Tampilkan postingan dengan label event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label event. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2016

Jazz Atas Awan - Dieng Culture Festival 2016


Teruntuk Dieng..
yang dinginnya sukses bikin laper..
yang bintangnya sukses bikin saya merasa kecil..
yang sunrisenya sukses bikin saya nanjak-nanjak di sepertiga malam..
yang lampionnya sukses bikin langit malam itu indah banget..
yang sederhana tapi megah alamnya..
Terima kasih udah menerima kedatangan saya dan teman-teman.

:))

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al Mulk: 5)

Kamis, 11 Agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

Kamis, 12 Mei 2016

Wayang Layang dan Kelanjutan Poetrygraphy

Halloo...

Setelah lamaaa sekali sejak terakhir saya menulis Terhapus Hujan Sehari, sekarang saya datang lagi dengan poetrygraphy terbaru yang berjudul: Wayang Layang.

Wayang layang sebenarnya adalah pertunjukan wayang kontemporer. Sebuah kolaborasi antara teater Les-rémouleurs dari Prancis dan seniman asal Indonesia. Saya menonton pertunjukan mereka akhir April kemarin di pembukaan Festival Printemps Français. Sabtu malam, hujan, di tengah aktivitas malmingnya warga Jakarta, saya  datang ke Plaza Senayan untuk nonton pertunjukan ini. Kyah.

Pertunjukan wayang dengan judul L’Oiseau (The Bird) ini menghadirkan sesosok burung buatan yang melayang terbang. Biasanya kalau nonton wayang kan di layar yang statis, ya. Nah, kalau wayang layang, yang jadi layar itu adalah sayap si burung. Jadi kita dapat dua tontonan sekaligus, tarian burung ini saat terbang, melayang, dan juga cerita yang dikisahkan lewat gambar ilustrasi dari sayap si burung. Epik.

Saking epiknya, saya jadi terinspirasi untuk menulis poetrygraphy lagi. Karena sayang juga sih, kalau hasil dokumentasi saya cuma teronggok di harddisk. Jadi, lebih baik dibikin poetrygraphy ya saya pikir. Mungkin kalau saya rajin nanti bisa terbit jadi photobook betulan. Hehehe.
Mari sama-sama bilang: aaamiiin!

Akhir kata, saya persembahkan sebuah Wayang Layang dalam bentuk lain kepada semesta. Khususnya kamu, yang sudah memberikan waktumu untuk membaca postingan ini. :)



Minggu, 11 Oktober 2015

Nasihat


Aslinya, saya juga ngga tau om Deddy bilang apa. Foto ini diambil waktu acara #filartc di TIM dulu. Sudah lama. Tapi karena momennya yang seperti beliau sedang memberi nasihat, makanya saya ambil foto ini sebagai ilustrasi.

Puisi ini dipersembahkan kepada orang-orang ekonomis yang suka bingung waktu belanja. Bingung memilih barang, bingung menghitung harga, bingung memilih kombinasi barang yang mana saja yang paling ekonomis. Juga kepada orang yang suka 'mengajak' hatinya waktu berbelanja.

Minggu, 06 September 2015

Jerman Festival 2015: Metropolis

Jerman Festival 2015

Kemarin gue baru nonton filem gratisan, Tjoy. Filem bisu klasik dengan live orchestra di pembukaan Jerman Festival 2015. Nonton ala misbar (gerimis bubar), di alam terbuka atrium TIM, Cikini.

Judulnya Metropolis, filem fiksi-ilmiah yang dibuat tahun 1927 di Jerman. Termasuk filem termahal di jamannya. Berlatar belakang di kota Metropolis, yang megah di permukaan, tapi banjir dengan keringat pekerja di dalamnya.

Filem ini bercerita tentang keresahan Freder, anak penguasa Metropolis, atas ketimpangan sosial yang terjadi di kotanya. Dia pergi ke lapisan bawah, menyusup ke tempat yang diperuntukkan bagi kalangan pekerja, dan bertukar tempat dengan salah seorang pekerja yang ditemuinya. Di sana Freder bertemu dengan Maria, seorang wanita yang percaya kalo suatu saat nanti akan datang penyelamat yang akan menyatukan penduduk Metropolis. Di sini Freder disadarkan Maria, untuk mengatasi ketimpangan ini, pihak penguasa yang dilambangkan oleh 'kepala' harus bekerja sama dengan kalangan pekerja yang disimbolkan oleh 'tangan'. Untuk itu, dibutuhkan sebuah 'hati', yaitu Freder sendiri sebagai anak penguasa Metropolis yang harus menyatukan pemikiran ayahnya dengan peran kaum pekerja. Dialah sang penyelamat yang dipercaya Maria. Di lain pihak, seorang penemu yang digambarkan sebagai tokoh jahat, berencana untuk menghancurkan tatanan kota dengan robot menyerupai manusia yang ia ciptakan sebagai penghasut.

Si penemu jahat menggunakan sosok Maria untuk menipu para pekerja agar mereka mogok bekerja dan menghancurkan mesin besar yang menjadi jantung kota Metropolis. Dia ingin mengambil hal paling berharga bagi Tuan Frederson, ayah Freder, yaitu sosok Hel, mendiang istrinya yang meninggal saat melahirkan Freder. Perjuangan Freder tidak mudah. Banyak persekongkolan yang dibuat untuk menjatuhkannya. Apalagi sosok robot jahat yang menyerupai Maria yang dia cintai. Tapi pada akhirnya, kehancuran Metropolis berhasil dicegah.

'The mediator of the head and the hands must be the heart!'-Metropolis (1927).

Wow! Keren banget! Filem bisu yang minus suara dengan iringan live orchestra yang kaya bunyi. Orkestra Bubelsberg yang dateng langsung dari Berlin ini, selama 2.5 jam non-stop memainkan musik pengiring filem Metropolis. Filemnya jadi hidup. Meski bisu, tapi ga sepi. Dan akting para pemerannya juga ga main-main.

Dengan filem bisu yang tanpa dialog, penonton cuma terbatas mengandalkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh para pemeran untuk bisa paham jalan cerita. Tapi gue sama sekali ga merasa bingung nontonnya. Seru banget! Sampe kebawa tegang di tiap adegannya. Apalagi pas akhir-akhir, tegang karena udah malem juga sih, takut kemaleman pulangnya.

Filem Metropolis ini dibuat tahun 1925-1926 oleh Fritz Lang. Di penayangan kemarin, filem ini disajikan utuh alias versi uncut. Menurut keterangan, filem ini sempat kena sensor di jamannya. Beberapa adegan dipotong, dan ga diketahui di mana dokumentasi aslinya berada. Sampe akhirnya beberapa tahun kemudian, ditemukan potongan adegan itu di Argentina. Tapi karena rusak atau ga bisa dipulihin lagi, jadi adegan yang hilang itu digantikan dengan teks paragraf di bagian adegan itu seharusnya ada.

Bravo!

Jumat, 21 November 2014

HelloFest10

Wahai kalian, para pengunjung..
Pantang pulang, ya, sebelum menyaksikan film pendek gue di sanaaa :D