Minggu, 04 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode September

Kota Anti Sosial
Di kota Anti Sosial
kesehatan rakyat dijamin dengan asuransi
sayangnya kita sudah keburu kebal
dijerat tradisi birokrasi

Di kota Anti Sosial
nasib rakyat siapa yang tentukan
kalau wakilnya memilih bungkam
gara-gara takut dibegal

Hukum Manusia
Tayangan tivi menampilkan orang berdasi
ribut sana-sini bicara hak asasi
demi harga diri, orang pintar dibayar mahal
mengulik pasal, memutar akal

penggusuran hadir di surat kabar
orang sakit terbaring di selasar
di mana hukum pelindung jelata
apa itu hanya untuk yang berharta?

Cerita Lahan Sengketa
jerit pecah anak-anak
perlawanan tubuh wanita renta
bayi dalam gendongan ibu-ibu muda
semua hadir menyambut aparat yang datang atas nama penguasa

di atas lahan negara
air mata tumpah
keringat amis dengan darah jelata
bercampur puing tanah air beta

Kita Juga Rakyat
kepada yang sudah berjuang
banting tulang mencari dukungan
jangan lupa kalau sudah duduk di singgasana
kita juga rakyat

Sabtu, 26 September 2015

Obrolan Malam Sabtu

rindu adalah ganti dari pertemuan yang tertunda
untuk itu kita menyiasatinya dengan
bicara macam-macam
meski hanya lewat karakter dan angka dalam genggaman
itu lebih baik baik untuk sekedar menyapa kawan lama
atau sahabat sejawat yang dulu kita dekat
kita sama-sama tak tahu
akan ke mana kata kita berujung
tapi kita tahu
kau dan aku hanya sama-sama rindu

Bekasi, 25092015

Minggu, 13 September 2015

Retorika 2015: Episode Agustus

Tunggal
Tidak ada yang salah dengan menjadi tunggal
meski terlihat sendiri dan terasa janggal
kamu bisa menyusupi celah-celah bumi tanpa ribut
seperti rambatan pada serabut
bebas bergerak ke kanan dan ke kiri jika ingin
atau diam saja terbawa angin

Peran
Kita tercipta
dengan pasrah
dengan peran masing-masing
tidak ada yang mubazir
begitu pun kamu
begitu pula aku

Insomnia
Gelap hadir bagi mereka yang menyepi
menunggui pagi menyusupi alam yang lelap
mencuri hari
melucuti diri

Tidurlah,
ini perintah

Besok
hari belum habis, malam masih menjelang
di peron empat kita bicara masalah kehilangan
tidak usah takut dengan masa depan
kuatir hanya untuk mereka yang kehabisan waktu

Minggu, 06 September 2015

Jerman Festival 2015: Metropolis

Jerman Festival 2015

Kemarin gue baru nonton filem gratisan, Tjoy. Filem bisu klasik dengan live orchestra di pembukaan Jerman Festival 2015. Nonton ala misbar (gerimis bubar), di alam terbuka atrium TIM, Cikini.

Judulnya Metropolis, filem fiksi-ilmiah yang dibuat tahun 1927 di Jerman. Termasuk filem termahal di jamannya. Berlatar belakang di kota Metropolis, yang megah di permukaan, tapi banjir dengan keringat pekerja di dalamnya.

Filem ini bercerita tentang keresahan Freder, anak penguasa Metropolis, atas ketimpangan sosial yang terjadi di kotanya. Dia pergi ke lapisan bawah, menyusup ke tempat yang diperuntukkan bagi kalangan pekerja, dan bertukar tempat dengan salah seorang pekerja yang ditemuinya. Di sana Freder bertemu dengan Maria, seorang wanita yang percaya kalo suatu saat nanti akan datang penyelamat yang akan menyatukan penduduk Metropolis. Di sini Freder disadarkan Maria, untuk mengatasi ketimpangan ini, pihak penguasa yang dilambangkan oleh 'kepala' harus bekerja sama dengan kalangan pekerja yang disimbolkan oleh 'tangan'. Untuk itu, dibutuhkan sebuah 'hati', yaitu Freder sendiri sebagai anak penguasa Metropolis yang harus menyatukan pemikiran ayahnya dengan peran kaum pekerja. Dialah sang penyelamat yang dipercaya Maria. Di lain pihak, seorang penemu yang digambarkan sebagai tokoh jahat, berencana untuk menghancurkan tatanan kota dengan robot menyerupai manusia yang ia ciptakan sebagai penghasut.

Si penemu jahat menggunakan sosok Maria untuk menipu para pekerja agar mereka mogok bekerja dan menghancurkan mesin besar yang menjadi jantung kota Metropolis. Dia ingin mengambil hal paling berharga bagi Tuan Frederson, ayah Freder, yaitu sosok Hel, mendiang istrinya yang meninggal saat melahirkan Freder. Perjuangan Freder tidak mudah. Banyak persekongkolan yang dibuat untuk menjatuhkannya. Apalagi sosok robot jahat yang menyerupai Maria yang dia cintai. Tapi pada akhirnya, kehancuran Metropolis berhasil dicegah.

'The mediator of the head and the hands must be the heart!'-Metropolis (1927).

Wow! Keren banget! Filem bisu yang minus suara dengan iringan live orchestra yang kaya bunyi. Orkestra Bubelsberg yang dateng langsung dari Berlin ini, selama 2.5 jam non-stop memainkan musik pengiring filem Metropolis. Filemnya jadi hidup. Meski bisu, tapi ga sepi. Dan akting para pemerannya juga ga main-main.

Dengan filem bisu yang tanpa dialog, penonton cuma terbatas mengandalkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh para pemeran untuk bisa paham jalan cerita. Tapi gue sama sekali ga merasa bingung nontonnya. Seru banget! Sampe kebawa tegang di tiap adegannya. Apalagi pas akhir-akhir, tegang karena udah malem juga sih, takut kemaleman pulangnya.

Filem Metropolis ini dibuat tahun 1925-1926 oleh Fritz Lang. Di penayangan kemarin, filem ini disajikan utuh alias versi uncut. Menurut keterangan, filem ini sempat kena sensor di jamannya. Beberapa adegan dipotong, dan ga diketahui di mana dokumentasi aslinya berada. Sampe akhirnya beberapa tahun kemudian, ditemukan potongan adegan itu di Argentina. Tapi karena rusak atau ga bisa dipulihin lagi, jadi adegan yang hilang itu digantikan dengan teks paragraf di bagian adegan itu seharusnya ada.

Bravo!

Sabtu, 01 Agustus 2015

Retorika 2015: Episode Juli

Pertemuan
Ketika terang bukan lagi milik kita
bukankah masih ada gelap yang jadi pilihan?

Ketika kamu bertanya,
apa yang bisa diperbuat oleh waktu?
Bukankah terlihat betapa besar kekuatannya
untuk mengubah kamu
menjadi tidak seperti dulu?

Mungkin kita bukan lagi
orang yang sama, tapi
perbedaan kita kini
bukan berarti harus mencederai
kenangan yang kita punyai bersama, bukan?

Senang melihatmu lagi
setelah sekian lama
meski dalam gelap
tanpa adanya terang

Berhenti
Hidup adalah perjalanan panjang
kita mesti tahu kapan harus berhenti
kapan harus memulai kembali
dan mungkin seharusnya aku berhenti

Peringatan
Terlalu banyak tertawa bisa membunuhmu
kamu sering bilang
tapi aku selalu lupa
hingga kita dimakamkan hari ini

Tragedi
Kalau kau bertanya apa pendapatku tentang Juli
akan kujawab bahwa itu adalah tragedi
seperti tanggal 31 kemarin
saat terjadi tragedi api

Rabu, 29 Juli 2015

Ngobrol

Akhir-akhir ini gue lagi seneng ngobrol sama orang lain. Rasanya seru banget bisa tau cerita dan pengalaman hidup orang. Gue memang ga banyak omong di sini, paling cuma nanggepin sedikit. Selebihnya, jadi pendengar setia. Menyenangkan. :D

Ada cerita tentang pengalaman kerja yang ketat banget di agency. Ada yang cerita tentang kegiatannya jadi tukang dekor di teater. Ada yang cerita tentang kegiatan jalan-jalannya long weekend kemarin. Ada yang ketemu di kereta, cerita tentang mall-mall di Bekasi, dan dia ternyata kakak kelas SMA gue yang kita beda angkatan 5 taun! Adaaa...

Dengerin cerita orang ngebuat gue berasa jadi makhluk sosial seutuhnya. Buat gue yang adalah orang dengan karakter tertutup, ini sangat, sangat menyenangkan. Karena gue ga pandai nyari bahan obrolan, yang bisa gue tawarkan adalah telinga yang selalu terbuka, dan mulut yang tertutup untuk rahasia yang perlu untuk dijaga.

Denger cerita orang, sesederhana itu. Terima kasih untuk kalian yang udah hadir, ngajak ngobrol, dan membagi ceritanya dengan gue. Interaksi, ngobrol, karena dengan itu udah bisa ngebuat gue sangat-sangat merasa dihargai.

#latepost

Kamis, 02 Juli 2015

Retorika 2015: Episode Juni

Juni di Bulan Juli
Kalau boleh aku meminta
bisakah kita mundur ke satu bulan lalu?
ada janji yang belum tuntas
terbawa waktu yang tak terasa maju

Ajari
Ajari aku menjadi bijaksana, Tuan
untuk menjaga amanah Tuhan
untuk menemani Tuan
menjalani perintah Tuhan

Pamit
Manusia datang dan pergi
lalu hilang tak kembali
begitu juga aku
di Jumat sore lalu

Tahan
kamu harus tahan untuk tidak makan
kamu harus tahan untuk tidak minum
hanya selama satu dari dua belas itu
tidak lama

Minggu, 31 Mei 2015

Retorika 2015: Episode Mei


Sederhana
Sesederhana ucapan selamat di pagi hari
Sesederhana salam saat bertemu pertama kali
Sudah, sesederhana itu saja kita berkata, tanpa beban budaya dan bahasa
kalau bingung tinggal tertawa, hahaha

Wanita
Jangan biarkan wanita menunggu
Karena kita tak pernah tahu
Tingkah aneh macam apa
yang bisa diperbuat seorang wanita
ketika sedang menunggu

Suara
Terlalu banyak suara
bahkan dalam satu kepala
Di antara yang banyak itu
ada satu yang selalu melagu
Suara jiwa yang terus memanggil
mencegah hati untuk menggigil

Hakim
Maaf karena telah kurang ajar, Tuan
Tak pantas hamba ikut menghakimi
soal perkara kemanusiaan Tuan
maksud diri hanya untuk simpati
tanpa menambah susah di hati

Kamis, 30 April 2015

Retorika 2015: Episode April



Ke mana (2)

Ke mana larinya manusia penyulih suara
yang di tangannya bunyi berubah menjadi gembira?

Kucari nadanya di saluran berfrekuensi
di setiap sore menuju Bekasi

Ke mana (3)

Ke mana perginya manusia penakluk jarak
yang di tangannya jejak berubah menjadi cerita?

Kutunggu hadirnya di pagi hari
saat ayam belum mulai berbunyi

Ke mana (4)

Ke mana pamitnya manusia pemburu cahaya
yang di tangannya peristiwa berubah menjadi berita?

Kunanti namanya dalam kolom bergambar
di halaman depan surat kabar

Ke mana (5)

Ke mana hilangnya manusia pengikat isyarat
yang di tangannya rasa berubah menjadi cendera mata?

Kutitipkan sosoknya dalam setiap puisi
di lapisan-lapisan lemari besi

Senin, 20 April 2015

Sabtu Bersama Bapak

Sabtu kemarin gue ga pergi ke mana-mana. Di rumah aja. Diem, sambil baca buku hasil minjem dari temen gue, fzlkbr. *MAKASIH, SAL!

Sabtu bersama bapak, itulah judul dari hari Sabtu gue kemarin.

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Sejak pertama ngeliat cover novel ini di Gramed, sebenernya gue udah pingin beli. Karena judulnya yang minimalis optimis sekaligus manis. Hehehe. Tapi tertahan, karena duit gue saat itu lagi diniatin untuk beli serial Supernova. Jadinya gue cuma bisa bikin resensi, sok-sokan ngerekomendasiin gitu. Cuma karena belum pernah bacanya, maka gue bikin novel tandingan, meski jauh ga sebanding pun, ialah Minggu bersama Ibu.

Sempet beberapa kali mau beli juga, tapi ga jadi lagi. Takut kecewa. Karena gue menaruh harapan tinggi di novel yang mengangkat sosok Bapak ini. Soalnya belakangan ini gue sering terjebak sama ekspektasi gue sendiri. Udah ngarep yang tinggi-tinggi, tapi ternyata ga dapet. Kan sedih. Hehehe.

Sampai akhirnya, di hari Sabtu kemarin, jadi juga gue baca novel ini.

Setelah gue baca, gue akui memang ini novel di luar ekspektasi banget. Cerita tentang Satya, Cakra, dan ibunya, yang hidup dengan petuah-petuah dari sang Bapak yang udah meninggal. Awalnya agak bosan, karena masih pengenalan cerita dan terlalu banyak sisipan joke-joke yang kurang bisa gue nikmati.
Masih susah rasanya gue nerima orang se-kaku Satya, yang bahkan galak banget ke anak-anaknya sendiri. Terus ada orang segaring Cakra, yang dikelilingi anak buah berkelakuan absurb. Lalu Bu Itje, ibu mereka yang suka bercanda ngeledek anaknya sendiri yang masih membujang. Mungkin ini karena gue masih dalam adaptasi dengan humor ala Adhitya Mulya. Hehehe.

Tapi di bagian-bagian mendekati akhir.. BUM! Bertubi-tubi gue kayak ditarik masuk jadi pemeran dalam novel ini. Ceritanya tiba-tiba berubah, mengalir, menyeret pembaca ke dalam situasi setiap bab-nya.
Setiap dialog seakan ditujukan ke gue sendiri.
Setiap adegan seakan gue ada di sana, menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Setiap konflik seakan gue alami sendiri.
Cara dia menuliskannya, ngebuat gue berasa jadi lawan bicara dalam cerita.

Banyak nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dalam novel ini. Tentang bagaimana mendidik anak, menghargai diri sendiri dan orang lain, mencari pasangan hidup. Semua disampaikan dengan halus dan terselubung, seakan seorang Bapak yang menyampaikannya sendiri ke anggota keluarganya. Cocok dibaca untuk orang yang lagi belajar berumahtangga.

Woooh, sebagai anak, gue merasa tertohok. Ga heran, gue banjir air mata waktu selesai bacanya. :))

Kesimpulannya, buku ini recommended, Gan! :D