Kalo ga salah ingat, pertama kali saya menangisi orang lain itu waktu kelas satu SMP. Saat itu, kakek saya yang tinggal satu-satunya meninggal. Pengenalan emosi saya masih belum baik. Entah memang sedih karena ditinggal atau sadar saya tidak punya kakek-nenek lagi, yang jelas itu tangisan pertama yang saya ingat akibat kepergian orang lain.
Peristiwa lainnya di tahun 2011, kali ini bapak meninggal. Saya ingat waktu itu sedang di angkot, dalam perjalanan menuju terminal Baraniangsiang. Beberapa saat sebelumnya ibu saya mengirim pesan kalau bapak masuk rumah sakit, cepat pulang.
Belum setengah perjalanan, bapak sudah berpulang duluan.
Sambil menatap jendela angkot, terbayang beberapa hari sebelumnya saat saya pamit ke Bogor untuk masuk kuliah lagi. Bapak bertanya, "Kapan pulang lagi, Mil?". Itu terakhir kali saya mencium tangan bapak.
Saya nahan nangis. Perjalanan ke rumah masih panjang, tapi sesampainya di sana tangisan saya malah ga keluar. Suasana ramai dengan orang melawat dan kesibukan lainnya mengurus pemakaman.
...
Pagi ini, Pak Sapardi meninggal. Innalillahi, kepergian yang mendadak. Apa dasar sayanya saja, ya, yang tidak update kondisi beliau akhir-akhir ini? :'(
Ada banyak alasan seseorang menangisi kepergian orang lain. Berbeda dari kabar duka sebelumnya, kali ini saya sulit mengenali perasaan sedih akibat ditinggal Pak Sapardi. Meski begitu, tidak perlu alasan khusus untuk menangis karena rasanya memang sebegitu sesak.
Mengenang beliau, saya mencari tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan. Ah sial, tak satu pun kumpulan puisinya saya simpan. Beruntung saya menemukan buku yang beliau tulis sebagai apresiasi puisi bagi sastrawan lain. Pembatas bukunya bertuliskan puisi Pada Suatu Hari Nanti, yang lewat larik-lariknya seakan menenangkan bahwa beliau akan tetap dapat ditemui keberadaannya hingga kapanpun,
...
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
...
(1991)
Selamat jalan, Pak Sapardi..
Yang fana adalah waktu, karyamu abadi..
