Adakah orang yang meninggal karena rindu?
Rindu pada-Nya?
Rabu, 27 Desember 2017
Rabu, 29 November 2017
Tentang Nicholas dan Tatsuo dalam Satu Polling
Dan.. kenapa anak-cucu?
Yha, saranku sih baca artikelnya aja biar ga bingung. :')
Klik link ini untuk membaca artikelnya, yhaaa..
Terima kasih, aku sayang kalian!
*postingan ini mengandung click-bait. Nama-nama di atas penulis catut tanpa bermaksud apa-apa, hanya untuk menambah semangat. Ehe.
Selasa, 19 September 2017
Kerah Baju Kemeja Ayahku
Ibuku punya anak perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya lelaki semua. Aku tidak tau apa yang Ibuku pikirkan tentang aku sebagai satu-satunya gadis di antara ketiga anaknya yang tidak berkumis.
Ayahku (alm.) cuma punya anak perempuan satu, yaitu aku. Dua anaknya yang lain, lelaki semua. Aku tidak tau apa yang dipikirkan Ayahku tentang aku, satu-satunya anak yang tidak wajib solat jamaah di mesjid.
Abangku punya adik perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya adikku yang cuma satu dan ia lelaki. Aku tidak tau apa yang Abangku pikirkan tentang aku, adik perempuan satu-satunya yang sukanya keluyuran ke acara gratisan.
Adikku cuma punya satu kakak perempuan, yaitu aku. Sisanya adalah abangku, satu-satunya kakak lelaki yang ia punya. Aku tidak tau apa yang dipikirkan adikku tentang aku, satu-satunya kakak perempuan yang suka menyuruh-nyuruh ia. Karena ia juga satu-satunya yang bisa kusuruh.
Aku yang perempuan tapi lebih sering bergaya maskulin, terpengaruh peninggalan Ayah dan saudara-saudaraku.
Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.
Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.
Perasaan keren itu masih terbawa hingga kini. Kemeja kebesaran Ayahku kadang masih kupakai ke kantor. Semacam karakterku dalam berpakaian dan berpenampilan. Selain itu, aku juga jadi merasa punya semacam kedekatan dengan Ayahku kala mengenakannya.
Aku tidak tau berapa umur kemeja itu. Tapi semakin kukenakan, semakin tipis dan lembut ia. Apalagi kalau kau melihat kerah lehernya yang sudah mulai koyak.
Kini di setiap aku mengenakannya, ada semacam pemikiran yang mengganggu.
Sampai kapan ya aku bisa mengenakan kemeja ini?
Berapa kali pemakaian lagi?
Berapa kali pemakaian lagi?
Tidak bisa seterusnya, ya?
Sampai kapan ya, hingga saatnya aku harus mengistirahatkan kemeja ini? Seperti bendera pusaka yang kini tidak dikibarkan lagi, saking tua dan lapuknya lepas dicuci berkali-kali.
Aku jadi emosi sesaat kalau mengingatnya.
Belum lama ini aku mendengar lagunya Iksan Skuter yang berjudul Bapak. Cerita kami mirip, aku juga malu dan agak angkuh untuk mengakuinya, dan membayangkan Ayahku diam-diam menanyakan aku waktu dulu itu rasanya.. :'(
Di kemeja tua Ayahku itu, kamu bisa temukan ada inisial namanya yang ditulis dengan spidol hitam permanen, MAM tertulis di sana dan masih terbaca hingga kini. Satu dari sekian peninggalannya yang bisa membuat aku merasa dekat.
Sabtu, 16 September 2017
Tidur
Tidur adalah satu-satunya cara berhenti berpikir. Itu katamu pada suatu malam.
Memikirkan apa memang?
Macam-macam. Kebanyakan memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaanku.
Mengapa kau memikirkan hal semacam itu?
Tidak tau juga, semacam kebiasaan kurasa. Aku ingin berhenti berpikir demikian. Aku ingin berhenti berpikir soal apapun.
Kuberi tau ya, orang-orang yang kau pikirkan itu sebenernya sama sekali tidak ambil pusing soal kamu. Orang-orang yang kau pikirkan itu, sama sekali tidak memikirkan kamu. Bahkan mereka semua sama saja dengan kamu, sibuk memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaan mereka. Jadi, stop berpikir soal itu.
Kamu, memang kamu tidak pernah berpikir seperti itu?
Kalo aku sih, aku ya aku. Soal apa yang orang lain pikirkan mengenai aku, itu urusan mereka bukan urusanku. Ada hal lain yang lebih sering kupikirkan. Misal makan pagi besok aku mau makan apa ya? Baju untuk kondangan besok, aku akan memakai apa ya?
Hal-hal seperti itulah.
Kau tau, sebenarnya aku sedang mencoba berhenti untuk berpikir. Tapi semakin aku mencoba, malah semakin berpikir aku. Ada suatu saat ketika aku berhasil berhenti dari kegiatan berpikir, tapi setelah itu aku justru berpikir soal tindakanku yang tanpa pikiran itu. Seperti lingkaran setan.
Kau.. saranku sih kau cari pacar sana.
Hah, apa hubungannya?
Ya aku belum tau juga sih, karena aku belum pernah pacaran juga. Tapi kelihatannya orang yang punya pacar dan melakukan aktivitas pacaran tidak akan menyedihkan seperti kamu. Ya setidaknya mereka kurang punya waktu sendiri untuk memikirkan hal yang sering kau pikirkan itu.
Hei, lihat siapa yang ngomong. Aku tidak ingin menerima saran soal pacaran dari orang yang belum punya pacar juga.
Kuralat ucapanku barusan. Jangan cari pacar. Orang-orang seperti kita ini rasanya tidak cocok kalau pacaran. Ruang yang kita punya bahkan belum cukup untuk menampung diri kita sendiri, apalagi kalau mau ditambah keberadaan orang lain.
...
Bisa tidak ya aku melewati hari tanpa berpikir?
Kupikir kamu pasti bisa. Kamu pernah melakukannya, beberapa kali setauku.
Kapan ya itu?
Ya itu.. seperti ucapanmu yang mengawali percakapan kita ini. Kamu bisa berhenti berpikir ketika kamu sedang tertidur. Katamu kan, tidur adalah satu-satunya cara yang berhasil membuatmu berhenti berpikir.
Hm.. iya sih. Tapi selain itu, sebenarnya aku ingin melakukan aktivitas lain selain tidur. Rasanya sayang kalau malam yang panjang aku lewatkan hanya dengan tidur. Kadang otakku bisa berhasil memikirkan hal lain dan jadi melahirkan karya lain di malam hari tanpa tidur.
Dari pembelaanmu barusan, aku bisa menangkap sesuatu tentang kamu.
Apa?
Sebenarnya yang membuatmu terus-terusan berpikir itu adalah takut. Ketakutanmu akan sesuatu yang akan hilang, yang lepas karena kau biarkan lewat begitu saja tanpa kau pikir masak-masak. Sementara yang kau pikirkan adalah ketakutanmu, bukan caramu untuk menghadapi ketakutanmu itu.
Ucapanmu masuk akal.
Ya kan? Saranku sih, kita sering-sering melakukan hal ini. Kamu bicarakan saja apa-apa yang kamu pikirkan, aku akan dengar dan tanggapi dengan kebisaanku.
Akan kupertimbangkan saranmu.
Bagus. Setelah ini, kau mau apa?
Aku akan mencoba berhenti berpikir.
Caranya?
Tidur.
Sabtu, 09 September 2017
Menjadi Bapak-Bapak
Malam ini saya iseng berkunjung ke blog teman lama dan membaca postingannya yang berjudul mirip dengan apa yang saya tulis sekarang: Menuju Bapak-Bapak.
Kalau dia bercerita soal sedihnya ia karena belum siap dipanggil Bapak oleh orang yang juga kenalannya, maka.. saya bisa lebih sedih lagi, karena dipanggil Bapak oleh orang yang belum kenal dan lebih-lebih lagi saya bukan bapak-bapak.
Dengan alasan yang sama, atas nama pekerjaan dan belum pernah bertemu maka kita akan cenderung menggunakan sapaan yang sopan. Banyak yang mengira saya ini laki-laki mungkin karena melihat nama saya, "Yaumil" disangka "Jamil" atau memang ini nama yang agak bias gendernya? Saya juga tidak tahu, tidak ingin terlalu melabeli juga sebenarnya. :')
Perkara salah panggil ini sampai membuat saya mengupdate foto profil di email kantor. Padahal saya lebih suka untuk tetap misterius dan tidak mudah dikenali, tapi yah daripada membiarkan orang salah sebut terus kan?
Jadilah saya memasang gambar siluet ini:
Harapannya saya dikenali sebagai perempuan dan tidak dianggap bapak lagi.
Tapi..
Masih ada yang memanggil saya bapak. Meski dengan PP siluet wanita berkerudung. Lebih sedih lagi, karena saya dipanggil bapak oleh mbak-mbak yang masih satu kantor.
Jumat, 01 September 2017
Retorika 2017: Episode September
Dialog Kota
Di antara desing yang bising
tepi yang sunyi
dan atap yang meratap
ada makna yang terperangkap
menunggu untuk diungkap
Jakarta
Desing mesin yang bising
hilang tertelan bunyi yang sunyi
di pinggiran kota Jakarta
kau dan aku tidak bicara kata
bahasa debat membabat percakapan yang melarut,
sontak kita sepakat soal sudut yang lapuk,
dan kota menertawakan kita
yang merengut
Jakarta Tua
Di seberang bangunan tua
kamu mengawali perkenalan kita
di hari itu juga
kita mengakhiri perjalanan berdua
Jejak Merapi
Ada kisah yang mengalir
lewat benda yang menjadi abu
jejak para pendahulu hadir
di lintas lahar yang membeku
di tanah vulkanik aku berdiri
menangkap makna yang tak terucap
di hadapannya aku menyadari
betapa kecilnya aku
Di antara desing yang bising
tepi yang sunyi
dan atap yang meratap
ada makna yang terperangkap
menunggu untuk diungkap
Jakarta
Desing mesin yang bising
hilang tertelan bunyi yang sunyi
di pinggiran kota Jakarta
kau dan aku tidak bicara kata
bahasa debat membabat percakapan yang melarut,
sontak kita sepakat soal sudut yang lapuk,
dan kota menertawakan kita
yang merengut
Jakarta Tua
Di seberang bangunan tua
kamu mengawali perkenalan kita
di hari itu juga
kita mengakhiri perjalanan berdua
Jejak Merapi
Ada kisah yang mengalir
lewat benda yang menjadi abu
jejak para pendahulu hadir
di lintas lahar yang membeku
di tanah vulkanik aku berdiri
menangkap makna yang tak terucap
di hadapannya aku menyadari
betapa kecilnya aku
Jumat, 25 Agustus 2017
Selamat Pagi Keripik Kentang
Pukul 01:15
dini hari ini terbuat dari aku yang kelaparan dan ingin mengunyah,
di tengah-tengah perasaan kagum yang sulit dibendung hingga ingin dikagumi juga
kulangkahkan kaki ke meja makan yang tak berpenghuni di rumah ibuku
masih ada sebungkus keripik kentang
yang sudah terbuka bungkusnya
tercerabut sebagian isinya olehku seminggu lalu
teronggok tanpa pesona seolah kehilangan minat
hei
pernahkah kalian merasa sangat senang hingga berakhir sulit tidur?
keantusiasan yang berujung terjaga semalaman saking tak sabar akan petualangan esok hari
seperti aku sekarang ini
selamat pagi keripik kentang
aku menyayangimu tanpa tapi
tanpa tentang
tanpa mimpi
dini hari ini terbuat dari aku yang kelaparan dan ingin mengunyah,
di tengah-tengah perasaan kagum yang sulit dibendung hingga ingin dikagumi juga
kulangkahkan kaki ke meja makan yang tak berpenghuni di rumah ibuku
masih ada sebungkus keripik kentang
yang sudah terbuka bungkusnya
tercerabut sebagian isinya olehku seminggu lalu
teronggok tanpa pesona seolah kehilangan minat
hei
pernahkah kalian merasa sangat senang hingga berakhir sulit tidur?
keantusiasan yang berujung terjaga semalaman saking tak sabar akan petualangan esok hari
seperti aku sekarang ini
selamat pagi keripik kentang
aku menyayangimu tanpa tapi
tanpa tentang
tanpa mimpi
Sabtu, 19 Agustus 2017
Catatn Acak: di Toko Buku
Siang ini saya jalan-jalan sendirian ke toko buku. Sudah lama rasanya tidak begini, saking lamanya sampai lupa kapan terakhir kali.
Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.
Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.
Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.
Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.
Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.
Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?
Entah kenapa saya berpikir seperti ini.
Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?
*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"
Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.
Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.
Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.
Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.
Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.
Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?
Entah kenapa saya berpikir seperti ini.
Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?
*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"
Kamis, 17 Agustus 2017
Short Note
Pagi ini tiba-tiba saya ingat waktu dulu, di masa awal-awal PKL.
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂
Senin, 14 Agustus 2017
Retorika 2017 | Episode Agustus
Nona
Nona, bisa tolong tunggu sebentar?
Rasanya kita terlalu jauh melangkah tanpa mempelajari apa-apa.
Hari-hari yang panas memaksa kita berjalan cepat-cepat. Kamu yang gampang terbujuk,
dengan tanpa perlawanan menyerah dibawa gelombang manusia modern.
Nona, bisa kita kembali sebentar?
Di ambang batas ini, kita tidak tahu mengejar ambisi siapa.
Nona, bisa kita kembali bersama?
.
Tidak Ada Sunset Hari Ini
Sore itu matahari pergi tanpa pamit
Tenggelam ia tanpa aba-aba,
meninggalkanmu yang berharap melihat pendarnya
dari tepian teluk Jakarta
Tidak ada sunset hari ini
tidak ada jejaknya yang warna-warni
menyisakan kita dengan kamera masing-masing
dan tanda tanya untuk rencana esok hari
.
Penulis yang Tertidur
seseorang coba tolong bangunkan
ada penulis yang tertidur di kepalaku
bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.
Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis
ada penulis yang tertidur di kepalaku
bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.
Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis
Selasa, 08 Agustus 2017
Peninggalan Seseorang
Hi,
Saya orang yang baru kelimpahan barang bekas pemakaian kamu nih. Yah, namapun aset kantor kan, makenya gantian. Haha.
Kita benar-benar ga saling kenal, ga pernah ketemu, ga pernah berurusan langsung. Bahkan kamu pasti ga tau kalau ada saya di dunia ini. Monolog ini benar-benar satu arah, dari saya ke kamu sebagai tuan dari fasilitas ini sebelumnya.
Belum lama ini, saya melihat nama kamu dalam selembar kertas. Surat bukti serah-terima aset IT perusahaan. Dari kamu yang sudah tidak di sini, kepada saya yang baru beberapa bulan. Saya yang kepo dan tertarik dengan hal-hal kurang penting, malah fokus ke nama kamu sebagai pengguna sebelumnya.
Tanpa berpikir, saya cari nama kamu dalam mesin pencari yang katanya paling tahu sedunia. Ga banyak informasi tentang kamu dalam pencarian menggunakan nama asli. Cuma ada blog pribadi dan akun di media sosial khusus profesional, plus akun twitter yang kebanyakan isinya re-tweet dari cuitan orang-orang. *saya cuma liat sekilas sih
Tapi ada akun Instagram dengan nama samaran kamu. Dari sana saya tahu bahwa kamu, benar-benar seorang hipster yang nyeni. Dan saya yang mudah kagum, jadi agak-agak minder dengan peninggalan ini.
Selasa, 20 Juni 2017
Selasa, 13 Juni 2017
Time Paradox dan Postingan Soal Harta
Kenapa waktu cepat sekali berlalu kalau di rumah?
Sementara kalau di kantor, rasanya lamaa berlalunya?
Ketika gue di rumah, Sabtu-Minggu kerasa cepet banget cuma dua hari. Sementara di kantor, rasanya lama betul gue menghabiskan waktu, dari Senin-Jumat. Beda tiga hari doang padahal. Men.
Terbuktilah kebenaran teori relativitas Einstein terhadap waktu.
Anyway, malam ini adalah malam ke-19 Ramadhan. Ga kerasa, udah 18 hari gue berpuasa dengan sahur minum air putih doang. Bukan apa-apa sih, kebetulan aja pas sahur itu gue ga ada keinginan untuk makan. Karena perut masih terasa ada isinya, jadi kalo gue makan sahur justru begah rasanya.
Jadi, gue cukupkan sahur dengan minum air putih. Itu sudah, cukup juga sih. Insya Allah.
Di malam ke-19 ini, Serpong distrik Cisauk hujan sejak menjelang magrib, sampai sekarang gue ngetik postingan ini. Tadi pun gue tarawih di kosan, karena hujan, dan teman-teman yang lain juga sepakat tarawih di kamar masing-masing. Ga apa-apa ya, at least tarawihnya jangan sampe ketinggalan aja. Sayang.
Sebenernya gue buka laptop ini berniat untuk bikin slide untuk sharetech Jumat nanti. Tapi, malah berakhir bikin postingan yang sedang kalian baca ini. :)))))
Ngomong-ngomong, barusan gue menemukan sesuatu yang bermanfaat. Apa tuh? Adalah cara menghitung zakat maal alias zakat harta. Bisa cek di cara menghitung zakat maal ya. :)
Setelah gue baca dari sumber di atas, ternyata dibalik penghitungan zakat yang sebenarnya ga rumit itu, sesungguhnya jumlah yang harus kita keluarkan itu dan jumlah yang bisa kita keluarkan itu ada takarannya, yang persentasenya itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan. Dan jumlah itu pun harus memenuhi nisab selama satu tahun dulu.
Lumayan lama juga ya, ditunggu satu tahun harta kita udah masuk nisab belum?
Tapi jatuhnya jadi ga memberatkan (IMHO). Sama sekali ga memberatkan (diulang 2x), karena persentasenya yang untuk satu tahun itu.
Jadi gaes, jangan sampe lupa bayar zakat ya! Karena zakat itu membersihkan harta kita, dari hak orang lain di dalamnya. Biar barokah dan berfaedah, sekalian bantu sesama juga. Karena juga, zakat itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan (diulang 3x).
Kalo bingung gimana bayar zakatnya, ke siapa? Sekarang di mall-mall udah ada stand yang nyediain info dari BAZNAS untuk zakat gitu kata seorang teman. Bahkan di situs ecommerce juga udah ada. Contohnya di mataharimall.com, ini kalo mau yang online. Tapi enakan ngasih langsung sih, lebih interaktif.. Kekekek.
Gitu deh. Woi, slide jangan lupa dibikin woi.
Ciao! :))))))
Sementara kalau di kantor, rasanya lamaa berlalunya?
Ketika gue di rumah, Sabtu-Minggu kerasa cepet banget cuma dua hari. Sementara di kantor, rasanya lama betul gue menghabiskan waktu, dari Senin-Jumat. Beda tiga hari doang padahal. Men.
Terbuktilah kebenaran teori relativitas Einstein terhadap waktu.
Anyway, malam ini adalah malam ke-19 Ramadhan. Ga kerasa, udah 18 hari gue berpuasa dengan sahur minum air putih doang. Bukan apa-apa sih, kebetulan aja pas sahur itu gue ga ada keinginan untuk makan. Karena perut masih terasa ada isinya, jadi kalo gue makan sahur justru begah rasanya.
Jadi, gue cukupkan sahur dengan minum air putih. Itu sudah, cukup juga sih. Insya Allah.
Di malam ke-19 ini, Serpong distrik Cisauk hujan sejak menjelang magrib, sampai sekarang gue ngetik postingan ini. Tadi pun gue tarawih di kosan, karena hujan, dan teman-teman yang lain juga sepakat tarawih di kamar masing-masing. Ga apa-apa ya, at least tarawihnya jangan sampe ketinggalan aja. Sayang.
Sebenernya gue buka laptop ini berniat untuk bikin slide untuk sharetech Jumat nanti. Tapi, malah berakhir bikin postingan yang sedang kalian baca ini. :)))))
Ngomong-ngomong, barusan gue menemukan sesuatu yang bermanfaat. Apa tuh? Adalah cara menghitung zakat maal alias zakat harta. Bisa cek di cara menghitung zakat maal ya. :)
Setelah gue baca dari sumber di atas, ternyata dibalik penghitungan zakat yang sebenarnya ga rumit itu, sesungguhnya jumlah yang harus kita keluarkan itu dan jumlah yang bisa kita keluarkan itu ada takarannya, yang persentasenya itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan. Dan jumlah itu pun harus memenuhi nisab selama satu tahun dulu.
Lumayan lama juga ya, ditunggu satu tahun harta kita udah masuk nisab belum?
Tapi jatuhnya jadi ga memberatkan (IMHO). Sama sekali ga memberatkan (diulang 2x), karena persentasenya yang untuk satu tahun itu.
Jadi gaes, jangan sampe lupa bayar zakat ya! Karena zakat itu membersihkan harta kita, dari hak orang lain di dalamnya. Biar barokah dan berfaedah, sekalian bantu sesama juga. Karena juga, zakat itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan (diulang 3x).
Kalo bingung gimana bayar zakatnya, ke siapa? Sekarang di mall-mall udah ada stand yang nyediain info dari BAZNAS untuk zakat gitu kata seorang teman. Bahkan di situs ecommerce juga udah ada. Contohnya di mataharimall.com, ini kalo mau yang online. Tapi enakan ngasih langsung sih, lebih interaktif.. Kekekek.
Gitu deh. Woi, slide jangan lupa dibikin woi.
Ciao! :))))))
Minggu, 11 Juni 2017
Retorika 2017 | Episode Juni
Musim Panas di Cisauk
Langit tidak pernah semerah hari ini
Di penantian dari siang ke malam
seiring dengan semakin menyalanya rona di pipimu
kau mengisi jeda yang ada, dengan menertawakan hal-hal yang kita kuatirkan
sambil berharap itu tidak pernah benar-benar terjadi
Semalam di Cisauk
Hari-hari berlalu lebih cepat di sini
sementara kau masih belum tau akan memilih apa
dengan keputusan dan nasihat orang tua
yang mati-matian kau bela sampai mati
Hanya tinggal aku sebagai gundukan tanah
yang orang lupa pernah ada
Suatu Sore di Cisauk
Matahari masih terasa panasnya
ketika angin datang membawa kesenangan yang kekal
tapi kau mulai bosan dengan apa-apa yang bersifat dunia
Janji Jani
Namanya Jani
yang kepadanya aku berjanji
ini kali terakhir kita membicarakan musim panas di Cisauk
Langit tidak pernah semerah hari ini
Di penantian dari siang ke malam
seiring dengan semakin menyalanya rona di pipimu
kau mengisi jeda yang ada, dengan menertawakan hal-hal yang kita kuatirkan
sambil berharap itu tidak pernah benar-benar terjadi
Semalam di Cisauk
Hari-hari berlalu lebih cepat di sini
sementara kau masih belum tau akan memilih apa
dengan keputusan dan nasihat orang tua
yang mati-matian kau bela sampai mati
Hanya tinggal aku sebagai gundukan tanah
yang orang lupa pernah ada
Suatu Sore di Cisauk
Matahari masih terasa panasnya
ketika angin datang membawa kesenangan yang kekal
tapi kau mulai bosan dengan apa-apa yang bersifat dunia
Janji Jani
Namanya Jani
yang kepadanya aku berjanji
ini kali terakhir kita membicarakan musim panas di Cisauk
Tentang Puisi
Puisi adalah serangkai kata-kata indah, bagimu
tidak lebih dari bunga-bunga sajak
yang subur ditanam benihnya oleh petani syair
lalu dipetik mentah-mentah dan ditelan bulat-bulat oleh pemaknanya
tidak lebih dari bunga-bunga sajak
yang subur ditanam benihnya oleh petani syair
lalu dipetik mentah-mentah dan ditelan bulat-bulat oleh pemaknanya
Rabu, 31 Mei 2017
Oh, Flamingo | Band Indie-Alternatif yang Masih Saudara Sendiri
Pertama kali saya dengar lagunya Oh, Flamingo yang berjudul "June", bayangan saya langsung lari ke band-band indie ala British. Betotan bass dan petikan gitarnya terasa asik di telinga saya yang awam sekali soal musik. Taunya cuma dengar, suka, lalu kepo. :D
Iramanya lumayan bikin kepala saya goyang-goyang sambil bahu naik-turun sok asik menikmati lagu. Nah, ini salah satu cara mendefinisikan lagu yang saya suka. Karena kalo ditanya sukanya jenis musik kayak apa, saya agak sulit menjelaskan saking generalnya. Asal lagunya asik, itu saya suka. Ga membantu ya jawaban saya? Haha.
Lagu yang saya dengar di Spotify ini durasinya 10 menitan. Tapi kocak karena di tengah lagu mendadak hening beberapa saat, lalu mulai lagi dengan lagu yang sama sekali berbeda. Entah ini medley atau mix atau lagu berapa babak, karena ketika saya cari, lirik untuk June tidak sepanjang ini.
Next setelah ketemu liriknya, saya tertarik dengan grup Oh, Flamingo ini. Apa benar mereka dari British sana? Saya lihat cover photonya, kok ala-ala pemuda Bandung yang kreatif dan piknik abis ya? Tampang mereka juga asia-melayu yang unyu-unyu gitu.
Saya googling lagi, ternyata mereka band asal Filipina. Oalah, masih sodara jauh rupanya!
*Gambar dari sini
Iramanya lumayan bikin kepala saya goyang-goyang sambil bahu naik-turun sok asik menikmati lagu. Nah, ini salah satu cara mendefinisikan lagu yang saya suka. Karena kalo ditanya sukanya jenis musik kayak apa, saya agak sulit menjelaskan saking generalnya. Asal lagunya asik, itu saya suka. Ga membantu ya jawaban saya? Haha.
Lagu yang saya dengar di Spotify ini durasinya 10 menitan. Tapi kocak karena di tengah lagu mendadak hening beberapa saat, lalu mulai lagi dengan lagu yang sama sekali berbeda. Entah ini medley atau mix atau lagu berapa babak, karena ketika saya cari, lirik untuk June tidak sepanjang ini.
Next setelah ketemu liriknya, saya tertarik dengan grup Oh, Flamingo ini. Apa benar mereka dari British sana? Saya lihat cover photonya, kok ala-ala pemuda Bandung yang kreatif dan piknik abis ya? Tampang mereka juga asia-melayu yang unyu-unyu gitu.
Saya googling lagi, ternyata mereka band asal Filipina. Oalah, masih sodara jauh rupanya!
![]() |
| Anak piknik abis |
Jumat, 28 April 2017
Rabu, 19 April 2017
Sepetak Thailand di Pasar Baru
Maret kemarin, saya dan Ratna (Bali) jalan-jalan ke Pasar Baru. Iseng aja sih sebenernya, datang ke sana yang terkenal dengan surganya buat pecinta kamera. Memang saya ada wacana untuk ganti, tapi masih belum yakin mau apa. Bingung antara mirrorless atau DSLR.
Udah, liat-liat aja dulu. Di sana banyak pilihannya. Gitu kata si Bali. Oke deh.
Sumpah saya norak banget waktu. Apalagi pas masuk ke Harco, pusatnya kamera segala bangsa, sumpah saya norak makin menjadi.
Kesan pertama saya pas sampe di Pasar Baru,
Bal, ini kayak di Bangkok ya Bal?
Di Bangkok kayak begini ya Bal?
Penjual buah potong tersebar di mana-mana. Mana buahnya seger dan mulus banget, kayak buah impor. Gatau juga sih impor beneran atau bukan. Ada tukang es Kedondong, jambu Bangkok, buah-buah tropis lengkap.
| Kata Bali, Bangkok suasananya kayak gini. He-eh. |
Sumpah saya norak banget waktu. Apalagi pas masuk ke Harco, pusatnya kamera segala bangsa, sumpah saya norak makin menjadi.
Model kamera antik, analog, berjejer di etalase kaca. Lensa-lensa, body tanpa isi, dari Canon, sampe Yashica, semua ketemu. Macam di museum aja rasanya. Saya yang norak, bukannya nanya-nanya malah jadi ngeblank saking speechlessnya. Untung si Bali ada tujuan nyari len's cap, jadi dia yang nanya dan nyamperin pedangangnya satu-satu.
Di satu toko, Jakarta Camera namanya, si Bali berhenti agak lama. Ada lensa Fujinon, yang dia cari-cari. Karena lensa untuk kamera Terfujilah memang langka (langka yang second), semangatlah dia nyoba di kameranya. Bokehnya alus banget sumpah, tapi ga jadi beli karena harganya yang lumayan. Bisa dapet satu kamera sendiri, Bok. Lepas dari toko itu, dia kode terus sepanjang hari minta kado lensa. Mehehe.
Lewat tanya-tanya sama pak Ginting (yang punya Jakarta Camera), saya jadi tau kalo lensa analog bisa dipake juga untuk kamera digital. Asal ada adaptornya. Yah, emang harga lensa kan mahal ya, sementara lensa analog masih kejangkau gitu. Makanya orang-orang ngakalinnya pake adaptor, untuk masang lensa analog ke kamera digitalnya.
| Canon |
| Ret Ginting - Jakarta Camera |
Kalo mau ke tokonya pak Ginting, alamatnya di Harco Pasar Baru Lt. 3 Blok 3A3/3A7. Bapaknya baik kok, mau tanya-tanya dulu juga boleh. Doi juga jual aksesoris kamera macam-macam, udah kayak kolektor.
Selamat mencari! :D
Kamis, 06 April 2017
Tubuh Saya Bukan Milik Saya Sendiri
Pagi ini saya terbangun dengan tubuh yang rasanya bukan milik saya sendiri. Bagian sebalah kanan saya sulit digerakkan, dari belikat kanan hingga bahu. Hal ini menghambat saya, bahkan untuk berganti posisi dan bangun dari tempat tidur. Sekitar 5 menit saya berusaha menggerakan tubuh, perlahan-lahan, tapi sedikit pergerakan saja bisa menimbulkan nyeri yang lumayan saya rasakan.
Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau tiba saatnya nanti ketika saya benar-benar tidak bisa bangun lagi?
Atau saya sadar, tapi tidak bisa mengendalikan tubuh saya sendiri, hingga harus dengan bantuan orang lain untuk sekedar beraktivitas bangun dari tempat tidur?
Langsung terbayang wajah ibu saya, yang pastinya sedih dan akan kerepotan kalau harus mengurus saya sendiri. Apalagi saat ini kami tinggal berjauhan, saya di Cisauk dan ibu di Bekasi.
Langsung terbayang beberapa urusan saya, yang belum selesai. Yang akan merepotkan sekali bagi orang-orang lain, utamanya tim saya, jika tidak saya selesaikan.
Langsung terbayang beberapa projek pribadi yang masih ingin saya selesaikan dan nikmati hasilnya.
Langsung terbayang, seperti adegan film yang diputar dalam layar sinema.
Untuk itu saya menghilangkan pikiran macam-macam tadi, dan berusaha mengabaikan nyeri yang timbul untuk bangun dan beraktivitas seperti biasa.
Seperti tidak terjadi apa-apa. Karena memang sebenarnya, kamu tidak terlalu apa-apa. Hanya salah posisi tidur.
Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau tiba saatnya nanti ketika saya benar-benar tidak bisa bangun lagi?
Atau saya sadar, tapi tidak bisa mengendalikan tubuh saya sendiri, hingga harus dengan bantuan orang lain untuk sekedar beraktivitas bangun dari tempat tidur?
Langsung terbayang wajah ibu saya, yang pastinya sedih dan akan kerepotan kalau harus mengurus saya sendiri. Apalagi saat ini kami tinggal berjauhan, saya di Cisauk dan ibu di Bekasi.
Langsung terbayang beberapa urusan saya, yang belum selesai. Yang akan merepotkan sekali bagi orang-orang lain, utamanya tim saya, jika tidak saya selesaikan.
Langsung terbayang beberapa projek pribadi yang masih ingin saya selesaikan dan nikmati hasilnya.
Langsung terbayang, seperti adegan film yang diputar dalam layar sinema.
Untuk itu saya menghilangkan pikiran macam-macam tadi, dan berusaha mengabaikan nyeri yang timbul untuk bangun dan beraktivitas seperti biasa.
Seperti tidak terjadi apa-apa. Karena memang sebenarnya, kamu tidak terlalu apa-apa. Hanya salah posisi tidur.
Minggu, 02 April 2017
Doa Orang Patah Hati
Tuhan, jika Kau meridhoi
jatuhkanlah sebutir kelapa ini di atas kepalanya
dengan hati-hati
sebab aku tak ingin ia amnesia, lalu lupa segala
Tuhan, Yang Maha Pengasih
kasihilah kami yang patah hati ini
sebab segalanya dalam hidup ini
jadi terasa perih
Tuhan, Yang Maha Pemberi
kirimilah kami orang-orang baik
yang juga sendiri
agar dapat saling menemani
Tuhan, Yang Maha Mengetahui
kuatkanlah hati kami
dalam menempuh ujian esok hari
sebab Senin tak pernah seseram malam ini
Amin.
jatuhkanlah sebutir kelapa ini di atas kepalanya
dengan hati-hati
sebab aku tak ingin ia amnesia, lalu lupa segala
Tuhan, Yang Maha Pengasih
kasihilah kami yang patah hati ini
sebab segalanya dalam hidup ini
jadi terasa perih
Tuhan, Yang Maha Pemberi
kirimilah kami orang-orang baik
yang juga sendiri
agar dapat saling menemani
Tuhan, Yang Maha Mengetahui
kuatkanlah hati kami
dalam menempuh ujian esok hari
sebab Senin tak pernah seseram malam ini
Amin.
Selasa, 14 Maret 2017
Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.
Eh, kamu.
Udah lama ya kita ga ketemu. Ga ngobrol, ga saling ngomong, diem-dieman aja padahal selalu bareng. Meski begitu, saya ga akan menanyakan kabar. Saya tau kamu pasti bosan dengan pertanyaan basa-basi macam "apa kabar", dan malas juga membalasnya dengan jawaban standar. Kamu kan, sok-sokan istimewa padahal biasa juga.
Kamu, malam ini tiba-tiba merasa nostalgia. Abis ngeliat postingan si dia, yang ternyata masih konsisten menulis. Padahal kamu tau kegiatannya lebih banyak dari yang kamu biasa lakukan. Tapi dia masih tetap "senang menulis" dan punya waktu untuk main lagi. Lalu kamu gemas, ke dirimu sendiri.
Gemas. Karena bagaimanapun, semalas dan seenggan apapun kamu, rasa itu masih ada di situ. Ga pernah hilang dari jaman putih abu-abu dulu. Menipis iya, tertutup ketertarikan lain iya, tapi ga pernah hilang. Hampir mungkin, tapi untuk seutuhnya hilang, saya tau kamu ga akan bisa.
Malam ini, kamu mencoba melakukannya lagi. Beberapa kali memang kamu sempat memulai, tapi ga pernah selesai.
Kurang. rasanya kurang terus. Kurang kamu, kurang asik, kurang berbobot, kurang berisi, kurang-kurangin deh. Wokokok. Soalnya memang susah untuk ngerasa cukup, jadi mending kamu cukupkan aja. Gimana? Kekekekek.
Soalnya gini ya, yang terakhir kamu lakukan dengan senang itu di tahun 2016. Itu udah tahun kemarin, tiga bulan yang lalu. Jangan mentang-mentang resolusi 2016 kamu tercapai, terus ga dilanjut lagi di tahun ini. Ga istiqomah, ceunah..
Jadi, sok.. Hayu kita, kamu dan saya, bareng-bareng mulai lagi. Ga usah maksa, cuma ketika ada keinginan dan rasa senang, mari kita lakukan dengan percuma. Jangan ditunda-tunda, keburu rasanya hilang. Lalu kalo udah begitu, yang ada cuma waktu yang dipake untuk tidur. Terus kamu jadi gemas sendiri. Huft.
Oke?
Sesulit apapun, ketika kamu udah mulai, mari kita selesaikan. Catatan ini sebagai pengingat aja ya. Kalo lain kali kamu mau nyerah dan memilih tidur. Soalnya, kamu sendiri loh yang nulis ini.
Soalnya ya, kayak percuma gitu. Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.
Soalnya ya, biar ga jadi kampret.
Langganan:
Postingan (Atom)

