Sebuah cawan dengan pesan yang tak tersampaikan sampai di tangan saya sore tadi. Ini dia,
cawan yang sudah lama saya tunggu-tunggu.
Cawan nomor 26, dari pameran "Cawan Berbisik" oleh Yugie Kartaatmaja. Awalnya, mas Yugie ingin menyampaikan sendiri cawan ini. Nanti akan dikabari lagi, katanya, untuk bertemu langsung. Beberapa hari saya penasaran, sambil menunggu kabar. Tidak ingin menagih duluan juga, karena mungkin beliau sibuk. Sampai terlupa. Seminggu, dua minggu, sebulan.
Hingga tiba-tiba, serah-terima cawan itu digantikan perannya dengan paket yang diantar kurir.
"Bray, nitip ambilin tissue pesenan yak di gedung J," pesan saya untuk si Bray sore itu.
Balik-balik, bukan cuma tissue yang dibawa si Bray, tapi juga cawan misterius ini.
 |
| Cawan Berbisik |
Cawan dengan pesan yang tak sempat tersampaikan. Cawan yang dijanjikan mas Yugie.
Ternyata, memang tidak sempat untuk bertemu langsung. Tiba-tiba mas Yugie harus pindah ke Bali, makanya terpaksa dikirim paket begini. Begitu balasnya saat saya mengabarkan cawannya sudah saya terima.
Penasaran, saya buka paketnya, berharap akan ada pesan misterius yang akan saya tebak siapa pelakunya. Tapi cuma ada cawan dengan nomor 26 di dasarnya, dan keterangan singkat soal konsep pameran.
"Btw mas, memang pesannya ga ikut dikirim, ya?"
"Engga, itu sebenarnya hanya medium penyampaian pesan yang tertuju tapi masih anonimus. Jadi hanya sebagai pengingat. Kalau pesannya tersampaikan dengan jelas, saya jadinya intervensi terlalu dalam. Jadi ini semacam gestur."
Ah, padahal sudah penasaran sekali. Kayaknya gapapa kalo pesannya tetap disampaikan, asal identitas pengirimnya tetap anonim. Begitu balas saya, yang tidak ditanggapi mas Yugie. Mungkin saya justru terlalu mengintervensi (ikut-campur) dalam karyanya. Maklum sih, hehe.
Apapun itu, terima kasih ya mas Yugie. Sukses selalu! Mungkin suatu saat kita bisa ga sengaja ketemu.
*diketik 4 Maret, 2020. Dua hari setelah cawannya sampai.