Ada perasaan yang janggal di tanggal 1 Syawal kali ini. Belum ada 24 jam jarak dari hari terakhir Ramadhan, tapi rasanya jauh sekali untuk bisa ketemu Ramadhan berikutnya. :'(
Dibanding tahun sebelumnya, alhamdulillah lebaran kali ini kondisi mamake jauh lebih sehat. Meski ga satu bulan penuh puasa, tapi mamake bisa beraktivitas lebih banyak. Ada gulai daging dan sambel goreng kentang hasil masakannya, ga kayak tahun lalu yang harus pesen ke tetangga demi hidangan khas lebaran.
Ini kedua kalinya kami ga lebaran di kampung. Jujur gue ga ngerasa begitu kehilangan, yaah ada beberapa momen sedih karena lama ga bisa nengokin makam Bapak. Tapi gue tau mamake pasti lebih sedih lagi. Kepulangan tiap lebaran adalah ritual yang ga ada gantinya buat belio. Semua keluarganya ada di sana, adik kakak keponakan, bu Haji siapa-siapa, karena memang di sana mamake menjalani masa kecil dan sebagian hidupnya.
Ada lebih banyak momen yang terlewatkan bagi mamake, yang entah kapan akan bisa belio penuhi gantinya. Pandemik yang masih belum jelas kapan berakhirnya bikin gue takut kehilangan waktu. Semoga situasi ini segera berlalu dan mamake dalam kondisi sehat selalu kedepannya.
Semoga kita masih bisa mengganti perjalanan yang belum sempat kita turuti sejak tahun lalu. Sehat terus, Ma. Mudah-mudahan Ramadhan berikutnya bisa full satu bulan penuh puasa.
Hai!
Kali ini gue mau nulis resensi buku. Cekidot, Gan...
Judul: Minggu Bersama Ibu
Penulis: Ya Umil
Penerbit: Ruang Contoh
Minggu Bersama Ibu
Buku terbitan #RuangContoh ini berkisah tentang kegiatan si penulis yang menghabiskan hari Minggu di rumah bersama Ibu. Dengan pilihan sudut pandang orang pertama, gue sebagai pembaca jadi seolah ikut mengalami sendiri kejadian di buku ini. Kerasa nyata banget sama kehidupan sehari-hari. Tokoh ceritanya pun minimalis, cuma dia dan sang Ibu. :)
Alur cerita yang dipilih sederhana banget. Semua berawal dari pisang-pisang hasil sang Ibu ikut pengajian di mesjid deket rumahnya di Bekasi. Si penulis kasian sama pisang-pisang itu, karena udah beberapa hari sampai kulitnya kecoklatan masih ga termakan juga. Daripada mubazir, penulis berpikir untuk mengolahnya jadi kue bolu pisang.
Dimulailah eksperimennya di dapur bersama Ibu. Setelah browsing resep kue bolu pisang, pilihannya jatuh ke resep Cake pisang yang hanya memakai 5 bahan saja! Waw, gue jadi tertarik mau bikin juga. :D
Konflik pertama muncul di sini, karena ternyata di rumah ga ada mentega. Mau beli ke pasar, tapi males. Wah, sama nih kayak gue suka males jalan. Hahah.
Setelah riset kecil, akhirnya si penulis mengganti penggunaan mentega dengan minyak goreng. Tak ada mentega, minyak goreng pun jadi! Gue jadi dapet pengetahuan baru. Good.. :D
Dengan telaten dan sepenuh hati, dimulailah prosesi pembuatan bolu pisang. Setiap langkah dilakukan sesuai tuntunan resep supaya menghasilkan bolu pisang yang mengembang sempurna. Dibawah pengawasan Ibu, akhirnya adonan bolu jadi dan siap dipanggang.
Proses pemanggangan diceritakan ga kalah sakral dari proses mengadon. Mulai dari masuk oven Bima Jaya made in Bandung sampai menunggu kematangan sempurna, digambarkan seperti menanti kelahiran oleh si penulis. Wuih, gue yang ngebaca jadi merasa ikut berperan dalam kelahiran si bolu. :)
Setiap 5 menit, dengan antusias dia intip keadaan si bolu dalam Bima Jaya. Waktu pemanggangan dalam resep yang cuma 40 menit, dia gambarkan seperti seabad lamanya. Detik terasa berjalan lambat sekali..
Ini detik-detik penantian si bolu, diambil dari akun IG si penulis :>
Hingga akhirnya wangi bolu pisang mulai tercium. Permukaan bolu terlihat mengering. Tapi justru disitulah muncul konflik baru. Bolunya ga mengembang. Si penulis mikir, ini apa yang salah sampai ga ngembang?
Disentuh-sentuh empuk sih permukaannya, meski bantet. Dia cerita lagi, di tengah kebingungan itu dia icip dan rasanya.. Lembut.. Lembut dan wangi pisang..
Gawaat.. Gue jadi pingin nyoba bikin beneraaaan.. Hahaha
Meski berhasil lumayan sukses bikin bolu, tetep aja ada konflik baru yang ditemui penulis. Bolunya ga kerasa udah mau abis. Padahal dia berniat untuk bagi-bagi bolu itu ke temen-temennya besok. Yah, gue mau komentar gimana ya. Dari ceritanya aja terlihat maknyus banget itu bolu pisang. Ga heran tau-tau abis tak bersisa. :D
Dari judul bukunya, gue rasa si penulis ini terinspirasi banget sama 'Sabtu Bersama Bapak' karangan Adhitya Mulya. Semacam ingin melengkapi mungkin, Sabtu bersama Bapak-Minggu bersama Ibu. Intinya weekend bareng keluarga, yeah! Hahaha.
Gue ga nyesel baca buku ini. Recommended, Gan! (y)
Sabtu pagi, ibu menelpon anak bungsunya yang sedang kuliah di luar kota. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. Karena masih pagi, yasudah, ibu melanjutkan aktivitas seperti biasa. Bersih-bersih rumah, ke pasar, memasak, mencuci.
Tengah hari, selepas makan siang, ibu mencoba menelpon kembali anak bungsunya. Anak bungsu baru mengalami operasi, operasi cabut gigi yang baru tumbuh, mungkin ibu ingin mengetahui perkembangan pasca operasi anak bungsunya. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. Ibu mulai heran, ada apa hingga anak bungsunya tidak bisa dihubungi.
Ibu mencari tau kesana-kemari. Bertanya ke saudara-saudara yang tinggal dekat kota anak bungsunya pergi kuliah. Mencari tau nomor telpon kosannya, mencari tau nomor telpon teman anak bungsunya, minta tolong saudaranya untuk menengok, semua ibu lakukan untuk mengetahui kabar anak bungsunya.
Sore hari, ibu mencoba menelpon kembali anak bungsunya. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. The destination number is not answered, katanya. Hanya pesan suara yang membalas telpon ibu, 'Tinggalkan pesan setelah bunyi tuut..', katanya. Ibu mulai resah, sebenarnya ibu sudah resah sejak siang tadi, tapi baru menunjukkan keresahannya sore hari.
'Kenapa ya ditelpon dari pagi ga diangkat-angkat?'
'Kenapa nih anak?', ibu bertanya-tanya.
Anak tengah yang sudah terbiasa menyaksikan keresahan ibu hanya menanggapi dengan kalem, 'Paling lagi ikut UKM.'
Bujukan anak tengah yang kurang usahanya membujuk agar ibu tenang pun gagal. Ibu masih resah menunggu kabar anak bungsunya. Takut ada apa-apa. Melihat keresahan ibu, anak tengah mulai agak serius menanggapi. Ya, namanya firasat ibu, kan, peka sekali. Meski begitu sebenarnya anak tengah punya teori sendiri tentang hilangnya kabar anak bungsu. Ya itu tadi, ikut UKM. Heheh
Malam pun tiba, ibu mencoba menelpon kembali anak bungsunya. Berkali-kali ditelpon, tidak juga diangkat. Teori anak tengah mulai diragukan ibu. 'Masa dari pagi ditelpon ga diangkat juga. Kalo ikut UKM, masa sampe malem belum selesai juga', katanya. Keresahan ibu makin menjadi. Rencana ibu ikut pengajian esok subuh di Kwitang hampir dibatalkan. Ibu ingin stand by menanti kabar anak bungsu, takut kenapa-kenapa, katanya.
Untungnya pembatalan itu hanya emosi sesaat. Berkat usaha ibu sejak siang hari mencari kabar anak bungsunya, akhirnya didapatlah nomor telpon kosan anak bungsu. Ibu langsung menghubunginya. Dari pesan yang diterima, dikabarkan bahwa anak bungsu sedang ikut pelatihan Menwa. Ini diketahui dari seragam ijo-ijo yang dipakainya waktu meninggalkan kosan pagi buta.
Teori anak tengah terbukti benar. Ibu berangsur tenang. Resahnya hilang. Rencana ibu ikut pengajian subuh di Kwitang sepertinya akan terlaksana. Anak tengah kalem saja, sudah menduga penantian ibu akan berakhir melegakan seperti ini. Ibu saja yang terlalu khawatir.
Saat ini ibu sudah berangkat mengaji. Anak tengah tidak ikut karena akan kondangan. Dia yang baru bangun tidur langsung solat subuh. Sekarang diketahui sedang bermain internet sambil menunggu pagi.
Suatu hari ketika lagi di rumah, tiba-tiba ibuku nawarin gw bikin bolu. Hah? Tumben ibuku nawarin bikin bolu, biasanya nawarin bikin indomie. Gw bingung, kaget, terkejut, tapi senang. Karena seinget gw, terakhir kalinya ibuku bikin bolu itu sebelum negara api menyerang. Sudah lamaaaa.. sekali. Tapi yasudahlah, karena suka kue gw terima tawaran ibuku untuk membuat bolu bersama.
Kami pun memutuskan untuk membuat kue bolu pandan. Tapi resep bolu pandan andalan ibuku hilang entah kemana, mungkin dirampas negara api. Maka gw browsing resep di Google saja. Maunya resep yang gampang dan ga banyak bahannya, dan ketemulah resep ini:
Campur semua bahan jadi satu. Hahaha. *Cek link-nya aja biar jelas. :P
Pas lagi mengadon itu, ibuku ga punya baking powder. Terus ibuku berkata, "Kata Bude (kakak ibuku) TBM bisa nih dipake buat ganti baking powder". Oh, begitu ya. Sebagai wujud salah satu bakti gw kepada ibuku, gw nurut aja masukin TBM sebagai pengganti baking powder. Selain itu, Bude gw juga pinter bikin kue. Makin percayalah gw.
Setelah adonan jadi, siaplah untuk dipanggang. Lalu gw melihatnya.. makhluk gagah dari logam itu, yang menjadi alasan ibuku ngajak gw bikin bolu. Oh, ternyata ibuku baru dapet arisan ibu-ibu RT, lalu uangnya dipake beli oven baru. Yah, maklum saja oven lama ibuku sudah keropos. Gw sebagai anak ikut senang dengan kehadiran oven baru ibuku.
Hasil panggangan pertama itu, bolunya bantet dan keras, persis kayak bolu kering. Bahkan diketuk bisa bunyi tukutuk..
Gw curiga ini karena ga pake baking powder, atau karena loyang cetakannya yang kebesaran, maka kuenya jadi pendek sekali. Sementara oven dalam keadaan panas sekali, jadi cepat matang tapi keras begitu. Rasanya juga manis banget (kayaknya kebanyakan SKM). Karena ga laris dimakan di rumah, sisa kue itu gw bawa ke kampus esok harinya. Gw bujuk teman-teman untuk nyicip kue itu, mereka sih seneng-seneng aja dapet kue. Hahahah. Terus gw tanyain komentarnya, kurang apa? Kalo kata Anis, ini kue kurang lama pas ngocok telurnya, jadi ga ngembang. Oke, gw ingat itu baik-baik.
Kemudian minggu kemarin gw pulang lagi. Kali ini gw yang mengajak ibuku bikin bolu, tapi dengan resep berbeda. Resep ini diambil dari Hesti's kitchen, blog masakan favorit gw. Akhirnya gw bisa juga nyoba langsung salah satu resepnya, ga lagi cuma memandangi fotonya dengan ingin.
Bolu pandan kali ini, ga bantet lagi. Sukses mengembang. Selain karena pake baking powder, gw juga ngocoknya lamaa.. sampe pucat mengembang. Bukan gw yang mengembang, adonannya. Dan bikinnya dua kali resep, ga cuma satu, jadi mbesaaar. Gw bawa lagi kue ini ke kampus.. dan teman-teman terlihat senang sekali, mereka sampe ngajak salaman! Hahaha. Mereka sebenernya senang karena dapet kue, dan maksud salaman itu karena ga makan kue bantet lagi. :P
bolu pandan
Sudah dua resep bolu pandan yang gw bikin, tapi belum menemukan rasa bolu pandan yang gw kenal dulu. Rasa itu.. rasa bolu pandan resep andalan ibuku yang hilang..