#1
di langit malam kulihat cahaya
saat bunda tertatih antara hidup dan mati
menuntunmu melihat dunia
di hari itu aku paling bahagia
menyambutmu hadir di dunia
*dipersembahkan untuk seluruh bayi dan teman saya yang lahir pada bulan Januari. :D
#2
pada suatu hari aku bertanya,
apa yang biasa kau lakukan di sabtu pagi?
masihkah kau menatap layar monitor
sambil mendengar lagu asing yang kau sendiri tak tahu bercerita tentang apa?
yang kau suruh dirimu untuk diam dan dengar saja, nikmati melodinya
adakah kau duduk dalam kereta menuju Jogja
sambil membaca buku yang kau sendiri tak tahu tentang apa?
ikut dalam rencana temanmu yang tanpa rencana itu
bertualang keluar Jakarta
jika saja kau tahu bunyi pertanyaanku ini
akankah kau bercerita saja
ataukah kau justru bertanya,
untuk apa kau bertanya?
bukankah kita melakukan segalanya berdua?
#3
kita berada di ketinggian yang sama
ketika hujan datang
membawa kesenangan yang kekal
kita berada di ketinggian yang sama
ketika kamu menapak
di tanah yang basah sisa hujan semalam
kita pernah berada di ketinggian yang sama
ketika kamu belum terbang
lalu menghilang
#4
langit masih gelap
ayam masih terlelap
sendirian ia terperangkap dalam senyap
ketika mimpinya datang menyergap
Minggu, 31 Januari 2016
Senin, 04 Januari 2016
Kembali ke Halimun
Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah Halimun. Terakhir ke sana adalah di tahun 2012, ketika status mahasiswa dan anggota UKF masih saya sandang. Setelah bertahun tidak ke sana, di tanggal 2 Januari 2016 kemarin, akhirnya saya kembali ke Halimun.
Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.
Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"
Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.
Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.
Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.
Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.
Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.
Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.
Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.
Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.
Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.
Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.
Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.
Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.
Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"
Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.
Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.
Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.
Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.
Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.
Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.
Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.
Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.
Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.
Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.
Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.
Langganan:
Postingan (Atom)




