Tampilkan postingan dengan label pixels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pixels. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2019

Cerita Atana

Besok Atana menikah. Teman kampus yang dulu ngga dekat-dekat amat, tapi malah semakin dekat begitu lepas dari perkuliahan. Memang dia orang baik, sih. Bisa-bisaan terus ngajak gue terlibat di beberapa proses kreatifnya berkarya. :")

Dulu kita punya mimpi ikutan Eagle Awards, sampe beneran ngirim aplikasi. Meski belum kesampaian, tapi ini salah satu langkah nyata dari proses yang ga akan gue lupa begitu saja, Tan.

Atana salah satu dari sedikit orang yang tau babak personal di kehidupan gue. Setahun lalu dia pernah ngechat random pagi-pagi, yang berlanjut dengan keterbukaan gue, dan ditukar dengan kabar gembira dari babak awal kehidupan yang akan ia lalui sebentar lagi.

Gue mungkin bukan satu-satunya teman yang lu bagi kisah hidupnya, mengingat betapa baik dan telatennya elu menjaga tali persaudaraan dengan teman lain. Tapi bagi gue, tiap ajakan dan cerita yang lu bagi itu berarti banyak sekali, Tan.

"Pil, tanggal xxx sibuk ga?"

Awal dari permintaan lu yang memercayai gue bantu motretin acara lamaran kemarin.

"Jangan kapok ya pil maaf modelnya ga professional."

Permintaan maaf dari elu di akhir pemotretran untuk display di resepsi waktu itu. Padahal kita sama-sama tau, malam itu kita sama-sama capek setelah seharian kerja. Meski begitu, kalian masih mau kerja sama dan disuruh-suruh pose begini begitu. :_)

Saat itu, jujur gue merasa hangat ketika mereview hasil pemotretan malam itu karena terbayang perjalanan lu selama ini, Tan. Gue harap lu juga demikian.

Di kartu ucapan paketan bridesmaid yang lu bikin, gue terharu beneran. Betapa baiknya elu selama ini, betapa sabar dan ikhlasnya hingga Allah mengabulkan doa lu dengan hal yang selama ini dekat. :_)

Terima kasih sudah diizinkan terlibat dalam tahap penting di hidup lu, Tan. Kepercayaan yang lu kasih ke gue, saking berharganya sampai ga terukur mau pakai satuan apapun.

Bahagia selalu, selalu, selalu. Jangan pernah bosan ajak-ajak gue untuk produktif. Maupun nanti lu butuh perbantuan apa lagi, insya Allah gue selalu siap.

Have a happy marriage life, Atana-Adit. :_)

Atana-Adit di toko alat outdoor

Kamis, 17 Agustus 2017

Short Note

Pagi ini tiba-tiba saya ingat waktu dulu, di masa awal-awal PKL.
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂

Senin, 04 Januari 2016

Kembali ke Halimun

Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah Halimun. Terakhir ke sana adalah di tahun 2012, ketika status mahasiswa dan anggota UKF masih saya sandang. Setelah bertahun tidak ke sana, di tanggal 2 Januari 2016 kemarin, akhirnya saya kembali ke Halimun.

Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.

Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"

Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.

Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.

Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.

Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.

Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.

Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.

Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.

Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.

Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.

Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.

Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.






Minggu, 22 November 2015

Pixels Berduka

Kenapa gue nangis, ya?
Padahal pertemanan kita ga bisa dibilang deket. Ga pernah se-projek bareng. Ga ikut UKM yang sama. Ga pernah main bareng. Kita cuma temen sekelas dan seangkatan. Kita cuma sama-sama Pixel.

Pertama gue tau kabar tentang lu, pagi itu gue di kereta mau berangkat kerja. Lagi misuh-misuh kegencet di kereta, tapi tiba-tiba gue merasa pilu. Kenapa coba? Itu karena kabar kepergian lu, yang bener-bener ga disangka-sangka.

Gue langsung inget kejadian di kelas sispak dulu. Betapa epic lu waktu itu. Di presentasi progress project, elu yang di minggu sebelumnya dikritik abis sama bu dosen gara-gara presentasi yang monoton, langsung bertindak dengan ngasih presentasi yang beda. Yang katanya kebanyakan teks dan kurang gambar, langsung lu ganti dengan deretan gambar dan teks yang gamblang. Yang katanya harus menatap audiens dan gaya bicara yang menggebu-gebu, lu langsung berdiri menghadap audiens dan ngomong dengan semangat orang mau menang tender. Dan berkat usaha kita sekelas ngerjain projek, akhirnya UAS sispak ditiadakan. *tepuk tangan*

Habis itu, gue ga punya kenangan personal lagi tentang lu. Memang teman sepermainan kita beda juga. Tapi tetep aja gue ngerasa kehilangan. Lama ga ada kabar, sekalinya ada justru kabar duka. Cepet banget lu pergi ninggalin kita. Sikap lu yang suka ngebanyol dan bercanda, itu yang bikin gue dan teman lainnya bakal kehilangan banget.

Kenapa gue jadi nangis, ya?
Padahal kemarin pas gue dateng ke rumah lu, bareng teman-teman Pixels yang lain, rasanya ga bakal ada acara tangis-tangisan. Keluarga lu udah ikhlas. Bokap lu, adek lu, kakak lu, keluarga lu, semua udah keliatan tegar atas kepergian lu.
Tapi.. memang air mata ga selalu berarti kesedihan. Kayak kemarin. Padahal waktu itu kita lagi ngomongin kebiasaan lu yang konyol, tapi.. kok mata gue berair, ya? :')

Lu orang baik. Makanya banyak yang kehilangan lu. Yang terus ngedoain lu. Keluarga lu sempet khawatir, karena tingkah lu yang ga pernah serius, apa ni anak bisa bertahan di luar sana? Tapi ngeliat banyaknya teman yang datang demi lu, mereka jadi lega bahwa banyak orang yang peduli sama lu.

Selamat beristirahat, ya. Terima kasih atas keceriaan yang selalu lu bagi. Sampe ketemu lagi, Dhir. :')


Sabtu, 26 September 2015

Obrolan Malam Sabtu

rindu adalah ganti dari pertemuan yang tertunda
untuk itu kita menyiasatinya dengan
bicara macam-macam
meski hanya lewat karakter dan angka dalam genggaman
itu lebih baik baik untuk sekedar menyapa kawan lama
atau sahabat sejawat yang dulu kita dekat
kita sama-sama tak tahu
akan ke mana kata kita berujung
tapi kita tahu
kau dan aku hanya sama-sama rindu

Bekasi, 25092015

Minggu, 22 Maret 2015

Puisi untuk Pixels

06.07.2014

Perpisahan sedih bukan karena berpisah
tapi karena melupakan
dan saling hilang-menghilang

Empat atau tiga tahun bukan waktu yang sebentar
tapi juga belum cukup lama
untuk kenal dekat kalian semua

Meski begitu, kita tahu satu cerita
yang pernah menyatukan kita

Maaf dan terima kasih, Pixels.
Sampai bertemu di lanjutan cerita berikutnya.


*) Puisi ini udah lama dibuatnya, musim lebaran tahun lalu. Waktu itu gue masih di kampung halaman, ketika tiba-tiba dapet sms dari temen gue, namanya Mawar, ini beneran nama samaran, minta tolong dibuatin puisi untuk Pixels. Setelah perenungan tiga hari tiga malam, jadilah puisi di atas itu. Eheheh.

Hari ini gue mendadak melankolis. Kangen sama masa kuliah. Kangen sama masa dua tahun lalu, ketika gue PKL sambil puasa Ramadhan.

Kenapa? Karena PKL sambil puasa Ramadhan itu ampuh meniruskan pipi gue. Oke, sebenernya gue cuma kangen masa ketika 'badanku dulu tak segini'. Sekarang, 1/3 hari gue dihabiskan dengan duduk. Mengutip kata-kata Alfat, 'Banyak duduk, lemak numpuk'. Begitulah yang gue rasa sedang gue alami sekarang.

Wahahha.

Jumat, 13 Juni 2014

Catatan Akhir Kuliah

Ceritanya kemarin gue abis bongkar-bongkar catatan kuliah yang udah lama tertimbun. Rajin kan gue? Wahaha. Bukan apa-apa, ini semua demi kelancaran sidang jumat yang dirahmati Allah. ;D

Ga cuma materi kuliah, bro, ada banyak hal yang gue temui. Coretan aneh atas nama ngantuk, obrolan random di sela kuliah, dan catatan sispak yang dapet nilai 85 dari Pak Aziz. Cuma 3 orang loooh dari sekelas yang dapet 85~ Ini jadi satu dari sedikit hal yang bisa gue banggakan. Tapi tolong, jangan tanya nilai ujian sispaknya, ya. Plis.

Gue jadi inget masa ketika gue duduk di kelas. Siapa orang yang duduk di sebelah gue dan obrolannya sama orang sebelahnya lagi dan gue menguping. :D Itu yang lebih gue perhatikan dibanding materi kuliahnya. Wahaha. Mungkin baru entah kapan akan gue alami lagi peristiwa itu.

Di antara kenangan itu, gue menemukan pesan dari diri gue di tahun 2013. Sebuah catatan kecil. Agak pribadi sih. Belum pernah gue publish. Kalo lo baca, maka lo akan jadi orang yang pertama tau. Karena isi pesan yang ditulis 'gue pada masa itu' adalah:
"Gw mau bilang sesuatu, kalo lo dengar berarti lo orang pertama yang tau, karena gw belum pernah bilang sebelumnya.
Well.. ini cuma pemikiran gw, apa mungkin seharusnya gw ga ngambil kripto? Kuliahnya menyenangkan, tapi ujiannya bikin mati kutu.. "
-abis kripto-
Semoga bisa diambil pelajaran dari postingan ini. ;p
Aamiin.

Jumat, 06 Juni 2014

Gambarnya dulu yak..

Ayu SKomp

Uci SKomp
Selamaaat ya kaliaaan..

Selamat ya Ayu, ketua umum Ruang Contoh{}, semoga ilmunya bisa diaplikasikan untuk pengembangan Teater Ruang Contoh{}.. ;p

Selamat ya Uci Maruci, penulis di dunia pensil.. semoga senang karena potongan memorinya  diabadikan, meski bukan di tembok IPB.. :D

Ini ada hadiah, gambarnya dulu yak.. barangnya nyusul, wakakak..
 Selamet!
-upil (segera) SKomp-

Minggu, 13 April 2014

@yeahmahasiswa semalam..


Cuma sebagian yang aku ambil dari @yeahmahasiswa dengan snipping tool. Jadi ingat, pertama kali pakai snipping tool, kamu yang ajari. Di awal-awal masuk Ilkom dulu. Di lab, di kelas praktikum waktu itu. Aku terlambat menggunakannya, tapi kamu membuatnya jadi lebih baik daripada tidak sama sekali. Terima kasih, postingan ini bisa jadi. :')

Senin, 03 Februari 2014

Jalan-Jalan Pixels

Perjalanan lima hari kemarin itu perjalanan darat terjauh yang pernah gw lakuin sampe saat ini, Bogor-Malang. Meski lebih banyak tidur ayam sambil nahan mual di bis, tapi gw bisa denger celotehan kalian. Gw juga bisa tetep dapet jarkom makanan yang kalian bagi. Terima kasih, sekarang gw tau betapa enaknya wafer Tango rasa pandan. :9

Setiap perhentian bis untuk makan dan sholat, yang gw tunggu adalah pertemuan antara penunggu bis besar dan bis kecil. Ketika kita bergabung ngantri ngambil makanan, saling menunggu di kamar mandi rumah makan, sampai ditutup dengan foto bareng sebelum naik ke bis masing-masing. Karena perjalanan ini bukan cuma antara gw dan elu, atau dia. Ini perjalanan kita semua, Pixels. Meski ga semua warga Pixels ikut.

Di Bromo, meski ga dapet sunrise di Pananjakan, tetep ada banyak hal yang bisa gw kenang. Curhatan Ega yang abis diramal pak Supir, mati-matian nahan mabuk di jip, serunya offroad di padang pasir yang dingin, asiknya ngeliat temen-temen yang sibuk motret dan dipotret *awas, banyak ranjau kuda*.. serta naik tangga kemiringan hampir 45 derajat demi ngeliat kawah Bromo.



Di bibir kawah, udah banyak temen yang nunggu kedatangan gw.. yihiii! Meski gw ditunggu untuk motretin mereka, tak apalah yang penting semua senang. Foto bareng-bareng Mas'e, duet model sampo Togar-Uwi, ga lupa juga motret kawah Bromo yang mirip sama kawah Putih, dan objek lainnya yang terlalu banyak kalo disebut semua. Puas motret-motret, untuk cadangan profile picture sampe setaun kedepan kata si Uki, kita telusuri lagi jalan tadi untuk kembali ke jip. Hari terlalu siang untuk kita main ke bukit Teletubies. Di lain kesempatan mungkin, semoga bisa bareng kalian lagi.




Setelah itu perjalanan mencari Batu Wonderland untuk istirahat malam. Tapi kita belum boleh istirahat, karena harus main dulu ke Batu Night Spektakuler. Di sana ada Rumah Hantu yang ga berhantu, Sepeda Terbang yang ga perlu dikayuh, dan Bumper Car yang disupirin Indro. Semua harus bayar kalo mau main, kecuali Rumah Kaca yang gratiss. Sayang, gw belum ahli motret dalam malam, jadi hasilnya gelap. Hariitu pun ditutup dengan kita berpisah 4-4 sekamar.

Besok paginya ada kumpul angkatan, tapi ga jadi karena pada bangun kesiangan. Sambil nunggu sarapan, Romcay minjemin lap kacamatanya untuk gw bersih-bersih lensa dari pasir Bromo. Makasih, Rom! :D



Check out hotel, kita lanjut ke pusat oleh-oleh dan air terjun Coban Rondo. Ga ada yang istimewa kecuali kita semua basah kuyup karena hujan dan air terjun. Lepas pukul tiga sore itu, perjalanan panjang pun dimulai, menuju Jogja!

...
Pukul 02.30 keesokan paginya, bis berhenti di rumah makan yang belum buka. Dini hari itu, masih dengan tidur ayam, gw dengar suara kalian yang kasak-kusuk minta makanan. Beberapa saat kemudian dimulailah acara angkatan yang sempat tertunda, sesi unek-unek. Ga semua ikut bersuara, tapi dari sebagian yang bersuara itu gw rasa cukup untuk mewakili 'maaf' dan 'terima kasih' Pixels yang lain. Dialog Topik-Rendy yang tanpa debat meski beda ideologi, klarifikasi Ocit, Avita, dan teman lain, juga curhatan Basith sebagai Komti selama ini jadinya mengisi sesi unek-unek pagi di Jogja itu. Selesai dari itu, gw jadi sadar bahwa betapa pun ga deketnya gw sama kalian, kita tetap teman di Pixels.
 
...