Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2023

Hatiku Sangat Kacaw


Begitulah perasaanku saat selesai nonton “A Man Called Otto” tadi, tapi aku ga bisa menemukan kata untuk menjelaskan kekacawan ini. Setelah dilanjut nonton review dari Cinecrib, baru aku bisa mengenali perasaan kacaw yang aku alami.


Iya Ra, rasanya mixed feeling abis. Begitu isi chatku ke Tiara.


Mixed feeling karena aku nangis justru di scene yang bahagia. Saat Otto bertemu Sonya, saat makan malam pertama mereka, saat Otto main sama anak-anaknya Marisol, saat Otto ketemu Malcolm —bekas muridnya Sonya.


Mixed feeling karena ada beberapa scene yang sangat film sekali, alias terlalu mudah penyelesaiannya. Yah memang itu bukan poin utama, tapi tetap terasa mengganggu pengalamanku mendalami ceritanya. Yang tadinya bisa relate dan dekat dengan penonton (aku) dengan segala set-upnya, disudahi begitu saja. Sangat hollywood sekali rasanya.


*spoiler*

Scene terakhir yang harusnya sedih, aku malah ga merasakannya. Kematian di sini adalah goal utama Otto sebagai karakter.


*trigger warning*

Otto —yang berkal-kali berusaha bunuh diri, namun gagal— bisa selamat karena meski dia grumpy, namun tetap ada koneksi dengan orang lain. Hampir setiap hari Otto marah-marah ke tetangga, marah-marah ke orang lain yang ga tau apa-apa, ngedumel, tapi tetangganya tetep nyapa, tetep peduli, tetep ngerespon marah-marahnya Otto.


Itu yang rasanya belum aku dapat sehari-hari.


Mixed feeling karena ada perasaan kosong dan iri. I got no Sonya or Marisol.


Mixed feeling karena ada suara di kepala yang bilang, hey ini cuma film. Cobalah tonton aja tanpa ada penilaian macam-macam. Jangan semua-muanya dijadiin ajang evaluasi diri.

Rabu, 14 April 2021

Film You and I, Tentang Si Mbah dan Warisan Sejarah

Pertama kali saya menonton ‘You and I’ saat ia diputar sebagai film penutup JAFF 2020 kemarin. Jangan ditanya, rasanya sesak dan ambyar tanpa ampun. Berulang saya menontonnya dalam rentang pemutaran yang hanya dua hari, tidak berkurang sedikit pun pilu dan pedihnya. Bukannya kebal malah bertambah. Saya jadi ingat bude dan bulek yang mulai sepuh.


Berlatar peristiwa '65, Kaminah (Mbah Kam) ditangkap saat masih kelas dua SMP. Di penjara ia bertemu Kusdalini (Mbah Kus) dan sejak saat itu, mereka selalu bersama.


Berhati-hati saya mencerna pesan dari film ini. Awalnya yang saya tangkap baru sebatas perjuangan melawan stigma dari sepasang sahabat yang dipertemukan oleh nasib 'buruk', lalu tak terpisahkan, hingga akhirnya salah satu harus pergi duluan.


Pengalaman menonton barusan mengantar saya untuk mencari tahu lebih tentang peristiwa ’65. Kenapa Mbah Kam dan Mbah Kus sampai ditahan? Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, apa itu Gerwani, tapol dan stigma yang menyertainya. Juga sisi humanis dari para penyintas dengan kerja kemanusiaan yang mereka usahakan hingga sekarang. Yang terakhir ini adalah yang mendorong Mbak Fanny dan Kawan-Kawan Media, untuk mengangkat kisah hidup Mbah Kam dan Mbah Kus.


@bioskoponline


Baru-baru ini, Bioskop Online kembali menayangkan film 'You and I'. Semakin banyak kisah Mbah Kam dan Mbah Kus ini sampai ke tangan orang-orang, semakin banyak juga tanggapan yang membuka sudut pandang saya jadi lebih luas lagi. Saya pun kembali menontonnya. Kali ini meski masih terasa sesak, tapi rasanya berbeda.


Berawal dari resensi yang ditulis Bang AJP di @cinemapoetica, saya sadar akan pesan dari film ini yang jauh lebih luas dari relasi personal yang sebelumnya saya tangkap. Kepergian Mbah Kam dan Mbah Kus juga adalah kehilangan saksi sejarah atas peristiwa yang selama ini disetir hanya dari satu sudut pandang saja.


Di peristiwa itu, nasib seseorang direnggut tanpa keadilan, dipisahkan dari keluarga dan "diasingkan". Sesudahnya, mereka masih harus hidup dengan stigma seumur hidup sebagai penyintas dan dibatasi geraknya. Sampai tidak dianggap keluarga, karena beban yang ditanggung berakibat ke tiga generasi setelahnya.


Bagaimana sikap negara? Jangan ditanya, justru propaganda lahir dari pihak yang berkuasa. Tidak ada pengakuan, tidak ada pemulihan.


Dan dengan perginya para penyintas, para saksi sejarah, akankah peristiwa ini bisa diadili dan dihindari hingga tidak perlu terulang lagi?


Belum tentu. Kehilangan terbesar adalah terkuburnya kebenaran dari peristiwa masa lalu.


Saya memang terlambat, baru sadar akan kisah dari penyintas tragedi kemanusiaan ini baru-baru saja. Terima kasih kepada tim film 'You and I' karena sudah mengantar film ini hingga menjangkau orang awam seperti saya.


Kabar baik, jauh sebelum karya film ini ramai dibicarakan, upaya-upaya merawat ingatan dan merekam sejarah sudah dilakukan juga oleh banyak orang baik yang peduli. Sedikit yang saya tahu ada Mas Adrian Mulya dengan buku foto Pemenang Kehidupan, yang mengangkat kisah hidup para mbah penyintas '65. Buku foto ini juga yang mengawali pertemuan Mbak Fanny dengan Mbah Kam dan Mbah Kus.


Ada juga podcast #1965SetiapHari, yang mengarsipkan kisah-kisah personal yang dituturkan langsung oleh para saksi sejarah '65, agar dapat didengarkan setiap hari. Kapan saja. Sudah ada tiga episode hingga hari ini, dan akan terus bertambah, seperti slogan projek ini yang ingin membicarakan 65 setiap hari.


"Ja-ngan me-lu-pa-kan se-ja-rah," eja Mbah Kam dengan pelan kepada Mbah Kus dalam satu adegan film 'You and I'.


"Jangan sampai lupa, jangan sampai kamu ngalamin juga," tutur Pak Effendi, aktivis kemanusiaan yang saya temui pada suatu #AksiKamisan.


Jangan lupa, jangan sampai terjadi lagi. Ceritakan ulang, ceritakan terus.

Jangan sampai peristiwa ini terlupakan dan terulang, tanpa pernah selesai, tanpa pernah diangkat kebenarannya.

Jumat, 12 Juni 2020

Negeri di Bawah Kabut (2011)

Ada banyak dimensi yang ditawarkan film dokumenter ini, tentang masyarakat yang sehari-harinya hidup dari bertani.

Bagaimana mereka menghadapi gagal panen, yang akibatnya mengancam kebutuhan hidup hingga panen berikutnya. Lalu soal perubahan cuaca yang tidak lagi sama menurut perhitungan kalender Jawa, juga harga jual hasil panen yang murah, jalan desa yang rusak, hingga infrastruktur yang tidak rata.

Dimensi lainnya ditampilkan lewat anak-anak dengan konflik yang berbeda: soal melanjutkan pendidikan. Walau biaya sekolah negeri gratis, tapi untuk ongkos dan seragam tetap saja butuh uang. Mencari pinjaman dan hutang ke tetangga pun sulit, karena sama-sama pas-pasan. Ada juga yang  terpaksa tidak lanjut karena dinikahkan oleh orangtuanya selepas lulus sekolah dasar, dan kesulitan ini bukan tidak mungkin dialami anak-anak berprestasi.

Kesederhanaan yang intim sekali dihadirkan film ini lewat tungku kayu bakar, bukan hanya sebagai kompor sumber kegiatan rumah tangga tapi sekaligus penghangat ruangan di udara dingin. Banyak interaksi berpusat di tungku kayu ini, mulai memotong kuku anak sampai menghitung pengeluaran hasil panen.

Dengan latar desa di pegunungan Merbabu, percakapan sehari-harinya yang diantarkan dalam bahasa Jawa membuat film ini semakin intim bagi saya. Orang-orang di dalamnya terasa sebagai tetangga di kampung. Interaksi antarpedagang di pasar, mirip dengan pasar induk di Kroya. Karung-karung sayuran dan ibu-ibu yang menghidupinya. Bahkan budaya pesantren sebagai pendidikan alternatif yang juga banyak dijalani saudara saya. Sekarang, saya punya cara pandang baru terhadap mereka.





Seorang kawan menyesalkan film ini yang hanya diputar lewat kanal YouTube. Saya yang berpikiran pendek, senang-senang saja karena tidak perlu membayar biaya langganan, tapi tidak lama keresahan kawan itu bisa saya rasakan juga.

Film sekaya ini, rasanya akan tetap banyak yang suka dan menikmatinya kalaupun disediakan lewat layanan VOD dan sebaiknya begitu. Film ini harus ditonton lebih banyak orang lagi, diresapi lebih banyak jiwa lagi.

Ini film dokumenter yang sangat intim dan jujur, juga sederhana. Namun kaya dengan banyaknya isu yang diangkat.

Konflik disajikan pelan dan halus lewat tutur tokoh di dalamnya. Pendapatan hasil panen yang tidak seberapa, harus pintar-pintar diputar untuk biaya bibit, pupuk, pestisida, makan sehari-hari, dan cicilan hutang. Padahal belum tentu hasil panen berikutnya cukup untuk menambal tanggungan sebelumnya, dan meski bertani, tapi tidak semua menggarap lahan sendiri.

Walau begitu, sesama warga tetap saling membantu dan mengerti dengan kondisi masing-masing yang sama-sama sulit.
Para tokoh di dalamnya tetap menjalani hidup dengan 'enteng-enteng' saja dan beraktivitas seperti biasa. Bahagia, sederhana.

Kamu, cobalah tonton dan resapi maknanya. Ini tentang kehidupan saudara dan keluarga kita yang berprofesi sebagai petani, di negara yang katanya agraris.

Artikel ini juga tayang di urbantani.id dengan sedikit penambahan dan penyesuaian isi

Rabu, 31 Mei 2017

Oh, Flamingo | Band Indie-Alternatif yang Masih Saudara Sendiri

Pertama kali saya dengar lagunya Oh, Flamingo yang berjudul "June", bayangan saya langsung lari ke band-band indie ala British. Betotan bass dan petikan gitarnya terasa asik di telinga saya yang awam sekali soal musik. Taunya cuma dengar, suka, lalu kepo. :D

Iramanya lumayan bikin kepala saya goyang-goyang sambil bahu naik-turun sok asik menikmati lagu. Nah, ini salah satu cara mendefinisikan lagu yang saya suka. Karena kalo ditanya sukanya jenis musik kayak apa, saya agak sulit menjelaskan saking generalnya. Asal lagunya asik, itu saya suka. Ga membantu ya jawaban saya? Haha.

Lagu yang saya dengar di Spotify ini durasinya 10 menitan. Tapi kocak karena di tengah lagu mendadak hening beberapa saat, lalu mulai lagi dengan lagu yang sama sekali berbeda. Entah ini medley atau mix atau lagu berapa babak, karena ketika saya cari, lirik untuk June tidak sepanjang ini.

Next setelah ketemu liriknya, saya tertarik dengan grup Oh, Flamingo ini. Apa benar mereka dari British sana? Saya lihat cover photonya, kok ala-ala pemuda Bandung yang kreatif dan piknik abis ya? Tampang mereka juga asia-melayu yang unyu-unyu gitu.

Saya googling lagi, ternyata mereka band asal Filipina. Oalah, masih sodara jauh rupanya!

Anak piknik abis
*Gambar dari sini

Minggu, 06 September 2015

Jerman Festival 2015: Metropolis

Jerman Festival 2015

Kemarin gue baru nonton filem gratisan, Tjoy. Filem bisu klasik dengan live orchestra di pembukaan Jerman Festival 2015. Nonton ala misbar (gerimis bubar), di alam terbuka atrium TIM, Cikini.

Judulnya Metropolis, filem fiksi-ilmiah yang dibuat tahun 1927 di Jerman. Termasuk filem termahal di jamannya. Berlatar belakang di kota Metropolis, yang megah di permukaan, tapi banjir dengan keringat pekerja di dalamnya.

Filem ini bercerita tentang keresahan Freder, anak penguasa Metropolis, atas ketimpangan sosial yang terjadi di kotanya. Dia pergi ke lapisan bawah, menyusup ke tempat yang diperuntukkan bagi kalangan pekerja, dan bertukar tempat dengan salah seorang pekerja yang ditemuinya. Di sana Freder bertemu dengan Maria, seorang wanita yang percaya kalo suatu saat nanti akan datang penyelamat yang akan menyatukan penduduk Metropolis. Di sini Freder disadarkan Maria, untuk mengatasi ketimpangan ini, pihak penguasa yang dilambangkan oleh 'kepala' harus bekerja sama dengan kalangan pekerja yang disimbolkan oleh 'tangan'. Untuk itu, dibutuhkan sebuah 'hati', yaitu Freder sendiri sebagai anak penguasa Metropolis yang harus menyatukan pemikiran ayahnya dengan peran kaum pekerja. Dialah sang penyelamat yang dipercaya Maria. Di lain pihak, seorang penemu yang digambarkan sebagai tokoh jahat, berencana untuk menghancurkan tatanan kota dengan robot menyerupai manusia yang ia ciptakan sebagai penghasut.

Si penemu jahat menggunakan sosok Maria untuk menipu para pekerja agar mereka mogok bekerja dan menghancurkan mesin besar yang menjadi jantung kota Metropolis. Dia ingin mengambil hal paling berharga bagi Tuan Frederson, ayah Freder, yaitu sosok Hel, mendiang istrinya yang meninggal saat melahirkan Freder. Perjuangan Freder tidak mudah. Banyak persekongkolan yang dibuat untuk menjatuhkannya. Apalagi sosok robot jahat yang menyerupai Maria yang dia cintai. Tapi pada akhirnya, kehancuran Metropolis berhasil dicegah.

'The mediator of the head and the hands must be the heart!'-Metropolis (1927).

Wow! Keren banget! Filem bisu yang minus suara dengan iringan live orchestra yang kaya bunyi. Orkestra Bubelsberg yang dateng langsung dari Berlin ini, selama 2.5 jam non-stop memainkan musik pengiring filem Metropolis. Filemnya jadi hidup. Meski bisu, tapi ga sepi. Dan akting para pemerannya juga ga main-main.

Dengan filem bisu yang tanpa dialog, penonton cuma terbatas mengandalkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh para pemeran untuk bisa paham jalan cerita. Tapi gue sama sekali ga merasa bingung nontonnya. Seru banget! Sampe kebawa tegang di tiap adegannya. Apalagi pas akhir-akhir, tegang karena udah malem juga sih, takut kemaleman pulangnya.

Filem Metropolis ini dibuat tahun 1925-1926 oleh Fritz Lang. Di penayangan kemarin, filem ini disajikan utuh alias versi uncut. Menurut keterangan, filem ini sempat kena sensor di jamannya. Beberapa adegan dipotong, dan ga diketahui di mana dokumentasi aslinya berada. Sampe akhirnya beberapa tahun kemudian, ditemukan potongan adegan itu di Argentina. Tapi karena rusak atau ga bisa dipulihin lagi, jadi adegan yang hilang itu digantikan dengan teks paragraf di bagian adegan itu seharusnya ada.

Bravo!

Senin, 20 April 2015

Sabtu Bersama Bapak

Sabtu kemarin gue ga pergi ke mana-mana. Di rumah aja. Diem, sambil baca buku hasil minjem dari temen gue, fzlkbr. *MAKASIH, SAL!

Sabtu bersama bapak, itulah judul dari hari Sabtu gue kemarin.

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Sejak pertama ngeliat cover novel ini di Gramed, sebenernya gue udah pingin beli. Karena judulnya yang minimalis optimis sekaligus manis. Hehehe. Tapi tertahan, karena duit gue saat itu lagi diniatin untuk beli serial Supernova. Jadinya gue cuma bisa bikin resensi, sok-sokan ngerekomendasiin gitu. Cuma karena belum pernah bacanya, maka gue bikin novel tandingan, meski jauh ga sebanding pun, ialah Minggu bersama Ibu.

Sempet beberapa kali mau beli juga, tapi ga jadi lagi. Takut kecewa. Karena gue menaruh harapan tinggi di novel yang mengangkat sosok Bapak ini. Soalnya belakangan ini gue sering terjebak sama ekspektasi gue sendiri. Udah ngarep yang tinggi-tinggi, tapi ternyata ga dapet. Kan sedih. Hehehe.

Sampai akhirnya, di hari Sabtu kemarin, jadi juga gue baca novel ini.

Setelah gue baca, gue akui memang ini novel di luar ekspektasi banget. Cerita tentang Satya, Cakra, dan ibunya, yang hidup dengan petuah-petuah dari sang Bapak yang udah meninggal. Awalnya agak bosan, karena masih pengenalan cerita dan terlalu banyak sisipan joke-joke yang kurang bisa gue nikmati.
Masih susah rasanya gue nerima orang se-kaku Satya, yang bahkan galak banget ke anak-anaknya sendiri. Terus ada orang segaring Cakra, yang dikelilingi anak buah berkelakuan absurb. Lalu Bu Itje, ibu mereka yang suka bercanda ngeledek anaknya sendiri yang masih membujang. Mungkin ini karena gue masih dalam adaptasi dengan humor ala Adhitya Mulya. Hehehe.

Tapi di bagian-bagian mendekati akhir.. BUM! Bertubi-tubi gue kayak ditarik masuk jadi pemeran dalam novel ini. Ceritanya tiba-tiba berubah, mengalir, menyeret pembaca ke dalam situasi setiap bab-nya.
Setiap dialog seakan ditujukan ke gue sendiri.
Setiap adegan seakan gue ada di sana, menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Setiap konflik seakan gue alami sendiri.
Cara dia menuliskannya, ngebuat gue berasa jadi lawan bicara dalam cerita.

Banyak nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dalam novel ini. Tentang bagaimana mendidik anak, menghargai diri sendiri dan orang lain, mencari pasangan hidup. Semua disampaikan dengan halus dan terselubung, seakan seorang Bapak yang menyampaikannya sendiri ke anggota keluarganya. Cocok dibaca untuk orang yang lagi belajar berumahtangga.

Woooh, sebagai anak, gue merasa tertohok. Ga heran, gue banjir air mata waktu selesai bacanya. :))

Kesimpulannya, buku ini recommended, Gan! :D

Minggu, 25 Januari 2015

Koala Kumal

Hati-hati membacanya, postingan ini mengandung spoiler!

A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on

Hallow, Bang Dika!
Gue mau laporan, nih, Bang. Gue baru selesai baca karya terbaru lu, si Koala Kumal. Hasil minjem ke ade gue tapi, dia yang beli, bukan gue. Hehe.

Kesan gue setelah selesai baca: asli gue suka sama novel ini. Baguuuus, Bang!
Dibanding novel-novel lu sebelumnya, Koala Kumal terasa lebih nyata di kehidupan gue. Rasanya lebih berisi, ga cuma seputar komedi-cinta-galau seperti yang lain, tapi juga pendewasaan. Di novel ini, lu terlihat lebih macho menghadapi hidup! Selamat, Bang, misi pencitraan lu berhasil. Heheheh.

Bagian yang rasanya 'Gue-Banget' adalah bab tentang jurit malam. Karena kehidupan SMP kita mirip-mirip, Bang. Pas SMP dulu, gue juga duduk berpasangan sama kaka kelas pas ujian. Pas SMP, gue juga ikut PMR. Pas SMP, kehidupan ekskul gue juga menganut senioritas garis keras! Gue jadi kayak ngebaca riwayat hidup gue sendiri, dan riwayat hidup orang-orang yang gue kenal masa SMP dulu. Bedanya, gue ga tau apakah di masa itu gue juga bikin orang patah hati.

Koala Kumal jadi semacam refleksi diri bagi gue. Setiap bab punya kesannya masing-masing. Tentang jatuh cinta diam-diam, kode ga nyampe, dan ke-ge-er-an, gue jadi kepikiran berapa banyak kesempatan yang gue lewatkan.
Tentang patah hati, gue dapet pembelajaran untuk berani patah hati. Bukan cuma patah hati soal 'hati', tapi juga soal kehidupan, impian, dan hal lainnya.
Benar lah kalo patah hati bisa ngubah persepsi kita terhadap sesuatu. Dan patah hati harusnya ngebuat kita jadi lebih kuat, jadi lebih dewasa. Karena ada sesuatu yang selesai. Gue suka adegan terakhir, ketika lu ngobrol sama nyokap lu. Cara lu menuliskannya seperti merek sosis, so good so nice, Bang.

Tentang novel ini, gue jadi sadar bahwa elu multitalen(an) ya, Bang. Muehehehe
Menciptakan Miko berhasil menciptakan respek gue terhadap lu. (y)

Ngomong-ngomong, Bang, gue mau curhat dikit. Dikiiit aja deh, suwer. Jadi gini, rasanya ada beberapa kejanggalan di Koala Kumal.
Pertama, tentang identitas Bahri dan Dodo di bab petasan Jangwe. Diceritain kalo model rambut Bahri belah tengah rapi yang disisir hati-hati, sedangkan Dodo cepak ala tentara. Lalu di adegan berjemur di atas mobil, diceritain kalo Dodo sering tersisih berjemur di atas bagasi, sementara Bahri di atap mobil bersama Dika kecil. Tapi ilustrasi bocah yang berjemur disebelah Dika ga cocok sama karakter Bahri, karena dia berambut cepak! Sementara bocah yang diduga Dodo, yang tersisih di atas bagasi, justru memiliki ciri rambut-belah-tengah punya Bahri. What's going on, Bang? Apakah Dodo dan Bahri tukeran model rambut? Atau Bahri menyamar jadi Dodo?

Kedua, di bab cewek tomboi. Diceritain lu pacaran sama Deska, tapi Deska pindah hati ke Astra. Di adegan Deska minta putus, lu duduk berdua sama Deska di teras rumahnya. Tapi tiba-tiba, ada adegan Astar menghela napas panjang, dan lu putus sama Astra. Bang Dika, sebenernya lu duduk berdua di rumah Astra, atau Deska? Tell me the truth, Baang..

Udah, Bang. Gitu aja cerita gue hari ini. Laporan selesai. Keep up the good work.

Salam cheya-cheya.

Minggu, 14 Desember 2014

Minggu Bersama Ibu

Hai!
Kali ini gue mau nulis resensi buku. Cekidot, Gan...

Judul: Minggu Bersama Ibu
Penulis: Ya Umil
Penerbit: Ruang Contoh

Minggu Bersama Ibu

Buku terbitan #RuangContoh ini berkisah tentang kegiatan si penulis yang menghabiskan hari Minggu di rumah bersama Ibu. Dengan pilihan sudut pandang orang pertama, gue sebagai pembaca jadi seolah ikut mengalami sendiri kejadian di buku ini. Kerasa nyata banget sama kehidupan sehari-hari. Tokoh ceritanya pun minimalis, cuma dia dan sang Ibu. :)

Alur cerita yang dipilih sederhana banget. Semua berawal dari pisang-pisang hasil sang Ibu ikut pengajian di mesjid deket rumahnya di Bekasi. Si penulis kasian sama pisang-pisang itu, karena udah beberapa hari sampai kulitnya kecoklatan masih ga termakan juga. Daripada mubazir, penulis berpikir untuk mengolahnya jadi kue bolu pisang.

Dimulailah eksperimennya di dapur bersama Ibu. Setelah browsing resep kue bolu pisang, pilihannya jatuh ke resep Cake pisang yang hanya memakai 5 bahan saja! Waw, gue jadi tertarik mau bikin juga. :D

Di Minggu pagi dia siapin bahan-bahannya, yaitu:
1. Pisang 120 gram
2. Telur ayam 2 butir
3. Gula pasir 50 gram
4. Tepung terigu 100 gram
5. Mentega leleh 60 gram

Konflik pertama muncul di sini, karena ternyata di rumah ga ada mentega. Mau beli ke pasar, tapi males. Wah, sama nih kayak gue suka males jalan. Hahah.
Setelah riset kecil, akhirnya si penulis mengganti penggunaan mentega dengan minyak goreng. Tak ada mentega, minyak goreng pun jadi! Gue jadi dapet pengetahuan baru. Good.. :D

Dengan telaten dan sepenuh hati, dimulailah prosesi pembuatan bolu pisang. Setiap langkah dilakukan sesuai tuntunan resep supaya menghasilkan bolu pisang yang mengembang sempurna. Dibawah pengawasan Ibu, akhirnya adonan bolu jadi dan siap dipanggang.

Proses pemanggangan diceritakan ga kalah sakral dari proses mengadon. Mulai dari masuk oven Bima Jaya made in Bandung sampai menunggu kematangan sempurna, digambarkan seperti menanti kelahiran oleh si penulis. Wuih, gue yang ngebaca jadi merasa ikut berperan dalam kelahiran si bolu. :)

Setiap 5 menit, dengan antusias dia intip keadaan si bolu dalam Bima Jaya. Waktu pemanggangan dalam resep yang cuma 40 menit, dia gambarkan seperti seabad lamanya. Detik terasa berjalan lambat sekali..
Ini detik-detik penantian si bolu, diambil dari akun IG si penulis :>

A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on

Hingga akhirnya wangi bolu pisang mulai tercium. Permukaan bolu terlihat mengering. Tapi justru disitulah muncul konflik baru. Bolunya ga mengembang. Si penulis mikir, ini apa yang salah sampai ga ngembang?
Disentuh-sentuh empuk sih permukaannya, meski bantet. Dia cerita lagi, di tengah kebingungan itu dia icip dan rasanya.. Lembut.. Lembut dan wangi pisang..
Gawaat.. Gue jadi pingin nyoba bikin beneraaaan.. Hahaha


A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on



Meski berhasil lumayan sukses bikin bolu, tetep aja ada konflik baru yang ditemui penulis. Bolunya ga kerasa udah mau abis. Padahal dia berniat untuk bagi-bagi bolu itu ke temen-temennya besok. Yah, gue mau komentar gimana ya. Dari ceritanya aja terlihat maknyus banget itu bolu pisang. Ga heran tau-tau abis tak bersisa. :D

Dari judul bukunya, gue rasa si penulis ini terinspirasi banget sama 'Sabtu Bersama Bapak' karangan Adhitya Mulya. Semacam ingin melengkapi mungkin, Sabtu bersama Bapak-Minggu bersama Ibu. Intinya weekend bareng keluarga, yeah! Hahaha.

Gue ga nyesel baca buku ini. Recommended, Gan! (y)

Minggu, 16 November 2014

Pergi ke Belanda

"Mau ke mana?"
"Ke Belanda."
"Ya, hati-hati bawa payung."
Bawa payung. Cuma itu pesan ibuku waktu gue pamit mau ke Belanda kemarin siang. Gue ulangi, B.A.W.A. P.A.Y.U.N.G. Gile dah, ongkos aja ngga ditanyain gue ada duitnya atau ngga. Beda bener sama kalo gue mau ke Bogor, pesenannya macem-macem, "Udah bawa minum? Mau bawa makan ga? Duitnya masih?" dan petuah-petuah lainnya kayak mau ngelepas anaknya pergi ke negara orang. Sementara kemarin.. ah sudahlah.

Sebenernya ibuku ga salah. Gue memang pergi ke Belanda, tapi ga meninggalkan Indonesia juga. Belanda yang ini ga perlu naik pesawat, karena jaraknya cuma sekali naik Kopaja dari Manggarai. *YAELAH

Ada apakah gerangan gue jauh-jauh ke Belanda di hari hujan berangin? Ibuku keren juga nih, dia pesen cuma bawa payung, eh, beneran ujan di jalan.

Jadi kemarin ada nobar gratis, Broo.. HAH? GRATIS? Gue ulangi, G.R.A.T.I.S. YEAAAH..
Karena film-film gratisan menurut sebagian orang agak sulit dimengerti alur ceritanya, dan gue suka ngantuk kalo nonton film lama-lama, sebelum pergi gue persiapkan diri dengan tidur yang cukup. Masalah ngerti filmnya atau ngga, itu urusan nanti. Karena gue sebagai penganut paham gratisan tentu merasa sedih kalo ngelewatin kesempatan ini begitu saja. Berbekal hasil pencarian Google dan arahan abang kenek Kopaja 66, sampailah gue di Erasmus Huis, tempat nobar digelar.
A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on

Begitu sampai gue disambut Om Satpam yang nanyain apa tujuan gue ke sana. Kalo ditanya gitu jangan panik, jawab aja apa adanya. Kalo gue kemarin jawabnya mau nonton, karena emang mau nonton. Terus sebelum masuk, barang bawaan kita diperiksa dulu lewat scanner. Pas pemeriksaan ini jangan ada barang yang ditutup-tutupi, karena akan ketahuan. Kalo ditanya, "Kamu bawa payung, ya?" dan memang lu bener bawa payung, jawab aja, "Iya, Pak, disuruh bawa sama ibuku", gitu. Niscaya lo boleh masuk tanpa dicurigai barang sepeser pun.Yeah.

Di gedung pertunjukan, pengunjung disambut dengan dekorasi ala tempat kejadian tindakan kriminal. Ada garis polisi, pisau berdarah, sidik jari, dan alat lainnya. Gue takjub karena ini rasanya keren sekali!

A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on

Tentang film yang diputar, ternyata ekspektasi gue terlalu tinggi. Karena filmnya mudah dicerna sodara-sodara! Hahah.

Film pertama judulnya QUIZ. Tentang seorang host acara kuis yang dipaksa ikut permainan mengerikan dengan nyawa anak-istrinya yang jadi taruhan. Intinya tentang balas dendam. Film ini ngeri-ngeri sedap, sesuai genrenya yang thriller dan memacu adrenalin, jadi gue ga ngantuk. :D
Di film ini pastinya ada adegan berantem dan darah-darah, tapi ga berlebihan. Ga cuma kekerasan yang ditawarkan, tapi juga alur cerita dan drama yang jelas. Ditambah akting pemerannya yang oke juga, gue pribadi puas menontonnya. *tepuktangan.

Film kedua judulnya Black Out. Nah, gue rada heran nih pas baca sinopsisnya. Genrenya comedy-thriller. Kebayang ga, tuh, jadi kayak apa filmnya?
Pas gue tonton...
Hooo... gue ketiduran. ;p
Di tengah film gue ketiduran, tapi akhirnya gue berhasil mengumpulkan kesadaran dan bertahan hingga film selesai.

Film ini lebih kompleks dengan alur cerita yang maju-mundur. Tentang seorang mantan kurir narkoba yang tiba-tiba kehilangan ingatan di H-1 pernikahannya. Terus dia jadi orang paling dicari No. 1 karena dituduh menghilangkan 20 kg narkoba yang harusnya dia antar. Nah, berkembanglah cerita antar satu geng narkoba ke geng lain. Yang satu butuh duit, yang satu butuh barang. Penuh intrik karena mereka saling tipu-tipu untuk dapet barang tanpa kehilangan uang.

Jujur gue kurang menikmati nontonnya, karena ngantuk kali, ye? ;p
Kompleks juga karena ada banyak tokoh di dalamnya, gue jadi lupa-lupa peran mereka masing-masing jadi apa dan siapa. Terus juga film ini cuma nampilin english subtitle untuk dialog bahasa Belanda, english dialog sendirinya ngga. Padahal cukup banyak dialog Inggris di dalamnya. Makin bingunglah awak.

Soal komedinya.. beda sama paham komedi yang gue anut. Komedinya kasar, gue kan makhluk halus. ;p
Orang-orang sih banyak ketawa di beberapa adegan film ini. Satu adegan yang gue akui lucu ketika ada dua geng yang mau transaksi di suatu ruangan. Mereka berlima, dua lawan tiga, masing-masing pegang senjata dan saling todong untuk nyerahin barang bawaan masing-masing. Waktu saling todong itu, si pemeran utama masuk mengendap-ngendap terus ga sengaja ngebuka pintu ruangan itu. Tindakan buka pintu itu justru jadi pemacu untuk mereka berlima untuk saling nembak. Kayak kaget gitu, lah. Disorot satu-persatu mereka berlima mati karena ga sengaja ketembak. Sampe lima orang dalam ruangan itu mati semua, dan tinggal si pemeran utama yang kebingungan kok pada mati semua. Sementara barangnya utuh. :))

Udah, cuma dua film yang gue tonton. Sisa dua film lagi gue lepaskan karena takut pulang kemalaman. Apa kata ibuku kalo anak gadisnya pulang larut malam sendirian? :))

Trailer QUIZ bisa diliat di sini.
Trailer Black Out bisa diliat di mari.
Trailer dua film lainnya ada di sini dan di mari.

Doei!