Ibuku punya anak perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya lelaki semua. Aku tidak tau apa yang Ibuku pikirkan tentang aku sebagai satu-satunya gadis di antara ketiga anaknya yang tidak berkumis.
Ayahku (alm.) cuma punya anak perempuan satu, yaitu aku. Dua anaknya yang lain, lelaki semua. Aku tidak tau apa yang dipikirkan Ayahku tentang aku, satu-satunya anak yang tidak wajib solat jamaah di mesjid.
Abangku punya adik perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya adikku yang cuma satu dan ia lelaki. Aku tidak tau apa yang Abangku pikirkan tentang aku, adik perempuan satu-satunya yang sukanya keluyuran ke acara gratisan.
Adikku cuma punya satu kakak perempuan, yaitu aku. Sisanya adalah abangku, satu-satunya kakak lelaki yang ia punya. Aku tidak tau apa yang dipikirkan adikku tentang aku, satu-satunya kakak perempuan yang suka menyuruh-nyuruh ia. Karena ia juga satu-satunya yang bisa kusuruh.
Aku yang perempuan tapi lebih sering bergaya maskulin, terpengaruh peninggalan Ayah dan saudara-saudaraku.
Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.
Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.
Perasaan keren itu masih terbawa hingga kini. Kemeja kebesaran Ayahku kadang masih kupakai ke kantor. Semacam karakterku dalam berpakaian dan berpenampilan. Selain itu, aku juga jadi merasa punya semacam kedekatan dengan Ayahku kala mengenakannya.
Aku tidak tau berapa umur kemeja itu. Tapi semakin kukenakan, semakin tipis dan lembut ia. Apalagi kalau kau melihat kerah lehernya yang sudah mulai koyak.
Kini di setiap aku mengenakannya, ada semacam pemikiran yang mengganggu.
Sampai kapan ya aku bisa mengenakan kemeja ini?
Berapa kali pemakaian lagi?
Berapa kali pemakaian lagi?
Tidak bisa seterusnya, ya?
Sampai kapan ya, hingga saatnya aku harus mengistirahatkan kemeja ini? Seperti bendera pusaka yang kini tidak dikibarkan lagi, saking tua dan lapuknya lepas dicuci berkali-kali.
Aku jadi emosi sesaat kalau mengingatnya.
Belum lama ini aku mendengar lagunya Iksan Skuter yang berjudul Bapak. Cerita kami mirip, aku juga malu dan agak angkuh untuk mengakuinya, dan membayangkan Ayahku diam-diam menanyakan aku waktu dulu itu rasanya.. :'(
Di kemeja tua Ayahku itu, kamu bisa temukan ada inisial namanya yang ditulis dengan spidol hitam permanen, MAM tertulis di sana dan masih terbaca hingga kini. Satu dari sekian peninggalannya yang bisa membuat aku merasa dekat.