Minggu, 01 Maret 2015

Obrolan Bang Ke

'Woy, Bang Ke!'
'Elu manggil nama gue yang bener napa.' -_-
'Lah itu udah paling bener, Bang. Hahahahha'

Bang Ke, teman saya, orangnya tinggi besar. Karena dia memang hobi makan, sih. Kesukaannya adalah mie rebus pake telor yang biasa dia makan sebelum masuk kantor. Hampir setiap pagi saya papasan sama dia yang lagi sarapan mie di kantin B1. Saking seringnya, saya jadi khawatir kalo nanti dia bosan.

'Kagak bakal bosen gue mah. Masalahnya, ini udah makanan paling enak yang bisa gue dapet sepagi ini. Kagak ada yang ngalahin,'

Itu jawaban Bang Ke waktu saya tanyakan hobi makannya. Esok harinya, saya ketemu dia yang lagi sarapan bubur. -_-

Selain hobi makan, Bang Ke juga hobi ngoding. Hampir setiap hari dia ngoding. Karena itu memang kerjaannya, sih. Bang Ke orang yang mengajari saya dalam dunia kode-kodean, meski sambil marah-marah. Dari saya yang tadinya ga tau apa-apa, sekarang jadi tau beberapa. Bang Ke memang galak, tapi dia sebenarnya orang baik. Tapi lebih baik lagi kalo dia ga galak.

Sering saya nimbrung ngobrol sama dia, sering juga saya dimarahin. Bang Ke selalu mikir jelek tentang apa yang saya obrolin. Sementara saya selalu mikir yang asik-asik aja.
'Gue tuh selalu mikir jelek bukan apa-apa, cuma supaya gue punya argumen aja. Jadi bisa antisipasi kalo ada yang ngebantah pendapat gue. Dari awal mikir tuh, gue harus curiga.
Karena waktu lu curiga, lu jadi kritis..
Lu jadi mempertanyakan, benar ga sih? Emang begini? Kok begitu? Lu jadi pingin tau jawabannya. Lu jadi nyari tau jawabannya. Jadi lu ga nerima mentah-mentah informasi yang ada. Apalagi soal kerjaan.

Biar lu ga gampang dikibulin..
Biar lu punya pegangan atas pendapat lu sendiri, ga gampang dipengaruhin..
Biar lu ga dimanfaatin orang..
Tuh, biar jelek tapi bermanfaat juga kan cara mikir gue?' *ketawasetan*

'Gue sebenernya juga pingin gitu, Bang, kritis. Defaultnya gue kalo sama apa-apa tuh pasti mikirnya baik, dipositif-positifin duluan. Niat gue sih emang untuk menghindari pikiran-pikiran jelek. Tapi berakhir kayak gue yang netral ga punya pendapat atau pandangan apa-apa.'

'Ya lu ga usah ikut mikir jelek kayak gue juga. Cukup lu saring aja, apapun itu. Lu pikirin dulu, yang penting otak harus selalu jalan.

Lu kan udah lumayan lama kan idup? Pasti ada pengalaman lah yang lu dapet. Lu pake itu aja buat nyaringnya.'

'Ribet ya, Bang.'

'Ribet emang, ribet banget. Tapi gue mendingan kayak gitu deh, mikir jelek, kemungkinan terburuk untuk antisipasi. Makanya suka geregetan gue sama orang yang kelewat santai.'

'Pantesan lu galak ya, Bang.' 
*lalu saya dijitak*

Sabtu, 28 Februari 2015

Retorika 2015: Episode Februari

Manusia Pura-pura
Dia yang senang
Aku yang girang
Dia yang sedih
Aku yang perih
Dia yang jatuh
Aku yang mengaduh
Dia yang takut
Aku yang kecut
Dia yang cemas
Aku yang lemas
Dia yang sakit
Aku yang koit

Ngobrol Modern
online
xx is typing..
send
read by xy

Pindahan
Sudut yang sama 
tapi rasanya beda
semua berubah
ketika penghuninya pindah

Momen
'Yang fana adalah waktu. Kita abadi.'
kata Sapardi Djoko Damono
'Perpisahan cuma masalah waktu. Itu pasti. Apalagi di sini.'
kataku


*)Retorika 2015: Episode Januari

Senin, 23 Februari 2015

Artis SoundCloud


Bang Umam, teman saya, adalah seorang artis SoundCloud. Saya pertama ketemu dia dalam open trip ke Baduy setahun lalu. Terakhir kali saya ketemu dia, juga dalam perjalanan open trip ke Baduy setahun yang lalu.

Bang Umam orang yang sederhana sekali. Penampilan dan gerak-geriknya biasa saja. Tidak seperti artis SoundCloud. Memangnya saya tau seperti apa penampilan dan gerak-gerik seorang artis SoundCloud? Yah, manalah saya tau.

Sebagai artis SoundCloud, Bang Umam termasuk orang yang produktif. Dia aktif di beberapa project. Coba kalian buka situs SoundCloud, ketik namanya 'Asyraful Umam' di kotak pencarian. Di bulan Februari tahun 2015 saja, hasil pencarian menunjukkan '34 tracks, 4 playlists, and 1 person found'. Entah akan ada berapa banyak tracks di hasil pencarian masa yang akan datang, saya belum mencarinya.

Teruslah berkarya, Bang Umam!

Kamis, 19 Februari 2015

Confidential

Dalam sebuah obrolan brainstorming di gedung berlantai 17, saya dan teman-teman duduk bergerombol. Ada yang semangat menuangkan idenya, ada yang melawan, ada yang minta tips untuk menambah keahlian, ada yang menimpali dengan lelucon ringan. Seru!

Saya mengikuti obrolan itu dengan penuh perhatian. Kadang sambil tersenyum. Kadang menoleh mencari perhatian dari yang lain. Kadang lepas tertawa. Kadang menangkap bayangan orang lain yang mencari perhatian, dan seterusnya. Sampai datang teman saya yang mengajak pergi sebentar. Agak berat, saya tinggalkan obrolan untuk sementara.

Selesai dengan urusan menemani teman saya, obrolan yang saya tinggalkan sudah berganti topik dengan masalah pelik. Ini menyangkut hidup orang banyak. Sangat confidential. Jangan sampai dibawa keluar forum. Woops.

Lantas, mengapa saya justru menulisnya?
Di sini?
Di jagad maya?
Bukannya seperti mengkhianati kesepakatan?

Saya rasa ini bukan masalah. Karena saya yakin, tidak akan ada yang membacanya. Kalau pun ada, toh bukan isi pembicaraannya yang saya tulis. Hehehe.

Sama seperti masalah perasaan. Saya termasuk orang yang tertutup menyangkut soal hati. Semua saya simpan rapat-rapat, seperti menjaga rahasia langit. Dilapisi bermacam logika. Sampai saya sendiri kuatir, jangan-jangan saya sendiri tidak sadar kalau nanti mati rasa.

Untuk itu, saya mencoba membuka beberapa lapis pertahanan saya. Dengan menulis di sini. Saya rasa tak apa. Karena saya mengupasnya toh bukan tanpa pertahanan. Karena saya yakin, tidak akan ada juga yang membacanya. :)

Keduluan

Beberapa minggu yang lalu saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berkumpul ramai-ramai, mungkin empat tahun jauhnya. Sibuk dengan urusan masing-masing, selama rentang itu, komunikasi saya dengan mereka hanya sebatas interaksi di socmed dan aplikasi chatting jarang-jarang.

Di pertemuan kemarin, saya, yang suka canggung kalau lama tidak bertemu orang, lebih banyak diam dan menontoni tingkah mereka. Mereka masih sahabat-sahabat saya yang dulu. Yang ramai. Yang asik. Yang seru tidak ada habis-habisnya. Yang tidak seru mungkin saya sendiri. Hehehe, maaf, ya, teman-teman. ;)

Lama tidak bertemu, yang saya harapkan adalah banyak obrolan, banyak cerita, dan banyak kisah yang diungkapkan. Namun, kehadiran makhluk dalam genggaman mengacaukannya.

Setelah obrolan yang panjang, tiba-tiba suasana menjadi hening. Saya, yang sedang melamun melihat jalanan, refleks menoleh, dan.. terlihat wajah sahabat-sahabat saya yang kini tengah menatap gadget masing-masing.

Mereka sibuk check in, upload gambar makanan, tag-tag dan meninggalkan jejak 'cinta' di postingan satu sama lain.

Aktivitas yang kekinian sekali. Saya, yang bukan pengguna socmed satu itu, hanya bisa diam dan kembali melamun. Sambil kadang ikut memandang layar dalam genggaman.

Di antara sahabat-sahabat yang kekinian, saya merasa keduluan.

Pernahkah kamu mengalami keresahan yang sama?
Bukan sebagai manusia keduluan, tapi bagaimana gadget canggih lebih menarik perhatian dibanding diri kamu sebagai manusia. Saya takut social media lebih bersifat sosial dibanding 'kita' sebagai makhluk sosial.
Atau kata 'sosial' kini sudah berganti maknanya?

Sabtu, 31 Januari 2015

Retorika 2015: Episode Januari

Haluuu...
Kali ini gue mau gombal. Kita coba sedikit beretorika di akhir Januari ini. Siap?

Kesasar
Ibu ke pasar
Ayah bekerja
Adik sekolah
Aku kesasar

Kabar Gembira
Kesempatan baik hadir dalam kabar gembira
Gembiraku, gembiramu, gembira kita
Tapi aku bisa apa, jika ada dia
yang memintaku jadi sumber gembiranya?

Ternyata
seperti waktu
gembira itu
relatif

Tertawa

"Hahaha"
Di sini aku tertawa
Denganmu aku tertawa
Dengannya aku ingin tertawa
Setelah inginku menjadi nyata
Aku ragu bisa tertawa

Pengajar Kurang Ajar 

Jangan memintaku
untuk menjadi pengajar

kamu sendiri tahu
aku masih kurang ajar

Minggu, 25 Januari 2015

Koala Kumal

Hati-hati membacanya, postingan ini mengandung spoiler!

A photo posted by Ya Umil (@k.yaumil) on

Hallow, Bang Dika!
Gue mau laporan, nih, Bang. Gue baru selesai baca karya terbaru lu, si Koala Kumal. Hasil minjem ke ade gue tapi, dia yang beli, bukan gue. Hehe.

Kesan gue setelah selesai baca: asli gue suka sama novel ini. Baguuuus, Bang!
Dibanding novel-novel lu sebelumnya, Koala Kumal terasa lebih nyata di kehidupan gue. Rasanya lebih berisi, ga cuma seputar komedi-cinta-galau seperti yang lain, tapi juga pendewasaan. Di novel ini, lu terlihat lebih macho menghadapi hidup! Selamat, Bang, misi pencitraan lu berhasil. Heheheh.

Bagian yang rasanya 'Gue-Banget' adalah bab tentang jurit malam. Karena kehidupan SMP kita mirip-mirip, Bang. Pas SMP dulu, gue juga duduk berpasangan sama kaka kelas pas ujian. Pas SMP, gue juga ikut PMR. Pas SMP, kehidupan ekskul gue juga menganut senioritas garis keras! Gue jadi kayak ngebaca riwayat hidup gue sendiri, dan riwayat hidup orang-orang yang gue kenal masa SMP dulu. Bedanya, gue ga tau apakah di masa itu gue juga bikin orang patah hati.

Koala Kumal jadi semacam refleksi diri bagi gue. Setiap bab punya kesannya masing-masing. Tentang jatuh cinta diam-diam, kode ga nyampe, dan ke-ge-er-an, gue jadi kepikiran berapa banyak kesempatan yang gue lewatkan.
Tentang patah hati, gue dapet pembelajaran untuk berani patah hati. Bukan cuma patah hati soal 'hati', tapi juga soal kehidupan, impian, dan hal lainnya.
Benar lah kalo patah hati bisa ngubah persepsi kita terhadap sesuatu. Dan patah hati harusnya ngebuat kita jadi lebih kuat, jadi lebih dewasa. Karena ada sesuatu yang selesai. Gue suka adegan terakhir, ketika lu ngobrol sama nyokap lu. Cara lu menuliskannya seperti merek sosis, so good so nice, Bang.

Tentang novel ini, gue jadi sadar bahwa elu multitalen(an) ya, Bang. Muehehehe
Menciptakan Miko berhasil menciptakan respek gue terhadap lu. (y)

Ngomong-ngomong, Bang, gue mau curhat dikit. Dikiiit aja deh, suwer. Jadi gini, rasanya ada beberapa kejanggalan di Koala Kumal.
Pertama, tentang identitas Bahri dan Dodo di bab petasan Jangwe. Diceritain kalo model rambut Bahri belah tengah rapi yang disisir hati-hati, sedangkan Dodo cepak ala tentara. Lalu di adegan berjemur di atas mobil, diceritain kalo Dodo sering tersisih berjemur di atas bagasi, sementara Bahri di atap mobil bersama Dika kecil. Tapi ilustrasi bocah yang berjemur disebelah Dika ga cocok sama karakter Bahri, karena dia berambut cepak! Sementara bocah yang diduga Dodo, yang tersisih di atas bagasi, justru memiliki ciri rambut-belah-tengah punya Bahri. What's going on, Bang? Apakah Dodo dan Bahri tukeran model rambut? Atau Bahri menyamar jadi Dodo?

Kedua, di bab cewek tomboi. Diceritain lu pacaran sama Deska, tapi Deska pindah hati ke Astra. Di adegan Deska minta putus, lu duduk berdua sama Deska di teras rumahnya. Tapi tiba-tiba, ada adegan Astar menghela napas panjang, dan lu putus sama Astra. Bang Dika, sebenernya lu duduk berdua di rumah Astra, atau Deska? Tell me the truth, Baang..

Udah, Bang. Gitu aja cerita gue hari ini. Laporan selesai. Keep up the good work.

Salam cheya-cheya.

Kamis, 22 Januari 2015

Puisi Jamuran




Di dalam kamar terdepan
berdiam seorang anak manusia
yang tergeletak lelah
dikelilingi muntahan tas serutnya

Sesungguhnya ia tidak sendiri
karena ada yang diam-diam mengamati
dari pojok kamar
dengan aura samar

Tak terlihat, bukan berarti tak ada
ada, bisa hadir dari ketiadaan
seperti kesukaan pada rasa
yang sebenarnya memiliki logika

*)
Sebenarnya pingin posting foto jamur doang, tapi rasanya kurang kalo tanpa kata-kata. Jamur yang hadir dari kombinasi atap bocor, kusen jendela reyot, dan hujan tiap malam-malam belakangan ini. Sekarang Bekasi jadi dingin.
Sekarang kalo malem tidur ga perlu pake kipas angin.
Sekarang kamar gue jadi jamuran. Hehehhehe.
Sekarang, gue jadi inget, kan, kalo setahun lalu pernah bikin juga puisi yang idenya dari jamur-jamuran.
Sekarang udah malem, ikan bobok.
Bye!

Minggu, 04 Januari 2015

Moon & Wind

What creature on earth that knows what they talking about?
People would never knows.
Wandering, that's all that we can do.

So, I present you..
A poem about Moon & Wind

Moon & Wind
Moon & Wind were requested by Annisa Amalia as the theme of this poem. Thanks yaaa Aniiis...
Hope you'll like it! ;D
Illustrated by swd. :D

Sabtu, 03 Januari 2015

#blackoutpoetry

Hello!
I was confused in the middle of making #animalquotes. And some poetry requests from my friend. I can tell you that I'm stuck. I apologize for make you wait so long. Hehehe.

Then I read some books to get inspired, those are Austin Kleon's books: Steal Like an Artist & Show Your Work! And ended up with this: The #blackoutpoetry made by me. :D


Not bad, huh? :>
It's not easy for me making this in bahasa. It's not easy for me, as the first timer. I must find the right article, choose the right words, and bring it to the line I want to read. But it's FUN. Heheheh.
Maybe i'm just not get used to, yet. :D

Okay, back to work!