Tampilkan postingan dengan label poetrygraphy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poetrygraphy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 September 2021

show, don't tell

Click to read

One Day One Trip is a collective project by Klise Bekasi, an analog photography club based in Bekasi.

In late 2019, we took a photo trip around Bekasi using the same type of film roll. There were five of us who tried to capture Bekasi as a city that has always been changed.

Kalimalang river became our first destination. At that time, along the river, a toll road was being built as a part of a national construction project called Becakayu. Which connects the border city to East Jakarta through Bekasi-Cawang-Kampung Melayu.

The next destination brings us to the oldest Buddhist temple in Bekasi, Klenteng Hok Lay Kiong. A historical building that has been cared for generations.

For a long time, the city development has been built quite often in Bekasi, particularly in the urban area. It does bring a major change for the neighbourhood and the people who live around.

Zine ini saya sertakan dalam pameran photobook JIPFEST 2021. Masih belum pasti akan ikut dipamerkan, karena ada proses seleksinya. Semoga ada kabar baik di bulan Oktober 🌼

Kamis, 02 April 2020

36 x Zine dan Cerita Penggalangan Donasi

Tahun lalu, mas Desta (@rukiinaraya) bikin project photo online di Instagram. Selama 36 hari, dengan pakai kamera analog dan satu roll film 36-frame, kami yang ikutan project ini akan motret bareng. Satu kata kunci tiap satu hari, untuk satu frame. Namanya @36x36project.

Di akhir project, semua hasil akan dikumpulkan dan dipamerin bareng. Semua ide project ini, kata kunci per hari, eksekusi pameran, sampai workshop nyuci film, mas Desta yang ngonsep. Keren, ya? Doski memang keren, sih. :D

Nah. Hasil dari ikutan @36x36project kemarin, saya bukukan dalam bentuk zine sederhana. Pertama kalinya nyoba nyetak sendiri nih. Ngeri-ngeri sedap, tapi menyenangkan.

Dari cetakan pertama ini, saya tau apa yang masih harus diimprove kedepannya. Pemilihan kertasnya perlu dipertimbangkan lagi, harus coba jenis kertas lain supaya lebih oke. Untung ga cetak banyak-banyak. Hehe.

Selesai dari percetakan, saya bingung zine ini mau diapakan. Sayang kalau cuma numpuk gitu aja. Mau dijual tapi ga yakin ada yang mau saya ga bisa ngasih harga.

Jadinya, saya mau bagi-bagikan zine ini, ke siapa pun yang mau. Syaratnya: harus ditebus.
Cukup donasi Rp100.000 plus biaya kirim. Uangnya bukan untuk saya cetak zine lagi. Nanti hasil yang terkumpul akan disalurkan ke penggalangan dana untuk membantu warga terdampakk Covid-19 di kitabisa.com.

Dari lima zine yang saya tawarkan lewat IG dan Twitter minggu lalu, baru ada satu yang ditebus (terima kasih, bang Khalid!). Susah juga ternyata menggalang dana. Padahal targetnya udah ga banyak, tapi memang exposurenya dikit juga sih. Perkiraan soal teman-teman yang saya incar untuk donasi, juga meleset. 😅




*klik gambar untuk memperbesar


So, I'll leave it here. Barangkali ada yang membacanya dan berminat, mari hubungi saya, ya. :)

Minggu, 22 Mei 2016

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Halo.
Mau ngasih tau aja, kalau edisi terbaru poetrygraphy akhirnya selesaaai.. :D

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Udah lama sih selesainya, cuma langsung dipublish ke Issuu. Terus lanjut beberapa hari bikin mockupnya untuk post di kreavi.com, baru dipost di sini. Mehehee. Hasil beberapa malam tanpa tidur dan paket internet malam dicampur es kopi maknyus. :D

Ngomong-ngomong soal kopi, gara-gara proyek ini saya merasa jadi ketagihan kafein, deh. Kopi sih sebenernya. Padahal dulu saya ga suka, karena rasanya asam, tapi sekarang kok biasa aja malah doyan. Apalagi dicampur susu pake es, karena kalo ga pake es jadinya uu. Krik. Hahaa.

Selama ngerjain poetrygraphy ini, saya belajar banyak nih.. Belajar layouting, editorial design, gimana ngatur posisi teks dan gambar supaya bagus dan enak dibaca. Tadinya di tiap penggalan puisi mau satu-satu aja saya sisipin gambar, semacam ilustrasi tunggal gitu. Tapi ga jadi. Soalnya ada bait puisi yang panjang dan rasanya sesak kalo cuma diselingi satu foto sebelum lanjut ke bait berikutnya.

Saya mikir gimana caranya biar kamu, ga sesak bacanya. Saya mikir gimana supaya kamu bisa bernafas. Saya mikir gimana supaya kamu bisa nangkep dan membayangkan maksud kata-kata saya. Iya, kamu, pembaca karya saya. Hahaa.

Untuk itu jumlah gambar yang saya pakai harus bertambah. Saya pilih-pilih lagi gambar mana yang cocok dan gimana posisinya, di halaman kiri atau kanan. Makanya lama baru bisa jadi. Hahaa. Alasan. Padahal mah ga gitu-gitu amat.

Masih banyak yang harus saya pelajari nih. Edisi ketiga ini dengan berbagai alasan pun masih banyak kurangnya. Kurang cetar gitu. Makanya kita ngopi, yuk. Belajar bareng dan ngomongin edisi selanjutnya atau proyek lainnya. Terus ngobrol banyak sambil ketawa tanpa ego. :D

Tabik!

Kamis, 12 Mei 2016

Wayang Layang dan Kelanjutan Poetrygraphy

Halloo...

Setelah lamaaa sekali sejak terakhir saya menulis Terhapus Hujan Sehari, sekarang saya datang lagi dengan poetrygraphy terbaru yang berjudul: Wayang Layang.

Wayang layang sebenarnya adalah pertunjukan wayang kontemporer. Sebuah kolaborasi antara teater Les-rémouleurs dari Prancis dan seniman asal Indonesia. Saya menonton pertunjukan mereka akhir April kemarin di pembukaan Festival Printemps Français. Sabtu malam, hujan, di tengah aktivitas malmingnya warga Jakarta, saya  datang ke Plaza Senayan untuk nonton pertunjukan ini. Kyah.

Pertunjukan wayang dengan judul L’Oiseau (The Bird) ini menghadirkan sesosok burung buatan yang melayang terbang. Biasanya kalau nonton wayang kan di layar yang statis, ya. Nah, kalau wayang layang, yang jadi layar itu adalah sayap si burung. Jadi kita dapat dua tontonan sekaligus, tarian burung ini saat terbang, melayang, dan juga cerita yang dikisahkan lewat gambar ilustrasi dari sayap si burung. Epik.

Saking epiknya, saya jadi terinspirasi untuk menulis poetrygraphy lagi. Karena sayang juga sih, kalau hasil dokumentasi saya cuma teronggok di harddisk. Jadi, lebih baik dibikin poetrygraphy ya saya pikir. Mungkin kalau saya rajin nanti bisa terbit jadi photobook betulan. Hehehe.
Mari sama-sama bilang: aaamiiin!

Akhir kata, saya persembahkan sebuah Wayang Layang dalam bentuk lain kepada semesta. Khususnya kamu, yang sudah memberikan waktumu untuk membaca postingan ini. :)