Minggu, 20 November 2022

Bersetia dalam Fotografi

- tunggu ya, masih ditulis dulu -

:)

Di antara

Menyambung tulisan sebelumnya


Tiba-tiba ini terlintas di pikiran.


Sering kali pameran fotografi, biasanya, diselenggarakan di pusat kebudayaan, galeri seni, toko alat motret dan kamera, atau kawasan tertentu lainnya. Beberapa pernah diadakan di jalan, pasar, bahkan pinggir pesisir langsung di tengah masyarakat. Tapi.. tetap saja fotografi masih terasa berjarak dari kehidupan sehari-hari kebanyakan orang.


Dengan segala pendekatan yang ada, rasanya fotografi masih merupakan barang mewah bagi banyak kalangan. Tau, kenal, tapi tidak semua orang berani mencobanya.


Apa karena, di permukaan, fotografi hanya bersifat satu arah? Hanya di kalangan penggiatnya saja? Apa benar?

Berjarak dari Fotografi

Ealah, judulnya berasa gue si paling aktif motret aja. Aslinya mah boro-boro, paling mentok juga diajak hunting bareng temen-temen. Kalo ga ada yang ngajak, ya, ga motret. Ehehehe.


Sekarang, temen-temen si pengajak hunting itu udah punya kehidupan lain semua. Merujuk ke kondisi di atas, gue jadi ga pernah hunting random lagi. Well, gue emang ga bilang langsung, but, I miss our old days, gaess. :(


Dulu-dulu.. ada acara fotografi di mana, ada pameran di mana, ada diskusi di mana, gue selalu hadir. Gue kejar, bela-belain dateng, tapi tetap tidak berjejaring. Mengamati saja di pojokan dalam gelembung sendiri.


Gue ga tau ini side effectnya atau mungkin gue yang terlalu emosional, tapi dari pertemuan soal fotografi itu selalu ada perasaan haru, pilu, dan kecil. Hasil dari paparan realita yang tidak seindah hasil potret pelaku aktif fotografi yang jadi pembicara. Hasil dari kerja-kerja sulit yang dihadapi demi mengangkat kisah yang nyata dan tersembunyi. Awalnya termotivasi, tapi makin ke sini makin tidak terawat semangatnya.


Rasanya diri ini sangat cetek, karena masih melakukan fotografi sebagai hobi sampingan yang tidak menghasilkan, profit maupun non-profit. Saya merasa makin tidak ada apa-apanya. Lalu berakhir dengan mengambil jarak dari aktivitas ini, yang hampir selalu menyalakan tombol gairah di diri saya.


Menjaga jarak dari mereka yang sudah berdampak.


Bersambung ke bagian kedua: Bersetia dalam Fotografi.

Sabtu, 29 Oktober 2022

Uninstal Instagram

Baru-baru ini saya uninstal Instagram. Meskipun tetep sih, sesekali masih buka-buka lewat web browser. Cek-cek story orang, cek DM, dan mentionan Tiara yang apa-apa aja bisa dia jadiin story.

Apa ya pemicunya? Entah kenapa, most of the time, Instagram sekarang ga seasik dulu. Apa yang dishare temen-temen following saya udah ga serelate dan sedekat dulu. Faktor udah pisah dan menjalani hidup masing-masing kali ya. Dan yang dishare juga kebanyakan momen pribadi, foto keluarga, perkembangan anak. Cuma sedikiiiiit banget yang saya masih bisa ikutin karena teman irl saya emang ga banyak.

Selain udah kurang asik, saya uninstal Instagram juga untuk mengurangi interaksi fana yang terjadi lewat seen story. Menyedihkan banget ya, saya, selama beberapa lama terjebak di ilusi bahwa kita dekat dan keep contact padahal cuma ngeliat story. Tanpa interaksi react atau reply atau like atau comment.

Somehow it helps me ngurangin info yang masuk ke otak. Kalo emang ada update soal A yang penting, pasti bakal tau juga dari cerita langsung dari orang lain. Soalnya kalo liat di Instagram pun algoritmanya ga ngurut juga kan, baru muncul di timeline 1 day ago or kapanlah ga real time juga.

Saya jadi ga ngonten Sepulang Kerja lagi, nih, padahal itu konten andalan. Terus jadi "ga nyampah" konten juga sih, hehe. Ngurangin pikiran semacem "udah berapa orang yang nge-seen ya", "si itu udah nge-seen belum ya", dll yang ga penting.

Posting story bisa lewat web browser, tapi ga bisa video. Jadi semacam balik ke era awal Instagram ada yang cuma bisa ngepost foto dan basisnya emang fotografi.

Jumat, 23 September 2022

There's something wrong with my body

Weekend kemarin, rasanya badan gue ga bener banget. Tiap kali duduk atau ga beraktivitas pasti langsung ngantuk. Ngantuk yang ga tertahankan. Padahal paginya gue ikut poundfit, abis itu lanjut work out bareng anggi, terus banyak jalan kaki juga menjelajah spot-spot jipfest.

Gue pikir, impas nih makanan yang masuk dengan gerak badan yang gue lakukan. I'm as healthy as fit as young as usual. Tapi, gue bener-bener ga bisa ngontrol rasa kantuk yang selalu datang itu. Gue mulai mikir, apa ini kadar gula darah gue lagi naik... Apa kadar insulin gue ga cukup untuk mecah semua karbo yang masuk jadi enargi..

Gue takut. Gue takut tumbang dan kena diabet, mengingat kondisi nyokap yang ada riwayat diabetes. Gue takut sakit dan jadi ga bisa beraktivitas normal.

Akhirnya, gue mulai puasa lagi di senin dan kamis ini.


Sabtu, 03 September 2022

makin ke sini, makin ke sana

di tengah gempuran berita aneh-aneh yang menyerang temanmu, cuma kamu yang bisa menilai kebenarannya dari prinsip hidupnya di keseharian selama kamu mengenalnya sejauh ini.

Jumat, 02 September 2022

Sepulang Kerja: Menemukan Kesenangan di Akhir Perjalanan

Ada rasa yang terbebaskan dari tiap penghujung detik rekaman story itu.
Lewat cahaya lampu jalan dan nuansa sepi lalu-lalang pekerja di jam pulang,
sebuah seri membangkitkan hasrat memotret yang hilang kembali dilakukan:


Sepulang kerja.

Apa ya, motret suasana pulang tuh entah kenapa rasanya menenangkan. Kayak.. setelah seharian berhadapan dengan hiruk-pikuk pencarian nafkah, kini saatnya kita istirahat, lepas dari segala urusan yang tanpa akhir itu.

Berawal dari ngeliat foto-foto mas Des yang sederhana tapi evoking, aku jadi kangen motret dan menangkap momen lagi. Apa ya, ada perasaan sentimentil yang hadir dan aku ingin merasakannya di foto-fotoku juga.

Selasa, 05 Juli 2022

The Reconcilement

Harapanku, yuk, jadi lebihh ayok lagi dalam hidup. Jangan banyak mikir, jangan banyak takut, ayok, berani, ambil tindakan. Coba banyak hal, hadapi segala perasaan enak, ga enak, sedih, senang, tertawa, bertemu, berpisah.

Itu semua cuma soal giliran.

The Light Side

I wonder, what kind of life will I have for another 30 years? Or 10 years? Or 5 years?

Seems like I still have a bunch of time to explore, face the uncertainties, meet strangers and people, and try a lot of new things.

Yeah, there are so many things you haven't tried yet.

You are still young, and free. Enjoy your time, leave no disappointment.

Welcoming The 5th of July

Why does it feel so scary?
In no time, I'm gonna be showered by my mother's prayer.
Well, just like she always does.

Anyways, today I drank two glasses of PointCoffee's Don't Hate Monday. The first glass was an iced dolce served by the female barista. The second glass was a tall matcha latte served by the male barista whom I thought had a kind of buzz feeling for me.

A couple of times I came there alone, and he asked,
"Kok sendirian aja?"
"Temennya ga diajak?"

Yeah, it's me so shallow and takes it so damn seriously. While he meant it only for the sake of increasing his selling portions. Hahaha.

After all this time, I'm still a romantic hopeless I guess.

I should stop at the first order, but I saw him and this imaginary friend-relationship forced me to go for the second menu.

And my blood filled with sugar and caffeine, and it kept me awake. Until now.

00.10

And here I am, writing this special post with an eerie feeling welcoming my 30th.

And I cried. And it's okay. And it counted as an honest way to embrace my.. darkness.

I'm so scared. It hit differently than last year.

Sabtu, 30 April 2022

Keep in touch

to keep in touch
to say i miss u
to be whoever you want to be
to celebrate with me

Penggalan jingle iklan Smartfren 2014 silam ini masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Dulu si Ncin bilang dia suka juga dengernya, karena bernada semangat! Momennya pas pula di akhir masa kuliah sebelum kita semua berpisah: jadi berasa personal.

Anyway, besok Senin. Udah mulai masuk kantor lagi. Tapi semenjak Sabtu kemarin, gue udah ga tenang mikirin kerjaan yang akan datang.

Ada banyak pr menghadang. Hahaha. Tim design ketambahan dua member baru, tapi mejanya belum ada. Udah gitu, gue masih kesulitan manage tim dan ngedelegasiin task untuk masing-masing member. Gue sendiri aja masih ngeraba to-do list harian mau ngapain, lah ini tau-tau ada a bunch of people yang nunggu task dari gue. Wakakak, kita figure it out bareng-bareng aja ya. 😂

In the past 3 months, gue interaksi intens dengan lebih banyak orang dibanding sepanjang dua tahun kebelakang. Gila ya, bagaimana dunia kita bisa segitu mudahnya berubah, bolak-balik, jungkir-balik. Skenario-Nya tuh emang ga bisa ditebak, jadi jalanin aja.

Dengan segitu lika-liku hidup yang sebenernya ga lika-liku banget dibanding pengalaman hidupnya Echi, Dewi, dan Tiara (salah tiga teman baru gue), gue mengambil pelajaran untuk lebih luwes menghadapi hidup. Kalo ada masalah, jangan distress-in, ketawain dulu aja! It helps loh, at least jadi ga tegang dan lebih rileks, bikin ngehandlenya juga lebih tenang.

*diedit 8 Mei, penghujung libur lebaran.

Minggu, 20 Februari 2022

Dinamika Timeline

*scroll timeline*

Liat berita pimpinan KPK ngasih penghargaan ke istrinya sendiri karena nyiptain hymne baru, sampe dibikin satu acara resmi segala: duh, ngga banget lah. Cringe dan ga masuk di akal sehatku.

Jadi ingin ganti warga negara.

*scroll timeline*

Liat postingan Kak Ge, yang seneng banget tim putri bulutangkis INA menang kejuaraan Asia, aku sesak dan terharu. Bangga banget sama mereka, bangga banget merah-putih berkibar.

Aku ikut merasakan bangganya Kak Ge ke adik-adiknya. Huhu, panutan banget.

Tentang Pasangan dan Vonis Office Outbreak

Belakangan ini, tiba-tiba saya jadi ingin punya pasangan. Rasanya akan menyenangkan jika punya seseorang yang bisa saya cintai dan .. ia juga mencintai saya. Apa, ya, pemicunya? Saya juga masih menelusuri balik soal ini.

Mungkinkah saya akan menemukan seseorang yang mau menerima saya? Yang tanpa ragu dan canggung akan jadi "tempat pulang" dan tujuan hidup saya. Yang akan jadi objek utama surprise-surprise kecil maupun besar. Yang akan saya perdengarkan playlist lagu favorit dan rekomendasi tontonan, lalu jadi lawan bicara soal apa-apa saja: sisi gelap, abu-abu, dan terang kami. Yang saling menguatkan saat salah satunya lemah. Berbagi tawa, keringat, dan air mata bersama.

Entah pikiran saya akan semakin bising atau justru makin tenang karena dibagi, saya ingin mencobanya untuk tahu.

Rasanya, konsep pasangan seperti ini yang terbayang untuk sekarang. Terlalu serius, ya? Hahaha.

Saya open for discuss, kok. Saya sadar, untuk bisa jadi "tempat pulang" seseorang, saya pun juga harus memberikan apa yang saya bisa untuk membuatnya nyaman. Ini pekerjaan dua orang. Saya bertekad untuk terus belajar. So please, bear with me.

Btw, cukup omongan soal pasangan ini. Di tanggal 14 Februari lalu kami serumah tes PCR dan esok harinya keluar hasil: saya positif covid, ibu saya juga.

Alhamdulillah, ga ada gejala yang memberatkan.

Yang saya dan ibu rasakan, lebih ke gejala flu berat dengan batuk berdahak dan bersin yang keras, disertai sakit tenggorokan. Kerennya, dari kami berempat hanya adik saya yang beda sendiri. Dia negatif.

Alhamdulillah, kondisi ibu saya stabil dan tetap baik nafsu makannya. Aktivitas juga normal. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Story close friend, tapi malah diupload sini gimana sik.


Jujur saya ngga kaget ketika hasil saya keluar, meski tetap ada perasaan mencelos. Bagaimana engga, satu kantor dikonfirmasi positif semua dan kita semua kontak erat sehari-hari. Tinggal nunggu vonis aja ini mah, pikir saya. Office outbreak is really happening.

Meski begitu, kami tetep kerja dari tempat masing-masing. Bagi yang tumbang, istirahat 1-2 hari lalu kemudian join the forces, lanjut kerja lagi. Ga ada yang murni istirahat. Sad but true.

Dari kacamata karyawan, sebenernya kita bisa (dan harus) izin istirahat dan take the day(s) off for sure. Tapi, entah kami ini terlalu polos atau saking loyalnya, ga ada yang menuntut hal itu. Saya jadi kebawa juga. Jadi meragukan, hey, kamu beneran kuat atau mau izin ga kerja dulu aja? And I took the hard way, keep the working on.

Ada cerita lucu, si Tiara, yang perhatian ke semua orang, nanyain udah minum obat belum. Minum deh, itu obat dari kemenkes. Obat flu segala flu mulai dari flu burung, flu babi, influenza dan influencer.
"Ra, ini serius sekali minum 8 tablet?"
"Iya, Yaumillll. Hari pertama kita minum 16 tablet."
*emot senyum tapi menangys*

Baiklah, kata dokter Halodoc juga obat ini harus dihabiskan. Sekali mulai, kita ngga bisa mundur lagi. Sampai hari ini, dari total 40 butir, sisa 3 butir lagi untuk jadwal diminum sore. Hore.

Besok juga jadwal kami untuk PCR ulang dari puskesmas. Meski kalo nanti dideteksi masih positif, katanya udah ga di tahap menularkan lagi. Semoga, ya. Aku kangen jajan keluar, mau belajar bahasa isyarat di Sunyi dan menelusuri jejak DariHaltekeHalte. Itu cita-citaku loh kalo udah negatif. Hahaha.

Dan, hari ini aku bandel udah jajan es kopi lagi. :p

Rabu, 19 Januari 2022

Kayak di Film-Film

Kemarin sore, adikku jadi korban maling di kereta. Tasnya yang isi laptop dan dompet, diambil sama orang dengan modus nuker tas.

Pagi tadi, waktu berangkat ke kantor, aku menyaksikan sendiri kejadian kemalingan ini di kereta yang aku naiki. Ada mas-mas muda yang lapor ke petugas kalau tasnya yang ditaruh di rak atas, hilang. Dia naik di Bekasi dan tasnya ketauan ga ada selepas di Kranji. Cuma beda satu stasiun doang.

Heboh, lah. Ada mba-mba yang ga sengaja mergokin si maling waktu nuker tas, cuma dia mana tau kan kalo itu tas orang, bukan tas si maling. Ada bapak-bapak yang ngakunya penyidik malah ngetawain, nyalahin si mas-mas korban karena keasikan nunduk main hp dan ga waspada sama barangnya sendiri.

Wah, ngeliatnya aku kesel banget. Yang salah ya si maling lah, kenapa diwajarkan dan dibalikin jadi tanggungjawab korban?

Ini kejadian udah seriiiiing banget terjadi di kereta, tapi ga ada tindakan apa kek dari tim KRL untuk mencegah ini terjadi lagi. Semalem waktu aku laporan ke email care-nya KRL, malah cuma diimbau untuk penumpang (korban) untuk jaga barangnya masing-masing.

Lah, terus si pelaku ga ditindak gitu? Biarin aja lepas dan berkembangbiak di perkeretaan?

Pak, coba loh itu dipasang CCTV di rak atas. Jadi kalo ada laporan gini lagi, bisa dilacak siapa pelakunya. Terus sebar itu muka maling di stasiun-stasiun, kalo ketemu langsung tangkep!

Kayak di film-film gitu, loh, Pak. Canggih, pinter, keren, bertanggungjawab sama keamanan pengguna transportasi massal.

We're going there, darl

just wait