Tampilkan postingan dengan label daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daily. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2023

Gusar

Kelamaan #wfh, jiwa introvert-ku semakin menjadi-jadi.

Kasian Dicko, dia selalu kena jutek dan judesnya gue di setiap pulang kerja. Padahal dia hanya menjadi dirinya sendiri yang bawel dan ga jelas. Tapi itu bukan alasan untuk dia pantas dijutekin, sih. Soalnya, kalo sama yang lain, responnya fine-fine aja. Karena itu, gue jadi gusar sendiri. Sebenernya apa sih yang bikin gue ga bisa ramah dan zen saat interaksi dengan orang lain?


Ehiya, btw tadi gue dapet driver grab seorang Sir Henry Dunan! Terdengar familiar. Setelah googling baru deh gue ngeh kalo namanya diambil dari nama Bapak Palang Merah Sedunia.

Bersiasat

Sulitnya jadi pedagang kecil. Kalo ga punya tempat, harus keliling sampe dagangan habis. Kalo udah nyewa tempat, harus jor-joran nawarin orang-orang, atau buka channel online, biar dapet pelanggan dan usahanya jalan.


Setiap berangkat ke kantor, gue sering nemu ada usaha baru yang buka deket rumah. Mulai dari warung mie ayam, bakso, warung nasi, sayur segar, sablon jaket, es kelapa, sampe tukang fotokopi.


Namanya di pinggir jalan, semua rumah tetangga udah alih fungsi jadi tempat usaha. Dinamis banget. Kadang baru satu bulan udah ganti jenis. Mie ayam depan rumah baru aja pindah ke ruko samping, yang sebelumnya diisi sama pedagang telur dan barang kelontong.


Secara lokasi memang strategis, tapi sering juga gue liat tempatnya sepi, terus ga lama tutup. Yang bisa gue bantu adalah beli dagangannya dikit-dikit. Meski ga banyak, tapi gue harap bisa jadi pemasukan mereka di hari itu.

Kamis, 02 Desember 2021

wiken plan

plan a:
  1. renang di galaxy
  2. nonton seperti dendam
  3. groceries shopping
  4. chill and streaming (100% manusia/jaff/youtube)

plan b:
  1. footurama hopping
  2. pos bloc patjarmerah
  3. bungkus dapurempa
  4. jajan tomaple
plan c:
  1. renang bareng anggi
  2. footurama hopping
  3. pos bloc patjarmerah
  4. tomaple

*merenungi hidupku yang dari wiken ke wiken

Selasa, 11 Mei 2021

Ramadan Hari ke-29

Tiba-tiba Bapak ingin pergi ke Purwokerto, sehari saja besoknya pulang. Aku sih ayo-ayo aja, siap berangkat kapanpun Bapak dan keluarga yang lain siap. Anehnya, belakangan baru ketahuan kalau cuma aku yang akan menemani Bapak ke sana. Ditambah lagi, durasi perjalanan ternyata tiga hari (pokoknya menghabiskan jatah libur lebaran).

Kagetlah aku. Kok yang lain ga ikut? Amal cuma nganter sambil bawain barang. Mama cuma nyiapin baju-baju ganti. Irul ga keliatan sosoknya. Karena kaget, aku agak panik dan bilang kalo masih ada pekerjaan kantor (at least bisa koordinasi dulu), sambil sibuk packing baju tambahan.

Bapak di mimpiku semalam, dia diam saja. Potongan rambutnya cepak, nyaris botak, dan bulat dihiasi uban. Memakai jaket krem khasnya dengan lengan terlipat, yang biasa ia pakai kalau sedang dalam perjalanan jauh. Bapak diam saja. Kami jalan bareng menuju stasiun/terminal/tempat sewa mobil(?), tapi Bapak hanya menunduk. Tidak ada tatap.

Ini tahun kesepuluh sejak Bapak meninggal 2011 lalu. Juga tahun ketiga sejak kami sekeluarga tidak bisa pulang dan mengunjungi makam Bapak.

Pak, entah kenapa kok aku mimpiin Bapak, ya?

Senin, 08 Februari 2021

Bun, aku masih tak mengerti banyak hal

Saat aku mendengar lagu ini, aku merasakan sekali pedihnya menjadi orang dewasa yang kesepian. Yang mencari-cari bunda, berharap menemukan nyaman dalam dekapnya. Yang ingin tetap disayang, walau bukan juara.

Sabtu, 04 Juli 2020

Jangan Datang Dulu

Belum pernah saya merasa sekalut ini. Saking kalutnya, saya ingin menahan tanggal 5 Juli agar jangan datang dulu. Tunggu sebentar saja.. saya tidak ingin melaluinya secepat ini.

Jumat, 26 Juni 2020

Mengenang Pak Gupak

Gunanto atau yang lebih sering dipanggil Gupak adalah ayahnya Arifin. Mereka sepasang ayah-anak yang diangkat kesehariannya dalam film Negeri di Bawah Kabut (2011).

Tanggal 19 Juni kemarin Pak Gupak meninggal. Jujur, meski cuma dari film dan ga kenal beliau langsung, tapi rasanya sedih mendengar kabar duka ini.

Pak Gupak yang pekerja keras dan sayang keluarga. Terbayang bagaimana dulu beliau mengusahakan kelanjutan sekolah Arifin walau pusing menyiapkan biayanya.

Pak Gupak yang walau keliatannya cuek dan jarang menunjukkan perasaannya, tapi nangis waktu ditinggal Arifin masuk pesantren.

Pak Gupak yang ... yang meski saya cuma tahu dari film, terus mendukung pendidikan anaknya meski beliau sendiri ga sempat bersekolah.

Innalillahi wa innailaihi roji'un. Selamat beristirahat, Pak Gupak. Kerjamu sudah selesai. 🙏






Jumat, 19 Juni 2020

kenapa berusaha terlalu keras rasanya tidak keren?

berusaha terlalu keras, repot-repot mengurusi banyak hal demi kepentingan orang banyak, dan kedua hal itu diketahui orang-orang, kenapa rasanya malah jadi tidak keren, ya? padahal tidak ada yang salah dengan hal ini dan dalam kenyataannya saya berterimakasih kepada yang mau repot-repot begitu.

di kantor saya, ada seorang rekan yang dengan sukarela menjadi penghubung antara para pengambil keputusan dan kami (kroco-kroco yang malas berhubungan langsung dengan petinggi). biasanya hal yang diurus adalah masalah administrasi seperti absen dan ketentuan kalo kami ingin kerja remote, atau bisa juga keluhan-keluhan kami yang tidak mau nurut dengan peraturan baru.

mungkin ini perasaan saya saja yang usil, tapi jelas saya tidak mau ada di posisi rekan itu yang menjadi pengurus kepentingan dua belah pihak, karena selain repot rasanya juga tidak ada keren-kerennya mengurusi hal tersebut. belum lagi kalau ada miskom dan pertanyaan yang ada-ada saja.

sekarang, saya sedang mengerjakan projek dari anak perusahaan lain sambil tetap diam di rumah. bekerja remote dengan orang-orang baru yang belum pernah saya temui langsung, komunikasi kami hanya sebatas chat wa dan concall. entah mengapa, saya merasa ada di posisi rekan saya yang dari tadi kita bicarakan sejak awal tulisan ini. saya yang harus inisiatif melaporkan progres kerjaan saya, di saat tidak ada yang meminta, di saat tidak ada yang langsung menanggapi progress yang saya laporkan, meski lingkarannya hanya satu tim di grup wa.

saya tidak merasa keren, karena saya yang harus berusaha duluan. aduh, ini sih benar-benar hanya rengekan saja karena biasanya saya yang ditagih, ditanyakan pendapatnya, dan sekarang lain.

bagaimanapun, daripada saya terlalu banyak berasumsi, sebenarnya lebih baik diutarakan saja toh? kebingungan saya soal komunikasi antar tim, yang sebenarnya selow dan santuy, tapi kalo tidak ditanggapi begini saya jadi merasa bertepuk sebelah tangan.

itu kegelisahan yang saya rasakan, sih. saya yang tidak keren.

tidak keren, tapi.. ini bukan hal yang buruk juga, ya.

Rabu, 01 Januari 2020

The Lonely Readers New Year's Eve

Sore kemarin (31/12), saya menghadiri sharing buku yang diadakan POST Bookshop, toko buku indipenden yang dikelola sepasang pecinta buku yang asik!

Awalnya saya berniat datang hanya untuk mendengar para lonely readers bercerita, sambil foto-foto dokumentasi. Saya ngga ingat tahun ini baca buku apa aja, saking jarangnya baca buku lagi. Buku-buku yang saya baca belakangan juga semua pinjaman dari Ucim. The Siblings-nya Lala Bohang, Orang-Orang Oetimu, dan kumpulan zine selfish. Terima kasih, Ucim.

Oke, kembali ke acara sharing. Teman-teman yang datang kemarin adalah dewa membaca, anggota klub pecinta buku, dan penulis beneran. Banyak banget rekomendasi buku yang saya dapat, yang cukup memotivasi untuk rajin baca buku lagi. Perasaan yang mereka ceritakan saat membaca buku, antusiasme yang mereka bagi, sedikit-sedikit saya bisa merasakan juga. Kangen juga rasanya, untuk deg-degan membaca buku sampai halaman terakhir. Deg-degan karena belum rela kalau kebahagiaan ini akan berakhir.

Sebenarnya saya udah nyiapin jawaban. Kalau pun saya kena tembak sharing, saya akan menyebut Orang-Orang Oetimu sebagai buku yang paling berkesan di 2019. Saya suka banget sama alur ceritanya, yang mundur-mundur teratur, punya banyak plot, tapi saling terkait satu sama lain. Itu memikat sekali. Salah satu buku yang betah saya baca, hingga habis (selain karena ini buku pinjaman :p). Sedikit mengingatkan akan buku 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapear.

My last new year's eve was not lonely anymore. Selain terapi fotografi yang sukses membuat perasaan saya merasa baik, keramahan teman-teman kemarin juga membuat saya merasa diterima. Hangat rasanya, walau hari hujan.

Terima kasih banyak mas Teddy dan kak Maesy, juga teman-teman semua atas keramahannya. Atas cerita yang dibagi di penghujung hari. Selamat tahun baru! :)








Selasa, 10 September 2019

Hal-Hal yang Berkelebat Dalam Kepala: Bandung Trip

Akhir pekan kemarin saya datang ke acara diskusi dan peluncuran buku foto, di Bandung. Jauh-jauh datang semata karena impulsif ingin short escape, ingin berada dalam perjalanan di luar rutinitas kantor-rumah-rumah sakit, ingin simulasi solo trip, dan ingin melakukan saja apa yang mau saya lakukan. Menyenangkan, tapi tidak boleh sering-sering.

Tentang diskusi fotonya sendiri, it was great, berhasil memunculkan emosi yang macam-macam bagi saya pribadi. Seperti biasa, perasaan saya selalu campur aduk selepas menghadiri acara diskusi dan bertemu dengan banyak orang. Ada rasa sentimentil yang timbul ketika mendengar pemaparan dan kisah di balik pembuatan buku foto ini. Ada iri yang hangat, membayangkan perasaan yang tumbuh antara teh Grace dan keluarga Sabrina selama proses pemotretan. Juga keakraban yang sesaat, lewat interaksi yang singkat dengan orang-orang baru. Juga kehilangan yang menyertai, di setiap penghujung acara.

Sehabis mengalami luapan emosi yang beragam itu, yang diakhiri secara tiba-tiba, saya selalu seperti hilang pijakan. Tidak tahu mau ke mana, melakukan apa. Seperti butuh beberapa saat untuk diam dulu, meresapi pengalaman emosional yang drastis. Yang di sisi lain, justru di setiap akhir acara selalu saya tutup dengan bergegas pulang.

Lalu menyesal. Karena entah kapan lagi bisa bertemu dengan mereka-mereka yang mudah untuk dikagumi.

Selasa, 19 September 2017

Kerah Baju Kemeja Ayahku

Ibuku punya anak perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya lelaki semua. Aku tidak tau apa yang Ibuku pikirkan tentang aku sebagai satu-satunya gadis di antara ketiga anaknya yang tidak berkumis.

Ayahku (alm.) cuma punya anak perempuan satu, yaitu aku. Dua anaknya yang lain, lelaki semua. Aku tidak tau apa yang dipikirkan Ayahku tentang aku, satu-satunya anak yang tidak wajib solat jamaah di mesjid.

Abangku punya adik perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya adikku yang cuma satu dan ia lelaki. Aku tidak tau apa yang Abangku pikirkan tentang aku, adik perempuan satu-satunya yang sukanya keluyuran ke acara gratisan.

Adikku cuma punya satu kakak perempuan, yaitu aku. Sisanya adalah abangku, satu-satunya kakak lelaki yang ia punya. Aku tidak tau apa yang dipikirkan adikku tentang aku, satu-satunya kakak perempuan yang suka menyuruh-nyuruh ia. Karena ia juga satu-satunya yang bisa kusuruh.

Aku yang perempuan tapi lebih sering bergaya maskulin, terpengaruh peninggalan Ayah dan saudara-saudaraku.

Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.

Perasaan keren itu masih terbawa hingga kini. Kemeja kebesaran Ayahku kadang masih kupakai ke kantor. Semacam karakterku dalam berpakaian dan berpenampilan. Selain itu, aku juga jadi merasa punya semacam kedekatan dengan Ayahku kala mengenakannya.

Aku tidak tau berapa umur kemeja itu. Tapi semakin kukenakan, semakin tipis dan lembut ia. Apalagi kalau kau melihat kerah lehernya yang sudah mulai koyak.

Kini di setiap aku mengenakannya, ada semacam pemikiran yang mengganggu.
Sampai kapan ya aku bisa mengenakan kemeja ini?
Berapa kali pemakaian lagi?
Tidak bisa seterusnya, ya?
Sampai kapan ya, hingga saatnya aku harus mengistirahatkan kemeja ini? Seperti bendera pusaka yang kini tidak dikibarkan lagi, saking tua dan lapuknya lepas dicuci berkali-kali.

Aku jadi emosi sesaat kalau mengingatnya.

Belum lama ini aku mendengar lagunya Iksan Skuter yang berjudul Bapak. Cerita kami mirip, aku juga malu dan agak angkuh untuk mengakuinya, dan membayangkan Ayahku diam-diam menanyakan aku waktu dulu itu rasanya.. :'(

Di kemeja tua Ayahku itu, kamu bisa temukan ada inisial namanya yang ditulis dengan spidol hitam permanen, MAM tertulis di sana dan masih terbaca hingga kini. Satu dari sekian peninggalannya yang bisa membuat aku merasa dekat.

Sabtu, 16 September 2017

Tidur

Tidur adalah satu-satunya cara berhenti berpikir. Itu katamu pada suatu malam.

Memikirkan apa memang?

Macam-macam. Kebanyakan memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaanku.

Mengapa kau memikirkan hal semacam itu?

Tidak tau juga, semacam kebiasaan kurasa. Aku ingin berhenti berpikir demikian. Aku ingin berhenti berpikir soal apapun.

Kuberi tau ya, orang-orang yang kau pikirkan itu sebenernya sama sekali tidak ambil pusing soal kamu. Orang-orang yang kau pikirkan itu, sama sekali tidak memikirkan kamu. Bahkan mereka semua sama saja dengan kamu, sibuk memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaan mereka. Jadi, stop berpikir soal itu.

Kamu, memang kamu tidak pernah berpikir seperti itu?

Kalo aku sih, aku ya aku. Soal apa yang orang lain pikirkan mengenai aku, itu urusan mereka bukan urusanku. Ada hal lain yang lebih sering kupikirkan. Misal makan pagi besok aku mau makan apa ya? Baju untuk kondangan besok, aku akan memakai apa ya?
Hal-hal seperti itulah.

Kau tau, sebenarnya aku sedang mencoba berhenti untuk berpikir. Tapi semakin aku mencoba, malah semakin berpikir aku. Ada suatu saat ketika aku berhasil berhenti dari kegiatan berpikir, tapi setelah itu aku justru berpikir soal tindakanku yang tanpa pikiran itu. Seperti lingkaran setan.

Kau.. saranku sih kau cari pacar sana.

Hah, apa hubungannya?

Ya aku belum tau juga sih, karena aku belum pernah pacaran juga. Tapi kelihatannya orang yang punya pacar dan melakukan aktivitas pacaran tidak akan menyedihkan seperti kamu. Ya setidaknya mereka kurang punya waktu sendiri untuk memikirkan hal yang sering kau pikirkan itu.

Hei, lihat siapa yang ngomong. Aku tidak ingin menerima saran soal pacaran dari orang yang belum punya pacar juga.

Kuralat ucapanku barusan. Jangan cari pacar. Orang-orang seperti kita ini rasanya tidak cocok kalau pacaran. Ruang yang kita punya bahkan belum cukup untuk menampung diri kita sendiri, apalagi kalau mau ditambah keberadaan orang lain.

...

Bisa tidak ya aku melewati hari tanpa berpikir?

Kupikir kamu pasti bisa. Kamu pernah melakukannya, beberapa kali setauku.

Kapan ya itu?

Ya itu.. seperti ucapanmu yang mengawali percakapan kita ini. Kamu bisa berhenti berpikir ketika kamu sedang tertidur. Katamu kan, tidur adalah satu-satunya cara yang berhasil membuatmu berhenti berpikir.

Hm.. iya sih. Tapi selain itu, sebenarnya aku ingin melakukan aktivitas lain selain tidur. Rasanya sayang kalau malam yang panjang aku lewatkan hanya dengan tidur. Kadang otakku bisa berhasil memikirkan hal lain dan jadi melahirkan karya lain di malam hari tanpa tidur.

Dari pembelaanmu barusan, aku bisa menangkap sesuatu tentang kamu.

Apa?

Sebenarnya yang membuatmu terus-terusan berpikir itu adalah takut. Ketakutanmu akan sesuatu yang akan hilang, yang lepas karena kau biarkan lewat begitu saja tanpa kau pikir masak-masak. Sementara yang kau pikirkan adalah ketakutanmu, bukan caramu untuk menghadapi ketakutanmu itu.

Ucapanmu masuk akal.

Ya kan? Saranku sih, kita sering-sering melakukan hal ini. Kamu bicarakan saja apa-apa yang kamu pikirkan, aku akan dengar dan tanggapi dengan kebisaanku.

Akan kupertimbangkan saranmu.

Bagus. Setelah ini, kau mau apa?

Aku akan mencoba berhenti berpikir.

Caranya?

Tidur.

Sabtu, 09 September 2017

Menjadi Bapak-Bapak

Malam ini saya iseng berkunjung ke blog teman lama dan membaca postingannya yang berjudul mirip dengan apa yang saya tulis sekarang: Menuju Bapak-Bapak.

Kalau dia bercerita soal sedihnya ia karena belum siap dipanggil Bapak oleh orang yang juga kenalannya, maka.. saya bisa lebih sedih lagi, karena dipanggil Bapak oleh orang yang belum kenal dan lebih-lebih lagi saya bukan bapak-bapak.

Dengan alasan yang sama, atas nama pekerjaan dan belum pernah bertemu maka kita akan cenderung menggunakan sapaan yang sopan. Banyak yang mengira saya ini laki-laki mungkin karena melihat nama saya, "Yaumil" disangka "Jamil" atau memang ini nama yang agak bias gendernya? Saya juga tidak tahu, tidak ingin terlalu melabeli juga sebenarnya. :')

Perkara salah panggil ini sampai membuat saya mengupdate foto profil di email kantor. Padahal saya lebih suka untuk tetap misterius dan tidak mudah dikenali, tapi yah daripada membiarkan orang salah sebut terus kan?

Jadilah saya memasang gambar siluet ini:


Harapannya saya dikenali sebagai perempuan dan tidak dianggap bapak lagi.

Tapi..

Masih ada yang memanggil saya bapak. Meski dengan PP siluet wanita berkerudung. Lebih sedih lagi, karena saya dipanggil bapak oleh mbak-mbak yang masih satu kantor.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Catatn Acak: di Toko Buku

Siang ini saya jalan-jalan sendirian ke toko buku. Sudah lama rasanya tidak begini, saking lamanya  sampai lupa kapan terakhir kali.

Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.

Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.

Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.

Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.

Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.

Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?

Entah kenapa saya berpikir seperti ini.

Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?

*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"

Selasa, 08 Agustus 2017

Peninggalan Seseorang

Hi,

Saya orang yang baru kelimpahan barang bekas pemakaian kamu nih. Yah, namapun aset kantor kan, makenya gantian. Haha.

Kita benar-benar ga saling kenal, ga pernah ketemu, ga pernah berurusan langsung. Bahkan kamu pasti ga tau kalau ada saya di dunia ini. Monolog ini benar-benar satu arah, dari saya ke kamu sebagai tuan dari fasilitas ini sebelumnya.

Belum lama ini, saya melihat nama kamu dalam selembar kertas. Surat bukti serah-terima aset IT perusahaan. Dari kamu yang sudah tidak di sini, kepada saya yang baru beberapa bulan. Saya yang kepo dan tertarik dengan hal-hal kurang penting, malah fokus ke nama kamu sebagai pengguna sebelumnya.

Tanpa berpikir, saya cari nama kamu dalam mesin pencari yang katanya paling tahu sedunia. Ga banyak informasi tentang kamu dalam pencarian menggunakan nama asli. Cuma ada blog pribadi dan akun di media sosial khusus profesional, plus akun twitter yang kebanyakan isinya re-tweet dari cuitan orang-orang. *saya cuma liat sekilas sih

Tapi ada akun Instagram dengan nama samaran kamu. Dari sana saya tahu bahwa kamu, benar-benar seorang hipster yang nyeni. Dan saya yang mudah kagum, jadi agak-agak minder dengan peninggalan ini.

Selasa, 13 Juni 2017

Time Paradox dan Postingan Soal Harta

Kenapa waktu cepat sekali berlalu kalau di rumah?

Sementara kalau di kantor, rasanya lamaa berlalunya?

Ketika gue di rumah, Sabtu-Minggu kerasa cepet banget cuma dua hari. Sementara di kantor, rasanya lama betul gue menghabiskan waktu, dari Senin-Jumat. Beda tiga hari doang padahal. Men.

Terbuktilah kebenaran teori relativitas Einstein terhadap waktu.

Anyway, malam ini adalah malam ke-19 Ramadhan. Ga kerasa, udah 18 hari gue berpuasa dengan sahur minum air putih doang. Bukan apa-apa sih, kebetulan aja pas sahur itu gue ga ada keinginan untuk makan. Karena perut masih terasa ada isinya, jadi kalo gue makan sahur justru begah rasanya.

Jadi, gue cukupkan sahur dengan minum air putih. Itu sudah, cukup juga sih. Insya Allah.

Di malam ke-19 ini, Serpong distrik Cisauk hujan sejak menjelang magrib, sampai sekarang gue ngetik postingan ini. Tadi pun gue tarawih di kosan, karena hujan, dan teman-teman yang lain juga sepakat tarawih di kamar masing-masing. Ga apa-apa ya, at least tarawihnya jangan sampe ketinggalan aja. Sayang.

Sebenernya gue buka laptop ini berniat untuk bikin slide untuk sharetech Jumat nanti. Tapi, malah berakhir bikin postingan yang sedang kalian baca ini. :)))))

Ngomong-ngomong, barusan gue menemukan sesuatu yang bermanfaat. Apa tuh? Adalah cara menghitung zakat maal alias zakat harta. Bisa cek di cara menghitung zakat maal ya. :)

Setelah gue baca dari sumber di atas, ternyata dibalik penghitungan zakat yang sebenarnya ga rumit itu, sesungguhnya jumlah yang harus kita keluarkan itu dan jumlah yang bisa kita keluarkan itu ada takarannya, yang persentasenya itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan. Dan jumlah itu pun harus memenuhi nisab selama satu tahun dulu.

Lumayan lama juga ya, ditunggu satu tahun harta kita udah masuk nisab belum?
Tapi jatuhnya jadi ga memberatkan (IMHO). Sama sekali ga memberatkan (diulang 2x), karena persentasenya yang untuk satu tahun itu.

Jadi gaes, jangan sampe lupa bayar zakat ya! Karena zakat itu membersihkan harta kita, dari hak orang lain di dalamnya. Biar barokah dan berfaedah, sekalian bantu sesama juga. Karena juga, zakat itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan (diulang 3x).

Kalo bingung gimana bayar zakatnya, ke siapa? Sekarang di mall-mall udah ada stand yang nyediain info dari BAZNAS untuk zakat gitu kata seorang teman. Bahkan di situs ecommerce juga udah ada. Contohnya di mataharimall.com, ini kalo mau yang online. Tapi enakan ngasih langsung sih, lebih interaktif.. Kekekek.

Gitu deh. Woi, slide jangan lupa dibikin woi.

Ciao! :))))))

Selasa, 14 Maret 2017

Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.

Eh, kamu.

Udah lama ya kita ga ketemu. Ga ngobrol, ga saling ngomong, diem-dieman aja padahal selalu bareng. Meski begitu, saya ga akan menanyakan kabar. Saya tau kamu pasti bosan dengan pertanyaan basa-basi macam "apa kabar", dan malas juga membalasnya dengan jawaban standar. Kamu kan, sok-sokan istimewa padahal biasa juga.

Kamu, malam ini tiba-tiba merasa nostalgia. Abis ngeliat postingan si dia, yang ternyata masih konsisten menulis. Padahal kamu tau kegiatannya lebih banyak dari yang kamu biasa lakukan. Tapi dia masih tetap "senang menulis" dan punya waktu untuk main lagi. Lalu kamu gemas, ke dirimu sendiri.

Gemas. Karena bagaimanapun, semalas dan seenggan apapun kamu, rasa itu masih ada di situ. Ga pernah hilang dari jaman putih abu-abu dulu. Menipis iya, tertutup ketertarikan lain iya, tapi ga pernah hilang. Hampir mungkin, tapi untuk seutuhnya hilang, saya tau kamu ga akan bisa.

Malam ini, kamu mencoba melakukannya lagi. Beberapa kali memang kamu sempat memulai, tapi ga pernah selesai.

Kurang. rasanya kurang terus. Kurang kamu, kurang asik, kurang berbobot, kurang berisi, kurang-kurangin deh. Wokokok. Soalnya memang susah untuk ngerasa cukup, jadi mending kamu cukupkan aja. Gimana? Kekekekek.

Soalnya gini ya, yang terakhir kamu lakukan dengan senang itu di tahun 2016. Itu udah tahun kemarin, tiga bulan yang lalu. Jangan mentang-mentang resolusi 2016 kamu tercapai, terus ga dilanjut lagi di tahun ini. Ga istiqomah, ceunah..

Jadi, sok.. Hayu kita, kamu dan saya, bareng-bareng mulai lagi. Ga usah maksa, cuma ketika ada keinginan dan rasa senang, mari kita lakukan dengan percuma. Jangan ditunda-tunda, keburu rasanya hilang. Lalu kalo udah begitu, yang ada cuma waktu yang dipake untuk tidur. Terus kamu jadi gemas sendiri. Huft.

Oke?

Sesulit apapun, ketika kamu udah mulai, mari kita selesaikan. Catatan ini sebagai pengingat aja ya. Kalo lain kali kamu mau nyerah dan memilih tidur. Soalnya, kamu sendiri loh yang nulis ini.

Soalnya ya, kayak percuma gitu. Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.

Soalnya ya, biar ga jadi kampret.

Kamis, 29 Desember 2016

Meeting Suatu Sore

Kemarin sore saya ikut review meeting tugas akhir untuk anak-anak magang di kantor saya. Sepanjang jalannya meeting, banyak hal menarik yang saya dapat.

Bagaimana saya jadi nostalgia ketika ikut magang dulu.. yang waktu itu namanya PKL.

Bagaimana saya jadi nostalgia saat sidang tugas akhir dulu..

Bagaimana tingkah laku rekan yang lain saat review kemarin..

Bagaimana sistem yang dibuat anak-anak magang ini, yang bertujuan untuk mendukung jalannya bisnis di kantor..
dengan mempertimbangkan kebiasaan pengguna..
dengan team leader dan stakeholder lainnya..
bahwa pengguna ga bisa dipaksa untuk menggunakan sistem, kalo itu dirasa terlalu merepotkan justru akan jadi ga terpakai sistemnya. Sayang banget kalo ga terpakai. :(

Banyak ide-ide menarik juga.

Bagaimana teman saya, yang adalah senior anak-anak magang tadi aktif banget ngasih masukan dan tips ketika sidang.
Which is mereka satu almamater, jadi semua masukan tadi bener-bener based on pengalaman pribadinya.

Ketika urusan kantor ga melulu soal projek dan deadline, tapi ada human relationshipnya juga.

Ga tau ya, saya sih gampang terkesan aja dengan hal-hal semacam ini. :)