Rabu, 29 Maret 2023
Pameran Patah Hati
Minggu, 12 September 2021
show, don't tell
![]() |
| Click to read |
One Day One Trip is a collective project by Klise Bekasi, an analog photography club based in Bekasi.
In late 2019, we took a photo trip around Bekasi using the same type of film roll. There were five of us who tried to capture Bekasi as a city that has always been changed.
Kalimalang river became our first destination. At that time, along the river, a toll road was being built as a part of a national construction project called Becakayu. Which connects the border city to East Jakarta through Bekasi-Cawang-Kampung Melayu.
The next destination brings us to the oldest Buddhist temple in Bekasi, Klenteng Hok Lay Kiong. A historical building that has been cared for generations.
For a long time, the city development has been built quite often in Bekasi, particularly in the urban area. It does bring a major change for the neighbourhood and the people who live around.
Zine ini saya sertakan dalam pameran photobook JIPFEST 2021. Masih belum pasti akan ikut dipamerkan, karena ada proses seleksinya. Semoga ada kabar baik di bulan Oktober 🌼
Rabu, 19 Agustus 2020
It's been a while: a photobook discussion
Rasanya lama sekali, sejak terakhir saya duduk di luar, bertemu langsung dengan teman. Bicara, bergurau, mengutuki keadaan dan ketidakadilan yang tak habis-habisnya. Lalu membuka buku dan membalik lembar-lembarnya, menukar isi kepala, sambil sesekali memungut kertas (atau ponsel) yang jatuh dari sela-sela.
Sejenak, kondisi pandemi melebur jauh jadi latar belakang;
Sore itu kami berempat melingkar di halaman belakang Panna. Ada saya, Qolbee, Aldrin - the viral spiritual guy, dan mas Adit - a humble photobook collector, yang bergiliran membagi kisah buku foto pilihan masing-masing. Sebenarnya ada seorang lagi, Ply, tapi dia sibuk mondar-mandir.
Diawali oleh Qolbee yang membawa kami bersama-sama mengalami mati lampu di New York tahun 1965. Foto-foto hitam putih karya fotografer René Burri, berhasil mengabadikan gelapnya kota New York di masa itu dan chaos yang menyertainya; kelumpuhan tranportasi. Lanjut buku kedua, kami dibawa menyaksikan kehidupan orang-orang Roma (istilah lain dari Gipsi) dan kesederhanaannya yang tulus lewat jepretan Koudelka.
Bergantian mas Adit menghadirkan sosok poetic Rinko Kawauchi dan simbol surga-neraka dalam wujud pembakaran ladang. Juga pengalamannya menghadiri pameran foto di Jepang, tanpa penerjemah. Sambung-menyambung dengan Aldrin dan kekagumannya pada mas Erik Prasetya, The Banal Aesthetic, yang merekam suasana Jakarta di tahun 91-92.
Tiba giliran saya. Agent Orange karya Jefri Tarigan menghadirkan kisah korban senjata kimia dari perang Vietnam. Perang yang bahkan tidak didukung oleh masyarakat Amerika sendiri pada masa itu, tapi dampaknya masih terasa hingga sekarang mencapai tiga generasi. Perang yang tidak membawa apa-apa sama sekali, kecuali kerugian.
![]() |
| Panna Lab |
Sebuah topik dan pertemuan yang sangat-sangat menjadi oase di masa jaga jarak ini. Ada perenungan, sedikit pembahasan komposisi dan pandangan moral dalam memotret yang mengisi kepala kami, lebih-lebih bagi saya yang lama tidak berfotografi. Juga curhatan Aldrin yang ingin menjadi foto jurnalis dan viral dengan karyanya, bukan viral sebagai the spiritual guy. :')
Sejenak, saya lupa bahwa kondisi masih belum kembali ke suasana normal. Pandemi masih belum selesai. Sedih memang, tapi jangan memperparah situasi. Percaya saja, keadaan akan kembali ke masa yang jauh lebih baik lagi.
Selamat Hari Fotografi Dunia. :')
Kamis, 02 April 2020
36 x Zine dan Cerita Penggalangan Donasi
Di akhir project, semua hasil akan dikumpulkan dan dipamerin bareng. Semua ide project ini, kata kunci per hari, eksekusi pameran, sampai workshop nyuci film, mas Desta yang ngonsep. Keren, ya? Doski memang keren, sih. :D
Nah. Hasil dari ikutan @36x36project kemarin, saya bukukan dalam bentuk zine sederhana. Pertama kalinya nyoba nyetak sendiri nih. Ngeri-ngeri sedap, tapi menyenangkan.
Dari cetakan pertama ini, saya tau apa yang masih harus diimprove kedepannya. Pemilihan kertasnya perlu dipertimbangkan lagi, harus coba jenis kertas lain supaya lebih oke. Untung ga cetak banyak-banyak. Hehe.
Selesai dari percetakan, saya bingung zine ini mau diapakan. Sayang kalau cuma numpuk gitu aja. Mau dijual tapi
Jadinya, saya mau bagi-bagikan zine ini, ke siapa pun yang mau. Syaratnya: harus ditebus.
Cukup donasi Rp100.000 plus biaya kirim. Uangnya bukan untuk saya cetak zine lagi. Nanti hasil yang terkumpul akan disalurkan ke penggalangan dana untuk membantu warga terdampakk Covid-19 di kitabisa.com.
Dari lima zine yang saya tawarkan lewat IG dan Twitter minggu lalu, baru ada satu yang ditebus (terima kasih, bang Khalid!). Susah juga ternyata menggalang dana. Padahal targetnya udah ga banyak, tapi memang exposurenya dikit juga sih. Perkiraan soal teman-teman yang saya incar untuk donasi, juga meleset. 😅







