Minggu, 22 Mei 2016

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Halo.
Mau ngasih tau aja, kalau edisi terbaru poetrygraphy akhirnya selesaaai.. :D

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Udah lama sih selesainya, cuma langsung dipublish ke Issuu. Terus lanjut beberapa hari bikin mockupnya untuk post di kreavi.com, baru dipost di sini. Mehehee. Hasil beberapa malam tanpa tidur dan paket internet malam dicampur es kopi maknyus. :D

Ngomong-ngomong soal kopi, gara-gara proyek ini saya merasa jadi ketagihan kafein, deh. Kopi sih sebenernya. Padahal dulu saya ga suka, karena rasanya asam, tapi sekarang kok biasa aja malah doyan. Apalagi dicampur susu pake es, karena kalo ga pake es jadinya uu. Krik. Hahaa.

Selama ngerjain poetrygraphy ini, saya belajar banyak nih.. Belajar layouting, editorial design, gimana ngatur posisi teks dan gambar supaya bagus dan enak dibaca. Tadinya di tiap penggalan puisi mau satu-satu aja saya sisipin gambar, semacam ilustrasi tunggal gitu. Tapi ga jadi. Soalnya ada bait puisi yang panjang dan rasanya sesak kalo cuma diselingi satu foto sebelum lanjut ke bait berikutnya.

Saya mikir gimana caranya biar kamu, ga sesak bacanya. Saya mikir gimana supaya kamu bisa bernafas. Saya mikir gimana supaya kamu bisa nangkep dan membayangkan maksud kata-kata saya. Iya, kamu, pembaca karya saya. Hahaa.

Untuk itu jumlah gambar yang saya pakai harus bertambah. Saya pilih-pilih lagi gambar mana yang cocok dan gimana posisinya, di halaman kiri atau kanan. Makanya lama baru bisa jadi. Hahaa. Alasan. Padahal mah ga gitu-gitu amat.

Masih banyak yang harus saya pelajari nih. Edisi ketiga ini dengan berbagai alasan pun masih banyak kurangnya. Kurang cetar gitu. Makanya kita ngopi, yuk. Belajar bareng dan ngomongin edisi selanjutnya atau proyek lainnya. Terus ngobrol banyak sambil ketawa tanpa ego. :D

Tabik!

Rabu, 18 Mei 2016

Catatan di Malam Tanpa Tidur

Malam ini saya melewatinya tanpa tidur. Lagi. Ya. Setelah malam senin kemarin saya juga tanpa tidur.

Sebab apakah?
Sebab es kopi susu yang rasanya enak sekali. Tidak kalah dengan kopi Starbucks kesukaan Adnan teman saya. Dengan dua bungkus Nescafe classic yang dicampur susu kental manis cap Bendera, ditambah bongkahan es batu yang renyah untuk dikunyah, saya bisa kehabisan kata saking enaknya.

Sebab apakah?
Sebab proyek poetrygraphy saya selanjutnya yang belum rampung juga. Saya tidak senekat kemarin lagi, entah kenapa selalu ada yang kurang di proyek kali ini. Kata-kata saya dan gambaran yang ada seperti tidak akur.

Sebab apakah?
Sebab paket internet malam yang akan tersia-sia kalau saya tidur. Sayang sekali. Paket yang hanya tersedia mulai pukul 01.00 - 06:59 WIB ini luar biasa besarnya hingga menagih saya minta diberdayakan.

Sebab itu semua, jadilah saya menukarnya dengan waktu tidur saya, dengan segelas es kopi susu, dengan streaming audio visual macam-macam.

Sampai tadi saya menemukan video tentang pengaruh tidak tidur pada tubuh kita dari channel BuzzFeedBlue. Saya ketakutan sendiri melihatnya. Saya kira keren sekali orang yang bisa tidak tidur itu, karena kuat menahan kantuk. Sejenak saya kira saya keren.

Tapi ternyata saya salah.

Dengan tidak tidur, otak saya jadi tidak berfungsi normal. Hal ini sudah saya rasakan di akhir-akhir. Sering saya lupa akan hal yang mau saya utarakan, tepat ketika saya mau mengatakannya. Rasanya menyebalkan sekali. Seperti mau bersin tapi tidak jadi. Seperti dipermainkan. Saya tidak suka.

Efek lain dari tidak tidur adalah: penuaan dini.

Oh. Tidak.

Lingkaran hitam mulai bermunculan di bawah mata saya. Kerutan lainnya akan muncul dan membuat saya terlihat lebih tua dari yang seharusnya. Meski saya belum merasakannya, tapi hal ini akan terjadi kalau saya terus-menerus tidak tidur. Hal ini akan jadi sangat menyebalkan. Saya tidak akan menyukainya.

Saya jadi sering pusing tanpa alasan, bahkan setelah saya makan. Biasanya saya jadi melemah begitu kalau kurang makan. Jalan seperti melayang. Mood tidak karuan. Kalau dokternya Yuli bilang: kliyengan.

Gangguan hormon, halusinasi, penurunan fungsi otak, dan yang paling saya tidak inginkan adalah: melihat hal "lain". Sudah cukup membaca Keluarga Tak Kasat Mata membuat saya parno sendirian di rumah, tidak perlu ditambah penglihatan macam-macam lagi.

Saya tidak ingin mengalaminya. Saking enggannya saya jadi ingin tidur.

Tapi malam sudah berganti hari, sebentar lagi pagi. Ibu saya sudah terbangun lagi. Kalau tidur dengan waktu yang hanya tersisa sedikit ini, saya cemas akan bangun dalam keadaan pusing, dan lebih parah lagi terlambat. Saya tidak ingin terlambat, karena perjalanan kereta pagi sudah sering terlambat dengan sendirinya tanpa harus saya terlambat.

Benarlah malam diciptakan agar kita bisa beristirahat, bukannya browsing dan streaming macam-macam. Poetrygraphy yang jadi alibi juga tidak jalan.

Cukup sudah. Saya akan berhenti menulis omong-kosong ini. Saya akan tidur malam nanti.

Kamis, 12 Mei 2016

Wayang Layang dan Kelanjutan Poetrygraphy

Halloo...

Setelah lamaaa sekali sejak terakhir saya menulis Terhapus Hujan Sehari, sekarang saya datang lagi dengan poetrygraphy terbaru yang berjudul: Wayang Layang.

Wayang layang sebenarnya adalah pertunjukan wayang kontemporer. Sebuah kolaborasi antara teater Les-rémouleurs dari Prancis dan seniman asal Indonesia. Saya menonton pertunjukan mereka akhir April kemarin di pembukaan Festival Printemps Français. Sabtu malam, hujan, di tengah aktivitas malmingnya warga Jakarta, saya  datang ke Plaza Senayan untuk nonton pertunjukan ini. Kyah.

Pertunjukan wayang dengan judul L’Oiseau (The Bird) ini menghadirkan sesosok burung buatan yang melayang terbang. Biasanya kalau nonton wayang kan di layar yang statis, ya. Nah, kalau wayang layang, yang jadi layar itu adalah sayap si burung. Jadi kita dapat dua tontonan sekaligus, tarian burung ini saat terbang, melayang, dan juga cerita yang dikisahkan lewat gambar ilustrasi dari sayap si burung. Epik.

Saking epiknya, saya jadi terinspirasi untuk menulis poetrygraphy lagi. Karena sayang juga sih, kalau hasil dokumentasi saya cuma teronggok di harddisk. Jadi, lebih baik dibikin poetrygraphy ya saya pikir. Mungkin kalau saya rajin nanti bisa terbit jadi photobook betulan. Hehehe.
Mari sama-sama bilang: aaamiiin!

Akhir kata, saya persembahkan sebuah Wayang Layang dalam bentuk lain kepada semesta. Khususnya kamu, yang sudah memberikan waktumu untuk membaca postingan ini. :)



Minggu, 08 Mei 2016

Tentang Kontes Foto 2016 (1)

Tahun 2016 ini saya menulis beberapa resolusi, diantaranya adalah mengikuti kompetisi fotografi baik melalui IG ataupun kompetisi di platform lainnya minimal satu kali setiap bulan. Sudah lima bulan berlalu sejak Januari hingga Mei, dan selama itu ada beberapa kontes yang saya ikuti. Meski belum ada yang menang pun. Hehehe.

Mumpung di bulan Mei ini saya belum mengikuti kontes manapun, rasanya belum terlambat kalau saya ingin mereview kontes-kontes fotografi yang sudah saya ikuti di empat bulan pertama. Semacam evaluasi caturwulan begitu. Hahaha.

Januari 2016


Kontes pertama yang saya ikuti di tahun 2016 dari @fujifilm_id. Temanya adalah resolusi tahun 2016. Cerita dari foto ini adalah menara yang menjulang sebagai perlambang harapan yang tinggi. Niatnya optimis gitu. Hahaha.

Hadiahnya kalau menang adalah sebuah kamera Fuji yang saya lupa tipenya apa.

Asia-Pacific Forest Week ‘Growing our Future’ photo contest by FAO
Ini foto yang saya ikutkan dalam kompetisi "Growing our Future" oleh FAO. Hadiahnya adalah pergi ke Filipina! Saya antusias banget membayangkan pergi ke Filipina karena menang dari kontes foto ini. Sayangnya, lolos tahap pertama aja saya engga. Hahaha.

Februari 2016




Dua foto di atas saya ikutkan dalam kompetisi foto #15TahunSupernova. Menjelang launching-nya episode terakhir Supernova: Intelijensi Embun Pagi. Caption yang tertulis harus mengutip isi dari seri Supernova. Kalau terpilih nih ya, saya bisa dapat dua tiket untuk acara launching si episode terakhir. Sayangnya juri tidak memilih saya. Hahaha.

Maret 2016



Jujur, kontes ini rasanya berat banget bagi saya. Saingannya itu loh, bagus-bagus banget fotonya! Tapi saya tebel muka aja ikut submit foto, biar ada orang yang nyangkut ke akun saya kalau mereka mencari #KontesMerahPutih.

#KontesMerahPutih ini masih berlangsung samapai sekarang, tiap periode punya tema yang berbeda-beda. Tapi saya cuma pernah ikut sekali, sekali-kalinya ya foto ini. Hehehe.

April 2016






YELLOW Photo Competition. Dari judulnya aja udah ketauan kan temanya apa: KUNING. Waktu saya liat foto juaranya, Men, keren banget! Kuningnya beneran kuning, bukan kekuningan, bukan kuning redup, tapi kuning cerah sekuning-kuningnya kuning!

Saya baru sadar di foto ayam ini sebenernya ga sekuning yang saya pikir. Sama sekali ga kuning bahkan. Padahal waktu saya upload via hp, ayamnya lumayan kekuningan makanya saya berani submit. Hahaha.

Itulah perjalanan saya ikut-ikut kontes foto. Sebenernya ada resolusi lain yang berhubungan sama fotografi juga, yaitu ikutan #WeekendHashtagProject dari IG. Nanti ya, saya share juga ceritanya di sini. Tapi ga janji. Hehehe.

Tabik!