Tampilkan postingan dengan label #30haribercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30haribercerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2021

Postingan Dummy All Labels are Selected

"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"

1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini

Jumat, 01 Januari 2021

Tentang Mencintai Seseorang

Disengaja atau engga, pasti akan ada perubahan yang terjadi di dirimu ketika kamu suka sama seseorang.

Bisa jadi kamu akan tiba-tiba rajin olahraga. Atau jadi rajin baca buku dan dengerin podcast politik. Ada juga yang rasanya ingin masakin atau buat sesuatu untuk orang itu terus, karena untuk memenangkan hati seseorang bisa dengan cara mengenyangkan perutnya. Hahaha.

Ilustrasi di atas ga cuma berlaku di antara manusia doang sih. Kamu yang lagi keranjingan hobi baru pasti juga begitu, ada bagian dari dirimu yang berubah demi hal itu. Dan hal itu seringnya ga kamu sadari, dengan kata lain kamu sukarela melakukannya.

Kamu ingin memberikan versi terbaik dari dirimu.

Kalo begitu.. apa berarti mencintai orang lain juga bentuk lain dari mencintai diri sendiri?

Anyways, selamat tahun baru! Ingat, setiap hari adalah hari yang baru, hari yang baik, seperti namamu. Ayo lebih mencintai diri sendiri. :)

Rabu, 29 Januari 2020

#30haribercerita: Podcast Rasa LDR

Omong-omong soal podcast, ayo dengar podcast terbaru saya hasil kolaborasi bersama Aliyah. Check it out, ya. :)

Podcast kali ini disusun dengan metode LDR, karena kami obrol-obrol dengan bertukar pesan suara lewat aplikasi WA. Jadi.. maklum saja ya, kalau hembusan nafas saya akan terdengar keras sekali. Ga ahli nih kirim-kirim pesan lewat voice note. :)

Susyaaah, susyah asli bikin podcast dengan LDR. Saya orangnya butuh pancingan untuk bisa bercerita dengan seru,  kalau hanya pertanyaan yang dilontarkan, yaa jadinya saya akan hanya menjawab. Ini kekurangan yang harus dievaluasi nih.

Seperti yang saya tulis di sini, kata-kata yang saya rasa menarik untuk diceritakan biasanya baru akan keluar setelah acaranya bubar. Untuk kasus ini, sebenarnya sudah saya atasi dengan mengirim beberapa voice note untuk satu pertanyaan yang Aliyah tanyakan. Tapi.. mendengar jawaban saya sendiri, rasanya saya kebanyakan muter-muter nih jawabnya. Kurang praktis, taktis, dan ekspresif. Suara saya ngebas dan lempeng sekali, hahahah. Jadi ga PD. :'(

Tapi.. di sisi lain, saya senang sih diajak kolabs. Makasih ya Al, atas ajakannya. Mari kita bikin podcast lagi dengan cerita yang seruuu!

*ditulis 05 Feb 2020

Selasa, 28 Januari 2020

#30haribercerita: Pria Pisau Cukur

Di kasir Indomaret, setumpuk cokelat perak dipajang berdampingan dengan produk silet cukur. Visual dari model di kemasan pisau cukur secara kebetulan menyatu dengan tumpukan cokelat perak, menghasilkan satu cerita yang menarik. Spontan saya foto.


Dari gambar yang diambil, saya menangkap ekspresi seorang pria yang mengintip dari balik tumpukan cokelat. Terlihat ia ingin sekali mendapatkan makanan manis itu. Sedikit gesture jari yang terlihat mengelus pipinya, seperti bujukan agar si pria pisau cukur tidak tergoda. Kamu bisa menyebut ia sebagai pria penggila cokelat, namun karena suatu keadaan ia tidak boleh sama sekali memakan cokelat. Mungkin ia menderita suatu penyakit, sehingga harus menjaga asupan makannya.

Dari sisi sebaliknya, ada cipratan saus sambal di visual model kemasan pisau cukur. Kombinasi visual dan saus sambal ini menghadirkan cerita yang lain di otak saya. Kembali saya foto.


Elemen saus yang terciprat seakan terlihat seperti darah. Ketidaksengajaan ini jadi sangat sesuai konteksnya dengan pisau cukur, mewakili kulit wajah yang terluka hingga berdarah akibat tergores tajamnya pisau. Elemen jari-jari yang mengelus, seakan sebuah pencapaian atau imbalan atas pengorbanan pria pisau cukur yang rela melukai wajahnya hingga berdarah, demi mendapatkan hasil cukuran yang mulus. Beauty/handsome is pain. Seakan menyiratkan hal itu.

Saya lempar pertanyaan terkait gambar ini ke IG story, ada beberapa yang merespon. Tidak banyak, hanya empat respon yang saya dapat.

Dari jawaban yang masuk, visual ini sebagai tindakan sembunyi/ngumpet; sisanya mengaitkan cokelat dengan kisah Valentine di bulan Februari. Tidak bisa disanggah, cokelat dan bulan Februari memang erat kaitannya dengan momen Valentine. Memang saya tidak merayakan/meyakini, namun saya juga tidak memusingkan pro-kontra soal momen ini. Yasudah, seperti sebuah kewajaran saja. Apakah saya jadi gawat?

*ditulis 05 Feb 2020, menggunakan metode menulis cepat.

Senin, 27 Januari 2020

#30haribercerita: 1917

Adegan dibuka dengan hamparan padang rumput liar. Blake dan Scot tertidur sambil tetap membawa peralatan lengkap menempel di tubuhnya. Seorang komandan membangunkan Blake, "Ajak seorang teman," katanya. Tanpa pikir panjang, Blake mengajak Scot. Dari sini, jalan hidup mereka akan berubah.

Premis yang sederhana, "Tolong antarkan pesan ini ke pasukan A yang ada di barisan Z. Waktu kalian tidak banyak, karena ini adalah perintah pembatalan misi penyerangan besok. Nyawa ribuan orang bergantung dari sampainya pesan ini ke komandan di pasukan Z nanti."

Lalu sepanjang film kita akan diajak serta dalam perjalanan Blake dan Scot mengemban misi. Mata kamera tidak lepas sedetik pun, mengiringi setiap langkah yang ditempuh dua prajurit ini. Penonton dibawa menelusuri parit buatan sekaligus tempat berlindung saat serangan berlangsung, tempat puluhan prajurit terluka diobati langsung dengan peralatan seadanya. Tumpukan mayat, kuda yang tinggal kerangka, dan tebaran potongan tubuh manusia menggambarkan kondisi di arena perang saat itu. Perang dunia I, saat Jerman menarik mundur pasukannya dari daerah sekutu.

Pada suatu kesempatan, Scot, yang berdedikasi tinggi pada misi, akhirnya tidak tahan bertanya, "Kenapa kau memilih aku dalam misi ini?"

Tidak ingat apa persisnya jawaban Blake, tapi rasanya tidak jauh dari soal Scot orang yang paling bisa dipercaya.

Meski ceritanya hanya soal perjalanan dua orang prajurit pengantar pesan ini, tapi emosi penonton dengan mudahnya terbangun. Lewat obrolan singkat, lewat tindakan saling menjaga satu sama lain antarmereka berdua, dan lewat ancaman serangan yang bisa datang kapan dan di mana saja. Misi sepenting ini benar-benar hanya mereka berdua yang bisa mengembannya.

Selain dari cerita dengan emosi yang dalam, teknik pengambilan gambar dan setting yang ditampilkan benar-benar bikin saya menahan nafas. Gila, visualnya cakep banget!

Saya juga menikmati sekali menangis, meluapkan emosi saat menonton film ini. Film terbaik yang saya tonton di awal tahun.

Kudos, Sam Mendes!

Sabtu, 25 Januari 2020

#30haribercerita: Cawan (tak) Berbisik

Sebuah cawan dengan pesan yang tak tersampaikan sampai di tangan saya sore tadi. Ini dia, cawan yang sudah lama saya tunggu-tunggu.

Cawan nomor 26, dari pameran "Cawan Berbisik" oleh Yugie Kartaatmaja. Awalnya, mas Yugie ingin menyampaikan sendiri cawan ini. Nanti akan dikabari lagi, katanya, untuk bertemu langsung. Beberapa hari saya penasaran, sambil menunggu kabar. Tidak ingin menagih duluan juga, karena mungkin beliau sibuk. Sampai terlupa. Seminggu, dua minggu, sebulan.

Hingga tiba-tiba, serah-terima cawan itu digantikan perannya dengan paket yang diantar kurir.

"Bray, nitip ambilin tissue pesenan yak di gedung J," pesan saya untuk si Bray sore itu.

Balik-balik, bukan cuma tissue yang dibawa si Bray, tapi juga cawan misterius ini.

Cawan Berbisik

Cawan dengan pesan yang tak sempat tersampaikan. Cawan yang dijanjikan mas Yugie.

Ternyata, memang tidak sempat untuk bertemu langsung. Tiba-tiba mas Yugie harus pindah ke Bali, makanya terpaksa dikirim paket begini. Begitu balasnya saat saya mengabarkan cawannya sudah saya terima.

Penasaran, saya buka paketnya, berharap akan ada pesan misterius yang akan saya tebak siapa pelakunya. Tapi cuma ada cawan dengan nomor 26 di dasarnya, dan keterangan singkat soal konsep pameran.

"Btw mas, memang pesannya ga ikut dikirim, ya?"

"Engga, itu sebenarnya hanya medium penyampaian pesan yang tertuju tapi masih anonimus. Jadi hanya sebagai pengingat. Kalau pesannya tersampaikan dengan jelas, saya jadinya intervensi terlalu dalam. Jadi ini semacam gestur."

Ah, padahal sudah penasaran sekali. Kayaknya gapapa kalo pesannya tetap disampaikan, asal identitas pengirimnya tetap anonim. Begitu balas saya, yang tidak ditanggapi mas Yugie. Mungkin saya justru terlalu mengintervensi (ikut-campur) dalam karyanya. Maklum sih, hehe.

Apapun itu, terima kasih ya mas Yugie. Sukses selalu! Mungkin suatu saat kita bisa ga sengaja ketemu.

*diketik 4 Maret, 2020. Dua hari setelah cawannya sampai.

Jumat, 24 Januari 2020

#30haribercerita: Watchdoc

Tentang realita yang disampaikan lewat karya-karya watchdoc. Tapi kok membangkitkan geram juga, ya? Ketika melihat tokoh-tokoh yang dulu kampanye dengan gaya sok memperjuangkan, sekarang di mana? Melihat senyum-senyum tamak, seakan benar akan bekerja atas kepentingan rakyat.

*(25/01)

Kamis, 23 Januari 2020

#30haribercerita: #30haribercerita

Kemarin saat sedang asik ngobrol soal postingan kak Rey dan Galcit, tiba-tiba Hesty nyeletuk, "Mil, kok lu ga ikutan 30 hari bercerita?"

Ehem. Siapa bilang ga ikut? Gue ikutan Hes, tapi nulisnya di blog. Hehehe.

Memang platform yang mengajak orang-orang bercerita selama 30 hari ini terlahir di IG. Tapi, gue tau ga akan bisa cerita banyak, di sana bukan platform yang tepat untuk bercerita kalo bagi gue pribadi. Ini preferensi personal aja ya.

Alasan sebenarnya karena gue jadi memikirkan hal yang kurang penting ketika akan nge-post di IG. Gue akan kecewa kalo cuma sedikit like yang gue dapat, akan mikirin foto dan cerita yang ga nyambung. Akan takut di-judge macam-macam, padahal mah siapa juga yang akan mikirin.  Mikirin caption aja daku lama sekali, Fren. Ada toxic dan ketidakpuasan yang tersembunyi dari bermain IG.

Gue sendiri ikut #30haribercerita ini karena setuju dengan semangatnya, sebagai penyalur pikiran dan kata-kata yang ga sempat keluar. Bagi gue, nulis itu kayak terapi untuk jujur dengan diri sendiri. Untuk mengakui pemikiran-pemikiran yang kadang suka dipendam, pandangan-pandangan yang kadang suka terlupa, juga megikat pelajaran hidup yang didapat dari kejadian sehari-hari. Semacam dialog intim dengan diri sendiri sekaligus berlatih berpikir runut. Sekaligus... latihan menjelaskan dalam kalimat tertulis, karena gue sering kesulitan kalau harus menulis laporan dan jawaban di formulir atau kuesioner apa.

Karena keterampilan menulis, berpikir, dan bicara atau kemampuan apapun itu bisa diasah. Dan daku masih bodoh. :)

Di blog ini, gue bisa nulis apapun dengan bebas. Entah percakapan imajiner dengan mas Wid, pertanyaan yang belum sempat kepikiran saat screening film, atau hal-hal lain yang belum tersalurkan.

Mulai tahun ini, rasanya gue akan merutinkan lagi aktivitas literasi. Ini pengaruh positif nih, dari kegiatan main-main ke Post dan event Patjar Merah kemarin. Yuk, harus konsisten. :)

*(26/01)

Rabu, 22 Januari 2020

#30haribercerita: Di Balik #36x36project

Sebuah kisah di balik layar #36x36project. Ternyata saya sempat menulis beberapa catatan sampingan, yang baru sekarang kesempatan di-post. Selamat membaca! :)

Ini tentang sebuah project kolaborasi berbasis kamera analog! Selama 36 hari para partsipannya akan memotret satu frame saja dengan tema yang ditentukan malam sebelumnya oleh akun @36x36project. Satu roll film untuk 36 hari.

Karena hal ini, niatan gue untuk hiatus dari Instagram harus tertunda. Sayang yah, padahal ingin log-out dan sok-sokan detox gitu ceritanya. 😅

Hari-hari pertama gue agak khawatir. Ini filmnya beneran kepotret ga ya. Beneran jadi ga ya ntar. Karena kepikiran hal itu, frame yang gue ambil jadi sekadarnya. Itu yang gue rasa sih.

Pernah di hari ketiga yang temanya pasar, gue udah motret tuh satu frame. Eh, di detik berikutnya objek yang gue incar justru semakin fotojenik (bener ga yah penulisannya begitu 😅). Pingin motret lagi, ga bisa. Mau ngulang ambil foto lagi, ga bisa diulang. Sayang sih, tapi gue harus komit untuk cuma ambil satu frame/hari. Di situ gue dapet pelajaran untuk ga terburu-buru. Harus sabar. Gue seperti diingatkan lagi tentang makna motret dengan analog, yang tiap framenya begitu berharga. Tsah.

Memang dasar gue anaknya sok dan banyak gaya yah. Di hari berikutnya, karena sok mengaplikasikan ilmu sabar yang gue dapat di hari ketiga, gue malah belum ambil foto apapun sampe sore hari menjelang magrib. Selain karena tema yang berubah dengan tantangan berbeda. Tapi jangan kuatir, akhirnya gue berhasil kok untuk mengambil frame untuk hari keempat. Nih, barusan aja sebelum buka puasa. 😉

Gue punya pemikiran untuk hanya memotret ketika ada cahaya matahari. Karena namapun motret dengan film ya, sangat tergantung dengan cahaya. Makanya maksimal sore hari gue harus udah menyelesaikan tantangan motret di hari itu.

Ini baru hari keempat, masih ada 32 hari dengan 32 tema lainnya. Semoga kita semua bisa komit dan istiqomah ya, dan semoga akan selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil di setiap harinya.

🙃

*(26/01)

Selasa, 21 Januari 2020

#30haribercerita: #36x36project

Ini tentang proyek di awal Juni tahun 2019 kemarin. Selama 36 hari kami memotret dengan satu roll film berisi 36 frame kamera analog. Satu frame/satu kata kunci/hari, sampai habis satu roll film itu. #36x36project

Ada banyak cerita, banyak rasa, macam-macam hal yang saya alami selama ikut dalam proyek ini. Debar-debar memencet tombol shutter, kata kunci yang kadang bikin bingung, kadang bikin antusias.. dan lainnya. Yang pada dasarnya terasa menyenangkan.

Sayang, harus terhenti di hari ke-32 karena filmnya lepas di dalam kamera. Gara-gara ini, saya kembali berdebar-debar.

Seorang teman menyarankan untuk langsung membawanya ke lab foto untuk diproses. Saya pun ke sana, dengan debar-debar juga. Kali ini soal hasil gambarnya, bisakah tetap diproses? Akankah sesuai dengan yang dibayangkan sewaktu motret kemarin? Atau justru komedi karena ngeblank?

Ternyata hasilnya tidak segagal yang saya kira. Beberapa foto memang tidak jadi, tapi ada juga yang berhasil. Dan semakin senang rasanya saat foto itu bertemu dengan karya dari pemotret lainnya di pameran bulan Juli kemarin.

Melihat foto teman-teman lain yang juga dipamerkan, secara tidak langsung saya merasa seperti ada koneksi yang muncul. Rasanya seperti orang asing yang belum pernah bertemu masing-masing, tapi bisa saling bercerita lewat foto. :)

*(25/01)

Senin, 20 Januari 2020

#30haribercerita: Anak Magang

Pernah pada suatu malam sepulang kerja, saya melintasi gedung pertokoan dan bertemu segerombol karyawan magang. Saat itu jam operasi toko sudah usai, mereka sedang membereskan troli yang sebelumnya dipakai para pembeli. Sekitar 4-5 orang yang saya temui, dengan seragam hitam-putihnya bersama-sama menumpuk troli dan menyusunnya jadi satu rangkaian panjang.

Di batas akhir troli, ada jalanan menurun yang mengarah langsung ke basement pertokoan. Sambil tertawa mereka beramai-ramai mendorong troli-troli itu dan menungganginya. Suara gesekan roda dan jalanan yang dihasilkan nyaring sekali, semakin kencang seiring kecepatan troli yang meluncur. Melihat mereka tawa-tawa bareng, saya jadi ketularan. Interaksi hangat di antara para karyawan magang itu tersampaikan hingga ke tulang. Di penghujung hari dengan kondisi yang sudah loyo, tapi kalau diingat-ingat energinya masih terasa sampai sekarang. :)))

*(25/01)

Minggu, 19 Januari 2020

#30haribercerita: Menjadi Anonim #2

Menjadi anonim dengan melakukan perjalanan sendiri. Bebas menjadi aku yang lebih memilih jalan daripada naik ojek. Atas nama membakar kalori dari makan banyak sebelumnya.

Bebas menjadi aku, yang memilih makan es krim di bangunan mall tua. Bukan di toko asli tempat legenda itu berdiri.

Bebas menjadi aku, yang lebih banyak diam di suatu tempat. Merenung, mencoba mengenal warga tapi akhirnya memilih menikmati suasana sendiri.

Bebas menjadi aku yang melarat, tanpa peduli kenyamanan teman perjalanan.

Menjadi anonim dan membiarkan matahari menyentuh secara intens, agar bisa bilang,
"Tunggu di sini, aku akan kembali menemuimu dengan kulit yang lebih gelap."

*(25/01)

Sabtu, 18 Januari 2020

#30haribercerita: The Bajau

November 2014, lima ratus warga suku Bajo ditangkap oleh polisi perairan karena tidak memiliki KTP. Dikira nelayan asing yang mencuri ikan, suku nomaden ini telah hidup ratusan tahun di laut, jauh sebelum terbentuknya negara-negara yang lantas mengklaim wilayah perbatasannya masing-masing.
Begitu kurang lebih narasi yang mengawali film dokumenter The Bajau karya Dandhy Laksono. Semalam (18/01), saya menghadiri pemutaran film dan diskusi serta penggalangan dana untuk suku Bajo di M Bloc, masih dalam rangka agenda Patjar Merah Kaget.

Film ini memaparkan bagaimana suku Bajo menghidupi hari-harinya. Tinggal di sampan, menangkap ikan dengan jaring, tombak, dan alat-alat tradisional lainnya. Menyelam belasan menit dengan hanya satu tarikan nafas, hidup dari laut dalam artian sebenarnya. Mungkin yang saya paparkan ini terkesan gagah dan mendukung imaji 'nenek moyangku seorang pelaut', tangguh. Sebaliknya, perasaan yang muncul sejak awal saya menonton pemutaran filmnya adalah pilu.

Dikisahkan bagaimana sulitnya warga Bajo melaut dengan penghasilan yang serba terbatas.

"Yang kami pakai juga perahunya Daeng Rauk. Dia minta 600rb sebulan, tapi bagaimana kami bisa bayar?" ucap seorang warga sambil memperbaiki mesin perahunya yang rusak. Hasil tangkapan yang tidak seberapa, dibeli murah oleh tengkulak. Jelas hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara pemerintah datang dengan kebijakan yang sama sekali asing dengan apa-apa yang biasa mereka lakoni.
"Kalau begini orang Bajo kasihan. Lebih baik kami bantu.. bikin rumah di sini."
Tiap keluarga yang terbantu dibangunkan sebuah rumah dan dua hektar lahan untuk diolah jadi ladang/kebun. Tapi kemudian, pihak perusahaan pengembang datang. Lahan mereka digusur tanpa ganti rugi hingga saat ini.

Penangkapan yang dinarasikan di awal, berlanjut dengan upaya negara untuk 'mendaratkan' suku perairan ini. Niat baik yang seakan memaksa, karena sebenarnya mereka baik-baik saja dengan hidup sebagai pelaut. Pun dengan konflik yang menyusul akibat banyaknya kebutuhan yang mendadak hadir sementara tidak adanya mata pencaharian sejak meraka berkehidupan di darat. Beberapa warga yang sudah dibuatkan rumah di darat oleh Dinas Sosial, tetap kembali melaut karena itulah mata pencaharian yang sudah suku Bajo tekuni bertahun-tahun. Kehidupan mereka sangat tergantung pada hasil laut.

Konflik batin saya rasakan hadir saat menonton dokumenter ini. Di satu sisi, ada pilu melihat sulitnya kehidupan warga Bajo dan narasi pemerintah yang merampas hak-hak warga demi kepentingan 'pembangunan' (pembangunan untuk siapa? Mari pertanyakan). Di sisi lain, saya resah melihat penyu yang dikorbankan dalam upacara adat. Saya meringis melihat kima yang dipecah cangkangnya untuk diambil isinya-karena setahu saya penyu dan kima termasuk biota laut yang dilindungi.

Disampaikan bagaimana suku Bajo sangat menjaga laut sebagai sumber kehidupan, bahkan ampas kopi tidak akan mereka buang ke laut. Sebenarnya ada juga niat baik pemerintah lewat zona konservasi yang pastinya akan membatasi area jelajah suku Bajo. Jika memang peradaban maritim nusantara yang digaungkan, kebijakan ini juga harus diperhatikan pelaksanaannya. Menyaksikan film ini membawa perasaan janggal, namun tetap lebih besar porsinya untuk tetap kritis dengan kondisi peradaban yang terancam oleh pemerintah sendiri.

"Selamat malam, Mas Dhandy. Jujur saya tersentuh sekali dengan karya dokumenter ini. Namun ada konflik batin yang hadir, melihat bagaimana suku Bajo menangkap hasil laut lewat narasi yang ditampilkan. Setahu saya, penyu dan kima merupakan biota laut yang dilindungi. Sehingga muncul pemikiran, bahwa perlu adanya kebijakan yang disampaikan terkait keberlangsungan tradisi peradaban maritim ini. Terima kasih."

*ditulis 19/01/2020.
*rekaman sesi diskusi selepas pemutaran berakhir

Jumat, 17 Januari 2020

Kamis, 16 Januari 2020

#30haribercerita: Cawan Berbisik

Sore ini, tiba-tiba sebuah pesan WA masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saya berpikir, "Hmm, mungkin ini kurir JD.ID mau mengantar barang."

Ternyata bukan.

Dia memperkenalkan diri sebagai Yugie Kartaatmaja, seorang seniman keramik lulusan ITB. Akhir tahun kemarin, pamerannya yang berjudul 'Cawan Berbisik' digelar di Jakarta. Konsepnya adalah pengunjung yang datang dapat membisikkan hal apapun ke cawan yang dipamerkan yang ditujukan kepada siapapun orang yang tidak sanggup untuk ia sampaikan langsung. Nantinya cawan berisi bisikan ini akan disampaikan oleh mas Yugie kepada masing-masing penerima pesan.

Mas Yugie bilang, ada seseorang yang menitipkan pesan dalam cawan keramiknya kepada saya. Mas Yugie ingin menyampaikan cawan itu langsung sambil menjelaskan konsep pamerannya lebih lanjut. Pameran yang terinspirasi dari cerita ibunya yang tidak bisa menyampaikan isi hatinya secara langsung. Hingga kemudian ibunya terkena stroke dan menyebabkan hilangnya kemampuan berbicara.

Ini mengejutkan, sekaligus mendebarkan. Membayangkan siapa orang yang mengirim pesannya kepada saya dan apa hal yang ia tidak sanggup untuk menyampaikannya langsung.


Rabu, 15 Januari 2020

#30haribercerita: Jenius Project

J: "Mil, ada design challenge nih. Hadiahnya duit!"
M: "Waaaaak, challenge apaaan Jeeeps?"
J: "Dari Jenius nih, udah gue kirim linknya."
M: "Oke, Jeps!"
J: "Gue daftarin yak, elu ketuanya."
M: "Iya, sip." (santai, belum tentu kepilih ini)
J: "Cashtag lu apa, Mil? Buat data nih."
M: "$yaumil******"
J: "Butuh seorang lagi nih, biar pas bertiga. Ajak yang lain, Mil"
*kebetulan Adnan lagi mampir ke meja sebelah
M: "Nan, cashtag lu apa?"
A: *tanpa curiga langsung ngasih tau
M: "Nah, Jeps dapet tuh cashtagnya Adnan."

Begitulah, saya dan Jepri plus Adnan bergabung dalam satu tim, mendaftar UI/UX Challenge dari Jenius. Saya dan Adnan sebagai UX designer, sementara Jepri jadi UI designer. Target saya, semoga projek ini bisa jadi. Lumayan, untuk tambahan portfolio. :)

Selasa, 14 Januari 2020

#30haribercerita: Paket yang Tertukar

Kemarin Minggu saya membeli buku di Tokopedia. Buku Teokpokki yang selalu habis stok di pasar buku Patjar Merah, dan sedang cetak ulang. Hari ini, sistem lacak pengiriman bilang kalau paketnya sudah sampai dan diterima oleh Pak Minang (resepsionis kantor).

Hore! Langsung saya jemput paketnya ke lobby. Penasaran banget sama buku ini, langsung saya buka bungkusannya. Jeng jeng... buku yang saya terima berbeda. Kok, berubah jadi kisah wattpad. :(

Hemm, pantesan ada yang aneh. Info penerima yang ditulis seller Tokopedia bukan untuk saya. Setelah saya konfirmasi ke seller, ternyata pihak kurir yang salah menempelkan label.

Aih, langsung anjlok mood saya. Udah penasaran banget kan, ada-ada aja kasus paket tertukar begini. Ternyata kurir yang dipakai ini memang punya banyak masalah. Bukan cuma paket saya, banyak keluhan soal paket yang tertukar dan nyasar di akun twitternya. Really-really. :(

Siang itu saya langsung membuat komplain lewat Tokopedia, juga lewat Twitter dengan mention akunnya. Sore harinya, ada kurir yang menghubungi saya bilang akan jemput paket yang tertukar ini esok hari.

Paket saya dijemput, harapannya paket yang benar segera saya terima. Sudah tidak sabar ingin cepat-cepat membacaa.

Senin, 13 Januari 2020

#30haribercerita: Menemukan Mady

Tiba-tiba Anggi mengirim WA, mengajak saya untuk datang ke pameran Mady di Plaza Indonesia. Oke, saya langsung mengiyakan. Sepulang kantor, kami menyempatkan datang ke sana.

Pameran lukisannya diikuti beberapa seniman lainnya, bukan cuma Mady. Bahkan ada juga karya patung yang ikut dipamerkan. Lokasinya yang di pusat perbelanjaan untuk kalangan atas, membuat saya berpikir, "Hemmm, lukisan-lukisan ini dipajang di sini bukan hanya untuk ekspresi seni dari si pembuatnya, tapi juga bertujuan untuk menarik calon pembeli."

Bicara tentang Mady, dia adalah teman SMA saya dan Anggi. Memang sejak dulu sudah terlihat minatnya di bidang seni. Di pelajaran kesenian, karyanya sudah mewakili ekspresi personal. Bukan hanya sekadar mencari nilai dengan bikin yang mudah-mudah, ngga kayak saya ehe. Makanya kemarin watu kami berkunjung, Anggi bilang, "Duh, aku terharu nih, kayak liat karya anakku sendiri."

Di pameran kemarin, saya berusaha untuk lebih meresapi dan apresiasi tiap karya yang ditampilkan. Saya bilang ke Anggi, "Nji, misalnya nih boleh pilih satu untuk dibawa pulang. Kira-kira mau pilih yang mana?"
Dengan adanya pertanyaan pancingan kayak gitu, saya jadi bisa berpikir dan lebih personal dalam memandang sebuah karya.

Omong-omong, yang mau berkunjung pamerannya masih berlanjut hingga akhir Januari tahun ini, ya. Ayo temukan lukisannya Mady. :)

Ps:
Mady adalah nama panggilan kami untuk Ramadhyan Putri Pertiwi

*ditulis 18/01/2020

Minggu, 12 Januari 2020

#30haribercerita: Confessions

Di pasar buku Patjar Merah kemarin, saya membeli dua buku: Aku, Meps, dan Beps; dan Confessions. Yang satu saya donasikan sebagai ketentuan ikut kelas Menulis Ekspresif, yang Confessions saya baca habis dalam sehari semalam.

Novel Confessions bercerita soal pembalasan dendam seorang guru SMP akan kematian putrinya, yang dibunuh oleh siswanya sendiri di kelas yang ia ajar sebagai wali kelas. Alur yang maju-mundur dan penggunaan sudut pandang orang pertama dari setiap tokoh yang terlibat, menyeret pembaca untuk seakan berada di sana dan menjadi pelaku yang bercerita.

Saya membacanya tanpa kesulitan untuk menyelesaikan, karena meski alurnya maju-mundur tapi tiap sudut pandang yang disampaikan selalu habis dalam satu bab. Imajinasi yang saya buat jadi tidak tercampur antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Pertama saya tahu soal novel Confessions ini justru dari film berjudul sama yang belum saya tonton. Sebuah genre thriller psikologi yang banyak direkomendasikan orang-orang. Juga di acara Post Santa kemarin, beberapa pegiat membaca sangat merekomendasikannya, membuat saya tak ragu untuk menebus novel ini sebagai buku pertama yang habis saya baca di tahun ini.

*postingan in ditulis 18/01.

Sabtu, 11 Januari 2020

#30haribercerita: Patjar Merah Kaget

Sabtu ini saya pergi ke M Bloc. Sedang ada acara literasi di sana, pasar buku dan kelas-kelas dengan topik menarik oleh Patjar Merah. Saya berkesempatan ikut salah satunya, Menulis Ekspresif untuk Kesehatan Mental.

Yang membuat saya tertarik karena saya sedang dalam proses mengenali emosi dan kondisi mental saya belakangan ini. Selain itu, narasumber yang diundang adalah editor dan penerbit novel terjemahan "I Want to Die but I Want to Eat Teokpokki". Buku bacaan yang mengangkat isu kesehatan mental dari pengalaman pribadi penulisnya di Korea Selatan. Ada juga praktisi psikolog yang meramaikan acara semalam.

Menulis sebagai terapi bisa dilakukan untuk mengenali hal-hal yang mengganggu psikis kita. Ada macam-macam metode, misal: menulis dengan alternate ending dari suatu peristiwa yang menimpa kita; menulis emosi dan perasaan yang mengirinya (marah karena kecewa, sedih karena direndahkan, dsb.); ada juga menuliskan apa yang kita rasakan tanpa sensor. Itu yang sebagian saya tangkap.

*ditulis (12/01)