Senin, 13 Desember 2021

Georgia (2020)

Sepasang orang tua yang 'gaptek' membuat desain spanduk untuk menuntut investigasi ulang atas dugaan bunuh diri yang menimpa anaknya, Jina. Georgia adalah jenis huruf yang bersikeras mereka pilih, walau sebenarnya tidak bisa digunakan untuk menulis aksara Korea. Pada akhirnya, kata-kata dalam spanduk itu hanya berupa kotak-kotak kosong.

GEORGIA oleh Jayil Pak

GEORGIA (2020) diangkat dari kasus Miryang yang benar-benar terjadi di Korea Selatan. Diduga korban bunuh diri setelah sebelumnya mengalami kekerasan seksual yang dilakukan teman-teman sekolahnya. Dalam film ini, hanya 3 dari 21 pelaku yang dijatuhi 'hukuman' skorsing, selebihnya tidak terungkap sama sekali. Alih-alih diusut tuntas, polisi malah menawarkan jalur damai.

Selama kurang dari 30 menit, film ini sangat dalam dan hati-hati mengangkat kesulitan yang dialami kedua orang tua Jina menuntut keadilan untuk anaknya. Hanya mereka berdua, dan mereka hanya punya satu sama lain, melawan sistem yang melindungi pelaku. Betul-betul sulit dan sendirian. Bahkan teman-teman sekelas Jina juga bungkam, tidak ada yang berpihak dan bersedia jadi saksi.

Huruf Georgia sendiri dipilih sebagai simbol kehadiran Jina dalam upaya protes ini. Huruf yang sedang didesain ulang oleh Jina agar dapat digunakan dalam aksara Korea. Kedua orang tua Jina, dan huruf Georgia, mereka bertiga melakukan protesnya lewat desain spanduk.

Akting para pemain yang mumpuni, didukung desain produksi yang amat matang, berhasil menggiring emosi penonton. Penggunaan simbol-simbol, gesture tokoh, dan warna palete yang dipilih semakin memperkuat setiap aspek yang tak terkatakan. Hingga sampai di bagian akhir film, di situlah gong-nya.

Korban kekerasan seksual dan keluarga masih sering dipersulit dalam menuntut pengusutan kasusnya. Victim blaming masih juga sering ditemui. Rasa-rasanya, semua yang ada hanya sunyi yang mengarah ke jalan buntu.

Meski begitu, seperti yang berulang kali tokoh utama ini sampaikan: tetaplah hidup. Kita masih punya kehidupan untuk dihidupi.

Jayil Pak

Setelah tahun lalu aku nonton film "You and I" dan belum lama mendadak jadi buzzernya, tahun ini secara ga sengaja ajang JAFF (Jogja-Netpac Film Festival) kembali menjadikanku sukarelawan buzzer untuk Georgia (2020). Film pendek dengan durasi kurang dari 30 menit, yang diangkat dari kisah nyata kasus Miryang di Korea Selatan.

Georgia by Jayil Pak

Aku ga nonton film ini dalam periode festivalnya. Aku tau film ini dari review singkat di Twitter dan langsung tertarik sejak tweet pertama. Bagaimana satu jenis font bisa dijadikan medium untuk menyebarkan kisah tentang manusia. Ternyata reviewnya jadi ramai dan banyak warga Twitter lain yang juga sependapat. Hingga akhirnya Ayu (si penulis review) berinisiatif nge-DM Jayil Pak (sang director) dan terjadilah pemutaran film "Georgia". Terbatas dalam 24 jam khusus untuk penonton Indonesia.

Wow. Bagaimana banyak hal bisa terjadi atas nama kemanusiaan.

Selain dari antusiasme masyarakat Twitter dan pecinta film di Indonesia, kisah yang diangkat "Georgia" (sayangnya) punya kemiripan dengan kasus yang belum lama ini terjadi di Mojokerto. Tentang korban KS yang mengakhiri hidupnya karena demikian gelap mencari keadilan di hukum manusia. Mungkin hal ini juga yang akhirnya mendorong Jayil Pak untuk menayangkan filmnya di Youtube supaya bisa diakses lebih banyak orang. Padahal dengan begitu, jadi mengurangi kesempatan "Georgia" untuk tampil di festival film lain. Tapi, lebih banyak orang yang bisa menjangkau film ini mungkin dirasa lebih jadi prioritas bagi Jayil Pak.

Hal menarik lainnya adalah adanya sesi QnA lewat Twitter Space oleh Pak Jayil Pak sendiri. Wow, again, terima kasih, Ayu, yang udah mengusahakan. Dari sini keliatan banget dia orangnya sangat berdedikasi, ga banyak protokol, langsung action. Terasa tulus dan humble juga, mau ngeladenin permintaan dari kami, masyarakat biasa yang bukan siapa-siapa.

Semalam, kuikut sesinya dan semakin kagum dengan proses berkarya Jayil Pak dan timnya. Penjelasan simbol-simbol, cerita di balik font Georgia, fakta kasus Miryang di Korea, hingga pendekatan yang dipikirkan secara hati-hati, dengan sangat memihak korban, bikin aku jadi semakin bisa memaknai pesan yang disampaikan. Kamu bisa baca beberapa faktanya di sini.

Asli, Jayil Pak ini humble dan tulus banget. Orang film yang ga menjaga jarak dengan penontonnya. Semua pertanyaan dijawab dengan jawaban yang sungguh-sungguh. Mungkin hal ini juga yang bikin dia jadi dipertemukan dengan timnya, yang juga berdedikasi dan habis-habisan selama proses pembuatan film.

Anyway, dari 24 jam berubah jadi 48 jam lebih, dan hingga tengah malam nanti "Georgia" masih bisa diakses secara online, sebelum ditake-down dari YouTube.

JP on the QnA session

Banyak hal yang aku bisa refleksikan, dari proses berkarya, keberpihakan, pendekatan dan riset yang hasilnya emang tercermin banget bisa sebegitu dalam. Juga soal komunikasi, apresiasi, interaksi, dan kolaborasi yang kita ga tau bisa membawa ke mana.

Jayil Pak memberi ku banyak hal, lebih dari pengalaman bersinema dan tontonan yang luar biasa tulus. Thank you so much, Mr. Pak. ๐ŸŒผ

Kamis, 09 Desember 2021

wiken plan (2)

plan A
  1. jajan tomaple (sekalian bungkus)
  2. mampir ke bookhive menteng
  3. pulang
plan B
  1. renang
  2. donor
  3. nonton Yuni
I can't think about anything else but tomaple's donut ๐Ÿฅบ
been craving for their specialities since I introduced them as "makanan khas daerah jaksel" to my friend

I keep listing the flavour combination back and forth, from the savoury to the sweet ones, the classic and the luxe version, trying to get the best experience everyone has ever tasted.

I can't hold it back anymore. I. Must. Visit. Them. This. Weekend.


Huh, it feels nice to write down your own thought, isn't it?

Kamis, 02 Desember 2021

wiken plan

plan a:
  1. renang di galaxy
  2. nonton seperti dendam
  3. groceries shopping
  4. chill and streaming (100% manusia/jaff/youtube)

plan b:
  1. footurama hopping
  2. pos bloc patjarmerah
  3. bungkus dapurempa
  4. jajan tomaple
plan c:
  1. renang bareng anggi
  2. footurama hopping
  3. pos bloc patjarmerah
  4. tomaple

*merenungi hidupku yang dari wiken ke wiken

Sabtu, 20 November 2021

tentang sekarang

melihat foto-foto lama aku jadi ingat
terakhir kali kita keluar
menelusuri jalan,
memungut kepingan-kepingan sepi
yang tertinggal di ujung hari

ah, waktu itu ya.

berapa lama waktu tersingkatmu
dalam pengalaman mengenal seseorang
hingga patah hati sepatah-patahnya?

seminggu
hari ini persis seminggu.

rasanya seperti ada balon yang ditiup maksimal lalu meletus
dan menekan-nekan rongga dada

aku jarang menggunakan siratan langsung
tapi kali ini langsung saja

rasanya sakit dua kilo

Rabu, 03 November 2021

Monthly Pain

Awalnya cuma pegel biasa, lama-lama sakitnya menjalar dan merayap pelan-pelan. Kamu mencoba membungkuk, mengerang, meregangkan badan, tapi itu semua ga berpengaruh.

Jumat, 08 Oktober 2021

Jumat, 17 September 2021

After all this time?


It's been a long time since I listened to Laruku, and those tweets bring me to the days back then when I was in JHS. I met Hyde for the first time, from the article inside an Animonstar magazine. Right at the moment, I fell for him effortlessly.

If you'd been reading this blog for at least a year, you must know that he is my first celebrity crush. Haha.

He is a legend, you know. Laruku is a worldwide legend. Check out this video, and you can feel how charming they are. It doesn't change a bit, up until nowadays.


Always ✨

Minggu, 12 September 2021

show, don't tell

Click to read

One Day One Trip is a collective project by Klise Bekasi, an analog photography club based in Bekasi.

In late 2019, we took a photo trip around Bekasi using the same type of film roll. There were five of us who tried to capture Bekasi as a city that has always been changed.

Kalimalang river became our first destination. At that time, along the river, a toll road was being built as a part of a national construction project called Becakayu. Which connects the border city to East Jakarta through Bekasi-Cawang-Kampung Melayu.

The next destination brings us to the oldest Buddhist temple in Bekasi, Klenteng Hok Lay Kiong. A historical building that has been cared for generations.

For a long time, the city development has been built quite often in Bekasi, particularly in the urban area. It does bring a major change for the neighbourhood and the people who live around.

Zine ini saya sertakan dalam pameran photobook JIPFEST 2021. Masih belum pasti akan ikut dipamerkan, karena ada proses seleksinya. Semoga ada kabar baik di bulan Oktober ๐ŸŒผ

Kamis, 09 September 2021

Blue Moment


MONGOL800: Love Song

ๅคขใ‚’่ชžใ‚‹ๅ›ใฎ
Yume wo kataru kimi no

่ผใ็žณใฎไธญใซ
kagayaku me no naka ni

ๅƒ•ใŒใ„ใ‚‹
boku ga iru

ใ„ใพใ‚’ๅˆ†ใ‹ใกๅˆใˆใ‚‹
ima wo wakachi aeru

่ผใ่ผชใฎไธญใซ
kagayaku ano naka ni

ๅ›ใŒใ„ใ‚‹
kimi ga iru

็ฉบใ‚’่ฆ‹ไธŠใ’
sora wo miage

ไธกๆ‰‹ๅบƒใ’ใฆ
ryoute shirogete

ๅƒ•ใฏใ“ใ“ใ ใจ็คบใ™ใฎใ•
boku wa koko dato shimesu no sa

ใ‚ใ™ใ‚’่ฆ‹ใคใ‚
asu wo mitsume

ๅคขใ‚’ๅบƒใ’ใฆ
yume wo kirogete

ๅผทใ้ก˜ใ„ๆƒณใ†ใฎใ•
tsuyoku negai omou no sa

ๅƒ•ใฏใ“ใ“ใ ใจๅซใถใฎใ•
boku wa koko dato sakebu no sa

ใใ†่ชฐใ‚ˆใ‚Šใ‚‚ๅผทใ
sou dare yori mo tsuyoku

ใ‚คใƒกใƒผใ‚ธใ‚’ๆƒณใ„ๆใใฎ
IMEJI wo omoietaku no

ๆš—ใ„ใƒžใ‚คใƒŠใ‚นใชใ‚คใƒกใƒผใ‚ธใฏๆจใฆใฆใ•
kurai MAINASU na IMEJI wa sutete sa

ใ„ใพใ‚’ใŸใ ้ง†ใ‘ๆŠœใ‘ใ‚
ima wo tada kakeru kero

ๅ…‰ๅทฎใ™ๆ–นใธ้€ฒใ‚ใฐใ„ใ„
hikari sasu ho e susumeba ii

Oh oh Your Love Song!!

ๅคขใฎๆฌ ็‰‡ ่ฆ‹ใคใ‚ใŸ
yume no kakere mitsumeta

ๆœบใฎ็‰‡้š… ่ฝๆ›ธใใฎไธญ
tsukue no katasumi rakugaki no naka

ใ‚ใ™ใฎๆฌ ็‰‡ ๆใ„ใŸ
asu no kakere kaita

ๆ•™็ง‘ๆ›ธใฎ็‰‡้š… ๆฎดใ‚Šๆ›ธใ„ใŸ
kyoukasho no katasumi naburitaita

ๅฃฐใ‚’ๆƒใˆ่ถณไธฆใฟๆƒใˆใฆ
koe wo soro e shinami soroete

ๅƒ•ใฎไฝ•ใ‚’ๆฑบใ‚ใ‚‹ใฎใ•
boku no nani wo kimeru no sa

ไบŒใคใซไธ€ใคใฎ็ญ”ใˆๅˆใ‚ใ›ใง
futatsu ni hitotsu no kotae awasede

ๅƒ•ใฎไฝ•ใŒๆฑบใพใ‚‹ใฎใ•
boku no nani ga kimaru no sa

ๅƒ•ใฎไฝ•ใŒใ‚ใ‹ใ‚‹ใฎใ•
boku no nani ga wakaru no sa

ใ‚‚ใฃใจ็ฌ‘ใ‚ใ›ใฆใŠใใ‚Œ
motto wara wasete okure

ใ‚คใƒกใƒผใ‚ธใ‚’ๆƒณใ„ๆใใฎ
IMEJI wo omoi e kakuno

ๆš—ใ„ใƒžใ‚คใƒŠใ‚นใชใ‚คใƒกใƒผใ‚ธใฏๆจใฆใฆใ•
kurai MAINASU na IMEJI wa sutete sa

ใ„ใพใ‚’ใŸใ ้ง†ใ‘ๆŠœใ‘ใ‚
ima wo tada kakerukero

ๅ…‰ๅทฎใ™ๆ–นใธ้€ฒใ‚ใฐใ„ใ„
hikari sasu ho e susumeba ii

ๅฟƒ้ ทใๆ–นใธ่กŒใ‘ใฐใ„ใ„ 
kokoro unazuku ho e ikeba ii

ๅ›ใŒ็ฌ‘ใˆใฐใใ‚Œใงใ„ใ„
kimi ga waraeba sore de ii

Oh oh ๅซใณ็ถšใ‘ใ‚
Oh oh sakebi tsuzukero

Your Love Song

Oh oh ๆญŒใ„็ถšใ‘ใ‚
Oh oh utai tsuzukero

Your Love Song

ใฉใ“ใพใงใ‚‚้Ÿฟใ‘
doko made mo hibike

Your Love Song!!

*Hahaha, lumayan hasil Duolingo selama ini ga bingung-bingung amat baca kanji ✨

Rabu, 08 September 2021

ๅ›ใŒ็ฌ‘ใˆใฐใใ‚Œใงใ„ใ„


 

Hal menyenangkan dari belajar bahasa asing adalah menemukan frasa baru yang ternyata punya arti manis. ๐ŸŒธ


ๅ›ใŒ็ฌ‘ใˆใฐใใ‚Œใงใ„ใ„

When you laugh, then it's fine


Love Song - Mongol800

Selasa, 24 Agustus 2021

Rindu Tak Mengenal Waktu



Di awal minggu, bisa-bisanya kita saling mengadu cerita masa lalu.

Berawal dari postingan Amal di Senin pagi, dilanjut pertemuan virtual selepas Isya dengan patokan waktu Indonesia bagian barat. Deti yang di Bali dan Ima yang di Makassar pun masuk ke pusaran waktu Bogor, tempat kita bertemu sebelas tahun lalu.

Tentu saja sapaan awal adalah tentang sekarang di mana, kondisi selama pandemi, sibuk berkegiatan apa, hingga pertanyaan yang tidak mungkin lewat: soal siapa sudah berkeluarga dan siapa yang masih sendiri (dan ini mudah dihitung karena lebih sedikit rasionya). Hahaha.

Saking lamanya tidak bertemu - dan mengobrol - saya sedikit kaget dengan berisiknya Putra (kalo hebohnya Bundo sih ngga kaget), Ima yang kalem keibuan, Yunita yang masih (kadang) jutek, Ganies yang frontal, Aris yang punya banyak bahan obrolan, dan Riris yang nun jauh di Jambi. Kalian ga banyak berubah, ya, dan berkumpul sambil ngobrol bareng berhasil menghadirkan nuansa sewaktu kita masih sama-sama jadi yang termuda dulu. Ke lapang bareng, ngedanus bareng, obrolan menggoda Hesty-Eka, dan lainnya sebagai UKF angkatan delapan.

Sempat ada sedikit perasaan minder dengan banyak pencapaian dan kerja-kerja nyata yang kalian lakukan. Tapi perasaan diterima dan kenangan yang dihadirkan lebih mendominasi suasana semalam. Terima kasih, ya.

:')

Minggu, 22 Agustus 2021

Pengetahuan Saya untuk Apa?

Seminimalnya pengaruh dari karya yang kita hasilkan atau kita nikmati adalah membuka jalan ke kebenaran.

Belakangan ini saya merasa overwhelmed dengan segala info dan kisah yang saya ketahui dari membaca artikel, thread orang, maupun media youtube. Banyak sekali permasalahan yang tidak ada habisnya yang sebenarnya saling terkait satu sama lain. Tapi itu semua berakar dari satu aspek yang sama, yaitu sejarah.

Dari pencapaian bersejarah medali emas oleh pasangan Bulutangkis Grey/Apri, pengalaman membaca The Journey of Belonging oleh Lala dan Lara, sejarah konflik di tanah Afghanistan yang dipaparkan mas Agustinus, hingga yang barusan saja yaitu pementasan monolog Di Tepi Sejarah: Sepinya Sepi.

Apa itu sejarah? Apa yang sudah kamu lakukan dengan segala paparan yang kamu dapat soal kebenaran masa lalu? Saya takut terjebak dengan pandangan glorifikasi atas perjuangan dan pengorbanan yang sudah dilakukan banyak pihak, sementara saya sendiri hanya sampai pada.. pada.. pada titik tersentuh dan haru biru (?).

Banyak sekali paparan yang sudah orang lain buat, soal konflik yang selalu hadir dalam sebuah pencapaian. Lalu apa? Apa yang bisa saya lakukan untuk meresponnya? Tindakan apa yang harus saya lakukan untuk setidaknya berperan langsung atas segala kebenaran yang saya dapatkan?

Saya tidak tahu.

Bahkan untuk menulis kesan atau ulasan atas tulisan sesederhana catatan keluarga (seperti dalam bukunya Lala-Lara), saya merasa kata-kata yang saya tulis hanya glorifikasi di permukaan.

Saya harus bagaimana?

Saat ini saya tahu, bahwa ada ketidakadilan yang diterima para pahlawan pencetak sejarah, yang hanya diakui oleh pemerintah lewat selebrasi seremonial. Saya tidak mau seperti mereka, para pemerintah yang menebeng momen sesaat.

Saat ini saya tahu, bahwa ada banyak tokoh sejarah yang tidak diakui pemerintah, yang dilupakan jasanya, yang padahal sudah menukar hidupnya dengan kemudahan yang sebagian dari kita nikmati sekarang. Tapi jejak makamnya pun bahkan sudah tidak tersisa.

Saat ini saya tahu, bahwa saya hanya banyak omong dan sebatas menyebarkan info soal sejarah dan budaya yang saya tahu, tanpa ada tindakan lanjutan yang lebih berdampak.

Dan saya merasa rendah karena itu.. tidak sebanding dengan orang-orang yang saya bagikan kisahnya.

Pengetahuan saya ini, untuk apa?

Semakin saya tahu, semakin takut saya bertindak atas sesuatu. :(

Kamis, 12 Agustus 2021

Plot twist

I found this post in someone's Twitter. He is one of my following account, whose most of the time tweeting about movies, films, and cinema.

Here's the tweet: you choose your own movie-plot story, based on the combination of your last phone number, your birth month, and the first letter of your name.

I got this one,

A protagonist who isn't aware of their own beauty decides to sacrifice themselves for the greater good but wakes up to realize it was all a dream.

Directed by M. Night Shyamalan

or Nolan.

Selasa, 10 Agustus 2021

Tentang Pekerjaan dan Karir ke Depannya

Kemarin malam waktu gue lagi makan, si temen kerja mendadak ngajak meeting jam 10 pagi besok. Di tengah-tengah santapan itu, mendadak gue kenyang. Soalnya, seminggu sebelumnya gue mengiyakan sesi interview di hari yang sama!

Whaat?
Beda jam, sih, interviewnya mulai jam 11. Tapi jadinya mepet banget, ga yakin bakal selesai tepat waktu. Langsung ga selera makan, bingung nyari alasan buat nego tanpa terlihat mencurigakan.

Setelah diskusi dengan si Emak, si jago ngeles, akhirnya nemu lah solusi sebagai ancang-ancang kalo ditanya macem-macem. Parno banget gue, ya? Selalu memikirkan dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Hahaha.

Anyway, meeting paginya lancar. Agak telat sih mulainya, tapi langsung gue sounding kalo ada keperluan lain dan jadi cepet mulai dan cepet selesai juga.

Nah, soal interviewnya. Ternyata kondisi tim yang di sana, ga sestabil yang gue kira. Masih ada role yang digabung dalam satu orang, dan ga ada spesifik orang riset yang bisa jadi tandem. Yaa, itu impresi pertama sih. Selain itu, interviewnya menyenangkan karena langsung sama CTO-nya dan kita lebih banyak ngobrol soal bisnis, teknologi, dan selera dalam ngedesain. Kapan lagi coba ngobrol bareng C-level. Gue jadi tau (sedikit) gimana cara pandang dia terhadap produk yang dia bikin.

Gue pasrah sih waktu dia bilang udah ada beberapa kandidat yang kesaring. Nothing to lose. Apapun itu, semoga yang terbaik. Ada beberapa keraguan soalnya (plus juga nunggu follow-up dari inceran yang satunya).

Ngomong-ngomong soal meeting mendadak tadi, ternyata gue dilibatkan dalam project games si grup kerjaan gue sekarang. Wot. Dengan project ini, total ada 7 produk yang gue pegang as a UX designer dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun.

Awalnya gue antusias (designing a mobile game, dude, it sounds cool and it's freaking new for me). Rasanya kayak mengenali diri gue yang suka ganti-ganti fokus. Hahaha. Dalam arti kata, minggu-minggu kemarin memang major task gue udah selesai, dan udah kurang greget gitu lah di kerjaan. Meski gue tetep terus pantau dan stand by kalo sewaktu-waktu ada feedback di tengah proses development.

Kalo boleh bilang, sebenarnya di kerjaan sekarang udah enak banget flow dan suasananya. Ya emang rasanya masih asing karena kita ga pernah ngobrol langsung dan gue pun orangnya masih aja menjaga jarak meski udah 9 bulan kerja bareng. Produknya pun gue kenal banget, karena semua build from scratch. I learnt a lot lah.

Satu-satunya yang bikin gue nyari peluang lain adalah.. benefitnya kurang. ๐Ÿ˜…

Tiap ditanya, kenapa kamu apply kerjaan baru? Gue selalu ngejawab untuk nyari tandeman partner. Cause I've been alone/single fighter/solo player all this time. Itu salah satunya. Karena kan ga enak aja gitu kalo alesannya soal benefit, kayak lingkaran yang ga pernah putus.

Gue mikir terus, mendem terus, bisa ga sih minta naik gaji? Dengan perhitungan kerjaan selama ini, design from scartch, total 7 produk, laptop modal sendiri, internet modal sendiri, tanpa cuti sama sekali. Tapi gue tau, ni perusahaan masih baru dan tim produk bukan fokus utamanya. Ibarat kita ini anak-anak freelance yang dihire buat ngerjain project dan dibayar. UDAH. Ga ada struktur, ga ada kesejahteraan dari HR. Gaji gue stagnan dari 2 tahun lalu, plus benefit berkurang.

Sementara temen-temen selevel lainnya, gaji udah lebih dengan benefit lain yang disupport kantor. Satu-satunya jalan adalah cari better offering ga sih?

Sampai sini gue mulai kepikiran, ini gue termasuk ngeluh ya? Boleh ga sih gue ngeluh kayak gini?

Alhamdulillah sebenernya masih punya kerjaan. Waktunya juga fleksibel. Timnya ngga demanding. Tapi.. tetep kalo dibandingin sama yang lain mah ada aja kurangnya ya. Dasar manusya.

Di satu sisi rasanya kayak ada yang teriak-teriak, "Woy, lu deserve better than this." Tapi di sisi lain, ada yang bilang, "Rejeki bukan cuma soal angka. Syukurin aja yang ada."

Hehehe.

Rabu, 04 Agustus 2021

Peluk

Postingan tentang mimpi, lagi.
Semalam, saya tiba-tiba tergabung dalam tim pelatnas bulutangkis. Tinggal bersama penghuni lainnya, di bangunan asrama yang ternyata.. berhantu. ๐Ÿ˜ข

Saat tur keliling komplek, Pak Pemandu dengan santai menjelaskan tanda-tanda "perkenalan" yang biasa ditampakkan ke penghuni baru. Salah satunya, akan ada sosok berbaju hijau yang biasanya muncul.

Benar saja, di bawah pohon dekat jemuran, saya melihat dua orang wanita muda dengan dress selutut berwarna hijau sedang menari. Tariannya gemulai dan indah, tapi memunculkan perasaan ngeri. Mendadak jantung saya berdebar cepat dan segera saya memalingkan muka.

Dari mimpi semalam, saya bisa sih nge-break down bagian-bagian dari mimpi itu, yang sebenarnya dipengaruhi dari apa yang saya lihat seharian sampai sebelum tidur.

Potongan dress yang dipakai dua wanita itu bersumber dari produk Pinangkami milik Kadek Arini. Kalau "genre" supranatural yang melatarbelakangi mimpi saya, ini pasti karena persis sebelum tidur saya nonton video obrolan Radit soal hantu pabrik. Salah sendiri, idenya siapa coba dengerin cerita horor sebelum tidur. ๐Ÿ˜‚

Anyway, selain pengalaman horor yang terasa nyata, ada hal lain yang juga masih terbawa hingga saya bangun, hingga saya beraktivitas, hingga saya akhirnya menulis postingan ini.

Di mimpi semalam, saya merasakan pelukan. Seorang teman, dalam hal ini dia atlit, memeluk saya dari belakang. Hangat dan sangat nyaman, sampai ketika saya bangun rasanya ada yang hilang.

Saya ngga lihat wajahnya, tapi ketika melihat poster Satou Takeru pemeran Kenshin Himura si batosai, perasaan nyaman yang hilang itu hadir lagi. Maksudnya, saya jadi kehilangan dan ingin merasakannya lagi.



Rasanya, si pemeluk sudah lama dihinggapi kesepian dan akhirnya menemukan apa yang dia cari, saat memeluk saya. Di satu sisi, saya pun belum pernah merasakan interaksi sedemikian intimnya. Rasanya, kami jadi seperti saling menemukan dan mengisi satu sama lain. Meski dalam waktu yang singkat.

Konteksnya, ini pelukan sebagai interaksi yang comforting, ya. Bukan dalam artian hasrat lain. Okay? ๐Ÿ˜‰

Dalam hal ini, benar, saya memang jarang memeluk dan dipeluk. Jangankan hal seintim itu, di kehidupan nyata saya terbiasa menjaga jarak dengan orang lain. Juga rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya bertemu langsung dengan manusia lain sebagai makhluk sosial. 

Omong-omong, saya bisa break down dari mana adegan peluk-memeluk ini sampai muncul di mimpi saya. Ya, apalagi kalau bukan momen kemenangan Grey/Apri. Pelukan kemenangan di podium, dengan kalungan medali emas. Bangga, haru, lega, dan tentunya bahagia. Ah, pengalaman emosional yang kompleks, yang kamu bagi dengan partner seperjuangan selama ini.

Saya juga ingin merasakannya sendiri.

Ah, pandemi ini ngebikin saya jadi makin delusional!

Yang Dicari

Anyway, selamat, yaaa!
Semoga cepet ketemu sama apa yang dicari. Uhuy ๐Ÿ’•

Hahaha, kamu juga, yaaa.
Semoga segera ketemu sama yang dicari ๐Ÿ˜

Ahaha, iyaaa. Aku masih mencari diriku sendiri ๐Ÿ˜Š

Senin, 02 Agustus 2021

Self-critiques

 I'm a bad person, am I?

Postingan Dummy All Labels are Selected

"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"

1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini

Rabu, 28 Juli 2021

Rumah Gantung

Ada seorang Pak Tua yang tinggal di rumah gantung. Sepetak kontainer besi dengan kait yang tersambung pada sebuah ekskavator kuning. Rumahnya itu berayun-ayun ditiup angin. Penghuni di dalamnya, Pak Tua, berpegangan erat pada sisi rumah sambil mendekap anaknya yang masih balita dengan raut wajah tegang. Bola kecil mainan si anak menggelinding dari satu sisi ke sisi rumah yang lain.


Kamera menjauh, tampilan layar menghadirkan rumah gantung Pak Tua yang berayun. Di belakangnya, ada bangunan dalam konstruksi yang belum jadi. Ternyata Pak Tua sedang diliput oleh sebuah acara reality show, entah bagaimana hingga ia terjebak dan terpaksa tinggal sebagai satu-satunya rumah di dalam lokasi proyek pembangunan.


Mimpi ini saya alami beberapa minggu yang lalu. Debar ketakutan Pak Tua di rumahnya itu terasa nyata. Saya yang sadar kalau itu mimpi juga merasakannya.


Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi situs projectmultatuli.org. Seketika visualisasi rumah gantung dari mimpi saya kembali hadir lewat ilustrasi foto di salah satu artikelnya.




Beberapa kali saya mencoba memahami konteks dari mimpi rumah gantung. Ingatan saya bercampur antara adegan di film UP dengan rumah melayang milik Tuan Fredricksen. Juga dengan kekuatiran saya pribadi soal ketahanan tempat tinggal semenjak tahun 2020 lalu rumah saya sendiri kebanjiran.

Rabu, 21 Juli 2021

Sesajen dan Kisah yang Menyertainya

 



Berbeda dari tahun lalu, rasanya saya lebih siap dan tenang-tenang saja dalam menghadapi tanggal 5 Juli. Tidak ada kecemasan berlebihan, tidak ada perasaan rendah dan keinginan untuk melukai diri. Meski rasanya sepi karena masih tanpa adanya pertemuan dengan teman.

Kali ini, saya terbantu dengan pemikiran 'asal' yang bilang bahwa selama pandemi, ulang tahun yang terjadi akan di-hold. Dianulir. So, we're remain the same young as we were before 2020. Haha. Sakarepmu, memang, karena tidak mungkin. ๐Ÿ˜‚

Well, terlepas dari apa yang terjadi, tahun ini saya merasa lebih selo, menerima, dan ikhlas akan apa yang akan terjadi kemudian. Lebih sadar bahwa tiap orang tuh beda-beda jalan hidupnya, rejekinya, jodohnya, alur waktunya, dan segala sel-sel hingga ke partikel atomnya. Belum tentu jika saya menjalani apa yang orang-orang lain jalani, akan sama merasa bahagianya.

Saya jadi lebih meragukan lagi keinginan-keinginan yang timbul. Apa benar ini yang saya mau, atau ini hanya ketakutan sesaat karena menjadi berbeda dengan orang-orang?

Di umur yang semakin dekat dengan 30 tahun, angka yang dulu saya merasa tua sekali tapi saat menuju ke sana, saya ga nyangka, ternyata menjalaninya bisa sedemikian muda. Yah, meskipun rasanya semakin tenang (sepi), karena teman seumuran sudah sibuk dengan urusannya masing-masing dalam peran menjadi dewasa. Tapi perhatian kecil yang hadir lewat sajen yang dikirim, tetap terasa hangatnya.

Kalau ditanya,
"Bagaimana rasanya ulang tahun?"
"Tidak pernah semuda ini."

Terima kasiiiih ๐Ÿฅบ

Kamis, 15 Juli 2021

Cuci Otak

Kenapa, ya, orang yang berseragam bisa segitu kasar dan arogan?

Apa jangan-jangan waktu masih pelatihan gitu ada sesi cuci otak? Makanya sensor empatinya rusak.

Lagian PPKM bukannya untuk mengurangi kerumunan? Kok praktiknya malah jadi alasan untuk razia dan main sita usaha orang?

Senin, 28 Juni 2021

I Love it

I love it, when someone called me Upil.
I love it, because it means she/he has known me for at least seven years.
Oh my God, I feel so old.

Seven years ago is the year when I graduated from college lyfe, and as far as I remember, that was the last plece when people called me with that silly name. Hehe.

Still, I love 'em.

Rabu, 23 Juni 2021

Tempura

unsplash.com/@bady

Dulu Bapak pernah minta untuk dibeliin Hokben, karena dia lagi susah makan. Kubelikanlah sepaket Hokben di kios kecil, bukan di restorannya langsung, dengan anggapan "Ah, kan yang penting Hokben." Kubeli yang paket hemat pun, isi semacam nugget-nugget gitu, karena cuma ada menu itu. Ya, namapun kios kecil kan.

Kubawa pulang, kuserahkan ke Bapak langsung. Kuingat, Bapakku ga nafsu makannya. Eh, malah ga dimakan pun sama dia. Cuma dibuka, terus ga ngomong apa-apa lagi. Ga sesuai sama ekspektasinya mungkin. Kuingat lagi, dia nyebut-nyebut menu tempuranya kok ga ada. Oh, Bapakku mau tempura. Oke, kuingat baik-baik.

Beberapa waktu kemudian, ada festival Jepang di UI. Kumain ke sana, kulihat ada yang jual tempura di salah satu stand makanan. Kuingat Bapak, kubeli empat atau dua potong udang goreng tepung itu, dengan harga yang kurasa mahal. Ya, jaman itu aku belum punya uang sendiri, makanya aku perhitungan sekali.

Udang goreng tepung itu kubawa pulang, tampilannya ga menggugah banget. Kurus memanjang, dalam kotak mika sederhana beralas tisu. Dari Depok kubawa sampai ke Bekasi, bersama beberapa potong dorayaki, sebagai oleh-oleh untuk orang rumah.

Bapak makan tempuranya, ngga, ya? Aku ngga ingat.

Waktu itu, selain belum punya uang sendiri, akupun belum kenal makanan enak. Belum tau, bagaimana makanan enak dan proper bisa menyenangkan hati orang. Belum punya pikiran, meski sama-sama rasanya kayak kue apem, tapi dorayaki punya rasa lain yang bikin dia jadi istimewa.

Sekarang, aku udah punya penghasilan sendiri, Pak. Cukuplah untuk sesekali makan yang lain. Udah tau juga, makanan yang enak-enak lokasinya di mana aja. Udah praktis pun sekarang tinggal pesan, nanti makanan enak-enak itu bisa diantar.

Maaf, ya, waktu itu aku ngga bisa memenuhi keinginan Bapak.

Kamis, 27 Mei 2021

trust issue

Capek kan, ya, kalo apa-apa pake perasaan. Bukan cuma dalam personal relationship, tapi juga konteks loyalitas dan kesetiakawanan yang udah kita jaga walau dalam kondisi apapun. Niatnya tulus as an added value, with personal touch, coz I believe everything from the heart will bring you to a deeper and stronger connection. Tapi teman yang kamu percaya dan longgar dengan banyak kompromi itu, engga memperlakukanmu dengan kesetiaan yang sama.

I thought we had no secret between us, instead you tell me no truth.

Dia (temanmu satu tim) meninggalkanmu tanpa penjelasan dan ketika ditanya, engga ada kejujuran di dalamnya.

I feel so much betrayed.

People really are horrible creatures.

Kamis, 20 Mei 2021

Me, Planning a Surprise Birthday Trip

Sabtu ini dia berulang tahun. Sejak masuk bulannya, gue udah ngebayangin akan ngajak dia jalan bareng, nyicipin kuliner hidden gem rekomendasi #darihaltekehalte, lanjut jalan kaki menyusuri kota, menuju ke taman dengan perpustakaan umum luar ruangan. Di penghujung hari saat kita berpisah ke tempat tinggal masing-masing, gue akan menyerahkan kotak hadiah yang udah seharian gue bawa-bawa dalam tas. A surprise birthday trip.

What a romantic plan, huh?

Instead, gue malah ngajak Ali dan Fathmah untuk ketemuan di hari Sabtunya. Nyali gue belum cukup kuat untuk mewujudkan itu semua. Rencana yang sebegitu manis dan romantis hanya bisa terjadi di kepala, karena memang interaksi kami biasa-biasa aja.

The truth is, it would be your special day and I wanna be the special person to spent the day with. Yet, I ain't special.

Plan B.

Gue kirim aja hadiahnya lewat pos. With a lil note, as a thankful word for being a good, nice, and fun friend to share the same interests with. Sukur-sukur pas Minggu dia ngajak ketemuan, dan gue tetap bisa menjalankan that surprise birthday trip for him. Haha.

Kebiasaan ini udah berlangsung beberapa kali. Ketika gue membayangkan melakukan hal-hal manis dan membuat orang yang menerimanya kehabisan kata-kata saking senangnya. Padahal in real life gue dan si subjek ini ga sedekat itu, kami cuma temen biasa. Padahal tujuan utamanya adalah memuaskan diri gue sendiri akan fantasi dan romantisasi dari sebuah surprise.

Padahal ga semua orang suka dengan surprise, makanya gue takut segala printilan rencana itu akan bikin dia menduga yang engga-engga, lalu menimbulkan awkward dan menjauhkan jarak kita yang memang ga sebegitu dekatnya.

Tapi... rencanamu ini kan ga merugikan siapapun? No hard feeling attached, tho?

Selasa, 11 Mei 2021

Ramadan Hari ke-29

Tiba-tiba Bapak ingin pergi ke Purwokerto, sehari saja besoknya pulang. Aku sih ayo-ayo aja, siap berangkat kapanpun Bapak dan keluarga yang lain siap. Anehnya, belakangan baru ketahuan kalau cuma aku yang akan menemani Bapak ke sana. Ditambah lagi, durasi perjalanan ternyata tiga hari (pokoknya menghabiskan jatah libur lebaran).

Kagetlah aku. Kok yang lain ga ikut? Amal cuma nganter sambil bawain barang. Mama cuma nyiapin baju-baju ganti. Irul ga keliatan sosoknya. Karena kaget, aku agak panik dan bilang kalo masih ada pekerjaan kantor (at least bisa koordinasi dulu), sambil sibuk packing baju tambahan.

Bapak di mimpiku semalam, dia diam saja. Potongan rambutnya cepak, nyaris botak, dan bulat dihiasi uban. Memakai jaket krem khasnya dengan lengan terlipat, yang biasa ia pakai kalau sedang dalam perjalanan jauh. Bapak diam saja. Kami jalan bareng menuju stasiun/terminal/tempat sewa mobil(?), tapi Bapak hanya menunduk. Tidak ada tatap.

Ini tahun kesepuluh sejak Bapak meninggal 2011 lalu. Juga tahun ketiga sejak kami sekeluarga tidak bisa pulang dan mengunjungi makam Bapak.

Pak, entah kenapa kok aku mimpiin Bapak, ya?

Rabu, 14 April 2021

Film You and I, Tentang Si Mbah dan Warisan Sejarah

Pertama kali saya menonton ‘You and I’ saat ia diputar sebagai film penutup JAFF 2020 kemarin. Jangan ditanya, rasanya sesak dan ambyar tanpa ampun. Berulang saya menontonnya dalam rentang pemutaran yang hanya dua hari, tidak berkurang sedikit pun pilu dan pedihnya. Bukannya kebal malah bertambah. Saya jadi ingat bude dan bulek yang mulai sepuh.


Berlatar peristiwa '65, Kaminah (Mbah Kam) ditangkap saat masih kelas dua SMP. Di penjara ia bertemu Kusdalini (Mbah Kus) dan sejak saat itu, mereka selalu bersama.


Berhati-hati saya mencerna pesan dari film ini. Awalnya yang saya tangkap baru sebatas perjuangan melawan stigma dari sepasang sahabat yang dipertemukan oleh nasib 'buruk', lalu tak terpisahkan, hingga akhirnya salah satu harus pergi duluan.


Pengalaman menonton barusan mengantar saya untuk mencari tahu lebih tentang peristiwa ’65. Kenapa Mbah Kam dan Mbah Kus sampai ditahan? Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, apa itu Gerwani, tapol dan stigma yang menyertainya. Juga sisi humanis dari para penyintas dengan kerja kemanusiaan yang mereka usahakan hingga sekarang. Yang terakhir ini adalah yang mendorong Mbak Fanny dan Kawan-Kawan Media, untuk mengangkat kisah hidup Mbah Kam dan Mbah Kus.


@bioskoponline


Baru-baru ini, Bioskop Online kembali menayangkan film 'You and I'. Semakin banyak kisah Mbah Kam dan Mbah Kus ini sampai ke tangan orang-orang, semakin banyak juga tanggapan yang membuka sudut pandang saya jadi lebih luas lagi. Saya pun kembali menontonnya. Kali ini meski masih terasa sesak, tapi rasanya berbeda.


Berawal dari resensi yang ditulis Bang AJP di @cinemapoetica, saya sadar akan pesan dari film ini yang jauh lebih luas dari relasi personal yang sebelumnya saya tangkap. Kepergian Mbah Kam dan Mbah Kus juga adalah kehilangan saksi sejarah atas peristiwa yang selama ini disetir hanya dari satu sudut pandang saja.


Di peristiwa itu, nasib seseorang direnggut tanpa keadilan, dipisahkan dari keluarga dan "diasingkan". Sesudahnya, mereka masih harus hidup dengan stigma seumur hidup sebagai penyintas dan dibatasi geraknya. Sampai tidak dianggap keluarga, karena beban yang ditanggung berakibat ke tiga generasi setelahnya.


Bagaimana sikap negara? Jangan ditanya, justru propaganda lahir dari pihak yang berkuasa. Tidak ada pengakuan, tidak ada pemulihan.


Dan dengan perginya para penyintas, para saksi sejarah, akankah peristiwa ini bisa diadili dan dihindari hingga tidak perlu terulang lagi?


Belum tentu. Kehilangan terbesar adalah terkuburnya kebenaran dari peristiwa masa lalu.


Saya memang terlambat, baru sadar akan kisah dari penyintas tragedi kemanusiaan ini baru-baru saja. Terima kasih kepada tim film 'You and I' karena sudah mengantar film ini hingga menjangkau orang awam seperti saya.


Kabar baik, jauh sebelum karya film ini ramai dibicarakan, upaya-upaya merawat ingatan dan merekam sejarah sudah dilakukan juga oleh banyak orang baik yang peduli. Sedikit yang saya tahu ada Mas Adrian Mulya dengan buku foto Pemenang Kehidupan, yang mengangkat kisah hidup para mbah penyintas '65. Buku foto ini juga yang mengawali pertemuan Mbak Fanny dengan Mbah Kam dan Mbah Kus.


Ada juga podcast #1965SetiapHari, yang mengarsipkan kisah-kisah personal yang dituturkan langsung oleh para saksi sejarah '65, agar dapat didengarkan setiap hari. Kapan saja. Sudah ada tiga episode hingga hari ini, dan akan terus bertambah, seperti slogan projek ini yang ingin membicarakan 65 setiap hari.


"Ja-ngan me-lu-pa-kan se-ja-rah," eja Mbah Kam dengan pelan kepada Mbah Kus dalam satu adegan film 'You and I'.


"Jangan sampai lupa, jangan sampai kamu ngalamin juga," tutur Pak Effendi, aktivis kemanusiaan yang saya temui pada suatu #AksiKamisan.


Jangan lupa, jangan sampai terjadi lagi. Ceritakan ulang, ceritakan terus.

Jangan sampai peristiwa ini terlupakan dan terulang, tanpa pernah selesai, tanpa pernah diangkat kebenarannya.

Selasa, 23 Maret 2021

Dominasi

Hanya 6 dari 35 fotografer terpilih yang merupakan perempuan. Tadinya saya berpikir biasa saja, bahkan merasa bangga karena menjadi yang sedikit itu. Namun, artinya masih ada dominasi satu pihak di bidang tersebut, dan dominasi di banyak bidang lainnya. 

Senin, 08 Februari 2021

Bun, aku masih tak mengerti banyak hal

Saat aku mendengar lagu ini, aku merasakan sekali pedihnya menjadi orang dewasa yang kesepian. Yang mencari-cari bunda, berharap menemukan nyaman dalam dekapnya. Yang ingin tetap disayang, walau bukan juara.

Jumat, 01 Januari 2021

Tentang Mencintai Seseorang

Disengaja atau engga, pasti akan ada perubahan yang terjadi di dirimu ketika kamu suka sama seseorang.

Bisa jadi kamu akan tiba-tiba rajin olahraga. Atau jadi rajin baca buku dan dengerin podcast politik. Ada juga yang rasanya ingin masakin atau buat sesuatu untuk orang itu terus, karena untuk memenangkan hati seseorang bisa dengan cara mengenyangkan perutnya. Hahaha.

Ilustrasi di atas ga cuma berlaku di antara manusia doang sih. Kamu yang lagi keranjingan hobi baru pasti juga begitu, ada bagian dari dirimu yang berubah demi hal itu. Dan hal itu seringnya ga kamu sadari, dengan kata lain kamu sukarela melakukannya.

Kamu ingin memberikan versi terbaik dari dirimu.

Kalo begitu.. apa berarti mencintai orang lain juga bentuk lain dari mencintai diri sendiri?

Anyways, selamat tahun baru! Ingat, setiap hari adalah hari yang baru, hari yang baik, seperti namamu. Ayo lebih mencintai diri sendiri. :)