Minggu, 17 April 2016

Mendadak Bandung


Kejadiannya udah lamaa banget. Gue pergi ke salah satu tempat paling romantis di dunia, Bandung. Meski udah lama tapi euforia itu masih tetap ada. Nah, supaya ga lupa akan gue ceritakan petualangan gue di Paris van Java. :D

Ceritanya tahun lalu, Agustus 2015, Ratna yang lagi ada kerjaan di Bandung dengan random ngajak gue main ke Bosscha. Dia yang anak Bali, ga tau banyak tentang Bandung. Dan gue yang anak Bekasi, ga lebih tau lagi dari dia. Karena pengalaman gue ke Bandung cuma numpang lewat doang kalo naik kereta pas mudik lebaran. But, random is our middle name, no? :D

Gue yang anaknya ayo-ayo aja kalo soal main awalnya ragu kan, terutama soal transportasi. Ke Bosscha mau naik apa? Naik angkot takut nyasar. Naik ojek takut dimahalin, ketauan banget turisnya. HAHA. Apalagi kita berdua bolang banget kan anaknya alias minim perencanaan alias ngedadak. Tapi kata si Ratna waktu itu,
"Tenang, kau install saja GO-JEK. Ke mana-mana cuma sepuluh ribu!"
"Benarkah? Cuma sepuluh ribu?!"
"Iya, soalnya mereka lagi promoo."

Saat itu memang lagi gencar-gencarnya GO-JEK ngenalin layanan mereka. Dan dengan hanya iming-iming begitu, udah cukup bagi gue untuk berani naik bis sendirian dari Bekasi ke Bandung. Soal nanti liat nanti aja, kalo nyasar pun berdua ini ga sendirian. HAHA.

Sampe di terminal Leuwipanjang gue ketemu Ratna. Kita langsung mesen GO-JEK ke Bosscha karena ga tau seberapa jauh jalan ke sana dan takut kesiangan nyampenya. Beneran loh, tarifnya waktu itu hanya sepuluh reboo. Pake gratisan kredit lagi. Padahal lumayan jauh dari Leuwipanjang di pinggir Bandung menuju Bosscha di Lembang. Sekitar satu-dua jam lah ngebonceng motor, pegel juga. Lumayan, gue jadi tau rasanya menelusuri jalanan Bandung.

Dibaca: boska


Di Bosscha (baca: Boska) udaranya dingiin. Sejuk gitu deh, karena daerah pegunungan kan ya. Bawaannya ngantuk, apalagi waktu ikut kuliah singkat tentang astronomi di sana. HAHA.

Jadi Bosscha ini kan sebenarnya fasilitas penelitian gitu ya, bukan wahana wisata, makanya ada kuliah singkatnya juga. Masuk ke sini tuh bayar tiket masuk, tapi saking udah lamanya gue lupa berapa, hehe. Maapkeun urang yeuh, hilap. Tapi ga mahal kok, karena emang bukan untuk tujuan komersil kan.

Di sana gue ikut tur singkat tentang sejarah pendirian Bosscha di tahun 1923 (thanks to Ratna's documentation). Bahwa Bosscha bukan cuma bangunan putih berkubah di film Petualangan Sherina, tapi sebuah kompleks penelitian yang terdiri atas beberapa bangunan. Kalo bangunan putih itu doang namanya Kupel. Bangunannya dirancang oleh arsitek handal K. C. P. W. Schoemaker.  Di dalamnya ada teleskop buatan Jerman. Bagian-per-bagian didatangkan langsung dari Jerman, naik kapal! Karena pesawat dulu belum ada. Terus dari pelabuhan di pinggir laut, dikirim lagi ke pedalaman Bandung yang ada di tengah gunung. Kebayang ga jauhnya kayak apa? Repotnya kayak apa? Tapi jauh-jauh dan repot-repot tetep didatengin khusus ke Bandung demi majunya ilmu pengetahuan! Yay!

Teleskop ini masih digunakan untuk pengamatan benda-benda langit. Kadang diadain pengamatan bareng, udah ada jadwalnya juga dan orang awam boleh ikut. Cuma kita ga tau karena kurang riset dan waktunya ga pas. Sayang.

Terus diceritain juga bahwa Bandung udah ga 'segelap' dulu karena sekarang banyak tercemar polusi cahaya. Sayang banget ya, padahal di jaman dulu, Bosscha ini ideal banget untuk pengamatan benda langit, sampe repot-repot didatengin teleskop canggih dari Jerman.

Masih banyak deh hal lainnya yang diceritain selama tur. Nambah pengetahuan banget. Lebih jelasnya dateng langsung aja, yuk, ke sana. HAHA.

Waktu gue dateng kemarin pengunjungnya ga begitu ramai. Jadi abis ikut tur ke bangunan Kupel dan kuliah singkat tentang astronomi, kegiatan kita ya foto-foto sepuasnya. Sambil mengenang masa kecil yang berbahagia.

Kalo gue tanya, ada ga sih anak generasi 90an yang belum nonton Petualangan Sherina? Ada, Men. Tapi bukan gue. Karena PS adalah sedikit dari kenangan masa kecil yang membuat gue jadi seperti sekarang ini. HAHA.

Iya, tujuan kita ke Bosscha yang notabenenya fasilitas penelitian yang dikelola ITB kan sebenernya bukan atas dasar sebuah klausa ilmiah. HAHA, GAYA BEUT. Melainkan menapaki jejak petualangan Sherina dan Sadam, dalam usaha mereka melindungi perkebunan Ardiwilaga dari jatuhnya ke tangan konglomerat Kertarajasa. HAHA, GAYA BEUT (2). Kayak latar belakang penelitian ya. HAHA, GAYA BEUT (3).

Kita puas-puasin foto di sana. Dimintain tolong motretin orang, gantian motret, motret sambil loncat, dipotret sambil loncat, apa aja sampai puas. Sambil mengenang PS, sambil nunggu dzuhur, sambil piknik makan bekel combro Bekasi dan keripik Bandung. Di sana ga ada yang jualan, ya Men. Makanya penting untuk bawa bekal sendiri dan jaga kebersihan lingkungan dengan buang sampah ke tempat sampah. :D

Abis dari Bosscha kita memutuskan untuk ke Floating Market a.k.a Pasar Apung. Lokasinya deket kok, jalan kaki lima belas menit nyampe kalo dari Bosscha. Tanya aja mamang-mamang atau akang-akang di sana.

Ngomong-ngomong soal mamang, selama di sana gue mendadak jadi Sunda pisan lah. Kita kan banyak nanya ya, nanya jalan seringnya. Entah waktu ditelpon mamang gojek atau mamang random lainnya. Nah, tiap nanya dengan logat yang disunda-sundain, mamangnya tuh balesnya halus pisaan. 
“Teh, saya udah di lampu merah, ya. Sebentar lagi ke sana.”
“Oh, iya, Kang. Saya di pintu gerbangnya, ya.”
“Iya, Teh, nuhun, ya.”
“Nuhun, Kang.”

Kan jadi waaah.. diperlakukan sebegitu halusnya. Pantes banyak orang bilang kalo Bandung tuh kota yang romantis. HAHA. :))

Balik lagi ke Floating Market. Tiket masuknya berapa yaa, lupa juga. Yang jelas lebih mahal dari masuk Bosscha. Kita dapet welcome drink berupa minuman coklat atau lemon tea, pilih salah satu. Floating Market ini semacam pasar wisata yang HITS banget. Bisa kulineran, banyak tempat main anak, sewa perahu, barang oleh-oleh, dll. yang transaksinya pake koin gitu. Disediain tempat penukaran uangnya, tapi masih ada yang nerima uang tunai juga. Harus bijaksana nih nuker uangnya, karena kalo ada kelebihan ga bisa dikembaliin lagi.


Floating Market ini rameee banget. Kekinian banget deh tempatnya. Bagus abis. Ditata sedemikian rupa, ada sawah, ada saung angklung, ada taman kelinci, ada danau kecil, ada pasar apung tempat jualan makanan, ada saung yang bisa disewain, lengkap kap kap dalam satu lokasi. Jadi awal mulanya FM ini situ buatan, yang dikelola sama seorang pengusaha Bandung. Kreatif-kreatif ya urang Bandung.

Sesuai tempatnya yang kekinian, harga makanan di FM ini agak pricey sih menurut gue. Yah, namanya juga tempat HITS, Bandung pula. Maklum aja yah. HAHA. Makanya gue kebanyakan cuma foto-foto sama keliling. Tempatnya enak sih buat dijelajahi.

Di pasar apungnya yang tempat jualan makanan, ada satu kolam yang diisi sama baaanyak ikan. Nah, anak kecil pada demen ni ngasih makan ikan-ikannya. Ikannya udah banyak, gede-gede, dan riweuh banget pada rebutan makanan. Saking rebutannya, sampe ada ikan yang berenang di atas ikan yang lain demi ngedapetin makanan yang dikasih sama pengunjung! Sadis!
...
Petualangan lainnya kita lanjut di postingan berikutnya, yaa.
Xoxo

Sabtu, 16 April 2016

Retorika 2016: Episode April

(Masih) Ada Api di Matamu
Ada api di matamu
ketika kumasuki ruang-ruang waktu
tempat kita bertemu dulu/
Masih kuingat jelas
malam itu di Jakarta
kupinjam cahaya dari lampu-lampu jalanan
untuk menerangi hariku yang gelap.
Seketika bayangmu hadir, dilatari bokeh dengan warna-warni buram
mengusir muram
menuntunku pulang/
Masih kucuri dengar derai suaramu yang tertawa
masih kucari benar tawa suaramu yang berderai

Wayang Layang
Angkasaku adalah bumi
Cahayaku adalah gelap
yang menyamarkan ke'aku'anmu
kala memanduku dalam lakon pertunjukan semalam

Bosan
Aku bosan duduk
Aku ingin melompat, teriak
lalu berlari
mengunjungi festival seni
Aku bosan sendiri, terasing
di tengah-tengah orang asing
Aku minta teman
Aku ingin ditemani

Lupa
Akhir-akhir ini aku sering lupa
Lupa untuk tidak membayangkan wajahmu dalam kerumunan banyak orang,
lupa dengan waktu yang kita habiskan bersama sambil bicara macam-macam,
lupa untuk mengabaikan gigi-geligimu yang kelihatan saat tertawa,
dan
lupa untuk melupakanmu
yang tak pernah melupakannya

*diketik Mei 2016