Sabtu, 31 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode Oktober



Di Seberang Jembatan Layang
Di seberang jembatan layang
ada langit malam yang terluka
pekatnya koyak
ditembaki kokangan lampu sorot
milik juragan properti ibukota

Wanita Pendiam
Ia tak bersuara kecuali dalam hati
Ia tak berkata kecuali lewat tatapan mata

Di Balik Bilik yang Sepi
Di balik bilik yang sepi
Kamu bebas berekspresi
Bisa bersuara berisik
Tanpa ada yang terusik

Dalam Tidurmu Tadi Pagi
Kamu belum benar lelap, dalam tidurmu tadi pagi
ketika tepukan halus datang dari seorang asing
yang menanyakan arah, sambil tersenyum bersalah
karena mengusik tidurmu tadi pagi

Minggu, 25 Oktober 2015

Persembahan untuk Bukan Teman

Assalamu'alaikum.
Hei, Guru.
Sabtu 24 Oktober kemarin, kulihat wajah ayah dan mama (panggilan untuk orangtuamu) berseri-seri sekali. Mereka terlihat sangat bahagia, bangga, dan lega. Mau tau apa yang dikatakan ayahmu waktu aku menyalaminya? "Maafin tingkah Rizqah selama ini ya...," begitu katanya. Masih bercanda aja, hahaha.

Aku jadi ikut bahagia. Senang melihat kalian di pelaminan. Pernikahan yang indah. Sungguh.

Aku tak tau tahapan seperti apa yang kalian lalui hingga sampai pada keputusan bahagia ini. Sama sekali tak tau padahal beberapa kali kita melakukan perjalanan bersama. Yah, cerita itu memang tidak harus diketahui semua orang sih. Tapi tetap saja, begitu aku tau dengan siapa kau akan menikah, yang ternyata temanku juga, si Faisal, aku merasa bodoh sekali tidak tau apa-apa. -_-

Perjalanan pertama kita ke Baduy dulu itu, apa sudah mulai dari situ? Memang si Faisal satu-satunya orang yang tidak menertawakanmu di saat yang lain iya. Tapi kukira itu wajar karena dia memang anak baik, dan sangat menghormatimu sebagai kakak yang waktu itu terbully oleh kami semua.

Perjalanan selanjutnya kita pergi ke Bojen dengan ayah, mama, serta adikmu Salsa dan Tasya. Apa sudah mulai dari situ? Lalu terakhir kita bertemu di TIM, Cikini.. apa sudah mulai jauh sebelum itu?

Kalau benar jawabannya iya, dan yang menurut penuturan seorang teman adalah memang iya, maka aku jadi terharu. Rapat sekali kalian saling menjaga satu sama lain sampai tiba waktunya. Tega sekali kau tak bilang apa-apa sama sekali. Aku benar-benar clueless, sampai seorang teman justru bertanya, "Masa ga keliatan, sih?" -_-

Lalu bulan lalu kau mengundangku main ke rumah, tumben.
"Mau lamaran yah?" tebakku.
"Siapa yang mau lamaran? Aku akan menikah," jawabmu. -_-

Dan benarlah kemarin kalian menikah. Momen sekali seumur hidup yang seru! Baru kali ini aku lihat ada pengantin yang masih dibully sama teman-temannya. Hahahha. Aku jadi makin senang dengan pernikahan kalian. Sungguh. Ini kutuliskan ulang jawaban dari kartu ucapan kemarin.

Untuk Faisal & Rizqah

Selamat kepada pasangan mempelai yang berbahagia. Saya sangat bahagia untuk kalian berdua. Saya mendoakan kalian agar bahagia sepanjang hidup bersama. Moga dikaruniakan banyak kebahagiaan dan tak banyak ketidakbahagiaan. Yang terpenting ialah bahagia. Jangan lupa juga untuk bahagia!

Dari: Saya

Sekali lagi, selamat!



Wassalamu'alaikum.

Minggu, 18 Oktober 2015

Friends' Day Out

Halo! Saya baru pulang main bowling bareng teman-teman. Seru banget! Ini pertama kali saya main bowling.

Kesannya menyenangkan meski ga pernah strike, padahal teman-teman yang lain sering strike. Ada sih satu yang nemenin saya, si Enur juga ga strike. Dia badluck mulu soalnya. Hahahah.

Di jalan-jalan kali ini, bukan cuma soal senang-senang. Ada olahraganya karena main bowling. Ada sharing pengalamannya karena kita saling tukar cerita soal kisah percintaan *halah, saya mah dengerin doang sambil ketawain karena ga punya cerita untuk dibagi haha. Ada belajarnya karena kita ngadain analisis karakter based on blood type. Ada sedihnya juga, karena salah satu teman kita, si Oce Gamalama akan pisah dari kita demi ngejar cita-citanya.

Terus kita-kita yang ditinggalin Oce ini apa ga lagi ngejar cita-cita?
Ngejar juga, Coy, cuma jalannya aja yang beda.

Yah, di samping segala yang terjadi, saya merasakan hal yang lain. Ini perjalanan pertama kami di luar kantor. Saya jadi ngerasa mereka adalah teman-teman sepermainan, karena kita ngobrol, ketawa, main-main di luar lingkungan kantor. Kayak teman yang udah lama kenal. Kayak pengganti teman-teman yang dulu. Padahal teman-teman yang dulu ga tergantikan juga sih. Padahal belum lama kantor yang mempertemukan kita. Padahal kita baru aja dekat dan main bareng, tapi udah ada yang mau pergi lagi.

Saya jadi mikir, setahun lalu kami bukan siapa-siapa. Ga saling kenal. Kecuali sama si Enur yang emang satu kelas pas kuliah, selain itu kami sama-sama asing. Si Oce yang anak gaul Cibujang, Ompung Well yang meski satu tempat kuliah tapi ga pernah kenal. Ekbew yang anak Cinere. Si Ali yang anak muda Bekasi, Sis Fathmah yang meski satu tempat kuliah juga tapi ga pernah deket. Tapi di hari ini, tadi, kami menghabiskan waktu bersama dengan menyenangkan. Quality time.

Menakjubkan bagaimana waktu bisa mendekatkan orang-orang. Sekaligus mengerikan karena waktu juga bisa menjauhkan dan mengasingkan.

Dari sini saya jadi mikir. Pertemuan yang diakhiri perpisahan, itu wajar. Hal yang biasa banget di hidup ini. Jadi ga usah takut sama perpisahan. Karena akan diganti sama pertemuan yang lain. Jangan takut kalo setiap perpisahan, perubahan, akan menghilangkan apa yang sebelumnya kita punya. Itu semua ga hilang, hanya terganti. Kalo ga ganti, mungkin akan membosankan dan justru membunuh kesenangan yang ada.

Jangan takut, Pil.
Jangan takut, karena seperti hymne asrama di TPB dulu bilang, "Tak 'kan hilang waktu berganti."

formasinya kayak pin bowling haha

Mungkin saya takut untuk perpisahan dan perubahan, karena waktu yang saya butuhkan untuk dapet pengganti itu, relatif lebih banyak dibanding orang lain.
Buktinya kita baru main bareng ini setelah setaun ketemu. :p

Minggu, 11 Oktober 2015

Nasihat


Aslinya, saya juga ngga tau om Deddy bilang apa. Foto ini diambil waktu acara #filartc di TIM dulu. Sudah lama. Tapi karena momennya yang seperti beliau sedang memberi nasihat, makanya saya ambil foto ini sebagai ilustrasi.

Puisi ini dipersembahkan kepada orang-orang ekonomis yang suka bingung waktu belanja. Bingung memilih barang, bingung menghitung harga, bingung memilih kombinasi barang yang mana saja yang paling ekonomis. Juga kepada orang yang suka 'mengajak' hatinya waktu berbelanja.

Minggu, 04 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode September

Kota Anti Sosial
Di kota Anti Sosial
kesehatan rakyat dijamin dengan asuransi
sayangnya kita sudah keburu kebal
dijerat tradisi birokrasi

Di kota Anti Sosial
nasib rakyat siapa yang tentukan
kalau wakilnya memilih bungkam
gara-gara takut dibegal

Hukum Manusia
Tayangan tivi menampilkan orang berdasi
ribut sana-sini bicara hak asasi
demi harga diri, orang pintar dibayar mahal
mengulik pasal, memutar akal

penggusuran hadir di surat kabar
orang sakit terbaring di selasar
di mana hukum pelindung jelata
apa itu hanya untuk yang berharta?

Cerita Lahan Sengketa
jerit pecah anak-anak
perlawanan tubuh wanita renta
bayi dalam gendongan ibu-ibu muda
semua hadir menyambut aparat yang datang atas nama penguasa

di atas lahan negara
air mata tumpah
keringat amis dengan darah jelata
bercampur puing tanah air beta

Kita Juga Rakyat
kepada yang sudah berjuang
banting tulang mencari dukungan
jangan lupa kalau sudah duduk di singgasana
kita juga rakyat