Sebulanan ini merupakan hari-hari yang berat. Dari sekian banyak capaian hidup sebagai makhluk sosial, banyak yang belum saya penuhi. Tidak punya pasangan, belum dapat ganti pekerjaan, tidak ada penghasilan sampingan, sampai kehilangan hadirnya sosok teman.
Mengikuti kata hati memang bukan pilihan yang mudah, ya kan? Sejak masa sekolah hingga sekarang, rasa-rasanya baru kali ini saya nekat dan benar-benar keluar dari zona aman. Keluar dari pekerjaan yang mapan saat belum dapat pegangan, bertaruh pada tawaran yang akan datang. Berlindung di bawah ketiak idealisme yang tidak pantas disebut idealis juga.
Bodohnya saya yang kurang perhitungan ini. Bertaruh saat semua sedang dalam situasi sulit. Bahkan untuk bertahan hidup sekalipun.
...
Belum pernah saya sekalut ini memikirkan nasib sendiri. Saya bukan perencana yang baik, terlalu banyak andai yang saya pertaruhkan dalam keputusan kali ini. Si dia yang satu itu memang terlihat tidak ambisius, tapi setidaknya dia punya rencana. Si dia yang satu lagi, bukannya malas, tapi memang ada prioritas lain dalam hidupnya. Saya? Tergampar realita sambil terus menunggu datangnya kabar baik.
Hari baik, tanggal baik, bulan baik. Kemana hidup ini akan sampai?
Omong-omong soal mimpi (walau dalam kasus saya kurang realis; tapi sejak kapan sih mimpi terbatas hanya pada hal-hal yang realis?) terus terang sebongkah benda tanpa wujud itu yang membuat saya masih bertahan -- selain karena itu satu-satunya pilihan.
Mimpi diterima bekerja di perusahaan asal Singapore yang membuat saya terbiasa cas-cis-cus bercakap dalam bahasa Inggris walau tidak fluent. Mimpi bergabung dalam sebuah tim multinasional, bersama-sama mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa. Mimpi kondisi pandemi ini segera berakhir dan semua akan kembali baik-baik saja.
Mimpi boleh tapi jangan lupa berkaca supaya sadar seberapa pantasnya kamu menerima hal yang kamu impikan itu. Idealis boleh tapi harus tetap realis.
Yah pada akhirnya yang bisa kita lakukan adalah bertahan. Kita tidak pernah tahu kemana hidup akan sampai.