Jumat, 30 Oktober 2020

Kemana Hidup Akan Sampai


Sebulanan ini merupakan hari-hari yang berat. Dari sekian banyak capaian hidup sebagai makhluk sosial, banyak yang belum saya penuhi. Tidak punya pasangan, belum dapat ganti pekerjaan, tidak ada penghasilan sampingan, sampai kehilangan hadirnya sosok teman.

Mengikuti kata hati memang bukan pilihan yang mudah, ya kan? Sejak masa sekolah hingga sekarang, rasa-rasanya baru kali ini saya nekat dan benar-benar keluar dari zona aman. Keluar dari pekerjaan yang mapan saat belum dapat pegangan, bertaruh pada tawaran yang akan datang. Berlindung di bawah ketiak idealisme yang tidak pantas disebut idealis juga.

Bodohnya saya yang kurang perhitungan ini. Bertaruh saat semua sedang dalam situasi sulit. Bahkan untuk bertahan hidup sekalipun.

...

Belum pernah saya sekalut ini memikirkan nasib sendiri. Saya bukan perencana yang baik, terlalu banyak andai yang saya pertaruhkan dalam keputusan kali ini. Si dia yang satu itu memang terlihat tidak ambisius, tapi setidaknya dia punya rencana. Si dia yang satu lagi, bukannya malas, tapi memang ada prioritas lain dalam hidupnya. Saya? Tergampar realita sambil terus menunggu datangnya kabar baik.

Hari baik, tanggal baik, bulan baik. Kemana hidup ini akan sampai?

Omong-omong soal mimpi (walau dalam kasus saya kurang realis; tapi sejak kapan sih mimpi terbatas hanya pada hal-hal yang realis?) terus terang sebongkah benda tanpa wujud itu yang membuat saya masih bertahan -- selain karena itu satu-satunya pilihan.

Mimpi diterima bekerja di perusahaan asal Singapore yang membuat saya terbiasa cas-cis-cus bercakap dalam bahasa Inggris walau tidak fluent. Mimpi bergabung dalam sebuah tim multinasional, bersama-sama mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa. Mimpi kondisi pandemi ini segera berakhir dan semua akan kembali baik-baik saja.

Dari hasil refleksi ini, saya benar-benar digampar oleh frase "never take anything for granted".

Hal yang kamu sia-siakan sebenarnya sangat berharga, tapi kamu sendiri baru sadar ketika hal itu tidak kamu miliki lagi. Pekerjaan yang saban hari kamu keluhkan itu, toh masih lebih baik dibanding tidak punya penghasilan. Teman yang kamu anggap hanya mengganggu dan sering kamu abaikan, toh membuatmu kehilangan juga sewaktu dia berhenti menghubungimu.

Mimpi boleh tapi jangan lupa berkaca supaya sadar seberapa pantasnya kamu menerima hal yang kamu impikan itu. Idealis boleh tapi harus tetap realis.

Yah pada akhirnya yang bisa kita lakukan adalah bertahan. Kita tidak pernah tahu kemana hidup akan sampai.

Kamis, 22 Oktober 2020

Sampai Oktober

Kita tidak tahu ke mana hidup ini akan
sampai Oktober di depan mata

hari baik, tanggal baik, bulan baik
kita masih menunggu kabar baik