Minggu, 23 Maret 2014

Minggu Pertama #Tantangan5RibuSehari

Hari 2: Senin, 17 Maret 2014
Beberapa hari ke depan mungkin aku akan memasak. Tadi aku beli sembako totalnya IDR 9.500. Sembako ala bujangan, mie sama telor. ~('0'~)(~'0')~

Hari 3: Selasa, 18 Maret 2014
Today's mission is just.. completed.

Hari 4: Rabu, 19 Maret 2014
Telah hilang uang sejumlah 4.500 rupiah, ditukar dengan nasi rames di warung ibu sebelah Saung Kuring.

Hari 5: Kamis, 20 Maret 2014
Aku pulang ke rumah, karena itu aku keluar uang lebih. Keluar untuk ongkos, dan beli klappertart di depan stasiun Kranji. Memang malam sebelumnya aku ngidam klappertart. Ngidaaam banget, sampai kebayang-bayang dan aku googling gambarnya. 
#mesakne

Waktu kudekati abang penjual klappertart, kutanya:
"Berapaan, Bang?"
"Lima belas ribu dua, Neng."
... *yaah, ga punya dua rupiah*
"Mau beli berapa emang?"
"Satu.."
"Tujuh ribu aja deh, Neng. Uang pas, ya."
*cring* *kubayar dengan uang pas-pasan*

Rincian
Angkot kampus dalam: 3.000
Angkot 03: 3.000
Pulsa KMT: 10.000
Klappertart: 7.000
Angkot 25: 3.000
Total: 26.000

P.s: Uang ongkos angkot sudah aku sisihkan sebelum #Tantangan5RibuSehari mulai. Jadi jatahku kepotong untuk KMT dan klappertart sajaa.. IDR 17.000 *cring*

Hari 6: Jumat, 21 Maret 2014
*aku di rumah*

Hari 7: Sabtu, 22 Maret 2014
*masih di rumah, lalala.. jujuju...*

Hari 8: Minggu, 23 Maret 2014
*sama kayak kemarin*

Untuk yang mau tau cerita di hari 1, silahkan klik ini. 8>

Selasa, 18 Maret 2014

Ditolak Surga

Seorang pemuda mengajak kekasihnya berkencan malam-malam. Si pemuda bercerita tentang bintang jatuh, sementara sang kekasih mendengarkan dengan penuh minat.

‘Menurutmu bintang jatuh itu apa?’, tanya sang kekasih sambil bersandar di bahu si pemuda.

‘Itu arwahku yang ditolak surga. Dilempar jatuh ke Bumi, lalu dipungut orang ini yang jasadnya sedang kupakai.’

“Diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet”

Senin, 17 Maret 2014

Ke Perpus Demi Dua Ribu

Jadi.. begini ceritanya..

Buku ini aku pinjam, Plato: Symposium and Phaedrus. Kalau lebih dari tanggal 17 Maret, meski aku kembalikan atau kuperpanjang waktu peminjamannya, aku bakal kena denda dua ribu rupiah per hari. :$



Istimewanya buku ini karena ia sumbangan dari British Council, bahasa Inggris pula, hardcover, disampul dobel, dan ada nama Plato. Yang kutahu, Plato itu yang ada kaitannya sama benua Atlantis itu, bukan? 

Sejak kupinjam dua minggu lalu, aku belum selesai membacanya. Kata Ayu ini buku filsafat. Aku ga paham. Kurasa buku ini ngawur. Banyak kata asing yang jarang aku jumpai di film barat hasil aku minta-minta ke teman, tiba-tiba muncul dalam buku ini. Bahkan baru sampai halaman slogan penerbitnya saja aku perlu membuka kamus. Di lembar-lembar pendahuluan, makin banyak kata yang tidak aku mengerti. Miskin sekali aku. -..-

Kupikir, kukembalikan saja atau kuperpanjang, ya. Aku belum tau. Pokoknya tanggal 17 Maret aku harus menghadap ke petugas perpus, demi menghemat dua ribu.

Sekarang kalian mengerti kondisiku, kan? Aku masih terikat dengan #Tantangan5RibuSehari. Selain itu, supaya aku membuat pergerakan di kampus, ga ngekos melulu. #hoam

Akhir kata.. bagi yang ingin bertemu denganku, aku akan ke perpus. :>

Minggu, 16 Maret 2014

#Tantangan5RibuSehari

FAQ
Q: Mengapa kuberi nama #Tantangan5RibuSehari?
A: Karena jatahku bulan ini tinggal seratus ribu hingga akhir bulan. Gara-gara aku kalap dan banyak pengeluaran di hari-hari kemarin :'<
Padahal kuberitahu, ya, Maret punya 31 hari. Berarti aku masih punya 16 hari lagi tersisa. Oleh karena itu, untuk menyiasatinya aku hanya boleh mengeluarkan uang maksimal lima ribu sehari untuk makan, supaya aman. Semoga aku ga perlu ngeluarin uang untuk keperluan lain, amin. Lebih bagus lagi kalo aku ga perlu ngeluarin uang untuk makan. :P

Hari 1: 16 Maret 2014
Challenge accepted. Aku ngeluarin uang hanya untuk beli seperangkat nasi uduk murah-kurang-meriah. Harga nasinya sungguh fantastis, hanya IDR 1.500 saja, cukup kenyang untuk sarapan pagi. Tapi ya gitu, cuma nasi tanpa lauk makanya kurang meriah. Supaya agak meriah, aku ambil gorengan 2 potong, sepotong harganya cuman gopek. Masih ada uang sisa, cukup aku belikan gemblong dua buah. Untuk makan siang, aku makan nasi sayur asem plus tempe. Jatah makan pemberian dari LPK Tepi Sawah hari ini. Alhamdulillaah~ :9

Bagaimana dengan makan malam...?
Aku rencanakan untuk tidur cepat saja. #sikap

Rincian
Nasi uduk  : 1.500
Gorengan 2 : 1.000
Gemblong 2 : 2.000
Total           : 4.500

Rabu, 12 Maret 2014

I Hope I Really am Alone

Saat ini gw sendirian di kosan.
Temen kamar lagi keluar, mbak-mbak yang lain juga pergi. Suasana begitu tenang, dan senyap. Tetangga kosan yang biasanya rame juga anteng aja. Apa karena jam tidur siang?
Di tengah kesunyian ini, tiba-tiba perasaan gw ga enak. Tiba-tiba gw merasa dingin di ujung tangan dan ujung kaki. Rasanya kok tiba-tiba gini, ya? Padahal kipas angin ga nyala, AC boro-boro ada. Apa mungkin karena di luar mendung? Atau karena gw duduk di lantai makanya dingin? Atau karena.. *mikir yang aneh-aneh*

Sebelum perasaan ga enak itu datang, gw lagi bermain dengan skrip. Bosan, maka gw iseng nyari artikel tentang nasionalisme dan konservasi, amanat dari bapak Arif Swift hasil meeting kemarin. Mumpung koneksi lagi lancar, gw sambi sambil browsing hal lain. Baca-baca blognya Om Arman contohnya. Terus, tiba-tiba gw inget. Kemarin Ayu cerita tentang masa-masa di asrama, yang kebetulan satu gedung sama gw, bahkan kita tetanggaan lorong. Sayangnya kita baru saling mengenal pas udah keluar asrama. Parah. Wakaka

Si Ayu cerita ngalor-ngidul dan nyambung-nyambung ke cerita horor di asrama. Udah gitu nyambung lagi ke cerita horor di kampus UI, nah loh, bener-bener dari ngalor ke ngidul kan? *apasih*
Udah si Ayu cerita dengan semangat, si Indro ikut ngompor-ngomporin cerita juga. Gw saat itu cuma bisa mendengar karena stok cerita horor yang ga banyak. Kemudian gw bertekad untuk browsing cerita horor juga.

Nah, karena itulah tadi gw cari-cari cerita horor di UI. Udah ketemu link-nya di Kaskus. Udah gw baca dikit, nah looh.. kok yang gw baca isinya tentang kosan berhantu semuaaa? Woooy, gw lagi sendirian ini di kosaaan... Kan jadi ngebayangin yang aneh-aneh.. T.T *langsung tutup laman*

Eh, beneran kan, ya, gw sendirian di kosan ini?

Senin, 03 Maret 2014

Cerita dari [LPK] Tepi Sawah

Udah banyak teman-teman kelas yang cerita soal LPK ini. Sebut saja Ayu dan Tantos. Coba buka blognya, baca tulisan ini dan ini, maka kamu akan tahu kalo aku ga ngibul bilang mereka udah pernah cerita soal LPK. Mereka berdua juga udah cukup banyak untuk mewakili teman-teman kelas yang bercerita tentang LPK.

Minggu (2/3) kemarin ini ketiga kalinya aku berkunjung ke LPK Tepi Sawah yang letaknya memang di tepi sawah. Pertama kalinya itu tahun lalu waktu dibonceng Dian (kubaca: Dayen) bawa bingkisan ke sana untuk suatu acara. Kemudian kedua kalinya itu ketika diajak lagi ikut mengajar anak-anak di sana. Tapi berakhir dengan aku yang main-main. Aku benar-benar cuma main, bukannya mengajar seperti Rivo dkk. Waktu itu aku main kuis "YA! BISA JADII", main suit Sim-markosim, dan main benteng-bentengan dalam lingkaran bareng anak-anak di sana. Sudah begitu, aku tetap dapat nasi gado-gado dan es kelapa, jatah makan siang bagi pengajar yang datang. Maka aku menerimanya dengan penuh kasih sambil berterimakasih. *alhamdulillah

Nah, di kunjungan ketiga kemarin akhirnya aku melakukan hal yang agak serius. Aku menemani Dian (kubaca lagi: Dayen), yang menemani anak-anak di sana belajar membuat percakapan dalam bahasa Inggris. Mereka harus membuat percakapan sesuai ilustrasi yang diberikan dan berdasarkan materi pelajaran minggu lalu secara berkelompok. Usia anak-anak di sana beragam, mulai dari usia muda kelas 1 SD hingga usia tua kelas 6 SD. Hehehe. Habis itu, mereka praktikkan percakapan yang dibuat di hadapan teman-teman lain. Kebanyakan dari mereka masih malu-malu waktu belajar kemarin, cuma sedikit yang berani nanya ini-itu. Karena aku orang baru, mungkin. Tapi kalo soal main.. mereka berani narik siapapun untuk ikut main. *korban permainan

Bicara soal malu-malu, mungkin mereka malu karena takut salah, ya. Padahal seharusnya ga usah takut salah waktu belajar kemarin, Nak. Aku mancing-mancing kalian biar bisa bikin percakapan se-kreatif mungkin ala sinetron di TV, supaya belajarnya menyenangkan dan kalian bisa. Tapi kalian cuma diam dan bertampang bingung. Aku jadi ikut bingung. Mungkin itu juga, ya, yang dirasa guru-guru dan dosen waktu mengajarkan aku yang juga malu-malu. Udah mancing-mancing tapi ga kepancing. #uhuk

Ini sebagian dari mereka yang ikut belajar kemarin.. :D