Ada seorang Pak Tua yang tinggal di rumah gantung. Sepetak kontainer besi dengan kait yang tersambung pada sebuah ekskavator kuning. Rumahnya itu berayun-ayun ditiup angin. Penghuni di dalamnya, Pak Tua, berpegangan erat pada sisi rumah sambil mendekap anaknya yang masih balita dengan raut wajah tegang. Bola kecil mainan si anak menggelinding dari satu sisi ke sisi rumah yang lain.
Kamera menjauh, tampilan layar menghadirkan rumah gantung Pak Tua yang berayun. Di belakangnya, ada bangunan dalam konstruksi yang belum jadi. Ternyata Pak Tua sedang diliput oleh sebuah acara reality show, entah bagaimana hingga ia terjebak dan terpaksa tinggal sebagai satu-satunya rumah di dalam lokasi proyek pembangunan.
Mimpi ini saya alami beberapa minggu yang lalu. Debar ketakutan Pak Tua di rumahnya itu terasa nyata. Saya yang sadar kalau itu mimpi juga merasakannya.
Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi situs projectmultatuli.org. Seketika visualisasi rumah gantung dari mimpi saya kembali hadir lewat ilustrasi foto di salah satu artikelnya.




