Senin, 29 Februari 2016

Retorika 2016: Episode Februari

makhluk tak kasat mata
katanya, ada yang sedang mendekatimu meski kau tak sadar. diam-diam ia memperkecil jarak. senti demi senti dikikisnya untuk mendengar suaramu ketika menggumam.

pagi itu kulihat ia di pojok ruangan. mendapatimu yang baru datang, ia tersenyum menarik perhatian. tapi kau hanya diam.

siangnya kulihat ia mematung di jendela. menunggumu yang baru kembali dari makan di luar. setahuku ia sendiri belum makan.

sore datang. kau bergegas pulang. kulihat ia masih sibuk dengan pekerjaan di tangan. tapi matanya, kulihat tatapannya yang menemanimu hingga hilang dari pandangan.

negeri sejuta senja
mendekatlah
kan kuceritakan tentang negeri sejuta senja
yang banyak orang bilang ada surga di dalamnya
yang banyak orang datang memburu semburatnya
yang banyak orang hilang, melebur di tanahnya

puisi adalah soal logika
sebermula kata adalah bahasa
seiring aksara yang terbaca
ada spasi yang tercipta
menyusup di sela cerita

puisi cinta tanpa kata cinta di dalamnya
secangkir kopi di pagi hari
adalah bukti kau masih di sini
sepiring nasi bersambal terasi
adalah bukti kau masih peduli

*diketik Maret 2016

Senin, 15 Februari 2016

#tantangan21hari

Pictured by Tantos, illustrated by me :D

Ada yang bilang kalo kita ngelakuin suatu hal secara terus-menerus selama 21 hari, maka kita akan jadi terbiasa untuk terus melakukan hal tersebut secara berkelanjutan. Masalahnya apakah kita bisa konsisten dan disiplin minimal untuk 21 hari aja melakukan hal tersebut? Bisa iya, bisa engga. Karena kebiasaan baru yang sedang kita bentuk ini berarti mengorbankan kebiasaan lama kita untuk berubah. Dan sekalinya udah menjadi kebiasaan, maka hal itu semestinya sulit untuk diubah.

Teman saya, Tantos, menantang saya ikut #tantangan21hari ala dia. Aturan mainnya pertama masing-masing dari kita harus nentuin hal apa yang mau kita jadiin kebiasaan dalam 21 hari itu. Misal sikat gigi sebelum tidur, bangun pagi sebelum jam 4, makan sarapan sehat, atau olahraga ringan sebelum berangkat kerja. Hal yang sederhana aja, tapi masih belum bisa kita lakuin terus-menerus. Setelah ketemu mau ngelakuin apa, maka kita harus konsisten ngejalaninnya selama 21 hari. Kalo gagal di tengah, maka kita harus ngulang lagi dari awal perhitungan hari dan lanjutin lagi ngejalaninnya sampai genap 21 hari. Ada hukumannya juga, yang mesti kita tentuin masing-masing. Selain hukuman, ada juga hadiah yang akan saling kita kasih di akhir tantangan ke temen seperjuangan kita di #tantangan21hari ini.

Saya mengiyakan aja ajakan si Tantos ini. Meski terkenal suka hilang arah alias tersesat, tapi sepanjang pengalaman saya berteman sama Tantos, belum pernah dia menyesatkan saya ke tempat yang menyesatkan. Paling nyasar aja, jadinya muter-muter. He he he.

Sekarang kita bahas tantangan yang saya pilih untuk #tantangan21hari, yaitu menyikat gigi malam sebelum tidur. Yap, itulah. Mungkin keliatannya sepele, bahkan mungkin akan menimbulkan reaksi semacam, ”Yaelah, yang bener loh, masa hal sepele kayak gitu aja sampe mesti dibikin tantangan?”
Yaah, memang seharusnya ga perlu dibikin tantangan sih, harusnya udah jadi kebiasaan rutin, ya. Tapi emang dasar saya kelewat males, suka tiba-tiba hilang kesadaran gitu kalo malem, alias ketiduran. Jadi kadang ga sikat sebelum tidur. He he he.

Tantangan ini sebenernya udah dimulai sejak tanggal 8 Februari 2016 kemarin. Kalo lancar selama 21 hari, harusnya tanggal 28 Februari 2016 nanti selesai. Tapi sesuatu telah terjadi, guys. Sesuatu yang mengubah jalannya #tantangan21hari ini dari pihak saya. Mungkin ga gitu berpengaruh ke tantangannya Tantos. He he he.

Kejadiannya tanggal 10 Februari 2016, waktu itu #tantangan21hari baru berjalan selama tiga hari. Di hari itu sebenernya ga ada kejadian yang luar biasa, sampe suatu ketika saya tiba-tiba terbangun di pagi hari tanggal 11 Februari 2016, tanpa ingat kejadian di malam sebelumnya. Saya kehilangan kesadaran!

Saya ga ingat apa yang saya lakukan di malam tanggal 10 Februari 2016. Waktu itu hari Rabu yang tiba-tiba berganti jadi hari Kamis. Seingat saya waktu itu abis pulang kerja. Hujan ga ya, Jakarta? Kayaknya engga. Saya naik kereta ke Manggarai dari Tanah Abang. Waktu itu saya kebagian tempat duduk, lalu ketiduran sampai Manggarai. Untung dibangunin teman saya, jadi ga bablas Bogor. Sampai Manggarai, saya kebagian tempat duduk lagi di kereta pulang menuju Bekasi. Saya nerusin tidur yang tadi di sepanjang perjalanan pulang. Begitu bangun udah mau sampai stasiun Kranji. Oh! Saya ketemu orang yang waktu itu ngambil keripik teman saya, dia turun di Kranji juga. Terus saya langsung pulang ke rumah seperti biasa. Sekitar jam setengah delapan malam saya sampai rumah. Oh! Kemudian saya ingat, bahwa di hari Rabu malam itu saya ketiduran. Ketiduran tanpa menyikat gigi. *die*

Begitu sadar, kejadiannya udah jam empat pagi waktu itu. Kayaknya ini efek saya tidur di kereta, jadi keterusan sampai di rumah, bahkan keterusan sampai besok paginya pun. Saya langsung ingat si Tantos, dan juga ingat hukuman dari #tantangan21hari yang harus saya jalani. *die* *double die*

Seperti saya bilang di awal, kalau kita gagal menjalani tantangan sebelum genap 21 hari maka hitungan hari kita harus diulangi dari awal lagi. Selain itu juga ada hukumannya. Hukuman yang Tantos pilihkan untuk saya adalah menulis satu postingan dengan minimal 1000 kata dengan satu ilustrasi berupa gambar atau foto hasil karya saya sendiri.

Dan.. di sinilah kita berada sekarang. Di postingan minimal 1000 kata dengan ilustrasi karya saya sendiri. Susah juga ya. Poin dari tantangan ini adalah, tentu aja, mencukupi 1000 kata itu, dan membuat ilustrasinya sendiri. Sekian lama saya kalo nulis postingan cuma retorika-retorika yang terdiri atas puisi pendek, yang bahkan ga sampai seratus kata di dalamnya. Itu juga kadang telat di beberapa episode. Lah, postingan ini juga baru jadi setelah beberapa hari. He he he.
Sebenarnya bisa aja ya, saya diam-diam gitu. Ga usah ngaku kalau saya ketiduran tanpa sempat menyikat gigi. Toh, selama ini ga ada bukti juga kalau saya udah sikat gigi sebelum tidur. Mau saya kirimin foto saya pas nyikat gigi, kata Tantos ga usah. Toh, dia juga selama ini ga nanyain. Mehehe. Tapi saya ga mau begitu. Percuma dong ntar bukan #tantangan21hari namanya kalo ga 21 hari.
Paragraf ini diawali dengan kata ke-776. Masih kurang 224 kata lagi sebelum genap jadi postingan 1000 kata. Tapi seiring bertambahnya kata yang sekarang adalah kata ke-798, maka semakin dekat pula saya dengan akhir 1000 kata, bahkan kurang dari 200 kata lagi, guys!

Begitu pula dengan #tantangan21hari saya. Di minggu tanggal 14 Februari 2016 ini baru berjalan selama empat hari karena tragedi di hari ke-3 tanggal 10 Februari kemarin. Meski di tanggal 11 Februari harus ngulang dari awal lagi, tapi seiring berjalannya waktu, toh, udah lebih dekat ke hari ke-21. Cuma kurang 17 hari lagi, guys! He he he.

Oke. Saya mulai bingung mau menulis apa lagi. Jadi biarkanlah jari-jari saya mengetik terserah entah apa.

Kalo ditanya, setelah #tantangan21hari ini berakhir, selanjutnya mau apa? Ya, harapannya kebiasaan yang saya jalani selama tantangan ini bisa terus konsisten saya jalani. Bukan karena terikat suatu tantangan, bukan karena janji sama orang lain, bukan. Tapi karena janji sama diri saya sendiri. Karena saya memang ingin berubah. Gitu. Seharusnya.

Karena yang paling susah dilawan sebenarnya adalah diri kita sendiri, maka kadang kita perlu bantuan teman lain. Teman ini bisa kita mintain tolong untuk ngingetin kita, nyemangatin kita, ngawasin kita, bahkan untuk sekedar jadi tempat pamer aja juga bisa. Mehehe. Pamer nih, kalo kita udah tiga hari berturut-turut ga ketiduran.

Kalo ada dari kalian yang tipenya main-main dan susah serius, modus pamer ini bisa juga dijadiin alasan untuk berubah jadi diri yang lebih baik. Pamer yang buat bercandaan ya. Bukan pamer yang ngejatuhin orang lain. Mehehe.
Ada yang mau ikutan?
Wish me luck!
Wish us luck, guys!