Rabu, 28 Juli 2021

Rumah Gantung

Ada seorang Pak Tua yang tinggal di rumah gantung. Sepetak kontainer besi dengan kait yang tersambung pada sebuah ekskavator kuning. Rumahnya itu berayun-ayun ditiup angin. Penghuni di dalamnya, Pak Tua, berpegangan erat pada sisi rumah sambil mendekap anaknya yang masih balita dengan raut wajah tegang. Bola kecil mainan si anak menggelinding dari satu sisi ke sisi rumah yang lain.


Kamera menjauh, tampilan layar menghadirkan rumah gantung Pak Tua yang berayun. Di belakangnya, ada bangunan dalam konstruksi yang belum jadi. Ternyata Pak Tua sedang diliput oleh sebuah acara reality show, entah bagaimana hingga ia terjebak dan terpaksa tinggal sebagai satu-satunya rumah di dalam lokasi proyek pembangunan.


Mimpi ini saya alami beberapa minggu yang lalu. Debar ketakutan Pak Tua di rumahnya itu terasa nyata. Saya yang sadar kalau itu mimpi juga merasakannya.


Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi situs projectmultatuli.org. Seketika visualisasi rumah gantung dari mimpi saya kembali hadir lewat ilustrasi foto di salah satu artikelnya.




Beberapa kali saya mencoba memahami konteks dari mimpi rumah gantung. Ingatan saya bercampur antara adegan di film UP dengan rumah melayang milik Tuan Fredricksen. Juga dengan kekuatiran saya pribadi soal ketahanan tempat tinggal semenjak tahun 2020 lalu rumah saya sendiri kebanjiran.

Rabu, 21 Juli 2021

Sesajen dan Kisah yang Menyertainya

 



Berbeda dari tahun lalu, rasanya saya lebih siap dan tenang-tenang saja dalam menghadapi tanggal 5 Juli. Tidak ada kecemasan berlebihan, tidak ada perasaan rendah dan keinginan untuk melukai diri. Meski rasanya sepi karena masih tanpa adanya pertemuan dengan teman.

Kali ini, saya terbantu dengan pemikiran 'asal' yang bilang bahwa selama pandemi, ulang tahun yang terjadi akan di-hold. Dianulir. So, we're remain the same young as we were before 2020. Haha. Sakarepmu, memang, karena tidak mungkin. 😂

Well, terlepas dari apa yang terjadi, tahun ini saya merasa lebih selo, menerima, dan ikhlas akan apa yang akan terjadi kemudian. Lebih sadar bahwa tiap orang tuh beda-beda jalan hidupnya, rejekinya, jodohnya, alur waktunya, dan segala sel-sel hingga ke partikel atomnya. Belum tentu jika saya menjalani apa yang orang-orang lain jalani, akan sama merasa bahagianya.

Saya jadi lebih meragukan lagi keinginan-keinginan yang timbul. Apa benar ini yang saya mau, atau ini hanya ketakutan sesaat karena menjadi berbeda dengan orang-orang?

Di umur yang semakin dekat dengan 30 tahun, angka yang dulu saya merasa tua sekali tapi saat menuju ke sana, saya ga nyangka, ternyata menjalaninya bisa sedemikian muda. Yah, meskipun rasanya semakin tenang (sepi), karena teman seumuran sudah sibuk dengan urusannya masing-masing dalam peran menjadi dewasa. Tapi perhatian kecil yang hadir lewat sajen yang dikirim, tetap terasa hangatnya.

Kalau ditanya,
"Bagaimana rasanya ulang tahun?"
"Tidak pernah semuda ini."

Terima kasiiiih 🥺

Kamis, 15 Juli 2021

Cuci Otak

Kenapa, ya, orang yang berseragam bisa segitu kasar dan arogan?

Apa jangan-jangan waktu masih pelatihan gitu ada sesi cuci otak? Makanya sensor empatinya rusak.

Lagian PPKM bukannya untuk mengurangi kerumunan? Kok praktiknya malah jadi alasan untuk razia dan main sita usaha orang?