Pertama kali kopdar, sekalinya ikut langsung ke perkumpulan pawang ular :')
Selasa, 04 Maret 2014
Senin, 03 Maret 2014
Cerita dari [LPK] Tepi Sawah
Udah banyak teman-teman kelas yang cerita soal LPK ini. Sebut saja Ayu dan Tantos. Coba buka blognya, baca tulisan ini dan ini, maka kamu akan tahu kalo aku ga ngibul bilang mereka udah pernah cerita soal LPK. Mereka berdua juga udah cukup banyak untuk mewakili teman-teman kelas yang bercerita tentang LPK.
Minggu (2/3) kemarin ini ketiga kalinya aku berkunjung ke LPK Tepi Sawah yang letaknya memang di tepi sawah. Pertama kalinya itu tahun lalu waktu dibonceng Dian (kubaca: Dayen) bawa bingkisan ke sana untuk suatu acara. Kemudian kedua kalinya itu ketika diajak lagi ikut mengajar anak-anak di sana. Tapi berakhir dengan aku yang main-main. Aku benar-benar cuma main, bukannya mengajar seperti Rivo dkk. Waktu itu aku main kuis "YA! BISA JADII", main suit Sim-markosim, dan main benteng-bentengan dalam lingkaran bareng anak-anak di sana. Sudah begitu, aku tetap dapat nasi gado-gado dan es kelapa, jatah makan siang bagi pengajar yang datang. Maka aku menerimanya dengan penuh kasih sambil berterimakasih. *alhamdulillah
Nah, di kunjungan ketiga kemarin akhirnya aku melakukan hal yang agak serius. Aku menemani Dian (kubaca lagi: Dayen), yang menemani anak-anak di sana belajar membuat percakapan dalam bahasa Inggris. Mereka harus membuat percakapan sesuai ilustrasi yang diberikan dan berdasarkan materi pelajaran minggu lalu secara berkelompok. Usia anak-anak di sana beragam, mulai dari usia muda kelas 1 SD hingga usia tua kelas 6 SD. Hehehe. Habis itu, mereka praktikkan percakapan yang dibuat di hadapan teman-teman lain. Kebanyakan dari mereka masih malu-malu waktu belajar kemarin, cuma sedikit yang berani nanya ini-itu. Karena aku orang baru, mungkin. Tapi kalo soal main.. mereka berani narik siapapun untuk ikut main. *korban permainan
Bicara soal malu-malu, mungkin mereka malu karena takut salah, ya. Padahal seharusnya ga usah takut salah waktu belajar kemarin, Nak. Aku mancing-mancing kalian biar bisa bikin percakapan se-kreatif mungkin ala sinetron di TV, supaya belajarnya menyenangkan dan kalian bisa. Tapi kalian cuma diam dan bertampang bingung. Aku jadi ikut bingung. Mungkin itu juga, ya, yang dirasa guru-guru dan dosen waktu mengajarkan aku yang juga malu-malu. Udah mancing-mancing tapi ga kepancing. #uhuk
Ini sebagian dari mereka yang ikut belajar kemarin.. :D

Minggu (2/3) kemarin ini ketiga kalinya aku berkunjung ke LPK Tepi Sawah yang letaknya memang di tepi sawah. Pertama kalinya itu tahun lalu waktu dibonceng Dian (kubaca: Dayen) bawa bingkisan ke sana untuk suatu acara. Kemudian kedua kalinya itu ketika diajak lagi ikut mengajar anak-anak di sana. Tapi berakhir dengan aku yang main-main. Aku benar-benar cuma main, bukannya mengajar seperti Rivo dkk. Waktu itu aku main kuis "YA! BISA JADII", main suit Sim-markosim, dan main benteng-bentengan dalam lingkaran bareng anak-anak di sana. Sudah begitu, aku tetap dapat nasi gado-gado dan es kelapa, jatah makan siang bagi pengajar yang datang. Maka aku menerimanya dengan penuh kasih sambil berterimakasih. *alhamdulillah
Nah, di kunjungan ketiga kemarin akhirnya aku melakukan hal yang agak serius. Aku menemani Dian (kubaca lagi: Dayen), yang menemani anak-anak di sana belajar membuat percakapan dalam bahasa Inggris. Mereka harus membuat percakapan sesuai ilustrasi yang diberikan dan berdasarkan materi pelajaran minggu lalu secara berkelompok. Usia anak-anak di sana beragam, mulai dari usia muda kelas 1 SD hingga usia tua kelas 6 SD. Hehehe. Habis itu, mereka praktikkan percakapan yang dibuat di hadapan teman-teman lain. Kebanyakan dari mereka masih malu-malu waktu belajar kemarin, cuma sedikit yang berani nanya ini-itu. Karena aku orang baru, mungkin. Tapi kalo soal main.. mereka berani narik siapapun untuk ikut main. *korban permainan
Bicara soal malu-malu, mungkin mereka malu karena takut salah, ya. Padahal seharusnya ga usah takut salah waktu belajar kemarin, Nak. Aku mancing-mancing kalian biar bisa bikin percakapan se-kreatif mungkin ala sinetron di TV, supaya belajarnya menyenangkan dan kalian bisa. Tapi kalian cuma diam dan bertampang bingung. Aku jadi ikut bingung. Mungkin itu juga, ya, yang dirasa guru-guru dan dosen waktu mengajarkan aku yang juga malu-malu. Udah mancing-mancing tapi ga kepancing. #uhuk
Ini sebagian dari mereka yang ikut belajar kemarin.. :D

Jumat, 28 Februari 2014
Selamat Jalan Bu Retno..
Berita duka..
| jarkom.jpg |
Bu Retno, guru biologi di SMAN 2 Bekasi, meninggal dunia tanggal 18 Februari 2014 kemarin. Menurut jarkom yang beredar beliau meninggal karena sakit. Karena gw orangnya "kudet", gw ga tau sakit apa.. :s
Bu Retno itu ngajar gw pas kelas XI. Ga salah lagi karena pas kelas X yang ngajar biologi adalah Bu Siwi, dan ketika kelas XII Bu Empit yang ngajar biologi sekaligus jadi wali kelas XII IA 2, kelas gw saat itu.
Bu Retno itu menurut gw cara ngajarnya kalem, ya. Waktu dulu diutus jadi kontingen Olimpiade cabang Biologi, ngebuat gw cukup sering berhubungan sama Bu Retno. Bahkan sama anaknya, Kak Anggar, yang juga jadi kontingen. Kita "mendalami" biologi bareng-bareng, dan di mata gw saat itu Kak Anggar memang pantas jadi anak seorang guru Biologi. Mungkin memang pengetahuan gw yang cetek, tapi duet ibu-anak biologi antara Bu Retno dan Kak Anggar cukup menambah pengetahuan gw akan bidang biologi, saat itu. #uhuk
Bu Retno itu.. auranya tenang banget kayak air. Adem. Seakan ga terusik sama ocehan anak-anak kelas pas rame ngobrol dulu, beliau tetep aja terus mengajar tanpa mengeluh apa pun. Mungkin ibu terlalu baik, ehhe.
Bu Retno, selamat jalan..
Terima kasih udah mengajarkan saya dan teman-teman. :')
Alasan Gw Pergi ke Perpus
Jumat, 14 Februari 2014
Selasa, 11 Februari 2014
High Rope! :D
Minggu, 09 Februari 2014
Ini nih, kue bolu yang mirip sawah :D
Senin, 03 Februari 2014
Di Akhir Perjalanan
Ternyata kamu ga sebesar yang aku kira. Kaos harga 30 ribu yang ga bisa ditawar dan akhirnya aku beli langsung kamu letakkan begitu selesai mencobanya. Asumsiku tentang rapper yang kamu suka dan gayanya dengan kaos kebesaran ternyata keliru, adikku.
#teronggok #oleh-oleh
Kini aku bulimia.
#fiksi
Si Telor muak sama ayam.
#fakta
Bos, ayo belajar fotografi lagi! Ajak juga fotografer yang pendiam itu. Ajari aku memotret dalam malam dan gelap. Mungkin foto freeze dan bokeh juga.
#fotografi
Perpisahan bukan sedih karena berpisah, tapi karena melupakan. Semoga kita tidak.
#farewell
Setelah mencoba keripik apel, ternyata aku lebih suka buah apel.
#oleh-oleh
Setelah mencoba apel celup, ternyata aku lebih suka teh rasa apel.
#oleh-oleh
Aku mencuci baju dan kutinggal dalam jemuran kosan. Aku pulang. Esok harinya hujan angin.
#cucian
Timbangan kamar mandi ibuku rusak. Berat badanku turun.
#timbangan
| Kaos Jogja |
Kini aku bulimia.
#fiksi
Si Telor muak sama ayam.
#fakta
Bos, ayo belajar fotografi lagi! Ajak juga fotografer yang pendiam itu. Ajari aku memotret dalam malam dan gelap. Mungkin foto freeze dan bokeh juga.
#fotografi
Perpisahan bukan sedih karena berpisah, tapi karena melupakan. Semoga kita tidak.
#farewell
Setelah mencoba keripik apel, ternyata aku lebih suka buah apel.
#oleh-oleh
Setelah mencoba apel celup, ternyata aku lebih suka teh rasa apel.
#oleh-oleh
Aku mencuci baju dan kutinggal dalam jemuran kosan. Aku pulang. Esok harinya hujan angin.
#cucian
Timbangan kamar mandi ibuku rusak. Berat badanku turun.
#timbangan
Jalan-Jalan Pixels
Perjalanan lima hari kemarin itu perjalanan darat terjauh yang pernah gw lakuin sampe saat ini, Bogor-Malang. Meski lebih banyak tidur ayam sambil nahan mual di bis, tapi gw bisa denger celotehan kalian. Gw juga bisa tetep dapet jarkom makanan yang kalian bagi. Terima kasih, sekarang gw tau betapa enaknya wafer Tango rasa pandan. :9
Setiap perhentian bis untuk makan dan sholat, yang gw tunggu adalah pertemuan antara penunggu bis besar dan bis kecil. Ketika kita bergabung ngantri ngambil makanan, saling menunggu di kamar mandi rumah makan, sampai ditutup dengan foto bareng sebelum naik ke bis masing-masing. Karena perjalanan ini bukan cuma antara gw dan elu, atau dia. Ini perjalanan kita semua, Pixels. Meski ga semua warga Pixels ikut.
Setiap perhentian bis untuk makan dan sholat, yang gw tunggu adalah pertemuan antara penunggu bis besar dan bis kecil. Ketika kita bergabung ngantri ngambil makanan, saling menunggu di kamar mandi rumah makan, sampai ditutup dengan foto bareng sebelum naik ke bis masing-masing. Karena perjalanan ini bukan cuma antara gw dan elu, atau dia. Ini perjalanan kita semua, Pixels. Meski ga semua warga Pixels ikut.
Di Bromo, meski ga dapet sunrise di Pananjakan, tetep ada banyak hal yang bisa gw kenang. Curhatan Ega yang abis diramal pak Supir, mati-matian nahan mabuk di jip, serunya offroad di padang pasir yang dingin, asiknya ngeliat temen-temen yang sibuk motret dan dipotret *awas, banyak ranjau kuda*.. serta naik tangga kemiringan hampir 45 derajat demi ngeliat kawah Bromo.

Di bibir kawah, udah banyak temen yang nunggu kedatangan gw.. yihiii! Meski gw ditunggu untuk motretin mereka, tak apalah yang penting semua senang. Foto bareng-bareng Mas'e, duet model sampo Togar-Uwi, ga lupa juga motret kawah Bromo yang mirip sama kawah Putih, dan objek lainnya yang terlalu banyak kalo disebut semua. Puas motret-motret, untuk cadangan profile picture sampe setaun kedepan kata si Uki, kita telusuri lagi jalan tadi untuk kembali ke jip. Hari terlalu siang untuk kita main ke bukit Teletubies. Di lain kesempatan mungkin, semoga bisa bareng kalian lagi.

Setelah itu perjalanan mencari Batu Wonderland untuk istirahat malam. Tapi kita belum boleh istirahat, karena harus main dulu ke Batu Night Spektakuler. Di sana ada Rumah Hantu yang ga berhantu, Sepeda Terbang yang ga perlu dikayuh, dan Bumper Car yang disupirin Indro. Semua harus bayar kalo mau main, kecuali Rumah Kaca yang gratiss. Sayang, gw belum ahli motret dalam malam, jadi hasilnya gelap. Hariitu pun ditutup dengan kita berpisah 4-4 sekamar.
Besok paginya ada kumpul angkatan, tapi ga jadi karena pada bangun kesiangan. Sambil nunggu sarapan, Romcay minjemin lap kacamatanya untuk gw bersih-bersih lensa dari pasir Bromo. Makasih, Rom! :D

Check out hotel, kita lanjut ke pusat oleh-oleh dan air terjun Coban Rondo. Ga ada yang istimewa kecuali kita semua basah kuyup karena hujan dan air terjun. Lepas pukul tiga sore itu, perjalanan panjang pun dimulai, menuju Jogja!
...
Pukul 02.30 keesokan paginya, bis berhenti di rumah makan yang belum buka. Dini hari itu, masih dengan tidur ayam, gw dengar suara kalian yang kasak-kusuk minta makanan. Beberapa saat kemudian dimulailah acara angkatan yang sempat tertunda, sesi unek-unek. Ga semua ikut bersuara, tapi dari sebagian yang bersuara itu gw rasa cukup untuk mewakili 'maaf' dan 'terima kasih' Pixels yang lain. Dialog Topik-Rendy yang tanpa debat meski beda ideologi, klarifikasi Ocit, Avita, dan teman lain, juga curhatan Basith sebagai Komti selama ini jadinya mengisi sesi unek-unek pagi di Jogja itu. Selesai dari itu, gw jadi sadar bahwa betapa pun ga deketnya gw sama kalian, kita tetap teman di Pixels.
...
Langganan:
Postingan (Atom)


