Sabtu ini dia berulang tahun. Sejak masuk bulannya, gue udah ngebayangin akan ngajak dia jalan bareng, nyicipin kuliner hidden gem rekomendasi #darihaltekehalte, lanjut jalan kaki menyusuri kota, menuju ke taman dengan perpustakaan umum luar ruangan. Di penghujung hari saat kita berpisah ke tempat tinggal masing-masing, gue akan menyerahkan kotak hadiah yang udah seharian gue bawa-bawa dalam tas. A surprise birthday trip.
What a romantic plan, huh?
Instead, gue malah ngajak Ali dan Fathmah untuk ketemuan di hari Sabtunya. Nyali gue belum cukup kuat untuk mewujudkan itu semua. Rencana yang sebegitu manis dan romantis hanya bisa terjadi di kepala, karena memang interaksi kami biasa-biasa aja.
The truth is, it would be your special day and I wanna be the special person to spent the day with. Yet, I ain't special.
Plan B.
Gue kirim aja hadiahnya lewat pos. With a lil note, as a thankful word for being a good, nice, and fun friend to share the same interests with. Sukur-sukur pas Minggu dia ngajak ketemuan, dan gue tetap bisa menjalankan that surprise birthday trip for him. Haha.
Kebiasaan ini udah berlangsung beberapa kali. Ketika gue membayangkan melakukan hal-hal manis dan membuat orang yang menerimanya kehabisan kata-kata saking senangnya. Padahal in real life gue dan si subjek ini ga sedekat itu, kami cuma temen biasa. Padahal tujuan utamanya adalah memuaskan diri gue sendiri akan fantasi dan romantisasi dari sebuah surprise.
Padahal ga semua orang suka dengan surprise, makanya gue takut segala printilan rencana itu akan bikin dia menduga yang engga-engga, lalu menimbulkan awkward dan menjauhkan jarak kita yang memang ga sebegitu dekatnya.
Tapi... rencanamu ini kan ga merugikan siapapun? No hard feeling attached, tho?