Kamis, 29 Desember 2016

Meeting Suatu Sore

Kemarin sore saya ikut review meeting tugas akhir untuk anak-anak magang di kantor saya. Sepanjang jalannya meeting, banyak hal menarik yang saya dapat.

Bagaimana saya jadi nostalgia ketika ikut magang dulu.. yang waktu itu namanya PKL.

Bagaimana saya jadi nostalgia saat sidang tugas akhir dulu..

Bagaimana tingkah laku rekan yang lain saat review kemarin..

Bagaimana sistem yang dibuat anak-anak magang ini, yang bertujuan untuk mendukung jalannya bisnis di kantor..
dengan mempertimbangkan kebiasaan pengguna..
dengan team leader dan stakeholder lainnya..
bahwa pengguna ga bisa dipaksa untuk menggunakan sistem, kalo itu dirasa terlalu merepotkan justru akan jadi ga terpakai sistemnya. Sayang banget kalo ga terpakai. :(

Banyak ide-ide menarik juga.

Bagaimana teman saya, yang adalah senior anak-anak magang tadi aktif banget ngasih masukan dan tips ketika sidang.
Which is mereka satu almamater, jadi semua masukan tadi bener-bener based on pengalaman pribadinya.

Ketika urusan kantor ga melulu soal projek dan deadline, tapi ada human relationshipnya juga.

Ga tau ya, saya sih gampang terkesan aja dengan hal-hal semacam ini. :)

Senin, 26 Desember 2016

Puisi Resolusi

Kemarin mau menulis lagi
katamu janji dalam hati
eh, hari sudah hampir besok
tapi tulisanmu masih mentok kepentok

kemarin kau janji mau berpuisi
tapi hingga hari ini
kata-katamu cuma lirik lagu punya orang
yang kau ulang-ulang

ah! puisi
resolusi basi
akankah kau ulangi lagi?
pasti.

Nanti Magisnya Hilang

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Orang dari seberang jembatan pernah bilang,
"Masa depan adalah warna-warni yang bokeh."

Aku yang waktu itu sedang diam, mau tak mau jadi mendengar omongannya, yang sepertinya ia tujukan untuk dirinya sendiri. Sebab setahuku tidak ada manusia lain yang menyahuti omongannya dari sisi seberang sana. Kita berdua seutuhnya sendiri.

Sambil menahan nafas karena perut yang mendadak kembung, aku tunggu lanjutan kalimatnya yang cuma sepotong tadi. Perut yang kembung kutepuk-tepuk sebagai hiburan. Suaranya benar empuk sekali, reaksi dari asam lambung yang terakumulasi sejak pagi.

Orang itu, yang kulihat berdiri dari seberang jembatan, lalu melanjutkan omongannya.
"Omongan barusan.. orang-orang bakal ngerti ga, ya?
Atau perlu kujelaskan mengapa?"

Kalimatnya yang kosong tanpa ditujukan ke sesiapa, sampai ke telingaku yang sedang awas. Duh, orang melankolis lagi. Perut kembung ini perlu makan, bukan omongan manis penuh filosofis. Dan mendengar kalimat terakhirnya barusan, aku jadi ingin membalas,
"Ga perlu dijelaskan justru, nanti magisnya hilaang.."

Minggu, 18 Desember 2016

Candid

Have a nice day, Sir! :)

Tidur siang

stiker laptopnya leh uga :D

Kebanyakan dari foto-foto yang saya ambil adalah candid dari orang-orang yang saya tidak kenal. Mereka adalah orang-orang yang saya temui di jalan, yang asing, yang saya abadikan gambarnya atas nama realitas apa adanya.

Bukannya justru lebih terkesan ya kalau potret kamu diambil diam-diam tanpa sadar?

Bukannya seperti kekaguman seorang penggemar terhadap idolanya?

Yang di sini adalah kekaguman saya terhadap mereka yang mencerminkan sisi humanis manusia.

Interaksi, aktivitas, yang asli apa adanya tanpa dibuat-buat. Tanpa pose, tanpa gaya yang diarahkan. Tanpa sadar kalau kamu diamati oleh seseorang, yang tanpa tendensi atau maksud jahat apa-apa. Murni hanya ingin mengabadikan momen, dengan kamu sebagai aktor penyampai pesannya.

Tapi banyak dari teman saya yang bilang bahwa ketertarikan saya ini seperti tidak sopan. Ini melanggar privasi.

Well. Saya memang murni mengambilnya diam-diam. tanpa izin kepada yang sosoknya terabadikan.

Tapi.. is it a crime?

*dibuat dengan metode menulis cepat