Senin, 04 Januari 2016

Kembali ke Halimun

Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah Halimun. Terakhir ke sana adalah di tahun 2012, ketika status mahasiswa dan anggota UKF masih saya sandang. Setelah bertahun tidak ke sana, di tanggal 2 Januari 2016 kemarin, akhirnya saya kembali ke Halimun.

Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.

Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"

Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.

Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.

Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.

Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.

Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.

Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.

Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.

Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.

Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.

Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.

Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.






Kamis, 31 Desember 2015

Retorika 2015: Episode Desember

Hari yang Dijanjikan
kalau sampai tiba waktunya
akankah senja semerah hari ini?
pada hari itu gadis kecil mungkin telah menjelma dewasa
yang berkat doa orang tua, ia selamat dari pertaruhan dunia

Bunga-bunga Cosmos
mendekatlah
akan kuceritakan kisah yang dulu kucuri dengar
tentang bunga-bunga cosmos
yang mati muda
yang tumbuh cepat
mekar berbunga, berbiji tua lalu mati

Isyarat Hujan
hujan turun di Bekasi sore ini
diiringi perkusi dari langit
yang menghentak!
memintamu berhenti sejenak
untuk mendekat dan memperkecil jarak

Denyut
Dengarlah
ini denyut nadi orang yang patah hati
rasanya sama saja
tidak mati

*diketik Januari 2016

Senin, 30 November 2015

Retorika 2015: Episode November

Berita Duka
Berita duka datang bagi yang tidak mengharapkannya
seorang teman yang selama ini hilang kabar, kini telah berpulang
bukan kembali ke kita, tapi kepada keabadian
tempat terbaik telah disediakan untuk mereka yang baik
dan rindu mendadak hadir bagi mereka yang kehilangan

Di Bandara
Malam menjelang ketika kamu harus pulang
tak ada lagi yang tersisa di sini
apalagi rencana ke depan
tapi kita masih bisa menepi
duduk minum kopi, lalu bicara
semoga bukan untuk yang terakhir kali

Buah Tangan
Segumpal rendang hadir untuk orang tersayang
bawa dengan hati, jaga jangan sampai tumpah
kamu bisa sisihkan minyaknya kalau mau
itu juga supaya panas dalammu
tidak makin parah
dan bibirmu tidak makin pecah
atau sariawanmu tidak makin merah
tapi kamu malah khawatir
kalau rendang ini membeku
terpapar salju yang menderu

Perpisahan
satu lagi orang yang pergi
diikuti satu, dua, tiga, dan empat lainnya
dan seterusnya
sampai semuanya habis
sampai semuanya pergi
kamu kapan?

Minggu, 22 November 2015

Pixels Berduka

Kenapa gue nangis, ya?
Padahal pertemanan kita ga bisa dibilang deket. Ga pernah se-projek bareng. Ga ikut UKM yang sama. Ga pernah main bareng. Kita cuma temen sekelas dan seangkatan. Kita cuma sama-sama Pixel.

Pertama gue tau kabar tentang lu, pagi itu gue di kereta mau berangkat kerja. Lagi misuh-misuh kegencet di kereta, tapi tiba-tiba gue merasa pilu. Kenapa coba? Itu karena kabar kepergian lu, yang bener-bener ga disangka-sangka.

Gue langsung inget kejadian di kelas sispak dulu. Betapa epic lu waktu itu. Di presentasi progress project, elu yang di minggu sebelumnya dikritik abis sama bu dosen gara-gara presentasi yang monoton, langsung bertindak dengan ngasih presentasi yang beda. Yang katanya kebanyakan teks dan kurang gambar, langsung lu ganti dengan deretan gambar dan teks yang gamblang. Yang katanya harus menatap audiens dan gaya bicara yang menggebu-gebu, lu langsung berdiri menghadap audiens dan ngomong dengan semangat orang mau menang tender. Dan berkat usaha kita sekelas ngerjain projek, akhirnya UAS sispak ditiadakan. *tepuk tangan*

Habis itu, gue ga punya kenangan personal lagi tentang lu. Memang teman sepermainan kita beda juga. Tapi tetep aja gue ngerasa kehilangan. Lama ga ada kabar, sekalinya ada justru kabar duka. Cepet banget lu pergi ninggalin kita. Sikap lu yang suka ngebanyol dan bercanda, itu yang bikin gue dan teman lainnya bakal kehilangan banget.

Kenapa gue jadi nangis, ya?
Padahal kemarin pas gue dateng ke rumah lu, bareng teman-teman Pixels yang lain, rasanya ga bakal ada acara tangis-tangisan. Keluarga lu udah ikhlas. Bokap lu, adek lu, kakak lu, keluarga lu, semua udah keliatan tegar atas kepergian lu.
Tapi.. memang air mata ga selalu berarti kesedihan. Kayak kemarin. Padahal waktu itu kita lagi ngomongin kebiasaan lu yang konyol, tapi.. kok mata gue berair, ya? :')

Lu orang baik. Makanya banyak yang kehilangan lu. Yang terus ngedoain lu. Keluarga lu sempet khawatir, karena tingkah lu yang ga pernah serius, apa ni anak bisa bertahan di luar sana? Tapi ngeliat banyaknya teman yang datang demi lu, mereka jadi lega bahwa banyak orang yang peduli sama lu.

Selamat beristirahat, ya. Terima kasih atas keceriaan yang selalu lu bagi. Sampe ketemu lagi, Dhir. :')


Senin, 02 November 2015

Manusia Anti Modus

Ipul teman saya, orangnya polos luar biasa. Banyak temennya yang sering ngartiin dia ga peka. Padahal kalo mereka tau cerita sebenernya, mereka pasti setuju kalo si Ipul ini cuma orang paling anti modus sedunia. Asal mereka tau aja..

Saking polosnya, si Ipul ga bisa ngebedain antara orang pura-pura dan orang yang sandiwara. Di mata Ipul, apa yang orang lain lakuin itu ga punya maksud lain selain apa yang keliatan. Makanya dia gampang banget kena tipu. Sebaliknya, orang yang mau modus sama dia, hmm.. siap-siap aja gagal atau coba ngomong terus terang karena kodenya sering ga diterima.

Suatu hari, Ipul cerita sama saya. Dia abis ketemu sama orang aneh di stasiun Manggarai. Orang ini kenal juga engga sama si Ipul, tapi ngajak ngomong macem-macem. Si Ipul yang sama sekali ga curiga mah ngeladenin aja. Ditanya dia jawab, diajak ngobrol dia nyaut. Sama sekali ngelupain pepatah, 'Jangan ngomong sama orang asing'.

"Lu ga ditawarin obat herbal sama dia?" tanya saya.

"Ngga tuh. Cuma dia nanya, 'Kerja apa kuliah? Ada rencana mau beli rumah atau mobil ga? Mau wirausaha ga?' gitu."

"Hmm, berarti dia orang kredit tuh. Mau nawarin modal."

"Terus dia cerita mau merger usahanya sama perusahaan startup."

"Cerita doang?"

"Iya. Ngomoooong mulu. Awalnya soal musik, soal Indra Yudistira, Wishnutama, pokoknya industri kreatif gitu. Mungkin karena gue ga antusias nanggepinnya, jadi ga nawarin apa-apa."

"Barang-barang lu ga ada yang ilang?"

"Ga ada.."

"Itu orang mau nyulik elu kali, Pul. Cuma takut nyusahin makanya ga jadi."

"HEH! Sembarangan lu.. Itu orang emang dateng tiba-tiba. Gue lagi nunggu kereta kan, sambil makan keripik sendirian. Terus itu orang dateng, minta keripik gue. Udah minta, diabisin coba! Keripik gue!"

"Waahahhah, itu lu kena hipnotis berarti. Buktinya keripik lu abis!"

"HAH? Astaghfirullaaaah.."

Wahahaha. Entah saya harus kasian atau gimana denger cerita si Ipul. Waktu saya tanya kenapa dia ga pura-pura ke toilet aja, pergi gitu dari itu orang, si Ipul dengan naifnya cuma nganggep itu orang lagi nyari temen ngobrol. Kasian juga ya itu orang. Orang kayak Ipul diajak investasi ngomongin masa depan mah, mana kepikiran. Salah milih korban, wahahah.

"Lagian elu mau-maunya diajak ngobrol sama orang ga dikenal."

"Gue kan ga mikir macem-macem. Ya, gue juga ga tau maksud itu orang maunya apa. Niat gue kan cuma jadi orang baik yang ga nyuekin orang lain."

"Hmm.."

"Lu tau, gue rasa orang jaman sekarang itu terlalu curigaan. Kebanyakan mikir yang engga-engga. Coba senadainya kita hidup tanpa prasangka, ga ada modus-modus. Pasti bakal lebih tenang hidupnya.. Ga usah ngemodus dan takut dimodusin, kan?"
 "Wahahah, untung lu ga diapa-apain Puuul... Keripik doang abis!"
 "Iya nih. Lu ga tau aja gue baca-baca doa terus dalem hati. Ngeri..."

Sabtu, 31 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode Oktober



Di Seberang Jembatan Layang
Di seberang jembatan layang
ada langit malam yang terluka
pekatnya koyak
ditembaki kokangan lampu sorot
milik juragan properti ibukota

Wanita Pendiam
Ia tak bersuara kecuali dalam hati
Ia tak berkata kecuali lewat tatapan mata

Di Balik Bilik yang Sepi
Di balik bilik yang sepi
Kamu bebas berekspresi
Bisa bersuara berisik
Tanpa ada yang terusik

Dalam Tidurmu Tadi Pagi
Kamu belum benar lelap, dalam tidurmu tadi pagi
ketika tepukan halus datang dari seorang asing
yang menanyakan arah, sambil tersenyum bersalah
karena mengusik tidurmu tadi pagi

Minggu, 25 Oktober 2015

Persembahan untuk Bukan Teman

Assalamu'alaikum.
Hei, Guru.
Sabtu 24 Oktober kemarin, kulihat wajah ayah dan mama (panggilan untuk orangtuamu) berseri-seri sekali. Mereka terlihat sangat bahagia, bangga, dan lega. Mau tau apa yang dikatakan ayahmu waktu aku menyalaminya? "Maafin tingkah Rizqah selama ini ya...," begitu katanya. Masih bercanda aja, hahaha.

Aku jadi ikut bahagia. Senang melihat kalian di pelaminan. Pernikahan yang indah. Sungguh.

Aku tak tau tahapan seperti apa yang kalian lalui hingga sampai pada keputusan bahagia ini. Sama sekali tak tau padahal beberapa kali kita melakukan perjalanan bersama. Yah, cerita itu memang tidak harus diketahui semua orang sih. Tapi tetap saja, begitu aku tau dengan siapa kau akan menikah, yang ternyata temanku juga, si Faisal, aku merasa bodoh sekali tidak tau apa-apa. -_-

Perjalanan pertama kita ke Baduy dulu itu, apa sudah mulai dari situ? Memang si Faisal satu-satunya orang yang tidak menertawakanmu di saat yang lain iya. Tapi kukira itu wajar karena dia memang anak baik, dan sangat menghormatimu sebagai kakak yang waktu itu terbully oleh kami semua.

Perjalanan selanjutnya kita pergi ke Bojen dengan ayah, mama, serta adikmu Salsa dan Tasya. Apa sudah mulai dari situ? Lalu terakhir kita bertemu di TIM, Cikini.. apa sudah mulai jauh sebelum itu?

Kalau benar jawabannya iya, dan yang menurut penuturan seorang teman adalah memang iya, maka aku jadi terharu. Rapat sekali kalian saling menjaga satu sama lain sampai tiba waktunya. Tega sekali kau tak bilang apa-apa sama sekali. Aku benar-benar clueless, sampai seorang teman justru bertanya, "Masa ga keliatan, sih?" -_-

Lalu bulan lalu kau mengundangku main ke rumah, tumben.
"Mau lamaran yah?" tebakku.
"Siapa yang mau lamaran? Aku akan menikah," jawabmu. -_-

Dan benarlah kemarin kalian menikah. Momen sekali seumur hidup yang seru! Baru kali ini aku lihat ada pengantin yang masih dibully sama teman-temannya. Hahahha. Aku jadi makin senang dengan pernikahan kalian. Sungguh. Ini kutuliskan ulang jawaban dari kartu ucapan kemarin.

Untuk Faisal & Rizqah

Selamat kepada pasangan mempelai yang berbahagia. Saya sangat bahagia untuk kalian berdua. Saya mendoakan kalian agar bahagia sepanjang hidup bersama. Moga dikaruniakan banyak kebahagiaan dan tak banyak ketidakbahagiaan. Yang terpenting ialah bahagia. Jangan lupa juga untuk bahagia!

Dari: Saya

Sekali lagi, selamat!



Wassalamu'alaikum.

Minggu, 18 Oktober 2015

Friends' Day Out

Halo! Saya baru pulang main bowling bareng teman-teman. Seru banget! Ini pertama kali saya main bowling.

Kesannya menyenangkan meski ga pernah strike, padahal teman-teman yang lain sering strike. Ada sih satu yang nemenin saya, si Enur juga ga strike. Dia badluck mulu soalnya. Hahahah.

Di jalan-jalan kali ini, bukan cuma soal senang-senang. Ada olahraganya karena main bowling. Ada sharing pengalamannya karena kita saling tukar cerita soal kisah percintaan *halah, saya mah dengerin doang sambil ketawain karena ga punya cerita untuk dibagi haha. Ada belajarnya karena kita ngadain analisis karakter based on blood type. Ada sedihnya juga, karena salah satu teman kita, si Oce Gamalama akan pisah dari kita demi ngejar cita-citanya.

Terus kita-kita yang ditinggalin Oce ini apa ga lagi ngejar cita-cita?
Ngejar juga, Coy, cuma jalannya aja yang beda.

Yah, di samping segala yang terjadi, saya merasakan hal yang lain. Ini perjalanan pertama kami di luar kantor. Saya jadi ngerasa mereka adalah teman-teman sepermainan, karena kita ngobrol, ketawa, main-main di luar lingkungan kantor. Kayak teman yang udah lama kenal. Kayak pengganti teman-teman yang dulu. Padahal teman-teman yang dulu ga tergantikan juga sih. Padahal belum lama kantor yang mempertemukan kita. Padahal kita baru aja dekat dan main bareng, tapi udah ada yang mau pergi lagi.

Saya jadi mikir, setahun lalu kami bukan siapa-siapa. Ga saling kenal. Kecuali sama si Enur yang emang satu kelas pas kuliah, selain itu kami sama-sama asing. Si Oce yang anak gaul Cibujang, Ompung Well yang meski satu tempat kuliah tapi ga pernah kenal. Ekbew yang anak Cinere. Si Ali yang anak muda Bekasi, Sis Fathmah yang meski satu tempat kuliah juga tapi ga pernah deket. Tapi di hari ini, tadi, kami menghabiskan waktu bersama dengan menyenangkan. Quality time.

Menakjubkan bagaimana waktu bisa mendekatkan orang-orang. Sekaligus mengerikan karena waktu juga bisa menjauhkan dan mengasingkan.

Dari sini saya jadi mikir. Pertemuan yang diakhiri perpisahan, itu wajar. Hal yang biasa banget di hidup ini. Jadi ga usah takut sama perpisahan. Karena akan diganti sama pertemuan yang lain. Jangan takut kalo setiap perpisahan, perubahan, akan menghilangkan apa yang sebelumnya kita punya. Itu semua ga hilang, hanya terganti. Kalo ga ganti, mungkin akan membosankan dan justru membunuh kesenangan yang ada.

Jangan takut, Pil.
Jangan takut, karena seperti hymne asrama di TPB dulu bilang, "Tak 'kan hilang waktu berganti."

formasinya kayak pin bowling haha

Mungkin saya takut untuk perpisahan dan perubahan, karena waktu yang saya butuhkan untuk dapet pengganti itu, relatif lebih banyak dibanding orang lain.
Buktinya kita baru main bareng ini setelah setaun ketemu. :p

Minggu, 11 Oktober 2015

Nasihat


Aslinya, saya juga ngga tau om Deddy bilang apa. Foto ini diambil waktu acara #filartc di TIM dulu. Sudah lama. Tapi karena momennya yang seperti beliau sedang memberi nasihat, makanya saya ambil foto ini sebagai ilustrasi.

Puisi ini dipersembahkan kepada orang-orang ekonomis yang suka bingung waktu belanja. Bingung memilih barang, bingung menghitung harga, bingung memilih kombinasi barang yang mana saja yang paling ekonomis. Juga kepada orang yang suka 'mengajak' hatinya waktu berbelanja.

Minggu, 04 Oktober 2015

Retorika 2015: Episode September

Kota Anti Sosial
Di kota Anti Sosial
kesehatan rakyat dijamin dengan asuransi
sayangnya kita sudah keburu kebal
dijerat tradisi birokrasi

Di kota Anti Sosial
nasib rakyat siapa yang tentukan
kalau wakilnya memilih bungkam
gara-gara takut dibegal

Hukum Manusia
Tayangan tivi menampilkan orang berdasi
ribut sana-sini bicara hak asasi
demi harga diri, orang pintar dibayar mahal
mengulik pasal, memutar akal

penggusuran hadir di surat kabar
orang sakit terbaring di selasar
di mana hukum pelindung jelata
apa itu hanya untuk yang berharta?

Cerita Lahan Sengketa
jerit pecah anak-anak
perlawanan tubuh wanita renta
bayi dalam gendongan ibu-ibu muda
semua hadir menyambut aparat yang datang atas nama penguasa

di atas lahan negara
air mata tumpah
keringat amis dengan darah jelata
bercampur puing tanah air beta

Kita Juga Rakyat
kepada yang sudah berjuang
banting tulang mencari dukungan
jangan lupa kalau sudah duduk di singgasana
kita juga rakyat