Tampilkan postingan dengan label #bahasakomik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #bahasakomik. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2021

Postingan Dummy All Labels are Selected

"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"

1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini

Jumat, 26 September 2014

18 tahun lalu

Tahun ini tanggal 26 September jatuh pada hari Jumat. Berbeda dengan 18 tahun lalu. Saat itu hari Kamis dan badanku dulu tak begini. Saat itu Orde Lama baru masih berkuasa, dua tahun sebelum revolusi reformasi terjadi.

Kembali ke 18 tahun lalu, banyak peristiwa yang terjadi di tahun 1996. Rilisnya film Mission Impossible, Independence Day, Matilda, Romeo+Juliet, Scream, dll. Tapi itu semua berlangsung bukan di bulan September.

September tahun 1996, ada peristiwa besar yang menimpaku. Entah bagaimana detilnya, tak kuingat sama sekali. Belakangan baru kutahu, di hari itu, aku yang tadinya anak bungsu, tiba-tiba berganti status jadi anak tengah. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai kelahiran adikku.

Untuk itu,
seperti Arctic Monkeys pernah berkata,
"That the nights were mainly made for saying things that you can't say tomorrow day",
malam ini sebelum lupa,
sebelum hari berganti besok,
kuucapkan,
"Selamat ulang tahun, my dongsaeng!"

Rajin-rajinlah belajar dengan senang. :D

Rabu, 25 Juni 2014

Congraduation

Awalnya kita selorong, terus sekelas matrikulasi. Tapi waktu itu kita masih belum sadar. Setelah perkenalan di depan kamar mandi, meski belum dekat setidaknya kita mulai tau keberadaan masing-masing.

Waktu masuk kelas TPB, entah kenapa kita jadi beda kelas. Meski udah ga sekelas, tapi kau jadi teman lorong yang tetap memanggilku kalo punya makanan. Mungkin karena kau orang baik, jadi bisa tetap dekat orang lain meski sudah terpisah. Aku berterima kasih. Bahkan kita jadi saudara asuh di perguruan si Guru. Kau kakak pertama, aku adik pertama. Tidak ada yang lain. Karena perguruan itu sepertinya bubar. #pfft

Lepas asrama, kita pindah ke kosan masing-masing. Meski begitu, kita tetap main bersama. Gayanya sih petualangan. Trip pertama kita napak tilas postingan Om Watados ke Situ Gunung, bertiga bareng si Guru. Selanjutnya bergiliran menyusun rencana trip yang kebanyakan cuma wacana. Haahahha

Tingkat dua dan tiga kita lebih banyak sibuk masing-masing. Sampai tingkat empat di semester terakhir, seperti takut kehabisan waktu, kita banyak melakukan trip. Ke Planetarium yang direnov, open trip ke Baduy, sampai ke tempat Guru di Bojen. Menyenangkan.

Sudah, ah. Intinya cuma mau bilang:
Selamat, ya!
Meski sudah wisuda dan keluar dari IPB duluan,
ingat kami, teman & bukan temanmu. :D


Senin, 07 April 2014

Ini Jekartah, Bung

Guru, mungkin prediksimu benar bahwa Planetarium tidak buka. Tapi bukan karena kami datang dia jadi tutup. Kukabarkan, di sana sedang ada renovasi sampai 20 April 2014.

Guru, mungkin kamu akan menertawakan perjalanan kami kemarin. Tapi bukan itu alasan aku menulis. Ini untuk melengkapi perjalanan kemarin yang rasanya kurang absurd tanpa dirimu.

Hari Drama
Sabtu kemarin aku ke Planetarium bersama Bang Bali. Berangkat dari Bogor ramai-ramai naik KRL ke Cikini, tapi cuma kami berdua yang ke Planetarium. Padahal tadi di KRL ada banyak orang, semua tempat duduk mereka duduki. Mereka ke mana?

Planetarium ini letaknya di Taman Ismail Marzuki, kusingkat jadi TIM. Nah, TIM ini satu komplek dengan Institut Kesenian Jakarta. Kalo ini kusingkat jadi IKJ. Di perjalanan, aku melihat adegan FTV padahal ga ada syuting. Berarti ini bukan akting.

Adegan satu: Seorang pria mengejar wanita di stasiun Bogor. Mereka seperti pasangan yang sedang cek-cok. Pria itu ingin minta maaf, tapi wanitanya menghindar.

Adegan dua: Seorang pemuda mengejar-ngejar Metromini. Bukan untuk kenalan denganku (karena aku sudah turun) atau dengan penumpang lain, tapi karena jaketnya ketinggalan. Ini terjadi di depan TIM.

Adegan tiga: Kami sampai di Planetarium, tapi gedungnya tutup. Ini adegan paling dramatis. Aku jadi sadar kalo drama terjadi di sekitar kita. Hanya butuh kepekaan untuk merasakannya. #iklan #TeaterRuangContoh{}

Untungnya kukira Planetarium buka, jadi ke sana. Lalu kami kelilingi XXI, gedung-gedung artistik, dan beli gorengan sepotong 2.500 di warung pojok.

Awas, kameranya pecah

Ini gorengan Jekartah, Bung
Di sebelah warung pojok ada toko buku mirip dengan yang di Bara. Entah buku bekas atau buku lama, kebanyakan tentang seni dan sastra, tapi harganya jauh beda. Ini Jekartah, Bung.

Institut Ekspektasi
Pergi ke kawasan IKJ, aku membayangkan kawasan yang 'nyeni' sekali. Soalnya ini 'institut' yang bidangnya spesifik. Mungkin ekspektasiku kebesaran, mungkin begitu juga pandangan orang tentang kampusku yang juga 'institut', yang kemarin ramai di Kompasiana. #pfft
Selain itu, aku pernah lihat foto kakak tingkat bersama pocong bohongan yang digantung di pohon waktu dia kemari. Tapi kemarin aku ga lihat ada pocong, yang kulihat ada dua pameran.

Pertama, pameran lukisan dari Yanuar Ernawati. Judulnya 'Kejujuran dalam Kebebasan', ada 15 lukisan yang dipamerkan. Aku ga paham maksud dari judul dan lukisannya, tapi aku senang melihatnya. Pengunjungnya juga belum ramai waktu aku datang, cuma ada sekeluarga kecil dan beberapa orang. Begitu mereka pergi, aku dan Bang Bali foto-foto sebebasnya. Lupa ada CCTV. Duh.

Kejujuran dalam Kebebasan

Kedua, pameran sketsa dari Toto BS, judulnya 'Sketsa Spontan'. Ada sekitar 30 kanvas yang dipajang, beberapa kanvas yang kosong. Menurut buku panduan, kanvas kosong itu akan dibuatkan sketsa wajah pengunjung. Membuatnya dengan charcoal, dan spontan.

Sketsa Spontan

Ayoo datang ke TIM, ada pameran sampai 13 April, dan gratisss..

Kopaja AC Eksekutif dan Transjakarta
Dari TIM, kami lanjut naik Kopaja eksekutif untuk keliling Jekartah. Bayar 5.000 sampai Lebak Bulus. Aku was-was naik Kopaja kemarin, supirnya ngebut berebut jalan dengan motor, Kopaja lain, dan taksi. Seram melihatnya dari bangku penumpang. Bunyi klaksonnya ribut. Jalanan ramai semrawut. Kalo di Bogor meski semrawut, jarang yang ngebut. Ini beda. Ini Jekartah, Bung.

Dari Lebak Bulus, kami lanjut naik Transjakarta sampai ke PIM. Pertama kalinya aku naik Transjakarta, ternyata baunya mirip Transpakuan. Di PIM, kami mampir untuk sholat Ashar. Tadinya mau makan juga, tapi bisa-bisa sampai akhir bulan aku harus #Tantangan5RibuSehari. Ini PIM, dan ini Jekartah, Bung.

Jadilah aku dan Bang Bali naik Transjakarta lagi. Tadinya mau ke Juanda, lalu pulang naik KRL dari stasiun sana. Tapi bingung dengan koridornya, jadi kami bablas ke Kota. Lagi-lagi KRL penuh sesak, padahal ini malam minggu.

Itinerari:
st. Bogor-st. Cikini (KRL): 4.000
st. Cikini-TIM (Metromini 17): 3.000
TIM-Lebak Bulus (Kopaja AC 20): 5.000
Lebak Bulus-PIM (Tranjakarta): 3.500
PIM-Kota (Transjakarta): 3.500
Kota-Bogor (KRL): 5.000
Sholat shubuh: kosan
Sholat dzuhur: TIM
Sholat ashar: PIM
Sholat magrib: st. Bogor
Sholat isya: st. Bogor
;p