"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"
1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini
Ini karya #spotifart yang saya buat. Setelah berhari-hari maju-mundur untuk ikut trend ini, akhirnya berhasil juga nih bikin satu dan berani untuk nge-post hasilnya.
Keren juga ya kalo diliat-liat? Wkwk.
Sejak liat trend ini di Twitter, saya penasaran mau coba. Sempat ragu soalnya kemampuan imaji spasial saya ga bagus, dalam arti susah untuk membayangkan layout atau posisi dari sebuah bidang.
Misal, saya mau nulis "Selamat Ulang Tahun" di kartu ucapan yang posisinya di tengah gitu. Nah, saya ga bisa mengira-ngira pasnya di mana biar kalimat itu persis di tengah-tengah kartu. Kejadian yang udah-udah, pasti kurang ke tengah atau malah kertasnya jadi ga cukup karena terlalu ke pinggir. Ga bisa tuh saya kayak Ratna yang bisa mulus banget menulis halus dalam sekali gores tanpa penghapus/tipe-ex sekalipun. 😂
Padahal kunci dari tantangan ini gimana kita menambahkan elemen pendukung sampai jadi satu layar full.
Selain itu, terbatasnya jenis brush di Instagram story bener-bener maksa kita untuk kreatif dan sabaaar untuk menghasilkan #spotifart yang kita mau. Belum lagi kalo ga sengaja mencet tombol undo, semua goresan yang susah-payah kita buat akan kereset dalam sekejap. 😂
Susah-susah bikin ini sebenernya buat apa sih? Tentu bukan untuk dibilang keren dan ga bisa nolak juga kalo saya nyatanya sedang ikut-ikutan trend. Tapi, satu hal yang bikin penasaran adalah bisakah saya yang 'ga bisa' gambar dan lemah spasial ini ikut meramaikan postingan #spotifart?
Jadi inget omongannya Papin yang selalu bilang, "Menggambarlah untuk bersenang-senang."
Bermodalkan omongan itu, saya jadi mikir pasti bisa deh nih bikin karya serupa yang sesuai dengan kemampuan dan imajinasi saya. Yang juga menarik dari tantangan ini adalah sangat tidak terbatasnya jenis karya yang bisa kita hasilkan. Trik apapun bisa dipakai untuk memaksimalkan tools yang ada di Instagram Story.
Dan saya senang sekali, karena akhirnya bisa menjawab tantangan itu. :_)))
Ajak saya kepada dua kamerad andalan, Sis dan Ali, sambil nunjukin screenshot karya Ana Octarina. Di minggu entah keberapa #dirumahaja, saya bosan. Asli. Bingung mau melakukan apalagi dan postingan memotret virtual yang seliweran di IG terlihat baguss, jadi ingin coba. Beruntung Sis dan Ali iya-iya aja mau bantu saya tanpa ada penolakan atau malu-malu jadi model.
Padahal untuk dapet hasil seindah fotografer professional yang seliweran itu, ga mudah. Asli. Kualitas gambar yang macam file format .3gp, blur yang ga ada estetiknya, dan pose yang canggung karena saya belum jago mengarahkan, lumayan bikin saya minder.
Sering di tengah sesi foto saya ingin menyerah dan bilang, "Udahan aja yuk, ga dapet-dapet nih posenya," atau terlintas pikiran, "Blur terus nih untuk jarak seginii, lensanya kurs."
Wow nyalahin tools.
Saya minder, soalnya ekspektasi yang terbentuk udah macam Ana Octarina X Dian Sastro.
Tapi teman-teman kamerad ini ga ada tanda-tanda awkward atau ngeraguin kemampuan saya untuk motretin mereka, malah tetap semangat pose-pose terus. Seakan ngasih saya waktu untuk menyiasati keterbatasan virtual photoshoot ini.
Untuk itu, terima kasih ya Gaes. Terima kasih juga Nur Endah dan Bayu, karena udah ngijinin Shyra ikutan :)
Dari beberapa sesi virtual memotret ini, rasanya menyenangkan. Asli. Walau hasilnya yaaa begitu deh, tapi proses ini bikin saya belajar banyak. Gimana motret virtual, gimana ngedit supaya display-nya oke, gimana ngatur pose, setting properti, dll. Juga menyenangkan bisa tatap muka walau cuma lewat video call. Walau kadang koneksinya gagal, lalu tiba-tiba terputus. Tapi asli, ini menyenangkan.
Udah lama sih selesainya, cuma langsung dipublish ke Issuu. Terus lanjut beberapa hari bikin mockupnya untuk post di kreavi.com, baru dipost di sini. Mehehee. Hasil beberapa malam tanpa tidur dan paket internet malam dicampur es kopi maknyus. :D
Ngomong-ngomong soal kopi, gara-gara proyek ini saya merasa jadi ketagihan kafein, deh. Kopi sih sebenernya. Padahal dulu saya ga suka, karena rasanya asam, tapi sekarang kok biasa aja malah doyan. Apalagi dicampur susu pake es, karena kalo ga pake es jadinya uu. Krik. Hahaa.
Selama ngerjain poetrygraphy ini, saya belajar banyak nih.. Belajar layouting, editorial design, gimana ngatur posisi teks dan gambar supaya bagus dan enak dibaca. Tadinya di tiap penggalan puisi mau satu-satu aja saya sisipin gambar, semacam ilustrasi tunggal gitu. Tapi ga jadi. Soalnya ada bait puisi yang panjang dan rasanya sesak kalo cuma diselingi satu foto sebelum lanjut ke bait berikutnya.
Saya mikir gimana caranya biar kamu, ga sesak bacanya. Saya mikir gimana supaya kamu bisa bernafas. Saya mikir gimana supaya kamu bisa nangkep dan membayangkan maksud kata-kata saya. Iya, kamu, pembaca karya saya. Hahaa.
Untuk itu jumlah gambar yang saya pakai harus bertambah. Saya pilih-pilih lagi gambar mana yang cocok dan gimana posisinya, di halaman kiri atau kanan. Makanya lama baru bisa jadi. Hahaa. Alasan. Padahal mah ga gitu-gitu amat.
Masih banyak yang harus saya pelajari nih. Edisi ketiga ini dengan berbagai alasan pun masih banyak kurangnya. Kurang cetar gitu. Makanya kita ngopi, yuk. Belajar bareng dan ngomongin edisi selanjutnya atau proyek lainnya. Terus ngobrol banyak sambil ketawa tanpa ego. :D
Setelah lamaaa sekali sejak terakhir saya menulis Terhapus Hujan Sehari, sekarang saya datang lagi dengan poetrygraphy terbaru yang berjudul: Wayang Layang.
Wayang layang sebenarnya adalah pertunjukan wayang kontemporer. Sebuah kolaborasi antara teater Les-rémouleurs dari Prancis dan seniman asal Indonesia. Saya menonton pertunjukan mereka akhir April kemarin di pembukaan Festival Printemps Français. Sabtu malam, hujan, di tengah aktivitas malmingnya warga Jakarta, saya datang ke Plaza Senayan untuk nonton pertunjukan ini. Kyah.
Pertunjukan wayang dengan judul L’Oiseau (The Bird)ini menghadirkan sesosok burung buatan yang melayang terbang. Biasanya kalau nonton wayang kan di layar yang statis, ya. Nah, kalau wayang layang, yang jadi layar itu adalah sayap si burung. Jadi kita dapat dua tontonan sekaligus, tarian burung ini saat terbang, melayang, dan juga cerita yang dikisahkan lewat gambar ilustrasi dari sayap si burung. Epik. Saking epiknya, saya jadi terinspirasi untuk menulis poetrygraphy lagi. Karena sayang juga sih, kalau hasil dokumentasi saya cuma teronggok di harddisk. Jadi, lebih baik dibikin poetrygraphy ya saya pikir. Mungkin kalau saya rajin nanti bisa terbit jadi photobook betulan. Hehehe. Mari sama-sama bilang: aaamiiin! Akhir kata, saya persembahkan sebuah Wayang Layang dalam bentuk lain kepada semesta. Khususnya kamu, yang sudah memberikan waktumu untuk membaca postingan ini. :)
1. Art adalah seni.
2. Libur adalah kemarin, hari ini, dan besok.
3. Gue adalah kata ganti orang pertama tunggal, bukan jamak.
Jika tiga pernyataan tersebut digabung, maka jadinya gue sedang libur tapi ga kemana-mana, dan akhirnya iseng melakukan kesenian di rumah. Sendiri. Muahahah.
Dari kemarin gue nyoba bikin ilustrasi potret seseorang yang mirip gue, tapi baru jadi hari ini. Siang tadi. Lambat memang, karena gue lupa cara gampangnya. Pas taun lalu diajarin sama nurendahs, semua terlihat mudah dan cepet banget jadi! Tapi ketika gue coba sendiri, kok ga jadi-jadi. Akhirnya gue malah nyambi nonton film dulu bukannya lanjut nerusin.
Seni bagi gue adalah menikmati. Ga cuma menikmati hasil akhir, tapi juga proses berkaryanya. Maka ketika gue bikin suatu karya seni, dan tiba-tiba mentok ga dapet ide, gue akan cenderung beralih ke kegiatan lain. Niatnya sih supaya pikiran jadi rileks dan sekalian nyari inspirasi juga, meski ujung-ujungnya malah ngelantur dan hilang fokus. Kalo udah gini, bakal ada temen sebelah gue yang bilang, 'Kebanyakan mikir lu..'
Huhuhu.
Sebenernya, sih, kalo bisa gue ga mau merasa tertekan dan terbebani dalam proses pembuatannya. Entah terbebani deadline, atau faktor lainnya. Tapi yang gue heran, ide dan inspirasi justru bermunculan di otak ketika deadline udah di depan mata. *sigh
Gue pernah denger ada ungkapan yang bilang, 'Hidup itu pendek, seni itu panjang.' Itu gue dapet dari suvenir pernikahannya Cholil vokalis ERK yang beredar juga di internet. Keren, kan, suvenirnya lagu. Kalo mau tau lagunya bisa diliat di laman ini tentang album mereka: Indie Art Wedding.
Gue sangat mengamini bunyi ungkapan itu. Karena seperti gue pernah bilang, seni tak bisa diburu. Karena seni terlalu panjang untuk dibatasi waktu deadline dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Tapi kalo gue terusin ke kalimat selanjutnya, maka pembatasan-pembatasan yang ada akan jadi pemakluman. Sebab hidup itu pendek, sementara kita ingin melakukan banyak hal, banyak aktivitas lainnya dalam hidup kita. Kalo bener-bener ga dibatasin, bisa-bisa ga selesai. Tapi tetep aja, bagi gue seni itu panjang dan memang seharusnya ga terbatas..
Kesimpulannya, ada yang mau liat hasil karya gue dari kemarin? Gue persembahkan sebuah potret ilustrasi yang.. mirip gue ga sih? Hehehhe.
Hello!
I was confused in the middle of making #animalquotes. And some poetry requests from my friend. I can tell you that I'm stuck. I apologize for make you wait so long. Hehehe.
Not bad, huh? :>
It's not easy for me making this in bahasa. It's not easy for me, as the first timer. I must find the right article, choose the right words, and bring it to the line I want to read. But it's FUN. Heheheh.
Maybe i'm just not get used to, yet. :D
Hai!
Inilah karya terbaru dari projek #animalquotes. Puisi 8 baris, a-a-b-b, tentang Dinosaurus. Requested by oom Rendy. Dia emang banyak maunya. Wahahah. Tapi terima kasih udah request. :D
Ilustrasinya ga sengaja ada 2 macem. Ilustrasi yang atas bikinan gue asli, yang bawah bikinan Suci Wulandari alias swd. Dia temen SMP gue, seorang seniman.
Jadi swd ini ngajak kolaborasi. Dia yang bikin ilustrasinya, gue bagian ngata-ngatain. Kayaknya dia kasian ngeliat gambar bikinan gue yang menyedihkan. Gue akui memang menyedihkan. Meski begitu, tapi gue ga tega juga kalo ga nge-upload. :v
Terima kasih, Suc, udah bikinin gambar Dinosaurus ini. Keren sekali! Tak pantaslah sebenarnya karyaku disejajarkan dengan karyamu. Kebanting abis. Heheh.
Ditunggu gambar-gambar berikutnya, ya!
Dan sharing-sharing berikutnya juga! :D
Lately, I've been making a personal project called #animalquotes. I have planned it as an album that contained some quotes in poetry-form and illustrations about animals. Just like my previous poetry-graphy album: #TerhapusHujanSehari. (My suggestion is --> you must read it. It's a masterpiece! *smirk)
For now on, 3 pictures with different animals have been created: elephant, shell, and whale. Kind of slow, yeah. Slow but sure, I hope. :v
It's hard to make a quote about animal that you're not familiar with it, Dude. Moreover it must written in English, while my English is kind of 'little-little i can' style. Also it must has simple shape to draw, but not too simple. Got it? As my skill is not good. LOL
But you guess what? I enjoyed it so much! :D
I fell in love with words, not codes. Hahah. I love to draw, though my drawing is SO so-so. Really. You can see it from these pictures below:
The Elephant
The Shell
The Whale
Not bad, huh? ;p
Do you have any suggestion? :D
Or animal request maybe? :D
Wish me luck, Dude. For finish it soon. For you not to wait it so long. For me can enjoy it together with you. Uyeah!
Hai!
Kali ini gue mau nulis resensi buku. Cekidot, Gan...
Judul: Minggu Bersama Ibu
Penulis: Ya Umil
Penerbit: Ruang Contoh
Minggu Bersama Ibu
Buku terbitan #RuangContoh ini berkisah tentang kegiatan si penulis yang menghabiskan hari Minggu di rumah bersama Ibu. Dengan pilihan sudut pandang orang pertama, gue sebagai pembaca jadi seolah ikut mengalami sendiri kejadian di buku ini. Kerasa nyata banget sama kehidupan sehari-hari. Tokoh ceritanya pun minimalis, cuma dia dan sang Ibu. :)
Alur cerita yang dipilih sederhana banget. Semua berawal dari pisang-pisang hasil sang Ibu ikut pengajian di mesjid deket rumahnya di Bekasi. Si penulis kasian sama pisang-pisang itu, karena udah beberapa hari sampai kulitnya kecoklatan masih ga termakan juga. Daripada mubazir, penulis berpikir untuk mengolahnya jadi kue bolu pisang.
Dimulailah eksperimennya di dapur bersama Ibu. Setelah browsing resep kue bolu pisang, pilihannya jatuh ke resep Cake pisang yang hanya memakai 5 bahan saja! Waw, gue jadi tertarik mau bikin juga. :D
Konflik pertama muncul di sini, karena ternyata di rumah ga ada mentega. Mau beli ke pasar, tapi males. Wah, sama nih kayak gue suka males jalan. Hahah.
Setelah riset kecil, akhirnya si penulis mengganti penggunaan mentega dengan minyak goreng. Tak ada mentega, minyak goreng pun jadi! Gue jadi dapet pengetahuan baru. Good.. :D
Dengan telaten dan sepenuh hati, dimulailah prosesi pembuatan bolu pisang. Setiap langkah dilakukan sesuai tuntunan resep supaya menghasilkan bolu pisang yang mengembang sempurna. Dibawah pengawasan Ibu, akhirnya adonan bolu jadi dan siap dipanggang.
Proses pemanggangan diceritakan ga kalah sakral dari proses mengadon. Mulai dari masuk oven Bima Jaya made in Bandung sampai menunggu kematangan sempurna, digambarkan seperti menanti kelahiran oleh si penulis. Wuih, gue yang ngebaca jadi merasa ikut berperan dalam kelahiran si bolu. :)
Setiap 5 menit, dengan antusias dia intip keadaan si bolu dalam Bima Jaya. Waktu pemanggangan dalam resep yang cuma 40 menit, dia gambarkan seperti seabad lamanya. Detik terasa berjalan lambat sekali..
Ini detik-detik penantian si bolu, diambil dari akun IG si penulis :>
Hingga akhirnya wangi bolu pisang mulai tercium. Permukaan bolu terlihat mengering. Tapi justru disitulah muncul konflik baru. Bolunya ga mengembang. Si penulis mikir, ini apa yang salah sampai ga ngembang?
Disentuh-sentuh empuk sih permukaannya, meski bantet. Dia cerita lagi, di tengah kebingungan itu dia icip dan rasanya.. Lembut.. Lembut dan wangi pisang..
Gawaat.. Gue jadi pingin nyoba bikin beneraaaan.. Hahaha
Meski berhasil lumayan sukses bikin bolu, tetep aja ada konflik baru yang ditemui penulis. Bolunya ga kerasa udah mau abis. Padahal dia berniat untuk bagi-bagi bolu itu ke temen-temennya besok. Yah, gue mau komentar gimana ya. Dari ceritanya aja terlihat maknyus banget itu bolu pisang. Ga heran tau-tau abis tak bersisa. :D
Dari judul bukunya, gue rasa si penulis ini terinspirasi banget sama 'Sabtu Bersama Bapak' karangan Adhitya Mulya. Semacam ingin melengkapi mungkin, Sabtu bersama Bapak-Minggu bersama Ibu. Intinya weekend bareng keluarga, yeah! Hahaha.
Gue ga nyesel baca buku ini. Recommended, Gan! (y)
Halo!
Gimana kemarin yang abis dari HelloFest? Seru dan menyenangkan?
Satu yang gue tau, ramai pastinya! Hahahah :D
Seperti yang gue tulis di postingan sebelumnya, sebaiknya kalian pantang pulang sebelum nonton film pendek gue di Hellofest kemarin. Karena.... akibatnya akan sedih kalo ga menontonnya. Gue sih yang sedih karena ga ada yang nonton. ;p
Sebenernya gue ga tau juga nih, film-film ini ikut ditampilkan atau ngga. Entah lolos sensor atau apakah malah disimpan cuma jadi arsip demi keamanan dunia, karena punya pesan terselubung mencuci otak anak muda sedunia. I really don't know.......
Maka biar kalian ga sedih karena ga menontonnya...
Di sini... gue persembahkan TIGA film pendek 8 detik karya gue yang dibantu tim penolong. Dengan menonton film ini, kalian juga bisa berkontribusi jadi tim penolong untuk film-film selanjutnya. Kalo bosen ngeliat tokoh utamanya, bisa bantu jadi aktor mungkin? ;p
Atau jalan cerita, atau bantuan apapun, gue akan sangat tertolong bisa bekerja sama bareng kalian. It's an honor. :D
Selamat menolong! :D
PS:
Terima kasih kepada tim penolong yang bersedia membantu gue membuat karya ini.
Terima kasih Ratna, Uci, Nyami, dan Guru, atas bantuan kalian, film ini bisa jadi! :D
Karya ini harusnya terpajang di ruang pameran suatu acara konferensi kepemudaan di ibukota. Tapi gue seorang pemudi bukan pemuda, jadi ga masuk kriteria deh. Maaf ya, gue tau kalian sedih gara-gara ga bisa melihat dan ketemu mimpi gue di sana. Heheh
Merugilah mereka yang ga melihat karya ini! Biar kalian ga ikutan merugi, nih gue pajang di sini aja ya~ Bergembiralah kalian~ :D
Dengan hanya ditemani properti, yang sangat menyenangkan saat merakitnya, gue ingin bilang: keep your dreams alive, Guys!
Jo n Ken adalah dua bersaudara yang tinggal di negara Legowo. Mereka lahir di hari yang sama, tanggal 17 bulan Oktober tahun entah berapa. Tempat lahir: antah berantah, yang jelas mereka sama-sama merantau ke Legowo supaya bisa hidup bahagia. Kemudian mereka berpisah..
Kemarin adalah hari ulang tahun mereka, karena itu mereka janjian untuk bertemu. Setelah bertahun-tahun, tiba-tiba Ken penasaran siapa sebenarnya di antara mereka yang lahir duluan. *(kenapa baru penasaran? Itulah, gue juga bingung kenapa).
Ken: "Jo, aku lahir duluan kan, ya, dibanding kamu?"
Jo : "Guee yang lahir duluan kali."
Ken: "Ah, mosok sih? Aku ah Jo."
Jo : "Yee, dibilangin ga percaya. Gue yang lahir duluan."
Ken: "Aku, Jo. Akkuuuu..!" *histeris
Jo : "Gueeee...." *histeris juga
Ken: "Akkuuuuu..." *makin histeris
Entah kenapa mereka pengen banget jadi yang lahir duluan. Sampai akhirnya mereka gelut (berantem), dan jadilah stop motion ini..
Properti adalah benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.
-dahlanforum.
Properti
merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasan teater.
Contohnya kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi, dan lain-lain.
-Wikipedia
Movie camera jadi-jadian
Properti adalah benda yang dibuat untuk jadi lawan main dan saksi bisu pertunjukan.
-RuangContoh{}
Tahun 2014 termasuk tahun yang besar bagi gue.
Pertama, di tahun ini gue pergi jauh trip ke Malang bareng temen-temen kelas. :3
Kedua, pertama kalinya gue ikut kopdar. :3
Kemudian disusul dengan perjalanan seru-seru lainnya. :3
Banyak gambar yang gue ambil selama perjalanan itu. Mau upload banyak-banyak tapi gue ga ada Instagram. Males juga nge-uploadnya. :3
Mau dipajang di blog paling cuma beberapa, untuk gambar pendukung tulisan. Akhirnya kebanyakan gambar bersejarah itu bersemayam menuh-menuhin harddisk dan dinikmati gue seorang. :3
Mau dibuang, janganlaah.. sayang. :3
Maka gue bikin album gambar dan caption suka-suka gue. Kebetulan lagi ada yang dipikirin jadi dapet inspirasi lebih. Alhamdulillah ada rejeki waktu luang yang berlebih juga. :3
Langsung aja, silakan dinikmati. Doain, semoga gue jadi bisa bikin buku beneran. Hahaha. #Aamiin.
Simpen baik-baik, yak.
Inget: jangan dibuang, sayang. :3