komedi lewat interaksi antarkarakter yang beragam, jenaka tanpa harus melucu. Juga karena para karakternya seumuran dan kita menghadapi struggle yang mirip-mirip.


Padahal serial ini punya banyak banget episode, 10 seasons bayangkan, tapi saya ngga merasa terintimidasi karena cerita tiap episodenya langsung selesai dalam satu babak. Jadi ga langsung nonton semua pun it’s okay. Dilanjut tiga bulan lagi saat kamu baru perpanjang langganan Netflix pun tak apa. FRIENDS bisa dinikmati kapanpun dan di manapun. :D


Situasi yang ditampilkan juga masih relate sampai sekarang, jokes-jokesnya, padahal episode terakhirnya tayang 16 tahun yang lalu! So timeless, ya kan?

Jumat, 11 Desember 2020

DAY 11: Talk about your siblings

Keduanya laki-laki. Kami tidak saling akrab. Meski begitu, kami selalu membelikan satu sama lain tiap jajan makanan.

Kamis, 10 Desember 2020

Rabu, 09 Desember 2020

DAY 9: Write about happiness

Sepuluh tahun lalu di malam itu. Saya mendekati Ibuku yang sedang beberes meja makan, sambil membawa kertas pengumuman lulus seleksi IPB. Dalam gerak lambat Ibuku membaca isi kertas itu, mengoper ke Bapak, lalu mereka cengar-cengir sambil berkali-kali mengucap alhamdulillah.

“Yah, ngga jadi ngantuk deh nih,” kata Ibuku sambil tetap cengar-cengir.


Bertahun sebelumnya, di ruang tamu rumah kami ada saya, Bapak, dan mas Turut, tetangga depan rumah sedang menonton pertandingan Indonesia Open. Tiap kali Taufik Hidayat atau Sony Dwi Kuncoro, atau Markus Kido atau Hendrawan berhasil mendapat poin, Bapak dan mas Turut berteriak kegirangan. Yes!!!


Di babak final, Indonesia menang dan selesai pertandingan Bapak membaca surat Al-Fatihah sebagai bentuk syukur. :’)

...


Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berlarian berebut mencium tangan Bapak yang baru pulang solat berjamaah di masjid.


Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berebut nyanyi-nyanyi sendiri, merekam suara kami di tape recorder milik bersama. Lagu Sinchan, ejekan siapa yang mengompol, dan ocehan random lainnya. Lalu bersama-sama mendengar suara sumbang itu diputar.


Jauh bertahun sebelumnya, kami bergantian bicara dengan Bapak di telepon. Minta dibawakan Fanta dan biskuit Nyam-Nyam sebagai oleh-oleh kepulangannya dari proyek.


Dua tahun lalu, saya, Ali, dan Fathmah duduk di GBK mendukung tim Indonesia dalam pertandingan badminton Asian Para Games 2018. Para atlet dengan kursi rodanya saling melakukan serangan dengan lincah. Seru sekali!


Di kursi belakang kami, satu keluarga ikut menonton dan si ayah sesekali mengomentari pertandingan. Lalu anaknya yang perempuan bertanya, “Itu siapa?” / "Itu pakde yang menang mainnya" / "Siapa yang menang?"

Saya yang diam-diam menguping jadi merasa hangat. :)


Bertahun lalu, Ratna mengirim saya chat:

Di mana?

Rumah.

Hunting?

Yuk.


Lalu saya sudah berada di kereta, dalam perjalanan bertemu Ratna, menuju ke mana. Semudah itu dulu kita melakukan perjalanan. :)


Semakin ke sini, saya makin yakin kalau kebahagiaan itu berbeda-beda maknanya bagi tiap orang. Mau hal sederhana, mau hal mewah, mau sepi dan tidak ada riak di hidupnya, bisa saja semua berarti bahagia. Bagi saya, kamu, atau orang lainnya.


Yang dia suka, mungkin tidak ada harganya bagimu. Tapi semua orang berhak bahagia. Jadi, ayolah hargai kebahagiaan temanmu. Rayakan dan ikut bahagia, jangan merusaknya.


Karena bahagia, apapun itu, adalah yang tiba-tiba bisa menyalakan hangat di hatimu. :’)

Selasa, 08 Desember 2020

DAY 8: The power of music

Mendengar musik itu seperti membiarkan seseorang bicara denganmu lewat nada-nada diiringi kata yang diatur sedemikian rupa, hingga menghasilkan bunyi yang padu. Nada-nada yang manis dengan kata-kata puitis atau nada-nada keras dengan kata-kata yang tegas, bisa juga kolaborasi lainnya yang saling melengkapi. Saya senang mendengarnya, pesan yang dimaksud jadi tersampaikan dengan kuat.

Dalam lagu-lagu romantis, keinginan sang vokalis untuk bersama selamanya dengan sang kekasih jadi semakin dramatis. Dalam lagu-lagu sedih, penyesalan dan kehilangan yang disampaikan jadi semakin terasa pedih. Dalam lagu-lagu yang manis, perasaan senang dan tenang jadi ikut menular ke hati para pendengar.


Pernah dulu ketika saya masih PP bekerja naik kereta, sambil berdesakan dan berdiri tiba-tiba alunan musik Gramedia (jenis yang instrumental akustik asik) diputar. Teman saya sambil bercanda bilang,


“Ini biar penumpangnya ga pada emosi nih desek-desekan, makanya diputer musik yang tipe begini.”


Hehe bisa jadi, siih.


Sesampainya di stasiun Kranji, kadang saya temui ada pengamen jalanan dengan alat musik biola. Asli, keren banget. Saya yang tadinya capek dan ingin cepat sampai rumah, jadi berhenti sebentar, mendengar permainan mereka sambil update story. Hahaha. Asli keren. :)



Musik juga jadi perantara saya dalam mengeksplor kata-kata dalam bahasa asing. Biasanya kalau saya suka dengan nada dari suatu lagu, maka saya akan cari liriknya (utamanya yang dalam bahasa asing). Setelah itu saya akan penasaran dengan artinya, dan berujung pada keinginan untuk menguasai bahasa tersebut demi bisa paham langsung dalam bahasa aslinya. 🌝

Senin, 07 Desember 2020

DAY 7: Favourite Movie

 

Bayangkan kamu berada di situasi seperti ini: ada seorang teman yang kamu kagumi tiba-tiba meminta rekomendasi film berdasarkan yang kamu suka. Film apa yang akan kamu rekomendasikan?


No worries, saya akan share beberapa film favorite versi saya dan barangkali bisa kamu rekomendasikan lagi ke teman yang kamu kagumi itu. :)


  1. One Cut of The Dead (2017)


Saya menonton film ini di gelaran Japanese Film Festival 2018. Setelah melihat review seorang teman di IG yang bilang betapa banyaknya ‘daun’ (penghargaan) yang diraih film ini. Dengan genre horor-komedi, alur cerita film ini benar-benar tidak saya duga! Ampun deh, sampai ngakak-ngakak saya nontonnya, dan makin seru karena satu studio ngakak semua!!


Di 37 menit awal film ini bercerita tentang syuting film horor di sebuah lokasi bekas pabrik tua. Proses syuting ditampilkan tanpa ‘cut’ sekalipun. Setelahnya, alur cerita berganti dan mengubah suasana film ini seluruhnya. Benar-benar pengalaman menonton yang menyenangkan, yang sampai sekarang pun masih terasa senang mengenangnya. :)


  1. 1917 (2019)

Ini film terakhir yang saya tonton di bioskop sebelum pandemi menyerang. Sepulang kerja, sendirian memesan tiket, dan menonton film ini di bioskop dekat rumah. Mungkin kamu sendiri pun sudah menontonnya?


Sebuah film perang dengan teknik one-cut, yang dari awal film dibuka sampai akhir seolah kamera tanpa henti mengikuti tiap adegan para pemainnya. Bercerita tentang dua orang sahabat yang mengemban misi penting membawa pesan ke zona perang di daerah lain. Sepanjang film saya deg-degan karena mereka cuma punya satu sama lain di misi ini. Dan seperti halnya film perang, ada cerita soal pengorbanan dan bertahan hidup. Saya menangis menontonnya, beruntung studio di malam itu tidak ramai.


  1. Shawshank Redemption (1994)

Ini film andalan saya. Ibaratnya sebuah paket lengkap karena mengandung drama, persahabatan, kesetiaan, dan sebuah akhir yang tidak tertebak. 


Seorang manager keuangan dituduh sebagai pelaku atas kematian istrinya. Kehidupan penjara yang korup menyulitkannya mencari keadilan, hingga akhirnya dia berhenti melawan dan mulai menjalani masa hukumannya dengan tenang. Skornya di IMDb 9.3/10. Ayolah, kamu harus coba tonton film ini. 🙌


  1. Castaway on The Moon (2009)

Terjerat utang dan kesulitan hidup, seorang pria berusaha membunuh dirinya dengan melompat ke sungai Han. Alih-alih mati, pria itu malah terdampar di sebuah pulau tanpa penghuni. Tidak punya piliihan lain, dia akhirnya menerima nasib dan bertahan hidup dengan memanfaatkan kondisi yang ada.


Film  Korea ini diadaptasi dari film berjudul Cast Away (2000) yang diperankan Tom Hanks. Yang saya suka dari film ini, bagaimana cara seseorang bertahan hidup bisa digambarkan dengan hal sederhana dan komedi yang tipis saja, namun dalam.


Scene favorit saya adalah adegan petugas pengantar makanan yang mengayuh perahu bebek. Seperti apa adegannya? Ajak temanmu menonton, ya. :)


  1. The Photograph (2007)

Mungkin ini film terakhir yang saya tonton di Kineforum? Atau bukan? Saking lamanya saya tidak ingat.


Bercerita tentang seorang fotografer tua yang juga pemilik kamar sewaan. Suatu hari, seorang perempuan muda datang dan menyewa salah satu kamarnya. Pak tua fotografer yang awalnya sangat tertutup perlahan membuka diri dan membiarkan perempuan muda itu menjadi temannya.


Alur ceritanya memang cenderung lambat, konfliknya pun berkisar konflik pribadi. Tapi film yang mengangkat kisah fotografi selalu menarik untuk disaksikan. Surprise di film ini, ternyata ada Nicholas Saputra jadi salah satu pemerannya! Dengan peran yang well.. kamu lihat sendiri saja. :)


Minggu, 06 Desember 2020

DAY 6: Single and happy

Semakin ke sini, saya percaya kalau pernikahan bukan untuk semua orang. Seperti halnya keputusan memiliki keturunan. Orang yang tidak menikah bukan berarti hidupnya tidak lengkap. Orang yang menikah dan berencana tidak punya anak pun bukan lantas gagal jadi manusia. Itu semua pilihan yang tujuan akhirnya tentu kebahagiaan.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya ada banyak pilihan bagi seseorang untuk melanjutkan hidupnya. Berkaitan dengan yang sedang saya alami, usia menjelang akhir 20an tanpa tanda-tanda adanya bakal pasangan. Saya tidak punya pilihan untuk tidak memikirkan alternatif lain yang bisa saya ambil jika sampai tidak menikah.


Sejujurnya, menjadi single kadang membuat saya minder. Setiap mendengar kabar seorang teman akan menikah, ada sedikit perasaan sedih karena saya merasa semakin sendirian. Meski begitu, sampai sekarang saya masih juga belum siap untuk berbagi hidup dan segala urusannya dengan orang lain. Ditambah belum ada yang mendekati juga. 🌝


Anyway, secara keseluruhan saya single dan happy. Tidak selamanya happy memang, tapi bukan faktor single yang jadi penyebabnya.


Duh, tema hari ini lumayan nantang ya. Saya labih lancar menulis soal kesedihan dibanding hal-hal yang bahagia. Hahaha.

Sabtu, 05 Desember 2020

DAY 5: Your parents

Peristiwa ini sudah lama terjadi, sekitar tiga atau empat tahun lalu ketika Ibuku tumben-tumbenan menceritakan kenangannya dengan alm. Bapak.

Ibuku bercerita, dia berusia 24 tahun ketika menikah dengan Bapak. Mereka menikah tanpa pacaran, tanpa pendekatan. Hanya lewat satu pertanyaan dan niat baik yang didukung masing-masing keluarga besar.


Ceritanya waktu itu nenek saya membuka warung makanan. Bapak muda (saat itu belum menikah dengan Ibuku) adalah salah satu pelanggan. Oh iya, rumah orangtua Ibuku dan Bapak masih di satu gang yang sama, jadi mereka kurang lebih memang sudah saling kenal tapi hanya sebatas tetangga.


Bapak yang memang suka berterus-terang tiba-tiba bertanya kepada nenek saya, “Ela (Ibuku) udah punya calon belum?”


Nenek saya langsung melapor ke Kakek saya. Malam harinya, saat solat jamaah bersama di masjid Kakek saya bertanya langsung ke Bapak, “Kamu serius mau melamar Ela? Kalau iya, ajak orangtuamu ke rumah.”


Lalu Bapak datang beserta keluarga besarnya untuk melamar Ibuku. Kakek saya langsung meneruskan niat baik Bapak dan Ibuku menerimanya!


“Kok langsung mau, Ma? Kan ga kenal deket,” tanya saya dengan trust issue yang tinggi.


Jawab Ibuku, karena Bapak rajin jamaah solat di masjid.


Di tahun 1989 akhirnya mereka menikah, sepasang pengantin yang terpaut beda usia cukup jauh. Ibuku 24 tahun, Bapak 39 tahun. Begitulah, kisah cinta Ibuku dan Bapak. 🌝


Seingatku, Bapak orang yang keras dan galak tapi supel dan punya banyak kenalan. Heran, sifatnya yang mudah bergaul ini tidak menurun ke anaknya satupun.


Ibuku kebalikannya, orang yang sabaaaar sekali. Ampun, tidak pernah sekalipun Ibuku melawan Bapak. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk melayani dan merawat Bapak dengan sabar.


Bapak dulu bekerja sebagai orang proyek, dia bertugas menggambar rancang bangunan, sepertinya begitu. Sementara Ibuku full-time mengurusi rumah tangga. Sering Bapak pergi ke proyek mana, ke Duri, ke Gresik, sehingga waktu kecil hidup kami sempat pindah-pindah. Kecuali lewat foto, tidak ada satu kenangan pun yang saya ingat. 😅


Sudah agak besar, ingatan saya adalah Bapak yang selalu menelpon ke rumah saat akan selesai proyek. Bertanya mau oleh-oleh apa, dan selalu kami (anak-anaknya) jawab Fanta! Dulu Fanta minuman yang istimewa sekali, seiring kenangan Bapak pulang proyek dan masa-masa lebaran.


Bapak dan Ibuku sama-sama lahir dari keluarga besar. Bapak anak ke-5 dari 10 bersaudara, sementara Ibuku anak ke-6 dari 8 bersaudara. Enaknya setiap libur lebaran kami hanya perlu mudik ke satu tempat, karena saudara-saudara semua berkumpul di satu kota yang sama.


Bapak muda
 
Ibuku muda, mungkin dipotret Bapak :')

Jumat, 04 Desember 2020

DAY 4: Places you want to visit

Nanti kalau pandemi udah selesai atau ketika kondisi udah jauh lebih baik, kita ke Seaworld ya. Seharian di sana, ngeliat ikan berenang, foto-foto di akuarium. :')

Ya?

Kamis, 03 Desember 2020

DAY 3: A memory

Kamisan 613

“Bray, gue ijin pulang cepet ya. Mau anter nyokap berobat.”


Di Kamis itu, saya ijin pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Selain memang jadwalnya Ibuku kontrol ke dokter, tapi ada agenda lain yang sudah lama ingin saya lakukan: ikut #aksikamisan.


Dengan ijin menemani Ibuku berobat, saya melipir ke istana merdeka dulu. Teman-teman satu tim yang saya pamiti dan tahu fakta ini, langsung 'menyerang' keesokan harinya. 🌝


Diantar abang ojol, saya sampai di lokasi. Begitu turun dari motor, saya langsung terenyuh. Ternyata #aksikamisan dilakukan bukan di depan pagar istana, tapi di seberangnya. Jauh, jauh dari pagar, jauh dari jendela, jauh dari para penghuni istana, dipisahkan lebarnya jalan Medan Merdeka. Pun masih dijaga beberapa petugas keamanan yang menenteng senjata api di tangan. Miris.


Pikir saya, ya ampun ternyata ‘negara’ masih menjaga jarak dengan rakyatnya sendiri yang bertahun-tahun menggelar aksi protes damai ini.


Saya mendekati kerumunan orang berbaju hitam, dalam naungan payung-payung hitam. Saya bertemu Pak Effendi dan Bu Sumarsih, beliau ramah sekali menyambut saya yang baru kali ini bergabung.


Tidak lama, agenda aksi hari itu dimulai. #aksikamisan ke-613 di Desember 2019.


Selebaran berisi tuntutan yang disusun oleh Bu Sumarsih dibagikan. Beberapa orang bergantian bicara soal maksud dan tujuan, api pengingat kenapa aksi damai ini terus dilakukan. Terus dilakukan. Terus dilakukan.


Terus dilakukan di tiap Kamis, sampai negara mengakui kekeliruannya melanggar HAM rakyatnya sendiri.


Aksinya sendiri berlangsung tidak lama, sekitar 1-2 jam sampai benar-benar bubar. Kami, para peserta aksi, tidak melakukan apa-apa yang mengancam. Kami hanya diam, memandang ke arah istana, berdiri tegak. Menanti ada perwakilan negara yang datang mendengarkan, tapi yang ada hanya petugas keamanan bersenjata.


Pak Effendi berkisah pada saya soal keterlibatannya di aksi ini.. Pesan beliau, jangan sampai apa yang terjadi di masanya terjadi lagi di generasi selanjutnya, di generasi saya. Jangan sampai pelanggaran HAM ini dilupakan, itulah alasan beliau mengikuti #aksikamisan ini.


Di akhir aksi, saya pamit kepada Bu Sumarsih dan Pak Effendi.


Sampai sekarang saya belum pernah ikut lagi #aksikamisan secara langsung. Meski begitu, di masa pandemi ini  #aksikamisan masih terus berlangsung. Tidak di seberang istana, tapi lewat gerakan online atau offline yang terpisah di beberapa daerah.


Kamis ini 3 Desember 2020, #aksikamisan ke-659 #DiRumahAjaDulu.

Rabu, 02 Desember 2020

DAY 2: Things that makes you happy

Those things that makes me happy is, in the other hand, also things that can make me sad

Saya jadi mempertanyakan apa arti bahagia dan bagaimana saya meresponnya. Apa saya benar-benar bahagia atau ..


Baik. Saya akan mulai dengan hal-hal yang senang saya lakukan tanpa pikir panjang.


Saya senang pergi sendirian. Datang ke suatu event gratisan yang tanpa seorang pun saya kenal. Biasanya karena event-event itu memutar film atau pertunjukkan apa, pameran apa tanpa harus bayar tiket. Mau film yang tidak saya mengerti pun, I’m going there for sure.


Saya senang naik transportasi umum. Menyenangkan karena tidak perlu menghapal jalan. Praktis.


Saya senang punya teman bicara, yang bisa diajak diskusi film atau eksperimen memasak atau karir atau penyesalan, apa pun hal-hal receh lainnya.


Saya senang menonton film, utamanya yang gratisan macam di acara festival. Selain gratis, film-film yang diputar juga hasil seleksi kurator dan seringnya menawarkan cerita yang berbeda. (baca paragraf empat ;))


Beberapa film yang cukup berkesan, diantaranya tentu One Cut of The Dead! Satu studio ketawa ngakak, sumpah. 🤣Pengalaman menonton yang super seru bersama sahabat saya.

Selasa, 01 Desember 2020

DAY 1: Describe your personality

Malam itu Minggu kliwon dan hampir tengah malam ketika Ibuku melahirkan seorang bayi perempuan di sebuah daerah bernama Buntu. Begitu sih yang saya dengar soal bagaimana saya bisa lahir. Lalu bulek atau bude-bude akan menghubungkan faktor weton itu dengan karakter kanak-kanak saya yang lebih berani ke kamar mandi sendirian tanpa ditemani. Kalo ga salah ingat begitu, ya. :)


Saya tumbuh dengan dua saudara laki-laki, yaitu adik dan kakak saya. Usia kami yang tidak terlalu jauh membuat saya lebih familiar dengan pasukan Power Rangers yang selalu menang melawan musuhnya di tiap episode dibanding film India romantis Kuch-Kuch Hota Hai yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Hahaha.


Sejak kecil saya sudah sangat tertutup dan pemalu. Bicara sekenanya, menjawab kalau hanya ditanya. Sesuatu terjadi dan entah ada apa dengan masa lalu saya sampai saya jadi sependiam itu. Meski begitu, tapi saya bisa aktif loh ikut PMR di sekolah sampai jadi pengurus segala. Kalau dipikir lagi, kok bisa ya? 🌝


Dulu saya memandang karakter ini sebagai sesuatu yang keren, cool begitulah rasanya. Sampai ada seorang teman perempuan di sekolah yang bilang dia mungkin akan naksir saya saking coolnya, dengan catatan kalo saya ini laki-laki. Sekarang.. ini jadi kebiasaan yang terasa merepotkan.


Karena terbiasa menutup diri, teman saya tidak banyak dan saya jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bisa dilakukan sendirian. Menonton — OH, I LOVE MOVIES SO DAMN MUCH (nanti kita bahas ini di postingan lain ya) — berkeliaran sendirian, (dulu) membaca, tidur, memasak, bikin kue lalu bingung bagaimana menghabiskannya. Menganut asas trias politica dari saya, oleh saya, dan untuk saya.


Kondisi tertutup ini membuat saya agak sulit berinteraksi dengan orang lain, utamanya yang baru kenal dan kita tidak dekat. Saya lebih suka mengamati dan terjebak asumsi duluan. Hahaha. Selain tidak pintar membuka obrolan, memang seringnya orang lain yang mulai duluan.


Belakangan ini saya mencoba untuk lebih membuka diri dan aktif memulai duluan. Ternyata tidak semenakutkan itu, tapi juga tidak mudah. Terlalu sering sendirian, saya jadi punya banyak suara di kepala dan membuat saya jadi seorang yang overthinking.


Is she/he have a great time with me?

Am I interesting? Am I good? Are we friends?