Dalam sebuah obrolan brainstorming di gedung berlantai 17, saya dan teman-teman duduk bergerombol. Ada yang semangat menuangkan idenya, ada yang melawan, ada yang minta tips untuk menambah keahlian, ada yang menimpali dengan lelucon ringan. Seru!
Saya mengikuti obrolan itu dengan penuh perhatian. Kadang sambil tersenyum. Kadang menoleh mencari perhatian dari yang lain. Kadang lepas tertawa. Kadang menangkap bayangan orang lain yang mencari perhatian, dan seterusnya. Sampai datang teman saya yang mengajak pergi sebentar. Agak berat, saya tinggalkan obrolan untuk sementara.
Selesai dengan urusan menemani teman saya, obrolan yang saya tinggalkan sudah berganti topik dengan masalah pelik. Ini menyangkut hidup orang banyak. Sangat confidential. Jangan sampai dibawa keluar forum. Woops.
Lantas, mengapa saya justru menulisnya?
Di sini?
Di jagad maya?
Bukannya seperti mengkhianati kesepakatan?
Saya rasa ini bukan masalah. Karena saya yakin, tidak akan ada yang membacanya. Kalau pun ada, toh bukan isi pembicaraannya yang saya tulis. Hehehe.
Sama seperti masalah perasaan. Saya termasuk orang yang tertutup menyangkut soal hati. Semua saya simpan rapat-rapat, seperti menjaga rahasia langit. Dilapisi bermacam logika. Sampai saya sendiri kuatir, jangan-jangan saya sendiri tidak sadar kalau nanti mati rasa.
Untuk itu, saya mencoba membuka beberapa lapis pertahanan saya. Dengan menulis di sini. Saya rasa tak apa. Karena saya mengupasnya toh bukan tanpa pertahanan. Karena saya yakin, tidak akan ada juga yang membacanya. :)
Kamis, 19 Februari 2015
Keduluan
Beberapa minggu yang lalu saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berkumpul ramai-ramai, mungkin empat tahun jauhnya. Sibuk dengan urusan masing-masing, selama rentang itu, komunikasi saya dengan mereka hanya sebatas interaksi di socmed dan aplikasi chatting jarang-jarang.
Di pertemuan kemarin, saya, yang suka canggung kalau lama tidak bertemu orang, lebih banyak diam dan menontoni tingkah mereka. Mereka masih sahabat-sahabat saya yang dulu. Yang ramai. Yang asik. Yang seru tidak ada habis-habisnya. Yang tidak seru mungkin saya sendiri. Hehehe, maaf, ya, teman-teman. ;)
Lama tidak bertemu, yang saya harapkan adalah banyak obrolan, banyak cerita, dan banyak kisah yang diungkapkan. Namun, kehadiran makhluk dalam genggaman mengacaukannya.
Setelah obrolan yang panjang, tiba-tiba suasana menjadi hening. Saya, yang sedang melamun melihat jalanan, refleks menoleh, dan.. terlihat wajah sahabat-sahabat saya yang kini tengah menatap gadget masing-masing.
Mereka sibuk check in, upload gambar makanan, tag-tag dan meninggalkan jejak 'cinta' di postingan satu sama lain.
Aktivitas yang kekinian sekali. Saya, yang bukan pengguna socmed satu itu, hanya bisa diam dan kembali melamun. Sambil kadang ikut memandang layar dalam genggaman.
Di antara sahabat-sahabat yang kekinian, saya merasa keduluan.
Pernahkah kamu mengalami keresahan yang sama?
Bukan sebagai manusia keduluan, tapi bagaimana gadget canggih lebih menarik perhatian dibanding diri kamu sebagai manusia. Saya takut social media lebih bersifat sosial dibanding 'kita' sebagai makhluk sosial.
Atau kata 'sosial' kini sudah berganti maknanya?
Di pertemuan kemarin, saya, yang suka canggung kalau lama tidak bertemu orang, lebih banyak diam dan menontoni tingkah mereka. Mereka masih sahabat-sahabat saya yang dulu. Yang ramai. Yang asik. Yang seru tidak ada habis-habisnya. Yang tidak seru mungkin saya sendiri. Hehehe, maaf, ya, teman-teman. ;)
Lama tidak bertemu, yang saya harapkan adalah banyak obrolan, banyak cerita, dan banyak kisah yang diungkapkan. Namun, kehadiran makhluk dalam genggaman mengacaukannya.
Setelah obrolan yang panjang, tiba-tiba suasana menjadi hening. Saya, yang sedang melamun melihat jalanan, refleks menoleh, dan.. terlihat wajah sahabat-sahabat saya yang kini tengah menatap gadget masing-masing.
Mereka sibuk check in, upload gambar makanan, tag-tag dan meninggalkan jejak 'cinta' di postingan satu sama lain.
Aktivitas yang kekinian sekali. Saya, yang bukan pengguna socmed satu itu, hanya bisa diam dan kembali melamun. Sambil kadang ikut memandang layar dalam genggaman.
Di antara sahabat-sahabat yang kekinian, saya merasa keduluan.
Pernahkah kamu mengalami keresahan yang sama?
Bukan sebagai manusia keduluan, tapi bagaimana gadget canggih lebih menarik perhatian dibanding diri kamu sebagai manusia. Saya takut social media lebih bersifat sosial dibanding 'kita' sebagai makhluk sosial.
Atau kata 'sosial' kini sudah berganti maknanya?
Sabtu, 31 Januari 2015
Retorika 2015: Episode Januari
Haluuu...
Kali ini gue mau gombal. Kita coba sedikit beretorika di akhir Januari ini. Siap?
Kesasar
Ibu ke pasar
Ayah bekerja
Adik sekolah
Aku kesasar
Kabar Gembira
Kesempatan baik hadir dalam kabar gembira
Gembiraku, gembiramu, gembira kita
Tapi aku bisa apa, jika ada dia
yang memintaku jadi sumber gembiranya?
Ternyata
seperti waktu
gembira itu
relatif
Tertawa
Denganmu aku tertawa
Dengannya aku ingin tertawa
Setelah inginku menjadi nyata
Aku ragu bisa tertawa
Pengajar Kurang Ajar
Jangan memintaku
untuk menjadi pengajar
kamu sendiri tahu
aku masih kurang ajar
Kali ini gue mau gombal. Kita coba sedikit beretorika di akhir Januari ini. Siap?
Kesasar
Ibu ke pasar
Ayah bekerja
Adik sekolah
Aku kesasar
Kabar Gembira
Kesempatan baik hadir dalam kabar gembira
Gembiraku, gembiramu, gembira kita
Tapi aku bisa apa, jika ada dia
yang memintaku jadi sumber gembiranya?
Ternyata
seperti waktu
gembira itu
relatif
Tertawa
"Hahaha"Di sini aku tertawa
Denganmu aku tertawa
Dengannya aku ingin tertawa
Setelah inginku menjadi nyata
Aku ragu bisa tertawa
Pengajar Kurang Ajar
Jangan memintaku
untuk menjadi pengajar
kamu sendiri tahu
aku masih kurang ajar
Minggu, 25 Januari 2015
Koala Kumal
Hati-hati membacanya, postingan ini mengandung spoiler!
Hallow, Bang Dika!
Gue mau laporan, nih, Bang. Gue baru selesai baca karya terbaru lu, si Koala Kumal. Hasil minjem ke ade gue tapi, dia yang beli, bukan gue. Hehe.
Kesan gue setelah selesai baca: asli gue suka sama novel ini. Baguuuus, Bang!
Dibanding novel-novel lu sebelumnya, Koala Kumal terasa lebih nyata di kehidupan gue. Rasanya lebih berisi, ga cuma seputar komedi-cinta-galau seperti yang lain, tapi juga pendewasaan. Di novel ini, lu terlihat lebih macho menghadapi hidup! Selamat, Bang, misi pencitraan lu berhasil. Heheheh.
Bagian yang rasanya 'Gue-Banget' adalah bab tentang jurit malam. Karena kehidupan SMP kita mirip-mirip, Bang. Pas SMP dulu, gue juga duduk berpasangan sama kaka kelas pas ujian. Pas SMP, gue juga ikut PMR. Pas SMP, kehidupan ekskul gue juga menganut senioritas garis keras! Gue jadi kayak ngebaca riwayat hidup gue sendiri, dan riwayat hidup orang-orang yang gue kenal masa SMP dulu. Bedanya, gue ga tau apakah di masa itu gue juga bikin orang patah hati.
Koala Kumal jadi semacam refleksi diri bagi gue. Setiap bab punya kesannya masing-masing. Tentang jatuh cinta diam-diam, kode ga nyampe, dan ke-ge-er-an, gue jadi kepikiran berapa banyak kesempatan yang gue lewatkan.
Tentang patah hati, gue dapet pembelajaran untuk berani patah hati. Bukan cuma patah hati soal 'hati', tapi juga soal kehidupan, impian, dan hal lainnya.
Benar lah kalo patah hati bisa ngubah persepsi kita terhadap sesuatu. Dan patah hati harusnya ngebuat kita jadi lebih kuat, jadi lebih dewasa. Karena ada sesuatu yang selesai. Gue suka adegan terakhir, ketika lu ngobrol sama nyokap lu. Cara lu menuliskannya seperti merek sosis, so good so nice, Bang.
Tentang novel ini, gue jadi sadar bahwa elu multitalen(an) ya, Bang. Muehehehe
Menciptakan Miko berhasil menciptakan respek gue terhadap lu. (y)
Ngomong-ngomong, Bang, gue mau curhat dikit. Dikiiit aja deh, suwer. Jadi gini, rasanya ada beberapa kejanggalan di Koala Kumal.
Pertama, tentang identitas Bahri dan Dodo di bab petasan Jangwe. Diceritain kalo model rambut Bahri belah tengah rapi yang disisir hati-hati, sedangkan Dodo cepak ala tentara. Lalu di adegan berjemur di atas mobil, diceritain kalo Dodo sering tersisih berjemur di atas bagasi, sementara Bahri di atap mobil bersama Dika kecil. Tapi ilustrasi bocah yang berjemur disebelah Dika ga cocok sama karakter Bahri, karena dia berambut cepak! Sementara bocah yang diduga Dodo, yang tersisih di atas bagasi, justru memiliki ciri rambut-belah-tengah punya Bahri. What's going on, Bang? Apakah Dodo dan Bahri tukeran model rambut? Atau Bahri menyamar jadi Dodo?
Kedua, di bab cewek tomboi. Diceritain lu pacaran sama Deska, tapi Deska pindah hati ke Astra. Di adegan Deska minta putus, lu duduk berdua sama Deska di teras rumahnya. Tapi tiba-tiba, ada adegan Astar menghela napas panjang, dan lu putus sama Astra. Bang Dika, sebenernya lu duduk berdua di rumah Astra, atau Deska? Tell me the truth, Baang..
Udah, Bang. Gitu aja cerita gue hari ini. Laporan selesai. Keep up the good work.
Salam cheya-cheya.
Hallow, Bang Dika!
Gue mau laporan, nih, Bang. Gue baru selesai baca karya terbaru lu, si Koala Kumal. Hasil minjem ke ade gue tapi, dia yang beli, bukan gue. Hehe.
Kesan gue setelah selesai baca: asli gue suka sama novel ini. Baguuuus, Bang!
Dibanding novel-novel lu sebelumnya, Koala Kumal terasa lebih nyata di kehidupan gue. Rasanya lebih berisi, ga cuma seputar komedi-cinta-galau seperti yang lain, tapi juga pendewasaan. Di novel ini, lu terlihat lebih macho menghadapi hidup! Selamat, Bang, misi pencitraan lu berhasil. Heheheh.
Bagian yang rasanya 'Gue-Banget' adalah bab tentang jurit malam. Karena kehidupan SMP kita mirip-mirip, Bang. Pas SMP dulu, gue juga duduk berpasangan sama kaka kelas pas ujian. Pas SMP, gue juga ikut PMR. Pas SMP, kehidupan ekskul gue juga menganut senioritas garis keras! Gue jadi kayak ngebaca riwayat hidup gue sendiri, dan riwayat hidup orang-orang yang gue kenal masa SMP dulu. Bedanya, gue ga tau apakah di masa itu gue juga bikin orang patah hati.
Koala Kumal jadi semacam refleksi diri bagi gue. Setiap bab punya kesannya masing-masing. Tentang jatuh cinta diam-diam, kode ga nyampe, dan ke-ge-er-an, gue jadi kepikiran berapa banyak kesempatan yang gue lewatkan.
Tentang patah hati, gue dapet pembelajaran untuk berani patah hati. Bukan cuma patah hati soal 'hati', tapi juga soal kehidupan, impian, dan hal lainnya.
Benar lah kalo patah hati bisa ngubah persepsi kita terhadap sesuatu. Dan patah hati harusnya ngebuat kita jadi lebih kuat, jadi lebih dewasa. Karena ada sesuatu yang selesai. Gue suka adegan terakhir, ketika lu ngobrol sama nyokap lu. Cara lu menuliskannya seperti merek sosis, so good so nice, Bang.
Tentang novel ini, gue jadi sadar bahwa elu multitalen(an) ya, Bang. Muehehehe
Menciptakan Miko berhasil menciptakan respek gue terhadap lu. (y)
Ngomong-ngomong, Bang, gue mau curhat dikit. Dikiiit aja deh, suwer. Jadi gini, rasanya ada beberapa kejanggalan di Koala Kumal.
Pertama, tentang identitas Bahri dan Dodo di bab petasan Jangwe. Diceritain kalo model rambut Bahri belah tengah rapi yang disisir hati-hati, sedangkan Dodo cepak ala tentara. Lalu di adegan berjemur di atas mobil, diceritain kalo Dodo sering tersisih berjemur di atas bagasi, sementara Bahri di atap mobil bersama Dika kecil. Tapi ilustrasi bocah yang berjemur disebelah Dika ga cocok sama karakter Bahri, karena dia berambut cepak! Sementara bocah yang diduga Dodo, yang tersisih di atas bagasi, justru memiliki ciri rambut-belah-tengah punya Bahri. What's going on, Bang? Apakah Dodo dan Bahri tukeran model rambut? Atau Bahri menyamar jadi Dodo?
Kedua, di bab cewek tomboi. Diceritain lu pacaran sama Deska, tapi Deska pindah hati ke Astra. Di adegan Deska minta putus, lu duduk berdua sama Deska di teras rumahnya. Tapi tiba-tiba, ada adegan Astar menghela napas panjang, dan lu putus sama Astra. Bang Dika, sebenernya lu duduk berdua di rumah Astra, atau Deska? Tell me the truth, Baang..
Udah, Bang. Gitu aja cerita gue hari ini. Laporan selesai. Keep up the good work.
Salam cheya-cheya.
Kamis, 22 Januari 2015
Puisi Jamuran
Di dalam kamar terdepan
berdiam seorang anak manusia
yang tergeletak lelah
dikelilingi muntahan tas serutnya
Sesungguhnya ia tidak sendiri
karena ada yang diam-diam mengamati
dari pojok kamar
dengan aura samar
Tak terlihat, bukan berarti tak ada
ada, bisa hadir dari ketiadaan
seperti kesukaan pada rasa
yang sebenarnya memiliki logika
*)
Sebenarnya pingin posting foto jamur doang, tapi rasanya kurang kalo tanpa kata-kata. Jamur yang hadir dari kombinasi atap bocor, kusen jendela reyot, dan hujan tiap malam-malam belakangan ini. Sekarang Bekasi jadi dingin.
Sekarang kalo malem tidur ga perlu pake kipas angin.
Sekarang kamar gue jadi jamuran. Hehehhehe.
Sekarang, gue jadi inget, kan, kalo setahun lalu pernah bikin juga puisi yang idenya dari jamur-jamuran.
Sekarang udah malem, ikan bobok.
Bye!
Minggu, 04 Januari 2015
Moon & Wind
What creature on earth that knows what they talking about?
People would never knows.
Wandering, that's all that we can do.
So, I present you..
A poem about Moon & Wind
Moon & Wind were requested by Annisa Amalia as the theme of this poem. Thanks yaaa Aniiis...
Hope you'll like it! ;D
Illustrated by swd. :D
People would never knows.
Wandering, that's all that we can do.
So, I present you..
A poem about Moon & Wind
![]() |
| Moon & Wind |
Hope you'll like it! ;D
Illustrated by swd. :D
Sabtu, 03 Januari 2015
#blackoutpoetry
Hello!
I was confused in the middle of making #animalquotes. And some poetry requests from my friend. I can tell you that I'm stuck. I apologize for make you wait so long. Hehehe.
Then I read some books to get inspired, those are Austin Kleon's books: Steal Like an Artist & Show Your Work! And ended up with this: The #blackoutpoetry made by me. :D
Not bad, huh? :>
It's not easy for me making this in bahasa. It's not easy for me, as the first timer. I must find the right article, choose the right words, and bring it to the line I want to read. But it's FUN. Heheheh.
Maybe i'm just not get used to, yet. :D
Okay, back to work!
I was confused in the middle of making #animalquotes. And some poetry requests from my friend. I can tell you that I'm stuck. I apologize for make you wait so long. Hehehe.
Then I read some books to get inspired, those are Austin Kleon's books: Steal Like an Artist & Show Your Work! And ended up with this: The #blackoutpoetry made by me. :D
A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on
Not bad, huh? :>
It's not easy for me making this in bahasa. It's not easy for me, as the first timer. I must find the right article, choose the right words, and bring it to the line I want to read. But it's FUN. Heheheh.
Maybe i'm just not get used to, yet. :D
Okay, back to work!
Jumat, 26 Desember 2014
Gambar Ilustrasi
![]() |
| Illustrated by Me |
![]() |
| Illustrated by swd |
Inilah karya terbaru dari projek #animalquotes. Puisi 8 baris, a-a-b-b, tentang Dinosaurus. Requested by oom Rendy. Dia emang banyak maunya. Wahahah. Tapi terima kasih udah request. :D
Ilustrasinya ga sengaja ada 2 macem. Ilustrasi yang atas bikinan gue asli, yang bawah bikinan Suci Wulandari alias swd. Dia temen SMP gue, seorang seniman.
Jadi swd ini ngajak kolaborasi. Dia yang bikin ilustrasinya, gue bagian ngata-ngatain. Kayaknya dia kasian ngeliat gambar bikinan gue yang menyedihkan. Gue akui memang menyedihkan. Meski begitu, tapi gue ga tega juga kalo ga nge-upload. :v
Terima kasih, Suc, udah bikinin gambar Dinosaurus ini. Keren sekali! Tak pantaslah sebenarnya karyaku disejajarkan dengan karyamu. Kebanting abis. Heheh.
Ditunggu gambar-gambar berikutnya, ya!
Dan sharing-sharing berikutnya juga! :D
Minggu, 21 Desember 2014
Animal Quotes
Lately, I've been making a personal project called #animalquotes. I have planned it as an album that contained some quotes in poetry-form and illustrations about animals. Just like my previous poetry-graphy album: #TerhapusHujanSehari. (My suggestion is --> you must read it. It's a masterpiece! *smirk)
For now on, 3 pictures with different animals have been created: elephant, shell, and whale. Kind of slow, yeah. Slow but sure, I hope. :v
It's hard to make a quote about animal that you're not familiar with it, Dude. Moreover it must written in English, while my English is kind of 'little-little i can' style. Also it must has simple shape to draw, but not too simple. Got it? As my skill is not good. LOL
But you guess what? I enjoyed it so much! :D
I fell in love with words, not codes. Hahah. I love to draw, though my drawing is SO so-so. Really. You can see it from these pictures below:
Not bad, huh? ;p
Do you have any suggestion? :D
Or animal request maybe? :D
Wish me luck, Dude. For finish it soon. For you not to wait it so long. For me can enjoy it together with you. Uyeah!
For now on, 3 pictures with different animals have been created: elephant, shell, and whale. Kind of slow, yeah. Slow but sure, I hope. :v
It's hard to make a quote about animal that you're not familiar with it, Dude. Moreover it must written in English, while my English is kind of 'little-little i can' style. Also it must has simple shape to draw, but not too simple. Got it? As my skill is not good. LOL
But you guess what? I enjoyed it so much! :D
I fell in love with words, not codes. Hahah. I love to draw, though my drawing is SO so-so. Really. You can see it from these pictures below:
![]() |
| The Elephant |
![]() |
| The Shell |
![]() |
| The Whale |
Not bad, huh? ;p
Do you have any suggestion? :D
Or animal request maybe? :D
Wish me luck, Dude. For finish it soon. For you not to wait it so long. For me can enjoy it together with you. Uyeah!
Minggu, 14 Desember 2014
Minggu Bersama Ibu
Hai!
Kali ini gue mau nulis resensi buku. Cekidot, Gan...
Judul: Minggu Bersama Ibu
Penulis: Ya Umil
Penerbit: Ruang Contoh
Buku terbitan #RuangContoh ini berkisah tentang kegiatan si penulis yang menghabiskan hari Minggu di rumah bersama Ibu. Dengan pilihan sudut pandang orang pertama, gue sebagai pembaca jadi seolah ikut mengalami sendiri kejadian di buku ini. Kerasa nyata banget sama kehidupan sehari-hari. Tokoh ceritanya pun minimalis, cuma dia dan sang Ibu. :)
Alur cerita yang dipilih sederhana banget. Semua berawal dari pisang-pisang hasil sang Ibu ikut pengajian di mesjid deket rumahnya di Bekasi. Si penulis kasian sama pisang-pisang itu, karena udah beberapa hari sampai kulitnya kecoklatan masih ga termakan juga. Daripada mubazir, penulis berpikir untuk mengolahnya jadi kue bolu pisang.
Dimulailah eksperimennya di dapur bersama Ibu. Setelah browsing resep kue bolu pisang, pilihannya jatuh ke resep Cake pisang yang hanya memakai 5 bahan saja! Waw, gue jadi tertarik mau bikin juga. :D
Di Minggu pagi dia siapin bahan-bahannya, yaitu:
1. Pisang 120 gram
2. Telur ayam 2 butir
3. Gula pasir 50 gram
4. Tepung terigu 100 gram
5. Mentega leleh 60 gram
Konflik pertama muncul di sini, karena ternyata di rumah ga ada mentega. Mau beli ke pasar, tapi males. Wah, sama nih kayak gue suka males jalan. Hahah.
Setelah riset kecil, akhirnya si penulis mengganti penggunaan mentega dengan minyak goreng. Tak ada mentega, minyak goreng pun jadi! Gue jadi dapet pengetahuan baru. Good.. :D
Dengan telaten dan sepenuh hati, dimulailah prosesi pembuatan bolu pisang. Setiap langkah dilakukan sesuai tuntunan resep supaya menghasilkan bolu pisang yang mengembang sempurna. Dibawah pengawasan Ibu, akhirnya adonan bolu jadi dan siap dipanggang.
Proses pemanggangan diceritakan ga kalah sakral dari proses mengadon. Mulai dari masuk oven Bima Jaya made in Bandung sampai menunggu kematangan sempurna, digambarkan seperti menanti kelahiran oleh si penulis. Wuih, gue yang ngebaca jadi merasa ikut berperan dalam kelahiran si bolu. :)
Setiap 5 menit, dengan antusias dia intip keadaan si bolu dalam Bima Jaya. Waktu pemanggangan dalam resep yang cuma 40 menit, dia gambarkan seperti seabad lamanya. Detik terasa berjalan lambat sekali..
Ini detik-detik penantian si bolu, diambil dari akun IG si penulis :>
Hingga akhirnya wangi bolu pisang mulai tercium. Permukaan bolu terlihat mengering. Tapi justru disitulah muncul konflik baru. Bolunya ga mengembang. Si penulis mikir, ini apa yang salah sampai ga ngembang?
Disentuh-sentuh empuk sih permukaannya, meski bantet. Dia cerita lagi, di tengah kebingungan itu dia icip dan rasanya.. Lembut.. Lembut dan wangi pisang..
Gawaat.. Gue jadi pingin nyoba bikin beneraaaan.. Hahaha
Meski berhasil lumayan sukses bikin bolu, tetep aja ada konflik baru yang ditemui penulis. Bolunya ga kerasa udah mau abis. Padahal dia berniat untuk bagi-bagi bolu itu ke temen-temennya besok. Yah, gue mau komentar gimana ya. Dari ceritanya aja terlihat maknyus banget itu bolu pisang. Ga heran tau-tau abis tak bersisa. :D
Dari judul bukunya, gue rasa si penulis ini terinspirasi banget sama 'Sabtu Bersama Bapak' karangan Adhitya Mulya. Semacam ingin melengkapi mungkin, Sabtu bersama Bapak-Minggu bersama Ibu. Intinya weekend bareng keluarga, yeah! Hahaha.
Gue ga nyesel baca buku ini. Recommended, Gan! (y)
Kali ini gue mau nulis resensi buku. Cekidot, Gan...
Judul: Minggu Bersama Ibu
Penulis: Ya Umil
Penerbit: Ruang Contoh
![]() |
| Minggu Bersama Ibu |
Buku terbitan #RuangContoh ini berkisah tentang kegiatan si penulis yang menghabiskan hari Minggu di rumah bersama Ibu. Dengan pilihan sudut pandang orang pertama, gue sebagai pembaca jadi seolah ikut mengalami sendiri kejadian di buku ini. Kerasa nyata banget sama kehidupan sehari-hari. Tokoh ceritanya pun minimalis, cuma dia dan sang Ibu. :)
Alur cerita yang dipilih sederhana banget. Semua berawal dari pisang-pisang hasil sang Ibu ikut pengajian di mesjid deket rumahnya di Bekasi. Si penulis kasian sama pisang-pisang itu, karena udah beberapa hari sampai kulitnya kecoklatan masih ga termakan juga. Daripada mubazir, penulis berpikir untuk mengolahnya jadi kue bolu pisang.
Dimulailah eksperimennya di dapur bersama Ibu. Setelah browsing resep kue bolu pisang, pilihannya jatuh ke resep Cake pisang yang hanya memakai 5 bahan saja! Waw, gue jadi tertarik mau bikin juga. :D
Di Minggu pagi dia siapin bahan-bahannya, yaitu:
1. Pisang 120 gram
2. Telur ayam 2 butir
3. Gula pasir 50 gram
4. Tepung terigu 100 gram
5. Mentega leleh 60 gram
Konflik pertama muncul di sini, karena ternyata di rumah ga ada mentega. Mau beli ke pasar, tapi males. Wah, sama nih kayak gue suka males jalan. Hahah.
Setelah riset kecil, akhirnya si penulis mengganti penggunaan mentega dengan minyak goreng. Tak ada mentega, minyak goreng pun jadi! Gue jadi dapet pengetahuan baru. Good.. :D
Dengan telaten dan sepenuh hati, dimulailah prosesi pembuatan bolu pisang. Setiap langkah dilakukan sesuai tuntunan resep supaya menghasilkan bolu pisang yang mengembang sempurna. Dibawah pengawasan Ibu, akhirnya adonan bolu jadi dan siap dipanggang.
Proses pemanggangan diceritakan ga kalah sakral dari proses mengadon. Mulai dari masuk oven Bima Jaya made in Bandung sampai menunggu kematangan sempurna, digambarkan seperti menanti kelahiran oleh si penulis. Wuih, gue yang ngebaca jadi merasa ikut berperan dalam kelahiran si bolu. :)
Setiap 5 menit, dengan antusias dia intip keadaan si bolu dalam Bima Jaya. Waktu pemanggangan dalam resep yang cuma 40 menit, dia gambarkan seperti seabad lamanya. Detik terasa berjalan lambat sekali..
Ini detik-detik penantian si bolu, diambil dari akun IG si penulis :>
Hingga akhirnya wangi bolu pisang mulai tercium. Permukaan bolu terlihat mengering. Tapi justru disitulah muncul konflik baru. Bolunya ga mengembang. Si penulis mikir, ini apa yang salah sampai ga ngembang?
Disentuh-sentuh empuk sih permukaannya, meski bantet. Dia cerita lagi, di tengah kebingungan itu dia icip dan rasanya.. Lembut.. Lembut dan wangi pisang..
Gawaat.. Gue jadi pingin nyoba bikin beneraaaan.. Hahaha
Meski berhasil lumayan sukses bikin bolu, tetep aja ada konflik baru yang ditemui penulis. Bolunya ga kerasa udah mau abis. Padahal dia berniat untuk bagi-bagi bolu itu ke temen-temennya besok. Yah, gue mau komentar gimana ya. Dari ceritanya aja terlihat maknyus banget itu bolu pisang. Ga heran tau-tau abis tak bersisa. :D
Dari judul bukunya, gue rasa si penulis ini terinspirasi banget sama 'Sabtu Bersama Bapak' karangan Adhitya Mulya. Semacam ingin melengkapi mungkin, Sabtu bersama Bapak-Minggu bersama Ibu. Intinya weekend bareng keluarga, yeah! Hahaha.
Gue ga nyesel baca buku ini. Recommended, Gan! (y)
Langganan:
Postingan (Atom)






