Tampilkan postingan dengan label fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fotografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2022

Berjarak dari Fotografi

Ealah, judulnya berasa gue si paling aktif motret aja. Aslinya mah boro-boro, paling mentok juga diajak hunting bareng temen-temen. Kalo ga ada yang ngajak, ya, ga motret. Ehehehe.


Sekarang, temen-temen si pengajak hunting itu udah punya kehidupan lain semua. Merujuk ke kondisi di atas, gue jadi ga pernah hunting random lagi. Well, gue emang ga bilang langsung, but, I miss our old days, gaess. :(


Dulu-dulu.. ada acara fotografi di mana, ada pameran di mana, ada diskusi di mana, gue selalu hadir. Gue kejar, bela-belain dateng, tapi tetap tidak berjejaring. Mengamati saja di pojokan dalam gelembung sendiri.


Gue ga tau ini side effectnya atau mungkin gue yang terlalu emosional, tapi dari pertemuan soal fotografi itu selalu ada perasaan haru, pilu, dan kecil. Hasil dari paparan realita yang tidak seindah hasil potret pelaku aktif fotografi yang jadi pembicara. Hasil dari kerja-kerja sulit yang dihadapi demi mengangkat kisah yang nyata dan tersembunyi. Awalnya termotivasi, tapi makin ke sini makin tidak terawat semangatnya.


Rasanya diri ini sangat cetek, karena masih melakukan fotografi sebagai hobi sampingan yang tidak menghasilkan, profit maupun non-profit. Saya merasa makin tidak ada apa-apanya. Lalu berakhir dengan mengambil jarak dari aktivitas ini, yang hampir selalu menyalakan tombol gairah di diri saya.


Menjaga jarak dari mereka yang sudah berdampak.


Bersambung ke bagian kedua: Bersetia dalam Fotografi.

Rabu, 19 Agustus 2020

It's been a while: a photobook discussion

Rasanya lama sekali, sejak terakhir saya duduk di luar, bertemu langsung dengan teman. Bicara, bergurau, mengutuki keadaan dan ketidakadilan yang tak habis-habisnya. Lalu membuka buku dan membalik lembar-lembarnya, menukar isi kepala, sambil sesekali memungut kertas (atau ponsel) yang jatuh dari sela-sela.

Sejenak, kondisi pandemi melebur jauh jadi latar belakang;

Sore itu kami berempat melingkar di halaman belakang Panna. Ada saya, Qolbee, Aldrin - the viral spiritual guy, dan mas Adit - a humble photobook collector, yang bergiliran membagi kisah buku foto pilihan masing-masing. Sebenarnya ada seorang lagi, Ply, tapi dia sibuk mondar-mandir.

Diawali oleh Qolbee yang membawa kami bersama-sama mengalami mati lampu di New York tahun 1965. Foto-foto hitam putih karya fotografer René Burri, berhasil mengabadikan gelapnya kota New York di masa itu dan chaos yang menyertainya; kelumpuhan tranportasi. Lanjut buku kedua, kami dibawa menyaksikan kehidupan orang-orang Roma (istilah lain dari Gipsi) dan kesederhanaannya yang tulus lewat jepretan Koudelka.

Bergantian mas Adit menghadirkan sosok poetic Rinko Kawauchi dan simbol surga-neraka dalam wujud pembakaran ladang. Juga pengalamannya menghadiri pameran foto di Jepang, tanpa penerjemah. Sambung-menyambung dengan Aldrin dan kekagumannya pada mas Erik Prasetya, The Banal Aesthetic, yang merekam suasana Jakarta di tahun 91-92.

Tiba giliran saya. Agent Orange karya Jefri Tarigan menghadirkan kisah korban senjata kimia dari perang Vietnam. Perang yang bahkan tidak didukung oleh masyarakat Amerika sendiri pada masa itu, tapi dampaknya masih terasa hingga sekarang mencapai tiga generasi. Perang yang tidak membawa apa-apa sama sekali, kecuali kerugian.

Panna Lab


Sebuah topik dan pertemuan yang sangat-sangat menjadi oase di masa jaga jarak ini. Ada perenungan, sedikit pembahasan komposisi dan pandangan moral dalam memotret yang mengisi kepala kami, lebih-lebih bagi saya yang lama tidak berfotografi. Juga curhatan Aldrin yang ingin menjadi foto jurnalis dan viral dengan karyanya, bukan viral sebagai the spiritual guy. :')

Sejenak, saya lupa bahwa kondisi masih belum kembali ke suasana normal. Pandemi masih belum selesai. Sedih memang, tapi jangan memperparah situasi. Percaya saja, keadaan akan kembali ke masa yang jauh lebih baik lagi.

Selamat Hari Fotografi Dunia. :')

Minggu, 17 Mei 2020

Memotret Dalam Sesi Virtual

"Gaes, bikin virtual photoshoot yuk!"

Ajak saya kepada dua kamerad andalan, Sis dan Ali, sambil nunjukin screenshot karya Ana Octarina. Di minggu entah keberapa #dirumahaja, saya bosan. Asli. Bingung mau melakukan apalagi dan postingan memotret virtual yang seliweran di IG terlihat baguss, jadi ingin coba. Beruntung Sis dan Ali iya-iya aja mau bantu saya tanpa ada penolakan atau malu-malu jadi model.

Padahal untuk dapet hasil seindah fotografer professional yang seliweran itu, ga mudah. Asli. Kualitas gambar yang macam file format .3gp, blur yang ga ada estetiknya, dan pose yang canggung karena saya belum jago mengarahkan, lumayan bikin saya minder.

Sering di tengah sesi foto saya ingin menyerah dan bilang, "Udahan aja yuk, ga dapet-dapet nih posenya," atau terlintas pikiran, "Blur terus nih untuk jarak seginii, lensanya kurs."
Wow nyalahin tools.

Saya minder, soalnya ekspektasi yang terbentuk udah macam Ana Octarina X Dian Sastro.

Tapi teman-teman kamerad ini ga ada tanda-tanda awkward atau ngeraguin kemampuan saya untuk motretin mereka, malah tetap semangat pose-pose terus. Seakan ngasih saya waktu untuk menyiasati keterbatasan virtual photoshoot ini.

Untuk itu, terima kasih ya Gaes. Terima kasih juga Nur Endah dan Bayu, karena udah ngijinin Shyra ikutan :)

Dari beberapa sesi virtual memotret ini, rasanya menyenangkan. Asli. Walau hasilnya yaaa begitu deh, tapi proses ini bikin saya belajar banyak. Gimana motret virtual, gimana ngedit supaya display-nya oke, gimana ngatur pose, setting properti, dll. Juga menyenangkan bisa tatap muka walau cuma lewat video call. Walau kadang koneksinya gagal, lalu tiba-tiba terputus. Tapi asli, ini menyenangkan.

Ali, si pemudi terpuji

Sis, si ekspresif

Special appearance: Shyra

Kamis, 02 April 2020

36 x Zine dan Cerita Penggalangan Donasi

Tahun lalu, mas Desta (@rukiinaraya) bikin project photo online di Instagram. Selama 36 hari, dengan pakai kamera analog dan satu roll film 36-frame, kami yang ikutan project ini akan motret bareng. Satu kata kunci tiap satu hari, untuk satu frame. Namanya @36x36project.

Di akhir project, semua hasil akan dikumpulkan dan dipamerin bareng. Semua ide project ini, kata kunci per hari, eksekusi pameran, sampai workshop nyuci film, mas Desta yang ngonsep. Keren, ya? Doski memang keren, sih. :D

Nah. Hasil dari ikutan @36x36project kemarin, saya bukukan dalam bentuk zine sederhana. Pertama kalinya nyoba nyetak sendiri nih. Ngeri-ngeri sedap, tapi menyenangkan.

Dari cetakan pertama ini, saya tau apa yang masih harus diimprove kedepannya. Pemilihan kertasnya perlu dipertimbangkan lagi, harus coba jenis kertas lain supaya lebih oke. Untung ga cetak banyak-banyak. Hehe.

Selesai dari percetakan, saya bingung zine ini mau diapakan. Sayang kalau cuma numpuk gitu aja. Mau dijual tapi ga yakin ada yang mau saya ga bisa ngasih harga.

Jadinya, saya mau bagi-bagikan zine ini, ke siapa pun yang mau. Syaratnya: harus ditebus.
Cukup donasi Rp100.000 plus biaya kirim. Uangnya bukan untuk saya cetak zine lagi. Nanti hasil yang terkumpul akan disalurkan ke penggalangan dana untuk membantu warga terdampakk Covid-19 di kitabisa.com.

Dari lima zine yang saya tawarkan lewat IG dan Twitter minggu lalu, baru ada satu yang ditebus (terima kasih, bang Khalid!). Susah juga ternyata menggalang dana. Padahal targetnya udah ga banyak, tapi memang exposurenya dikit juga sih. Perkiraan soal teman-teman yang saya incar untuk donasi, juga meleset. 😅




*klik gambar untuk memperbesar


So, I'll leave it here. Barangkali ada yang membacanya dan berminat, mari hubungi saya, ya. :)

Rabu, 01 Januari 2020

The Lonely Readers New Year's Eve

Sore kemarin (31/12), saya menghadiri sharing buku yang diadakan POST Bookshop, toko buku indipenden yang dikelola sepasang pecinta buku yang asik!

Awalnya saya berniat datang hanya untuk mendengar para lonely readers bercerita, sambil foto-foto dokumentasi. Saya ngga ingat tahun ini baca buku apa aja, saking jarangnya baca buku lagi. Buku-buku yang saya baca belakangan juga semua pinjaman dari Ucim. The Siblings-nya Lala Bohang, Orang-Orang Oetimu, dan kumpulan zine selfish. Terima kasih, Ucim.

Oke, kembali ke acara sharing. Teman-teman yang datang kemarin adalah dewa membaca, anggota klub pecinta buku, dan penulis beneran. Banyak banget rekomendasi buku yang saya dapat, yang cukup memotivasi untuk rajin baca buku lagi. Perasaan yang mereka ceritakan saat membaca buku, antusiasme yang mereka bagi, sedikit-sedikit saya bisa merasakan juga. Kangen juga rasanya, untuk deg-degan membaca buku sampai halaman terakhir. Deg-degan karena belum rela kalau kebahagiaan ini akan berakhir.

Sebenarnya saya udah nyiapin jawaban. Kalau pun saya kena tembak sharing, saya akan menyebut Orang-Orang Oetimu sebagai buku yang paling berkesan di 2019. Saya suka banget sama alur ceritanya, yang mundur-mundur teratur, punya banyak plot, tapi saling terkait satu sama lain. Itu memikat sekali. Salah satu buku yang betah saya baca, hingga habis (selain karena ini buku pinjaman :p). Sedikit mengingatkan akan buku 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapear.

My last new year's eve was not lonely anymore. Selain terapi fotografi yang sukses membuat perasaan saya merasa baik, keramahan teman-teman kemarin juga membuat saya merasa diterima. Hangat rasanya, walau hari hujan.

Terima kasih banyak mas Teddy dan kak Maesy, juga teman-teman semua atas keramahannya. Atas cerita yang dibagi di penghujung hari. Selamat tahun baru! :)








Kamis, 26 September 2019

Kodak 400TX








































Taken with Novacam Pocket Camera
Film: Kodak 400TX, hibahan Ginanjar
Lab: Modern Photo, Pasar Minggu