Tampilkan postingan dengan label quarantine day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quarantine day. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2022

Dinamika Timeline

*scroll timeline*

Liat berita pimpinan KPK ngasih penghargaan ke istrinya sendiri karena nyiptain hymne baru, sampe dibikin satu acara resmi segala: duh, ngga banget lah. Cringe dan ga masuk di akal sehatku.

Jadi ingin ganti warga negara.

*scroll timeline*

Liat postingan Kak Ge, yang seneng banget tim putri bulutangkis INA menang kejuaraan Asia, aku sesak dan terharu. Bangga banget sama mereka, bangga banget merah-putih berkibar.

Aku ikut merasakan bangganya Kak Ge ke adik-adiknya. Huhu, panutan banget.

Tentang Pasangan dan Vonis Office Outbreak

Belakangan ini, tiba-tiba saya jadi ingin punya pasangan. Rasanya akan menyenangkan jika punya seseorang yang bisa saya cintai dan .. ia juga mencintai saya. Apa, ya, pemicunya? Saya juga masih menelusuri balik soal ini.

Mungkinkah saya akan menemukan seseorang yang mau menerima saya? Yang tanpa ragu dan canggung akan jadi "tempat pulang" dan tujuan hidup saya. Yang akan jadi objek utama surprise-surprise kecil maupun besar. Yang akan saya perdengarkan playlist lagu favorit dan rekomendasi tontonan, lalu jadi lawan bicara soal apa-apa saja: sisi gelap, abu-abu, dan terang kami. Yang saling menguatkan saat salah satunya lemah. Berbagi tawa, keringat, dan air mata bersama.

Entah pikiran saya akan semakin bising atau justru makin tenang karena dibagi, saya ingin mencobanya untuk tahu.

Rasanya, konsep pasangan seperti ini yang terbayang untuk sekarang. Terlalu serius, ya? Hahaha.

Saya open for discuss, kok. Saya sadar, untuk bisa jadi "tempat pulang" seseorang, saya pun juga harus memberikan apa yang saya bisa untuk membuatnya nyaman. Ini pekerjaan dua orang. Saya bertekad untuk terus belajar. So please, bear with me.

Btw, cukup omongan soal pasangan ini. Di tanggal 14 Februari lalu kami serumah tes PCR dan esok harinya keluar hasil: saya positif covid, ibu saya juga.

Alhamdulillah, ga ada gejala yang memberatkan.

Yang saya dan ibu rasakan, lebih ke gejala flu berat dengan batuk berdahak dan bersin yang keras, disertai sakit tenggorokan. Kerennya, dari kami berempat hanya adik saya yang beda sendiri. Dia negatif.

Alhamdulillah, kondisi ibu saya stabil dan tetap baik nafsu makannya. Aktivitas juga normal. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Story close friend, tapi malah diupload sini gimana sik.


Jujur saya ngga kaget ketika hasil saya keluar, meski tetap ada perasaan mencelos. Bagaimana engga, satu kantor dikonfirmasi positif semua dan kita semua kontak erat sehari-hari. Tinggal nunggu vonis aja ini mah, pikir saya. Office outbreak is really happening.

Meski begitu, kami tetep kerja dari tempat masing-masing. Bagi yang tumbang, istirahat 1-2 hari lalu kemudian join the forces, lanjut kerja lagi. Ga ada yang murni istirahat. Sad but true.

Dari kacamata karyawan, sebenernya kita bisa (dan harus) izin istirahat dan take the day(s) off for sure. Tapi, entah kami ini terlalu polos atau saking loyalnya, ga ada yang menuntut hal itu. Saya jadi kebawa juga. Jadi meragukan, hey, kamu beneran kuat atau mau izin ga kerja dulu aja? And I took the hard way, keep the working on.

Ada cerita lucu, si Tiara, yang perhatian ke semua orang, nanyain udah minum obat belum. Minum deh, itu obat dari kemenkes. Obat flu segala flu mulai dari flu burung, flu babi, influenza dan influencer.
"Ra, ini serius sekali minum 8 tablet?"
"Iya, Yaumillll. Hari pertama kita minum 16 tablet."
*emot senyum tapi menangys*

Baiklah, kata dokter Halodoc juga obat ini harus dihabiskan. Sekali mulai, kita ngga bisa mundur lagi. Sampai hari ini, dari total 40 butir, sisa 3 butir lagi untuk jadwal diminum sore. Hore.

Besok juga jadwal kami untuk PCR ulang dari puskesmas. Meski kalo nanti dideteksi masih positif, katanya udah ga di tahap menularkan lagi. Semoga, ya. Aku kangen jajan keluar, mau belajar bahasa isyarat di Sunyi dan menelusuri jejak DariHaltekeHalte. Itu cita-citaku loh kalo udah negatif. Hahaha.

Dan, hari ini aku bandel udah jajan es kopi lagi. :p

Senin, 13 Desember 2021

Jayil Pak

Setelah tahun lalu aku nonton film "You and I" dan belum lama mendadak jadi buzzernya, tahun ini secara ga sengaja ajang JAFF (Jogja-Netpac Film Festival) kembali menjadikanku sukarelawan buzzer untuk Georgia (2020). Film pendek dengan durasi kurang dari 30 menit, yang diangkat dari kisah nyata kasus Miryang di Korea Selatan.

Georgia by Jayil Pak

Aku ga nonton film ini dalam periode festivalnya. Aku tau film ini dari review singkat di Twitter dan langsung tertarik sejak tweet pertama. Bagaimana satu jenis font bisa dijadikan medium untuk menyebarkan kisah tentang manusia. Ternyata reviewnya jadi ramai dan banyak warga Twitter lain yang juga sependapat. Hingga akhirnya Ayu (si penulis review) berinisiatif nge-DM Jayil Pak (sang director) dan terjadilah pemutaran film "Georgia". Terbatas dalam 24 jam khusus untuk penonton Indonesia.

Wow. Bagaimana banyak hal bisa terjadi atas nama kemanusiaan.

Selain dari antusiasme masyarakat Twitter dan pecinta film di Indonesia, kisah yang diangkat "Georgia" (sayangnya) punya kemiripan dengan kasus yang belum lama ini terjadi di Mojokerto. Tentang korban KS yang mengakhiri hidupnya karena demikian gelap mencari keadilan di hukum manusia. Mungkin hal ini juga yang akhirnya mendorong Jayil Pak untuk menayangkan filmnya di Youtube supaya bisa diakses lebih banyak orang. Padahal dengan begitu, jadi mengurangi kesempatan "Georgia" untuk tampil di festival film lain. Tapi, lebih banyak orang yang bisa menjangkau film ini mungkin dirasa lebih jadi prioritas bagi Jayil Pak.

Hal menarik lainnya adalah adanya sesi QnA lewat Twitter Space oleh Pak Jayil Pak sendiri. Wow, again, terima kasih, Ayu, yang udah mengusahakan. Dari sini keliatan banget dia orangnya sangat berdedikasi, ga banyak protokol, langsung action. Terasa tulus dan humble juga, mau ngeladenin permintaan dari kami, masyarakat biasa yang bukan siapa-siapa.

Semalam, kuikut sesinya dan semakin kagum dengan proses berkarya Jayil Pak dan timnya. Penjelasan simbol-simbol, cerita di balik font Georgia, fakta kasus Miryang di Korea, hingga pendekatan yang dipikirkan secara hati-hati, dengan sangat memihak korban, bikin aku jadi semakin bisa memaknai pesan yang disampaikan. Kamu bisa baca beberapa faktanya di sini.

Asli, Jayil Pak ini humble dan tulus banget. Orang film yang ga menjaga jarak dengan penontonnya. Semua pertanyaan dijawab dengan jawaban yang sungguh-sungguh. Mungkin hal ini juga yang bikin dia jadi dipertemukan dengan timnya, yang juga berdedikasi dan habis-habisan selama proses pembuatan film.

Anyway, dari 24 jam berubah jadi 48 jam lebih, dan hingga tengah malam nanti "Georgia" masih bisa diakses secara online, sebelum ditake-down dari YouTube.

JP on the QnA session

Banyak hal yang aku bisa refleksikan, dari proses berkarya, keberpihakan, pendekatan dan riset yang hasilnya emang tercermin banget bisa sebegitu dalam. Juga soal komunikasi, apresiasi, interaksi, dan kolaborasi yang kita ga tau bisa membawa ke mana.

Jayil Pak memberi ku banyak hal, lebih dari pengalaman bersinema dan tontonan yang luar biasa tulus. Thank you so much, Mr. Pak. 🌼

Kamis, 09 Desember 2021

wiken plan (2)

plan A
  1. jajan tomaple (sekalian bungkus)
  2. mampir ke bookhive menteng
  3. pulang
plan B
  1. renang
  2. donor
  3. nonton Yuni
I can't think about anything else but tomaple's donut 🥺
been craving for their specialities since I introduced them as "makanan khas daerah jaksel" to my friend

I keep listing the flavour combination back and forth, from the savoury to the sweet ones, the classic and the luxe version, trying to get the best experience everyone has ever tasted.

I can't hold it back anymore. I. Must. Visit. Them. This. Weekend.


Huh, it feels nice to write down your own thought, isn't it?

Sabtu, 20 November 2021

tentang sekarang

melihat foto-foto lama aku jadi ingat
terakhir kali kita keluar
menelusuri jalan,
memungut kepingan-kepingan sepi
yang tertinggal di ujung hari

ah, waktu itu ya.

berapa lama waktu tersingkatmu
dalam pengalaman mengenal seseorang
hingga patah hati sepatah-patahnya?

seminggu
hari ini persis seminggu.

rasanya seperti ada balon yang ditiup maksimal lalu meletus
dan menekan-nekan rongga dada

aku jarang menggunakan siratan langsung
tapi kali ini langsung saja

rasanya sakit dua kilo

Rabu, 03 November 2021

Monthly Pain

Awalnya cuma pegel biasa, lama-lama sakitnya menjalar dan merayap pelan-pelan. Kamu mencoba membungkuk, mengerang, meregangkan badan, tapi itu semua ga berpengaruh.

Jumat, 08 Oktober 2021

Jumat, 17 September 2021

After all this time?


It's been a long time since I listened to Laruku, and those tweets bring me to the days back then when I was in JHS. I met Hyde for the first time, from the article inside an Animonstar magazine. Right at the moment, I fell for him effortlessly.

If you'd been reading this blog for at least a year, you must know that he is my first celebrity crush. Haha.

He is a legend, you know. Laruku is a worldwide legend. Check out this video, and you can feel how charming they are. It doesn't change a bit, up until nowadays.


Always ✨

Minggu, 12 September 2021

show, don't tell

Click to read

One Day One Trip is a collective project by Klise Bekasi, an analog photography club based in Bekasi.

In late 2019, we took a photo trip around Bekasi using the same type of film roll. There were five of us who tried to capture Bekasi as a city that has always been changed.

Kalimalang river became our first destination. At that time, along the river, a toll road was being built as a part of a national construction project called Becakayu. Which connects the border city to East Jakarta through Bekasi-Cawang-Kampung Melayu.

The next destination brings us to the oldest Buddhist temple in Bekasi, Klenteng Hok Lay Kiong. A historical building that has been cared for generations.

For a long time, the city development has been built quite often in Bekasi, particularly in the urban area. It does bring a major change for the neighbourhood and the people who live around.

Zine ini saya sertakan dalam pameran photobook JIPFEST 2021. Masih belum pasti akan ikut dipamerkan, karena ada proses seleksinya. Semoga ada kabar baik di bulan Oktober 🌼

Kamis, 09 September 2021

Blue Moment


MONGOL800: Love Song

夢を語る君の
Yume wo kataru kimi no

輝く瞳の中に
kagayaku me no naka ni

僕がいる
boku ga iru

いまを分かち合える
ima wo wakachi aeru

輝く輪の中に
kagayaku ano naka ni

君がいる
kimi ga iru

空を見上げ
sora wo miage

両手広げて
ryoute shirogete

僕はここだと示すのさ
boku wa koko dato shimesu no sa

あすを見つめ
asu wo mitsume

夢を広げて
yume wo kirogete

強く願い想うのさ
tsuyoku negai omou no sa

僕はここだと叫ぶのさ
boku wa koko dato sakebu no sa

そう誰よりも強く
sou dare yori mo tsuyoku

イメージを想い描くの
IMEJI wo omoietaku no

暗いマイナスなイメージは捨ててさ
kurai MAINASU na IMEJI wa sutete sa

いまをただ駆け抜けろ
ima wo tada kakeru kero

光差す方へ進めばいい
hikari sasu ho e susumeba ii

Oh oh Your Love Song!!

夢の欠片 見つめた
yume no kakere mitsumeta

机の片隅 落書きの中
tsukue no katasumi rakugaki no naka

あすの欠片 描いた
asu no kakere kaita

教科書の片隅 殴り書いた
kyoukasho no katasumi naburitaita

声を揃え足並み揃えて
koe wo soro e shinami soroete

僕の何を決めるのさ
boku no nani wo kimeru no sa

二つに一つの答え合わせで
futatsu ni hitotsu no kotae awasede

僕の何が決まるのさ
boku no nani ga kimaru no sa

僕の何がわかるのさ
boku no nani ga wakaru no sa

もっと笑わせておくれ
motto wara wasete okure

イメージを想い描くの
IMEJI wo omoi e kakuno

暗いマイナスなイメージは捨ててさ
kurai MAINASU na IMEJI wa sutete sa

いまをただ駆け抜けろ
ima wo tada kakerukero

光差す方へ進めばいい
hikari sasu ho e susumeba ii

心頷く方へ行けばいい 
kokoro unazuku ho e ikeba ii

君が笑えばそれでいい
kimi ga waraeba sore de ii

Oh oh 叫び続けろ
Oh oh sakebi tsuzukero

Your Love Song

Oh oh 歌い続けろ
Oh oh utai tsuzukero

Your Love Song

どこまでも響け
doko made mo hibike

Your Love Song!!

*Hahaha, lumayan hasil Duolingo selama ini ga bingung-bingung amat baca kanji ✨

Rabu, 08 September 2021

君が笑えばそれでいい


 

Hal menyenangkan dari belajar bahasa asing adalah menemukan frasa baru yang ternyata punya arti manis. 🌸


君が笑えばそれでいい

When you laugh, then it's fine


Love Song - Mongol800

Selasa, 24 Agustus 2021

Rindu Tak Mengenal Waktu



Di awal minggu, bisa-bisanya kita saling mengadu cerita masa lalu.

Berawal dari postingan Amal di Senin pagi, dilanjut pertemuan virtual selepas Isya dengan patokan waktu Indonesia bagian barat. Deti yang di Bali dan Ima yang di Makassar pun masuk ke pusaran waktu Bogor, tempat kita bertemu sebelas tahun lalu.

Tentu saja sapaan awal adalah tentang sekarang di mana, kondisi selama pandemi, sibuk berkegiatan apa, hingga pertanyaan yang tidak mungkin lewat: soal siapa sudah berkeluarga dan siapa yang masih sendiri (dan ini mudah dihitung karena lebih sedikit rasionya). Hahaha.

Saking lamanya tidak bertemu - dan mengobrol - saya sedikit kaget dengan berisiknya Putra (kalo hebohnya Bundo sih ngga kaget), Ima yang kalem keibuan, Yunita yang masih (kadang) jutek, Ganies yang frontal, Aris yang punya banyak bahan obrolan, dan Riris yang nun jauh di Jambi. Kalian ga banyak berubah, ya, dan berkumpul sambil ngobrol bareng berhasil menghadirkan nuansa sewaktu kita masih sama-sama jadi yang termuda dulu. Ke lapang bareng, ngedanus bareng, obrolan menggoda Hesty-Eka, dan lainnya sebagai UKF angkatan delapan.

Sempat ada sedikit perasaan minder dengan banyak pencapaian dan kerja-kerja nyata yang kalian lakukan. Tapi perasaan diterima dan kenangan yang dihadirkan lebih mendominasi suasana semalam. Terima kasih, ya.

:')

Kamis, 12 Agustus 2021

Plot twist

I found this post in someone's Twitter. He is one of my following account, whose most of the time tweeting about movies, films, and cinema.

Here's the tweet: you choose your own movie-plot story, based on the combination of your last phone number, your birth month, and the first letter of your name.

I got this one,

A protagonist who isn't aware of their own beauty decides to sacrifice themselves for the greater good but wakes up to realize it was all a dream.

Directed by M. Night Shyamalan

or Nolan.

Selasa, 10 Agustus 2021

Tentang Pekerjaan dan Karir ke Depannya

Kemarin malam waktu gue lagi makan, si temen kerja mendadak ngajak meeting jam 10 pagi besok. Di tengah-tengah santapan itu, mendadak gue kenyang. Soalnya, seminggu sebelumnya gue mengiyakan sesi interview di hari yang sama!

Whaat?
Beda jam, sih, interviewnya mulai jam 11. Tapi jadinya mepet banget, ga yakin bakal selesai tepat waktu. Langsung ga selera makan, bingung nyari alasan buat nego tanpa terlihat mencurigakan.

Setelah diskusi dengan si Emak, si jago ngeles, akhirnya nemu lah solusi sebagai ancang-ancang kalo ditanya macem-macem. Parno banget gue, ya? Selalu memikirkan dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Hahaha.

Anyway, meeting paginya lancar. Agak telat sih mulainya, tapi langsung gue sounding kalo ada keperluan lain dan jadi cepet mulai dan cepet selesai juga.

Nah, soal interviewnya. Ternyata kondisi tim yang di sana, ga sestabil yang gue kira. Masih ada role yang digabung dalam satu orang, dan ga ada spesifik orang riset yang bisa jadi tandem. Yaa, itu impresi pertama sih. Selain itu, interviewnya menyenangkan karena langsung sama CTO-nya dan kita lebih banyak ngobrol soal bisnis, teknologi, dan selera dalam ngedesain. Kapan lagi coba ngobrol bareng C-level. Gue jadi tau (sedikit) gimana cara pandang dia terhadap produk yang dia bikin.

Gue pasrah sih waktu dia bilang udah ada beberapa kandidat yang kesaring. Nothing to lose. Apapun itu, semoga yang terbaik. Ada beberapa keraguan soalnya (plus juga nunggu follow-up dari inceran yang satunya).

Ngomong-ngomong soal meeting mendadak tadi, ternyata gue dilibatkan dalam project games si grup kerjaan gue sekarang. Wot. Dengan project ini, total ada 7 produk yang gue pegang as a UX designer dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun.

Awalnya gue antusias (designing a mobile game, dude, it sounds cool and it's freaking new for me). Rasanya kayak mengenali diri gue yang suka ganti-ganti fokus. Hahaha. Dalam arti kata, minggu-minggu kemarin memang major task gue udah selesai, dan udah kurang greget gitu lah di kerjaan. Meski gue tetep terus pantau dan stand by kalo sewaktu-waktu ada feedback di tengah proses development.

Kalo boleh bilang, sebenarnya di kerjaan sekarang udah enak banget flow dan suasananya. Ya emang rasanya masih asing karena kita ga pernah ngobrol langsung dan gue pun orangnya masih aja menjaga jarak meski udah 9 bulan kerja bareng. Produknya pun gue kenal banget, karena semua build from scratch. I learnt a lot lah.

Satu-satunya yang bikin gue nyari peluang lain adalah.. benefitnya kurang. 😅

Tiap ditanya, kenapa kamu apply kerjaan baru? Gue selalu ngejawab untuk nyari tandeman partner. Cause I've been alone/single fighter/solo player all this time. Itu salah satunya. Karena kan ga enak aja gitu kalo alesannya soal benefit, kayak lingkaran yang ga pernah putus.

Gue mikir terus, mendem terus, bisa ga sih minta naik gaji? Dengan perhitungan kerjaan selama ini, design from scartch, total 7 produk, laptop modal sendiri, internet modal sendiri, tanpa cuti sama sekali. Tapi gue tau, ni perusahaan masih baru dan tim produk bukan fokus utamanya. Ibarat kita ini anak-anak freelance yang dihire buat ngerjain project dan dibayar. UDAH. Ga ada struktur, ga ada kesejahteraan dari HR. Gaji gue stagnan dari 2 tahun lalu, plus benefit berkurang.

Sementara temen-temen selevel lainnya, gaji udah lebih dengan benefit lain yang disupport kantor. Satu-satunya jalan adalah cari better offering ga sih?

Sampai sini gue mulai kepikiran, ini gue termasuk ngeluh ya? Boleh ga sih gue ngeluh kayak gini?

Alhamdulillah sebenernya masih punya kerjaan. Waktunya juga fleksibel. Timnya ngga demanding. Tapi.. tetep kalo dibandingin sama yang lain mah ada aja kurangnya ya. Dasar manusya.

Di satu sisi rasanya kayak ada yang teriak-teriak, "Woy, lu deserve better than this." Tapi di sisi lain, ada yang bilang, "Rejeki bukan cuma soal angka. Syukurin aja yang ada."

Hehehe.

Rabu, 04 Agustus 2021

Peluk

Postingan tentang mimpi, lagi.
Semalam, saya tiba-tiba tergabung dalam tim pelatnas bulutangkis. Tinggal bersama penghuni lainnya, di bangunan asrama yang ternyata.. berhantu. 😢

Saat tur keliling komplek, Pak Pemandu dengan santai menjelaskan tanda-tanda "perkenalan" yang biasa ditampakkan ke penghuni baru. Salah satunya, akan ada sosok berbaju hijau yang biasanya muncul.

Benar saja, di bawah pohon dekat jemuran, saya melihat dua orang wanita muda dengan dress selutut berwarna hijau sedang menari. Tariannya gemulai dan indah, tapi memunculkan perasaan ngeri. Mendadak jantung saya berdebar cepat dan segera saya memalingkan muka.

Dari mimpi semalam, saya bisa sih nge-break down bagian-bagian dari mimpi itu, yang sebenarnya dipengaruhi dari apa yang saya lihat seharian sampai sebelum tidur.

Potongan dress yang dipakai dua wanita itu bersumber dari produk Pinangkami milik Kadek Arini. Kalau "genre" supranatural yang melatarbelakangi mimpi saya, ini pasti karena persis sebelum tidur saya nonton video obrolan Radit soal hantu pabrik. Salah sendiri, idenya siapa coba dengerin cerita horor sebelum tidur. 😂

Anyway, selain pengalaman horor yang terasa nyata, ada hal lain yang juga masih terbawa hingga saya bangun, hingga saya beraktivitas, hingga saya akhirnya menulis postingan ini.

Di mimpi semalam, saya merasakan pelukan. Seorang teman, dalam hal ini dia atlit, memeluk saya dari belakang. Hangat dan sangat nyaman, sampai ketika saya bangun rasanya ada yang hilang.

Saya ngga lihat wajahnya, tapi ketika melihat poster Satou Takeru pemeran Kenshin Himura si batosai, perasaan nyaman yang hilang itu hadir lagi. Maksudnya, saya jadi kehilangan dan ingin merasakannya lagi.



Rasanya, si pemeluk sudah lama dihinggapi kesepian dan akhirnya menemukan apa yang dia cari, saat memeluk saya. Di satu sisi, saya pun belum pernah merasakan interaksi sedemikian intimnya. Rasanya, kami jadi seperti saling menemukan dan mengisi satu sama lain. Meski dalam waktu yang singkat.

Konteksnya, ini pelukan sebagai interaksi yang comforting, ya. Bukan dalam artian hasrat lain. Okay? 😉

Dalam hal ini, benar, saya memang jarang memeluk dan dipeluk. Jangankan hal seintim itu, di kehidupan nyata saya terbiasa menjaga jarak dengan orang lain. Juga rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya bertemu langsung dengan manusia lain sebagai makhluk sosial. 

Omong-omong, saya bisa break down dari mana adegan peluk-memeluk ini sampai muncul di mimpi saya. Ya, apalagi kalau bukan momen kemenangan Grey/Apri. Pelukan kemenangan di podium, dengan kalungan medali emas. Bangga, haru, lega, dan tentunya bahagia. Ah, pengalaman emosional yang kompleks, yang kamu bagi dengan partner seperjuangan selama ini.

Saya juga ingin merasakannya sendiri.

Ah, pandemi ini ngebikin saya jadi makin delusional!

Rabu, 28 Juli 2021

Rumah Gantung

Ada seorang Pak Tua yang tinggal di rumah gantung. Sepetak kontainer besi dengan kait yang tersambung pada sebuah ekskavator kuning. Rumahnya itu berayun-ayun ditiup angin. Penghuni di dalamnya, Pak Tua, berpegangan erat pada sisi rumah sambil mendekap anaknya yang masih balita dengan raut wajah tegang. Bola kecil mainan si anak menggelinding dari satu sisi ke sisi rumah yang lain.


Kamera menjauh, tampilan layar menghadirkan rumah gantung Pak Tua yang berayun. Di belakangnya, ada bangunan dalam konstruksi yang belum jadi. Ternyata Pak Tua sedang diliput oleh sebuah acara reality show, entah bagaimana hingga ia terjebak dan terpaksa tinggal sebagai satu-satunya rumah di dalam lokasi proyek pembangunan.


Mimpi ini saya alami beberapa minggu yang lalu. Debar ketakutan Pak Tua di rumahnya itu terasa nyata. Saya yang sadar kalau itu mimpi juga merasakannya.


Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi situs projectmultatuli.org. Seketika visualisasi rumah gantung dari mimpi saya kembali hadir lewat ilustrasi foto di salah satu artikelnya.




Beberapa kali saya mencoba memahami konteks dari mimpi rumah gantung. Ingatan saya bercampur antara adegan di film UP dengan rumah melayang milik Tuan Fredricksen. Juga dengan kekuatiran saya pribadi soal ketahanan tempat tinggal semenjak tahun 2020 lalu rumah saya sendiri kebanjiran.

Rabu, 21 Juli 2021

Sesajen dan Kisah yang Menyertainya

 



Berbeda dari tahun lalu, rasanya saya lebih siap dan tenang-tenang saja dalam menghadapi tanggal 5 Juli. Tidak ada kecemasan berlebihan, tidak ada perasaan rendah dan keinginan untuk melukai diri. Meski rasanya sepi karena masih tanpa adanya pertemuan dengan teman.

Kali ini, saya terbantu dengan pemikiran 'asal' yang bilang bahwa selama pandemi, ulang tahun yang terjadi akan di-hold. Dianulir. So, we're remain the same young as we were before 2020. Haha. Sakarepmu, memang, karena tidak mungkin. 😂

Well, terlepas dari apa yang terjadi, tahun ini saya merasa lebih selo, menerima, dan ikhlas akan apa yang akan terjadi kemudian. Lebih sadar bahwa tiap orang tuh beda-beda jalan hidupnya, rejekinya, jodohnya, alur waktunya, dan segala sel-sel hingga ke partikel atomnya. Belum tentu jika saya menjalani apa yang orang-orang lain jalani, akan sama merasa bahagianya.

Saya jadi lebih meragukan lagi keinginan-keinginan yang timbul. Apa benar ini yang saya mau, atau ini hanya ketakutan sesaat karena menjadi berbeda dengan orang-orang?

Di umur yang semakin dekat dengan 30 tahun, angka yang dulu saya merasa tua sekali tapi saat menuju ke sana, saya ga nyangka, ternyata menjalaninya bisa sedemikian muda. Yah, meskipun rasanya semakin tenang (sepi), karena teman seumuran sudah sibuk dengan urusannya masing-masing dalam peran menjadi dewasa. Tapi perhatian kecil yang hadir lewat sajen yang dikirim, tetap terasa hangatnya.

Kalau ditanya,
"Bagaimana rasanya ulang tahun?"
"Tidak pernah semuda ini."

Terima kasiiiih 🥺

Selasa, 11 Mei 2021

Ramadan Hari ke-29

Tiba-tiba Bapak ingin pergi ke Purwokerto, sehari saja besoknya pulang. Aku sih ayo-ayo aja, siap berangkat kapanpun Bapak dan keluarga yang lain siap. Anehnya, belakangan baru ketahuan kalau cuma aku yang akan menemani Bapak ke sana. Ditambah lagi, durasi perjalanan ternyata tiga hari (pokoknya menghabiskan jatah libur lebaran).

Kagetlah aku. Kok yang lain ga ikut? Amal cuma nganter sambil bawain barang. Mama cuma nyiapin baju-baju ganti. Irul ga keliatan sosoknya. Karena kaget, aku agak panik dan bilang kalo masih ada pekerjaan kantor (at least bisa koordinasi dulu), sambil sibuk packing baju tambahan.

Bapak di mimpiku semalam, dia diam saja. Potongan rambutnya cepak, nyaris botak, dan bulat dihiasi uban. Memakai jaket krem khasnya dengan lengan terlipat, yang biasa ia pakai kalau sedang dalam perjalanan jauh. Bapak diam saja. Kami jalan bareng menuju stasiun/terminal/tempat sewa mobil(?), tapi Bapak hanya menunduk. Tidak ada tatap.

Ini tahun kesepuluh sejak Bapak meninggal 2011 lalu. Juga tahun ketiga sejak kami sekeluarga tidak bisa pulang dan mengunjungi makam Bapak.

Pak, entah kenapa kok aku mimpiin Bapak, ya?