Jumat, 20 Juli 2018

Cerita Lebaran: Kematian yang Indah

Di kampung kecil ini, banyak kudengar kisah tentang para sepuh yang menutup hidup dengan indah. Lebaran hari ke-3, bendera putih dipasang di depan salah satu rumah. Pertanda duka. Seorang warganya (Mbah Parman) meninggal kemarin malam.

Lebaran hari pertama, Mbah Parman masih menerima tamu di rumahnya. Termasuk aku. Dengan sisa-sisa ingatan yang dipunya, beliau bercerita kepada para tamunya. Tentang anaknya yang berjumlah tiga belas, dengan hanya satu putri, sisanya putra sejumlah dua belas.

Ia selalu bercerita, tentang anaknya yang selalu lupa urutan berapa. "Kowe anakku sing nomer piro, yo? Sanga? Sedoso?"

Yang dijawab anaknya, "Aku anak ke sepuluh, Bu."

Yang masih kuingat sosoknya dengan atasan mukena putih waktu silaturahmi kemarin, tapi esok malamnya sudah pergi duluan.

Saat itu magrib di hari ke-2 lebaran, beliau siap-siap sembahyang di rumah. Karena tempat solatnya penuh, beliau duduk menunggu giliran. Sembari menunggu, tiba-tiba beliau tidur. Hilang kesadaran. Hingga kemudian berpulang. Begitu cerita yang kudengar dari bulek.

Esok paginya, kursi-kursi berjajar di halaman rumah Mbah Parman. Beberapa sudah terisi oleh pelayat dari tetangga sekitar rumah, yang datang untuk "ngormati" dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya salah seorang dari warga sepuh gang masjid. Walau tanpa hubungan darah, semua yang datang sukarela ikut mengurus, menyolati, hingga selesai proses pemakaman.