Minggu, 25 Oktober 2015

Persembahan untuk Bukan Teman

Assalamu'alaikum.
Hei, Guru.
Sabtu 24 Oktober kemarin, kulihat wajah ayah dan mama (panggilan untuk orangtuamu) berseri-seri sekali. Mereka terlihat sangat bahagia, bangga, dan lega. Mau tau apa yang dikatakan ayahmu waktu aku menyalaminya? "Maafin tingkah Rizqah selama ini ya...," begitu katanya. Masih bercanda aja, hahaha.

Aku jadi ikut bahagia. Senang melihat kalian di pelaminan. Pernikahan yang indah. Sungguh.

Aku tak tau tahapan seperti apa yang kalian lalui hingga sampai pada keputusan bahagia ini. Sama sekali tak tau padahal beberapa kali kita melakukan perjalanan bersama. Yah, cerita itu memang tidak harus diketahui semua orang sih. Tapi tetap saja, begitu aku tau dengan siapa kau akan menikah, yang ternyata temanku juga, si Faisal, aku merasa bodoh sekali tidak tau apa-apa. -_-

Perjalanan pertama kita ke Baduy dulu itu, apa sudah mulai dari situ? Memang si Faisal satu-satunya orang yang tidak menertawakanmu di saat yang lain iya. Tapi kukira itu wajar karena dia memang anak baik, dan sangat menghormatimu sebagai kakak yang waktu itu terbully oleh kami semua.

Perjalanan selanjutnya kita pergi ke Bojen dengan ayah, mama, serta adikmu Salsa dan Tasya. Apa sudah mulai dari situ? Lalu terakhir kita bertemu di TIM, Cikini.. apa sudah mulai jauh sebelum itu?

Kalau benar jawabannya iya, dan yang menurut penuturan seorang teman adalah memang iya, maka aku jadi terharu. Rapat sekali kalian saling menjaga satu sama lain sampai tiba waktunya. Tega sekali kau tak bilang apa-apa sama sekali. Aku benar-benar clueless, sampai seorang teman justru bertanya, "Masa ga keliatan, sih?" -_-

Lalu bulan lalu kau mengundangku main ke rumah, tumben.
"Mau lamaran yah?" tebakku.
"Siapa yang mau lamaran? Aku akan menikah," jawabmu. -_-

Dan benarlah kemarin kalian menikah. Momen sekali seumur hidup yang seru! Baru kali ini aku lihat ada pengantin yang masih dibully sama teman-temannya. Hahahha. Aku jadi makin senang dengan pernikahan kalian. Sungguh. Ini kutuliskan ulang jawaban dari kartu ucapan kemarin.

Untuk Faisal & Rizqah

Selamat kepada pasangan mempelai yang berbahagia. Saya sangat bahagia untuk kalian berdua. Saya mendoakan kalian agar bahagia sepanjang hidup bersama. Moga dikaruniakan banyak kebahagiaan dan tak banyak ketidakbahagiaan. Yang terpenting ialah bahagia. Jangan lupa juga untuk bahagia!

Dari: Saya

Sekali lagi, selamat!



Wassalamu'alaikum.

Minggu, 18 Oktober 2015

Friends' Day Out

Halo! Saya baru pulang main bowling bareng teman-teman. Seru banget! Ini pertama kali saya main bowling.

Kesannya menyenangkan meski ga pernah strike, padahal teman-teman yang lain sering strike. Ada sih satu yang nemenin saya, si Enur juga ga strike. Dia badluck mulu soalnya. Hahahah.

Di jalan-jalan kali ini, bukan cuma soal senang-senang. Ada olahraganya karena main bowling. Ada sharing pengalamannya karena kita saling tukar cerita soal kisah percintaan *halah, saya mah dengerin doang sambil ketawain karena ga punya cerita untuk dibagi haha. Ada belajarnya karena kita ngadain analisis karakter based on blood type. Ada sedihnya juga, karena salah satu teman kita, si Oce Gamalama akan pisah dari kita demi ngejar cita-citanya.

Terus kita-kita yang ditinggalin Oce ini apa ga lagi ngejar cita-cita?
Ngejar juga, Coy, cuma jalannya aja yang beda.

Yah, di samping segala yang terjadi, saya merasakan hal yang lain. Ini perjalanan pertama kami di luar kantor. Saya jadi ngerasa mereka adalah teman-teman sepermainan, karena kita ngobrol, ketawa, main-main di luar lingkungan kantor. Kayak teman yang udah lama kenal. Kayak pengganti teman-teman yang dulu. Padahal teman-teman yang dulu ga tergantikan juga sih. Padahal belum lama kantor yang mempertemukan kita. Padahal kita baru aja dekat dan main bareng, tapi udah ada yang mau pergi lagi.

Saya jadi mikir, setahun lalu kami bukan siapa-siapa. Ga saling kenal. Kecuali sama si Enur yang emang satu kelas pas kuliah, selain itu kami sama-sama asing. Si Oce yang anak gaul Cibujang, Ompung Well yang meski satu tempat kuliah tapi ga pernah kenal. Ekbew yang anak Cinere. Si Ali yang anak muda Bekasi, Sis Fathmah yang meski satu tempat kuliah juga tapi ga pernah deket. Tapi di hari ini, tadi, kami menghabiskan waktu bersama dengan menyenangkan. Quality time.

Menakjubkan bagaimana waktu bisa mendekatkan orang-orang. Sekaligus mengerikan karena waktu juga bisa menjauhkan dan mengasingkan.

Dari sini saya jadi mikir. Pertemuan yang diakhiri perpisahan, itu wajar. Hal yang biasa banget di hidup ini. Jadi ga usah takut sama perpisahan. Karena akan diganti sama pertemuan yang lain. Jangan takut kalo setiap perpisahan, perubahan, akan menghilangkan apa yang sebelumnya kita punya. Itu semua ga hilang, hanya terganti. Kalo ga ganti, mungkin akan membosankan dan justru membunuh kesenangan yang ada.

Jangan takut, Pil.
Jangan takut, karena seperti hymne asrama di TPB dulu bilang, "Tak 'kan hilang waktu berganti."

formasinya kayak pin bowling haha

Mungkin saya takut untuk perpisahan dan perubahan, karena waktu yang saya butuhkan untuk dapet pengganti itu, relatif lebih banyak dibanding orang lain.
Buktinya kita baru main bareng ini setelah setaun ketemu. :p

Minggu, 11 Oktober 2015

Nasihat


Aslinya, saya juga ngga tau om Deddy bilang apa. Foto ini diambil waktu acara #filartc di TIM dulu. Sudah lama. Tapi karena momennya yang seperti beliau sedang memberi nasihat, makanya saya ambil foto ini sebagai ilustrasi.

Puisi ini dipersembahkan kepada orang-orang ekonomis yang suka bingung waktu belanja. Bingung memilih barang, bingung menghitung harga, bingung memilih kombinasi barang yang mana saja yang paling ekonomis. Juga kepada orang yang suka 'mengajak' hatinya waktu berbelanja.

Minggu, 04 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode September

Kota Anti Sosial
Di kota Anti Sosial
kesehatan rakyat dijamin dengan asuransi
sayangnya kita sudah keburu kebal
dijerat tradisi birokrasi

Di kota Anti Sosial
nasib rakyat siapa yang tentukan
kalau wakilnya memilih bungkam
gara-gara takut dibegal

Hukum Manusia
Tayangan tivi menampilkan orang berdasi
ribut sana-sini bicara hak asasi
demi harga diri, orang pintar dibayar mahal
mengulik pasal, memutar akal

penggusuran hadir di surat kabar
orang sakit terbaring di selasar
di mana hukum pelindung jelata
apa itu hanya untuk yang berharta?

Cerita Lahan Sengketa
jerit pecah anak-anak
perlawanan tubuh wanita renta
bayi dalam gendongan ibu-ibu muda
semua hadir menyambut aparat yang datang atas nama penguasa

di atas lahan negara
air mata tumpah
keringat amis dengan darah jelata
bercampur puing tanah air beta

Kita Juga Rakyat
kepada yang sudah berjuang
banting tulang mencari dukungan
jangan lupa kalau sudah duduk di singgasana
kita juga rakyat

Sabtu, 26 September 2015

Obrolan Malam Sabtu

rindu adalah ganti dari pertemuan yang tertunda
untuk itu kita menyiasatinya dengan
bicara macam-macam
meski hanya lewat karakter dan angka dalam genggaman
itu lebih baik baik untuk sekedar menyapa kawan lama
atau sahabat sejawat yang dulu kita dekat
kita sama-sama tak tahu
akan ke mana kata kita berujung
tapi kita tahu
kau dan aku hanya sama-sama rindu

Bekasi, 25092015

Minggu, 13 September 2015

Retorika 2015: Episode Agustus

Tunggal
Tidak ada yang salah dengan menjadi tunggal
meski terlihat sendiri dan terasa janggal
kamu bisa menyusupi celah-celah bumi tanpa ribut
seperti rambatan pada serabut
bebas bergerak ke kanan dan ke kiri jika ingin
atau diam saja terbawa angin

Peran
Kita tercipta
dengan pasrah
dengan peran masing-masing
tidak ada yang mubazir
begitu pun kamu
begitu pula aku

Insomnia
Gelap hadir bagi mereka yang menyepi
menunggui pagi menyusupi alam yang lelap
mencuri hari
melucuti diri

Tidurlah,
ini perintah

Besok
hari belum habis, malam masih menjelang
di peron empat kita bicara masalah kehilangan
tidak usah takut dengan masa depan
kuatir hanya untuk mereka yang kehabisan waktu

Minggu, 06 September 2015

Jerman Festival 2015: Metropolis

Jerman Festival 2015

Kemarin gue baru nonton filem gratisan, Tjoy. Filem bisu klasik dengan live orchestra di pembukaan Jerman Festival 2015. Nonton ala misbar (gerimis bubar), di alam terbuka atrium TIM, Cikini.

Judulnya Metropolis, filem fiksi-ilmiah yang dibuat tahun 1927 di Jerman. Termasuk filem termahal di jamannya. Berlatar belakang di kota Metropolis, yang megah di permukaan, tapi banjir dengan keringat pekerja di dalamnya.

Filem ini bercerita tentang keresahan Freder, anak penguasa Metropolis, atas ketimpangan sosial yang terjadi di kotanya. Dia pergi ke lapisan bawah, menyusup ke tempat yang diperuntukkan bagi kalangan pekerja, dan bertukar tempat dengan salah seorang pekerja yang ditemuinya. Di sana Freder bertemu dengan Maria, seorang wanita yang percaya kalo suatu saat nanti akan datang penyelamat yang akan menyatukan penduduk Metropolis. Di sini Freder disadarkan Maria, untuk mengatasi ketimpangan ini, pihak penguasa yang dilambangkan oleh 'kepala' harus bekerja sama dengan kalangan pekerja yang disimbolkan oleh 'tangan'. Untuk itu, dibutuhkan sebuah 'hati', yaitu Freder sendiri sebagai anak penguasa Metropolis yang harus menyatukan pemikiran ayahnya dengan peran kaum pekerja. Dialah sang penyelamat yang dipercaya Maria. Di lain pihak, seorang penemu yang digambarkan sebagai tokoh jahat, berencana untuk menghancurkan tatanan kota dengan robot menyerupai manusia yang ia ciptakan sebagai penghasut.

Si penemu jahat menggunakan sosok Maria untuk menipu para pekerja agar mereka mogok bekerja dan menghancurkan mesin besar yang menjadi jantung kota Metropolis. Dia ingin mengambil hal paling berharga bagi Tuan Frederson, ayah Freder, yaitu sosok Hel, mendiang istrinya yang meninggal saat melahirkan Freder. Perjuangan Freder tidak mudah. Banyak persekongkolan yang dibuat untuk menjatuhkannya. Apalagi sosok robot jahat yang menyerupai Maria yang dia cintai. Tapi pada akhirnya, kehancuran Metropolis berhasil dicegah.

'The mediator of the head and the hands must be the heart!'-Metropolis (1927).

Wow! Keren banget! Filem bisu yang minus suara dengan iringan live orchestra yang kaya bunyi. Orkestra Bubelsberg yang dateng langsung dari Berlin ini, selama 2.5 jam non-stop memainkan musik pengiring filem Metropolis. Filemnya jadi hidup. Meski bisu, tapi ga sepi. Dan akting para pemerannya juga ga main-main.

Dengan filem bisu yang tanpa dialog, penonton cuma terbatas mengandalkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh para pemeran untuk bisa paham jalan cerita. Tapi gue sama sekali ga merasa bingung nontonnya. Seru banget! Sampe kebawa tegang di tiap adegannya. Apalagi pas akhir-akhir, tegang karena udah malem juga sih, takut kemaleman pulangnya.

Filem Metropolis ini dibuat tahun 1925-1926 oleh Fritz Lang. Di penayangan kemarin, filem ini disajikan utuh alias versi uncut. Menurut keterangan, filem ini sempat kena sensor di jamannya. Beberapa adegan dipotong, dan ga diketahui di mana dokumentasi aslinya berada. Sampe akhirnya beberapa tahun kemudian, ditemukan potongan adegan itu di Argentina. Tapi karena rusak atau ga bisa dipulihin lagi, jadi adegan yang hilang itu digantikan dengan teks paragraf di bagian adegan itu seharusnya ada.

Bravo!

Sabtu, 01 Agustus 2015

Retorika 2015: Episode Juli

Pertemuan
Ketika terang bukan lagi milik kita
bukankah masih ada gelap yang jadi pilihan?

Ketika kamu bertanya,
apa yang bisa diperbuat oleh waktu?
Bukankah terlihat betapa besar kekuatannya
untuk mengubah kamu
menjadi tidak seperti dulu?

Mungkin kita bukan lagi
orang yang sama, tapi
perbedaan kita kini
bukan berarti harus mencederai
kenangan yang kita punyai bersama, bukan?

Senang melihatmu lagi
setelah sekian lama
meski dalam gelap
tanpa adanya terang

Berhenti
Hidup adalah perjalanan panjang
kita mesti tahu kapan harus berhenti
kapan harus memulai kembali
dan mungkin seharusnya aku berhenti

Peringatan
Terlalu banyak tertawa bisa membunuhmu
kamu sering bilang
tapi aku selalu lupa
hingga kita dimakamkan hari ini

Tragedi
Kalau kau bertanya apa pendapatku tentang Juli
akan kujawab bahwa itu adalah tragedi
seperti tanggal 31 kemarin
saat terjadi tragedi api

Rabu, 29 Juli 2015

Ngobrol

Akhir-akhir ini gue lagi seneng ngobrol sama orang lain. Rasanya seru banget bisa tau cerita dan pengalaman hidup orang. Gue memang ga banyak omong di sini, paling cuma nanggepin sedikit. Selebihnya, jadi pendengar setia. Menyenangkan. :D

Ada cerita tentang pengalaman kerja yang ketat banget di agency. Ada yang cerita tentang kegiatannya jadi tukang dekor di teater. Ada yang cerita tentang kegiatan jalan-jalannya long weekend kemarin. Ada yang ketemu di kereta, cerita tentang mall-mall di Bekasi, dan dia ternyata kakak kelas SMA gue yang kita beda angkatan 5 taun! Adaaa...

Dengerin cerita orang ngebuat gue berasa jadi makhluk sosial seutuhnya. Buat gue yang adalah orang dengan karakter tertutup, ini sangat, sangat menyenangkan. Karena gue ga pandai nyari bahan obrolan, yang bisa gue tawarkan adalah telinga yang selalu terbuka, dan mulut yang tertutup untuk rahasia yang perlu untuk dijaga.

Denger cerita orang, sesederhana itu. Terima kasih untuk kalian yang udah hadir, ngajak ngobrol, dan membagi ceritanya dengan gue. Interaksi, ngobrol, karena dengan itu udah bisa ngebuat gue sangat-sangat merasa dihargai.

#latepost

Kamis, 02 Juli 2015

Retorika 2015: Episode Juni

Juni di Bulan Juli
Kalau boleh aku meminta
bisakah kita mundur ke satu bulan lalu?
ada janji yang belum tuntas
terbawa waktu yang tak terasa maju

Ajari
Ajari aku menjadi bijaksana, Tuan
untuk menjaga amanah Tuhan
untuk menemani Tuan
menjalani perintah Tuhan

Pamit
Manusia datang dan pergi
lalu hilang tak kembali
begitu juga aku
di Jumat sore lalu

Tahan
kamu harus tahan untuk tidak makan
kamu harus tahan untuk tidak minum
hanya selama satu dari dua belas itu
tidak lama