Minggu, 04 November 2018

Di Surau Bawah Tanah

Ada air mata tumpah
sajadah basah
dan harapan-harapan yang mendaras
dari jiwa yang tak henti mendoa
Agustus-September 2018 adalah bulan-bulan yang berat. Perjalanan Bekasi-BSD selama dua jam bukan ngga mungkin dilewati tanpa pikiran macam-macam, termasuk hal-hal negatif yang mau ngga mau pasti kepikiran. Dan ini terjadi dua kali sehari, di setiap pulang pergi.

Kalo udah begitu, biasanya sesampainya di kantor saya akan mampir ke musholla sebelum langsung ke meja. Musholla yang satu lantai dengan parkiran. Beres-beres, touch up, solat. Ngadu, sengadu-ngadunya soal segala hal yang terasa mengganjal.

Dua bulan di tahun 2018 itu termasuk bulan yang basah bagi saya. Bukan karena hujan, tapi karena rembesan air yang lain. Air asin.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Thank you

"That awesome moment, when you find a friend you can act stupid with." 
Belum lama ini seorang teman saya menikah. Kami berteman cukup dekat, dia mirip "kotak sampah" karena saya bisa mengeluarkan segala pemikiran dan bertingkah apa saja tanpa takut di depannya. Bahkan dia lebih kotak sampah dari blog ini. :) 
Di hari menjelang pernikahan, dia sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya senang hati membantunya. Sampai di hari pernikahan, saya senang luar biasa. Seperti ikut merasakan kebahagiaan dari seseorang yang benar-benar dekat dengan saya. 
Tapi belakangan ini saya kok merasa kehilangan.
Sekarang saya bingung akan membagikan ke siapa tiap kali menemukan postingan aneh di Instagram. 
Saya kehilangan teman untuk bertingkah aneh bersama. :")
Postingan ini udah tersimpan lama banget, lewat setahun lebih cuma mentok sampe draft. 😅
Sekarang saya sekantor lagi sama temen "kotak sampah" ini. Dan kabar baiknya, dia ngga banyak berubah meskipun udah nikah. Masih bisa saya curhatin macam-macam tanpa takut dihakimi. Kelakuannya juga masih aneh. :")

You don't know how grateful I am, Mak. Thank you.
Thank you for being a friend I can act stupid with.

*salam anak Jaksel cabang Pancoran

Jumat, 20 Juli 2018

Cerita Lebaran: Kematian yang Indah

Di kampung kecil ini, banyak kudengar kisah tentang para sepuh yang menutup hidup dengan indah. Lebaran hari ke-3, bendera putih dipasang di depan salah satu rumah. Pertanda duka. Seorang warganya (Mbah Parman) meninggal kemarin malam.

Lebaran hari pertama, Mbah Parman masih menerima tamu di rumahnya. Termasuk aku. Dengan sisa-sisa ingatan yang dipunya, beliau bercerita kepada para tamunya. Tentang anaknya yang berjumlah tiga belas, dengan hanya satu putri, sisanya putra sejumlah dua belas.

Ia selalu bercerita, tentang anaknya yang selalu lupa urutan berapa. "Kowe anakku sing nomer piro, yo? Sanga? Sedoso?"

Yang dijawab anaknya, "Aku anak ke sepuluh, Bu."

Yang masih kuingat sosoknya dengan atasan mukena putih waktu silaturahmi kemarin, tapi esok malamnya sudah pergi duluan.

Saat itu magrib di hari ke-2 lebaran, beliau siap-siap sembahyang di rumah. Karena tempat solatnya penuh, beliau duduk menunggu giliran. Sembari menunggu, tiba-tiba beliau tidur. Hilang kesadaran. Hingga kemudian berpulang. Begitu cerita yang kudengar dari bulek.

Esok paginya, kursi-kursi berjajar di halaman rumah Mbah Parman. Beberapa sudah terisi oleh pelayat dari tetangga sekitar rumah, yang datang untuk "ngormati" dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya salah seorang dari warga sepuh gang masjid. Walau tanpa hubungan darah, semua yang datang sukarela ikut mengurus, menyolati, hingga selesai proses pemakaman.

Rabu, 21 Maret 2018

Caption yang Tak Sempat Kau Publish dan Tak Sengaja Kumelupakannya



Romantisme Kereta Tua

Di kereta pagi tadi, Kita begitu dekat. Kurasakan naik-turunnya nafasmu, seperti kau juga merasakan kembang-kempisnya pernafasanku.

Jarak mengikat Kita begitu erat, menjaga Kita demikian tegap. Di setiap pemberhentian yang tidak lama itu, tanpa berpegangan apa-apa, Kita masih bisa berdiri tegak.

Topangan tangan-tangan tanpa Tuan, rapat melawan tekanan di lengkungan logam yang belum seberapa tua, tapi padat berisi pekerja-pekerja Kota.


Pesan yang Tak Perlu Kau Balas Saat Terbangun Nanti

Hai,
Saat ini, saat kamu membaca pesan yang kutulis waktu kamu tertidur tadi, itu berarti kamu sudah bangun.
Jika saat itu tiba, aku sudah tidak di sini lagi. Namun kamu tak perlu kuatir. Pada suatu petang di masa dua tahun lagi, dengan membawa hati yang hangat, aku akan pulang.

Kembali ke rumah.
Kembali ke tempat para pendahulu kita menjalani hidup dengan petuah-petuah bijak.

Tak perlu kau balas pesan ini.
Simpan saja untuk bahan bertukar cerita, di pertemuan kita nanti.