Sabtu, 31 Januari 2015

Retorika 2015: Episode Januari

Haluuu...
Kali ini gue mau gombal. Kita coba sedikit beretorika di akhir Januari ini. Siap?

Kesasar
Ibu ke pasar
Ayah bekerja
Adik sekolah
Aku kesasar

Kabar Gembira
Kesempatan baik hadir dalam kabar gembira
Gembiraku, gembiramu, gembira kita
Tapi aku bisa apa, jika ada dia
yang memintaku jadi sumber gembiranya?

Ternyata
seperti waktu
gembira itu
relatif

Tertawa

"Hahaha"
Di sini aku tertawa
Denganmu aku tertawa
Dengannya aku ingin tertawa
Setelah inginku menjadi nyata
Aku ragu bisa tertawa

Pengajar Kurang Ajar 

Jangan memintaku
untuk menjadi pengajar

kamu sendiri tahu
aku masih kurang ajar

Minggu, 25 Januari 2015

Koala Kumal

Hati-hati membacanya, postingan ini mengandung spoiler!

A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on

Hallow, Bang Dika!
Gue mau laporan, nih, Bang. Gue baru selesai baca karya terbaru lu, si Koala Kumal. Hasil minjem ke ade gue tapi, dia yang beli, bukan gue. Hehe.

Kesan gue setelah selesai baca: asli gue suka sama novel ini. Baguuuus, Bang!
Dibanding novel-novel lu sebelumnya, Koala Kumal terasa lebih nyata di kehidupan gue. Rasanya lebih berisi, ga cuma seputar komedi-cinta-galau seperti yang lain, tapi juga pendewasaan. Di novel ini, lu terlihat lebih macho menghadapi hidup! Selamat, Bang, misi pencitraan lu berhasil. Heheheh.

Bagian yang rasanya 'Gue-Banget' adalah bab tentang jurit malam. Karena kehidupan SMP kita mirip-mirip, Bang. Pas SMP dulu, gue juga duduk berpasangan sama kaka kelas pas ujian. Pas SMP, gue juga ikut PMR. Pas SMP, kehidupan ekskul gue juga menganut senioritas garis keras! Gue jadi kayak ngebaca riwayat hidup gue sendiri, dan riwayat hidup orang-orang yang gue kenal masa SMP dulu. Bedanya, gue ga tau apakah di masa itu gue juga bikin orang patah hati.

Koala Kumal jadi semacam refleksi diri bagi gue. Setiap bab punya kesannya masing-masing. Tentang jatuh cinta diam-diam, kode ga nyampe, dan ke-ge-er-an, gue jadi kepikiran berapa banyak kesempatan yang gue lewatkan.
Tentang patah hati, gue dapet pembelajaran untuk berani patah hati. Bukan cuma patah hati soal 'hati', tapi juga soal kehidupan, impian, dan hal lainnya.
Benar lah kalo patah hati bisa ngubah persepsi kita terhadap sesuatu. Dan patah hati harusnya ngebuat kita jadi lebih kuat, jadi lebih dewasa. Karena ada sesuatu yang selesai. Gue suka adegan terakhir, ketika lu ngobrol sama nyokap lu. Cara lu menuliskannya seperti merek sosis, so good so nice, Bang.

Tentang novel ini, gue jadi sadar bahwa elu multitalen(an) ya, Bang. Muehehehe
Menciptakan Miko berhasil menciptakan respek gue terhadap lu. (y)

Ngomong-ngomong, Bang, gue mau curhat dikit. Dikiiit aja deh, suwer. Jadi gini, rasanya ada beberapa kejanggalan di Koala Kumal.
Pertama, tentang identitas Bahri dan Dodo di bab petasan Jangwe. Diceritain kalo model rambut Bahri belah tengah rapi yang disisir hati-hati, sedangkan Dodo cepak ala tentara. Lalu di adegan berjemur di atas mobil, diceritain kalo Dodo sering tersisih berjemur di atas bagasi, sementara Bahri di atap mobil bersama Dika kecil. Tapi ilustrasi bocah yang berjemur disebelah Dika ga cocok sama karakter Bahri, karena dia berambut cepak! Sementara bocah yang diduga Dodo, yang tersisih di atas bagasi, justru memiliki ciri rambut-belah-tengah punya Bahri. What's going on, Bang? Apakah Dodo dan Bahri tukeran model rambut? Atau Bahri menyamar jadi Dodo?

Kedua, di bab cewek tomboi. Diceritain lu pacaran sama Deska, tapi Deska pindah hati ke Astra. Di adegan Deska minta putus, lu duduk berdua sama Deska di teras rumahnya. Tapi tiba-tiba, ada adegan Astar menghela napas panjang, dan lu putus sama Astra. Bang Dika, sebenernya lu duduk berdua di rumah Astra, atau Deska? Tell me the truth, Baang..

Udah, Bang. Gitu aja cerita gue hari ini. Laporan selesai. Keep up the good work.

Salam cheya-cheya.

Kamis, 22 Januari 2015

Puisi Jamuran




Di dalam kamar terdepan
berdiam seorang anak manusia
yang tergeletak lelah
dikelilingi muntahan tas serutnya

Sesungguhnya ia tidak sendiri
karena ada yang diam-diam mengamati
dari pojok kamar
dengan aura samar

Tak terlihat, bukan berarti tak ada
ada, bisa hadir dari ketiadaan
seperti kesukaan pada rasa
yang sebenarnya memiliki logika

*)
Sebenarnya pingin posting foto jamur doang, tapi rasanya kurang kalo tanpa kata-kata. Jamur yang hadir dari kombinasi atap bocor, kusen jendela reyot, dan hujan tiap malam-malam belakangan ini. Sekarang Bekasi jadi dingin.
Sekarang kalo malem tidur ga perlu pake kipas angin.
Sekarang kamar gue jadi jamuran. Hehehhehe.
Sekarang, gue jadi inget, kan, kalo setahun lalu pernah bikin juga puisi yang idenya dari jamur-jamuran.
Sekarang udah malem, ikan bobok.
Bye!

Minggu, 04 Januari 2015

Moon & Wind

What creature on earth that knows what they talking about?
People would never knows.
Wandering, that's all that we can do.

So, I present you..
A poem about Moon & Wind

Moon & Wind
Moon & Wind were requested by Annisa Amalia as the theme of this poem. Thanks yaaa Aniiis...
Hope you'll like it! ;D
Illustrated by swd. :D

Sabtu, 03 Januari 2015

#blackoutpoetry

Hello!
I was confused in the middle of making #animalquotes. And some poetry requests from my friend. I can tell you that I'm stuck. I apologize for make you wait so long. Hehehe.

Then I read some books to get inspired, those are Austin Kleon's books: Steal Like an Artist & Show Your Work! And ended up with this: The #blackoutpoetry made by me. :D


Not bad, huh? :>
It's not easy for me making this in bahasa. It's not easy for me, as the first timer. I must find the right article, choose the right words, and bring it to the line I want to read. But it's FUN. Heheheh.
Maybe i'm just not get used to, yet. :D

Okay, back to work!