Manusia Pura-pura
Dia yang senang
Aku yang girang
Dia yang sedih
Aku yang perih
Dia yang jatuh
Aku yang mengaduh
Dia yang takut
Aku yang kecut
Dia yang cemas
Aku yang lemas
Dia yang sakit
Aku yang koit
Ngobrol Modern
online
xx is typing..
send
read by xy
Pindahan
Sudut yang sama
tapi rasanya beda
semua berubah
ketika penghuninya pindah
Momen
'Yang fana adalah waktu. Kita abadi.'
kata Sapardi Djoko Damono
'Perpisahan cuma masalah waktu. Itu pasti. Apalagi di sini.'
kataku
*)Retorika 2015: Episode Januari
Sabtu, 28 Februari 2015
Senin, 23 Februari 2015
Artis SoundCloud
Aku cuma bisa diam... ‘Tabula Rasa Nisa-Pasrah’ by @AsyrafulUmam on #SoundCloud #np https://t.co/0qeWCv9w27
— ya umil (@yukirakitapa) February 22, 2015
Bang Umam, teman saya, adalah seorang artis SoundCloud. Saya pertama ketemu dia dalam open trip ke Baduy setahun lalu. Terakhir kali saya ketemu dia, juga dalam perjalanan open trip ke Baduy setahun yang lalu.
Bang Umam orang yang sederhana sekali. Penampilan dan gerak-geriknya biasa saja. Tidak seperti artis SoundCloud. Memangnya saya tau seperti apa penampilan dan gerak-gerik seorang artis SoundCloud? Yah, manalah saya tau.
Sebagai artis SoundCloud, Bang Umam termasuk orang yang produktif. Dia aktif di beberapa project. Coba kalian buka situs SoundCloud, ketik namanya 'Asyraful Umam' di kotak pencarian. Di bulan Februari tahun 2015 saja, hasil pencarian menunjukkan '34 tracks, 4 playlists, and 1 person found'. Entah akan ada berapa banyak tracks di hasil pencarian masa yang akan datang, saya belum mencarinya.
Teruslah berkarya, Bang Umam!
Bang Umam orang yang sederhana sekali. Penampilan dan gerak-geriknya biasa saja. Tidak seperti artis SoundCloud. Memangnya saya tau seperti apa penampilan dan gerak-gerik seorang artis SoundCloud? Yah, manalah saya tau.
Sebagai artis SoundCloud, Bang Umam termasuk orang yang produktif. Dia aktif di beberapa project. Coba kalian buka situs SoundCloud, ketik namanya 'Asyraful Umam' di kotak pencarian. Di bulan Februari tahun 2015 saja, hasil pencarian menunjukkan '34 tracks, 4 playlists, and 1 person found'. Entah akan ada berapa banyak tracks di hasil pencarian masa yang akan datang, saya belum mencarinya.
Teruslah berkarya, Bang Umam!
Kamis, 19 Februari 2015
Confidential
Dalam sebuah obrolan brainstorming di gedung berlantai 17, saya dan teman-teman duduk bergerombol. Ada yang semangat menuangkan idenya, ada yang melawan, ada yang minta tips untuk menambah keahlian, ada yang menimpali dengan lelucon ringan. Seru!
Saya mengikuti obrolan itu dengan penuh perhatian. Kadang sambil tersenyum. Kadang menoleh mencari perhatian dari yang lain. Kadang lepas tertawa. Kadang menangkap bayangan orang lain yang mencari perhatian, dan seterusnya. Sampai datang teman saya yang mengajak pergi sebentar. Agak berat, saya tinggalkan obrolan untuk sementara.
Selesai dengan urusan menemani teman saya, obrolan yang saya tinggalkan sudah berganti topik dengan masalah pelik. Ini menyangkut hidup orang banyak. Sangat confidential. Jangan sampai dibawa keluar forum. Woops.
Lantas, mengapa saya justru menulisnya?
Di sini?
Di jagad maya?
Bukannya seperti mengkhianati kesepakatan?
Saya rasa ini bukan masalah. Karena saya yakin, tidak akan ada yang membacanya. Kalau pun ada, toh bukan isi pembicaraannya yang saya tulis. Hehehe.
Sama seperti masalah perasaan. Saya termasuk orang yang tertutup menyangkut soal hati. Semua saya simpan rapat-rapat, seperti menjaga rahasia langit. Dilapisi bermacam logika. Sampai saya sendiri kuatir, jangan-jangan saya sendiri tidak sadar kalau nanti mati rasa.
Untuk itu, saya mencoba membuka beberapa lapis pertahanan saya. Dengan menulis di sini. Saya rasa tak apa. Karena saya mengupasnya toh bukan tanpa pertahanan. Karena saya yakin, tidak akan ada juga yang membacanya. :)
Saya mengikuti obrolan itu dengan penuh perhatian. Kadang sambil tersenyum. Kadang menoleh mencari perhatian dari yang lain. Kadang lepas tertawa. Kadang menangkap bayangan orang lain yang mencari perhatian, dan seterusnya. Sampai datang teman saya yang mengajak pergi sebentar. Agak berat, saya tinggalkan obrolan untuk sementara.
Selesai dengan urusan menemani teman saya, obrolan yang saya tinggalkan sudah berganti topik dengan masalah pelik. Ini menyangkut hidup orang banyak. Sangat confidential. Jangan sampai dibawa keluar forum. Woops.
Lantas, mengapa saya justru menulisnya?
Di sini?
Di jagad maya?
Bukannya seperti mengkhianati kesepakatan?
Saya rasa ini bukan masalah. Karena saya yakin, tidak akan ada yang membacanya. Kalau pun ada, toh bukan isi pembicaraannya yang saya tulis. Hehehe.
Sama seperti masalah perasaan. Saya termasuk orang yang tertutup menyangkut soal hati. Semua saya simpan rapat-rapat, seperti menjaga rahasia langit. Dilapisi bermacam logika. Sampai saya sendiri kuatir, jangan-jangan saya sendiri tidak sadar kalau nanti mati rasa.
Untuk itu, saya mencoba membuka beberapa lapis pertahanan saya. Dengan menulis di sini. Saya rasa tak apa. Karena saya mengupasnya toh bukan tanpa pertahanan. Karena saya yakin, tidak akan ada juga yang membacanya. :)
Keduluan
Beberapa minggu yang lalu saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berkumpul ramai-ramai, mungkin empat tahun jauhnya. Sibuk dengan urusan masing-masing, selama rentang itu, komunikasi saya dengan mereka hanya sebatas interaksi di socmed dan aplikasi chatting jarang-jarang.
Di pertemuan kemarin, saya, yang suka canggung kalau lama tidak bertemu orang, lebih banyak diam dan menontoni tingkah mereka. Mereka masih sahabat-sahabat saya yang dulu. Yang ramai. Yang asik. Yang seru tidak ada habis-habisnya. Yang tidak seru mungkin saya sendiri. Hehehe, maaf, ya, teman-teman. ;)
Lama tidak bertemu, yang saya harapkan adalah banyak obrolan, banyak cerita, dan banyak kisah yang diungkapkan. Namun, kehadiran makhluk dalam genggaman mengacaukannya.
Setelah obrolan yang panjang, tiba-tiba suasana menjadi hening. Saya, yang sedang melamun melihat jalanan, refleks menoleh, dan.. terlihat wajah sahabat-sahabat saya yang kini tengah menatap gadget masing-masing.
Mereka sibuk check in, upload gambar makanan, tag-tag dan meninggalkan jejak 'cinta' di postingan satu sama lain.
Aktivitas yang kekinian sekali. Saya, yang bukan pengguna socmed satu itu, hanya bisa diam dan kembali melamun. Sambil kadang ikut memandang layar dalam genggaman.
Di antara sahabat-sahabat yang kekinian, saya merasa keduluan.
Pernahkah kamu mengalami keresahan yang sama?
Bukan sebagai manusia keduluan, tapi bagaimana gadget canggih lebih menarik perhatian dibanding diri kamu sebagai manusia. Saya takut social media lebih bersifat sosial dibanding 'kita' sebagai makhluk sosial.
Atau kata 'sosial' kini sudah berganti maknanya?
Di pertemuan kemarin, saya, yang suka canggung kalau lama tidak bertemu orang, lebih banyak diam dan menontoni tingkah mereka. Mereka masih sahabat-sahabat saya yang dulu. Yang ramai. Yang asik. Yang seru tidak ada habis-habisnya. Yang tidak seru mungkin saya sendiri. Hehehe, maaf, ya, teman-teman. ;)
Lama tidak bertemu, yang saya harapkan adalah banyak obrolan, banyak cerita, dan banyak kisah yang diungkapkan. Namun, kehadiran makhluk dalam genggaman mengacaukannya.
Setelah obrolan yang panjang, tiba-tiba suasana menjadi hening. Saya, yang sedang melamun melihat jalanan, refleks menoleh, dan.. terlihat wajah sahabat-sahabat saya yang kini tengah menatap gadget masing-masing.
Mereka sibuk check in, upload gambar makanan, tag-tag dan meninggalkan jejak 'cinta' di postingan satu sama lain.
Aktivitas yang kekinian sekali. Saya, yang bukan pengguna socmed satu itu, hanya bisa diam dan kembali melamun. Sambil kadang ikut memandang layar dalam genggaman.
Di antara sahabat-sahabat yang kekinian, saya merasa keduluan.
Pernahkah kamu mengalami keresahan yang sama?
Bukan sebagai manusia keduluan, tapi bagaimana gadget canggih lebih menarik perhatian dibanding diri kamu sebagai manusia. Saya takut social media lebih bersifat sosial dibanding 'kita' sebagai makhluk sosial.
Atau kata 'sosial' kini sudah berganti maknanya?
Langganan:
Postingan (Atom)